Tampilkan postingan dengan label Irsyad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Irsyad. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

Behind the Scene #13

Behind the Scene #13

The past at the future again?
Cakka menatap kalender yang ada didalam kelasnya. Sebuah ide telah rapi tersusun dikepalanya. Dari kejauhan Oik terlihat baru saja datang. Yap, rencana dimulai.
Pagi-pagi biasanya jika Oik datang, Cakka sudah bersiap menyambutnya. Tapi, kali ini Cakka nampak acuh tak acuh. Dia malah sibuk dengan kegiatannya seakan tak peduli dengan kedatangan Oik. Saat Oik tiba ditempat duduknya Cakka segera keluar dari ruangan kelas untuk apel pagi. Membuat Oik hanya bisa menatap Cakka melalui ekor matanya sebelum akhirnya keluar kelas untuk mengikuti apel juga.
Pada saat apelpun Cakka nampak tidak memperhatikan Oik, seperti Oik tak ada disekitarnya. Apa aa yang salah dengan dirinya? Atau Cakka jadi merasa bersalah dengan kejadian kemarin? Tapi baru kali ini Cakka bertingkah seperti itu.

Sudah hampir seminggu berlalu, Cakka masih saja tidak pernah berbicara dengan Oik, tidak pernah menghubunginya lagi, tidak pernah bersama-sama pergi ke tebing kebebasan lagi. Bahkan sekedar bertegur sapapun tidak pernah. Padahal besok adalah hari ulang tahun Oik. Dia ingin Cakka yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya pertama kali. Tapi, kalau keadaan seperti ini, sangat tidak memungkinkan. Oik sedang berjalan di koridor sekolah. Jam istirahat, makanya koridor tampak ramai. Saat Oik hendak berbelok dia melihat Cakka sedang berbicara dengan temannya makanya Oik mengurungkan niatnya untuk berbelok. Dia bersandar pada samping tembok mendengarkan apa yang sedang Cakka bicarakan dengan temannya itu.
“Hahaha... gak lah... gak mungkinlah pacaran sama dia, dia tuh tipikal orang yang kalau mau dicium langsung ngacir, dan itu ciri-ciri orang yang gak tahu pacaran,” Kata Cakka.
“Hahaha... boleh...boleh... eh by the way, lo sama Oik jauh gitu deh,”
“Ya... gara-gara tadi itu...,”
“Oh haha... I see,”
Apa maksud pembicaraan Cakka? Cakka ingin mengatakan bahwa Oik tidak tahu berpacaran gitu? Hanya karena ‘hal itu’? Dan lebih parahnya Cakka dengan terang-terangan mengatakan pada temannya? Oik berlari menjauh dari situ, berlari sekencang mungkin menuju taman belakang sekolah. Entah kenapa ada sesuatu yang menusuk dari dalam. Ah! Kenapa Cakka berkata seperti itu. Dia cukup sadar kalau dia masih kecil, dan baru saja melepaskan seragam putih merah ke putih biru. Mungkin terlalu dini untuk mengambil ‘komitmen’ dan mengatakan dirinya dengan Cakka itu ‘pacaran’. Tapi bukankah Cakka yang mengatakan dia tahu kalau kita ini masih SMP? Kenapa sekarang menuntut sebuah kedewasaan? Matanya terasa hangat menahan sesuatu yang akan mengalir dipipinya diapun memalingkan pandangannya menatap langit siang itu.
Kalau sesakit ini... dia bertekad tak akan ada lagi yang namanya, tak akan lagi dia jatuh di lubang yang sama, apalagi bersama seseorang yang sama juga. Hapuskan nama Cakka dari kehidupannya. Tak akan ada lagi maaf untuk Cakka!
***
Oik berusaha mengatur detak jantungnya yang begitu cepat karena tidak menyangka akan perlakuan Cakka tadi. Walaupun dia sadar juga, dia tak akan bisa mengambil kendali jantungnya karena jantungnya berpacu menggunakan otot polos yang bekerja diluar kendali manusia. Oik berusaha mengatur kendali nafasnya yang ikut tidak karuan, berusaha menghirup oksigen di kamar itu yang terasa sesak. Sejurus kemudian, Oik baru menyadari bahwa, dia tidak sedang berdua dengan Cakka di kamar ini, ada sebuah CCTV ditiap kamar, baik itu kamar cewek dan cowok. Oik segera mengalihkan pandangannya mencari CCTV di kamar ini. Sebuah kamera kecil seakan memanggilnya dipojok atas ruangan. Oik menghela nafasnya, skakmat! Seluruh Indonesia akan tahu apa yang terjadi padanya dengan Cakka. Semua akan terbongkar sudah! Oik pasrah, dengan langkah gontai keluar dari kamar itu.
Oik keluar tepat saat Riko hendak masuk kedalam kamar.
“Oik? Ngapain lo disini?,” Tanya Riko heran.
“Eh itu Ko... gue tadi di suruh kru manggil Cakka,”
“Lho? Tadi kan Cakka udah keluar duluan, papasan sama gue, kenapa lo telat keluarnya?,” Tanya Riko.
“Itu... gue... ehm,” Oik bingung apa yang harus dia katakan pada Riko.
Riko kemudian memegang kedua lengan Oik dan mengguncangkannya kemudian berkata dengan nada keras, “Oik jawab... Cakka ngapain lo tadi didalam? Lo kelihatan pucat banget,” Kata Riko dan berhasil mengambil alih perhatian Alvin dan Sivia yang sedang bertengkar dan kaget langsung naik keatas disusul Irsyad dan Zahra serta Nadya. Mereka langsung mengerumuni Riko dan Oik. Riko segera melepaskan genggamannya dari lengan Oik.
“Jawab Ik... Cakka ngapain lo di dalam sampe keluar pucat gini?,” Tanya Riko. Oik jadi merasa sangat terdesak dengan tatapan penasaran dari teman-temannya itu.
“Cakka gak ngapa-ngapain gue kok,” Jawab Oik berusaha meyakinkan teman-temannya itu.
“Tapi yah Ik, kayaknya bener deh ada something yang terjadi di dalam sampe wajah lo pucet kayak gitu,” Selidik Zahra.
“Lo make-out yah sama Cakka di dalam?,” Kata Nadya sambil mengangkat sebelah alisnya.
“O’on lo Nad... kalau make-out dua-duanya mau, ini kayak Oik terdesak gitu,” Ujar Irsyad.
 “Ah... gue rasa nih yah kalau cuma make-out gitu... Oik gak perlu pucet kayak gini, kan udah ‘biasa’ bareng Cakka di film-film,” Kata Zahra.
“Atau lo mergokin Cakka lagi naked gitu yah didalam Ik?,” Tanya Sivia.
Semua menatap Sivia dengan tatapan tajam, membuat Sivia hanya membentuk jari tangannya seperti huruf ‘V’.
“Atau jangan...jangan... Cakka berbuat tidak senonoh sama lo yah Ik?,” Tanya Alvin.
Oik jadi gerah dengan perkiraan teman-temannya yang aneh-aneh. Diapun segera mengambil langkah untuk pergi dari situ. Sebelum dia benar-benar menjauhi teman-temannya itu dia berbalik, “Cakka gak ngelakuin apa-apa kok sama gue tenang aja yah, gue tadi memang lagi gak enak badan makanya kelihatan pucat,” Kata Oik kembali berbalik dan meneruskan langkahnya. Sebelum Oik menuruni tangga...
“Kayaknya gue tahu deh harus gimana...,” Kata Riko seperti mendapat sebuah ide, “CCTV!,” Kata Riko sambil menjentikan jarinya, “Kita minta izin kru trus periksa CCTV,” Kata Riko. Semuanya saling pandang-pandangan kemudian berlari mendahului Oik menuruni tangga.
“Ya ampun... Riko, Zahra, Alvin, Nadya, Sivia, Irsyad... jangan!,” Teriak Oik.
Namun sepertinya mereka tak menghiraukan malah berlari menuju samping beranda karantina menemui seorang kru yang sedang berbincang-bincang dengan Cakka.
Tiba disana, mereka tampak ngos-ngosan. Cakka dan kru lactigames itu menatap aneh keenam orang yang sedang mengatur nafas dihadapan mereka itu. Setelah mereka sudah tidak ngos-ngosan lagi, Riko segera mengangkat suara.
“Jadi gini loh sir... gue sama teman-teman mau minta izin buat check CCTV kamar cowok gitu...,” Kata Riko berhasil membuat mata Cakka melotot tajam, “Tadi tuh, gue nemuin Oik didepan kamar cowok wajahnya pucat gitu, dan katanya dia barusan manggil Cakka, yah... gue langsung negative thinking... gak bermaksud nuduh lo nih Kka... cumanya, bayangin aja cewek baru keluar dari kamar cowok dengan wajah pucat pasi kayak gitu... jadi gue yah gitu deh, nah maka dari itu sir kita pengen check CCTV,” Jelas Riko diikuti anggukan oleh teman-teman yang lain bersamaan dengan tibanya Oik bersama-sama dengan mereka disitu.
“Nih kan Oiknya masih pucat,” Kata Irsyad.
“Eh... Cakka gak ngapa-ngapain gue tadi, gak usah periksa CCTV yah please,” Kata Oik.
Cakka nampak kebingungan dengan apa yang terjadi dihadapannya itu. Dia celingak-celinguk dan hanya mendapatkan tatapan menuntut dari teman-temannya itu.
“Kka... mending lo ngaku, lo ngapain Oik sampe dia pucat begitu?,” Tanya Riko sekali lagi dengan tatapan menyelidik.
“Ya sudah ayo... kita ke ruang kendali,” Ajak kru itu berhasil membuat Cakka dan Oik menelan ludahnya sambil memekik dalam hatinya ‘Gawat!’.
Semuanya berjalan menuju ke sebuah tempat, lebih tepatnya ke sebuah gedung kecil yang tak jauh dari beranda lactigames. Mereka segera masuk disana bersamaan dengan kru itu. Berjalan melewati beberapa ruang sebelum tiba didepan sebuah ruangan yang bertembok kaca sehingga bisa terlihat dari luar aktivitas yang terjadi didalam. Ada banyak sekali monitor yang sedang menyala, ada sekitar 10 orang yang mengontrol monitor-monitor tersebut. Sang kru menyuruh semua untuk tunggu diluar, sebelum dia masuk kedalam.
“Gue ada penawaran buat lo semua,” Ujar Cakka berhasil mengambil alih perhatian teman-temannya dari sang kru yang berada didalam ruangan.
“Apa?,” Tanya mereka bersamaan –kecuali Oik–.
“Okay, kalau kalian memang penasaran dengan apa yang terjadi didalam, gue bakal peragain apa yang terjadi didalam tapi hanya gerakan, tanpa percakapan yang terjadi didalam, gimana?,” Perkataan Cakka berhasil membuat Oik bertambah pucat dan menatap memohon agar Cakka jangan menawarkan hal gila itu.
“Ah... gak, gak seru kalau tanpa suara,” Kata Irsyad yang lainpun ikut mengangguk.
“Lagipula kalau kita lihat CCTV pasti lebih lengkap,” Sambung Alvin.
“Iya kalau diizinin, kalau gak kalian kehilangan kesempatan untuk melihat keduanya, lagipula lebih asyikan lihat langsung dengan mata kepala sendiri kan?,”
“Gimana kalau lo boong, yang terjadi bukan itu?,” Tanya Zahra.
“Gak kok... gue janji akan memperagakan se-real mungkin, yah tapi anggap aja kalian tuli gitu atau gak lagi diruangan kedap suara dan gak bisa dengar suara kita, yang penting kan setidaknya kalian gak mati penasaran kayak gini,” Kata Cakka sedangkan Oik hanya bisa terdiam melihat Cakka yang sedang tawar menawar.
Semuanya tampak berpikir tentang penawaran Cakka, “Okay,” Kata Riko kemudian.
“Tapi, kalian harus janji setelah ini gak akan ada yang nyari tahu tentang CCTV itu, atau ngungkit-ngungkit,” Kata Cakka.
“Palingan yang kita cari tahu rekaman suaranya,” Kata Irsyad diikuti cengirannya.
“Huh! Setuju gak? Sebelum gue berubah pikiran nih,” Kata Cakka.
Semua saling pandang sebelum akhirnya mereka dengan serempak menjawab, “Setuju!,”
“Kalau begitu minggir yah, kalian cukup jadi penonton disana, anggap aja ini film bisu,” Kata Cakka.
Semuapun segera bergerak ke tepi, Oik terdiam mematung beberapa langkah dari Cakka. Dia tak bisa bergerak, kakinya tiba-tiba terasa berat. Mulutnya terkatup. Apa yang akan dilakukan Cakka?
Cakkapun berjalan maju, seiring langkah Oik untuk mundur, satu langkah Cakka, dua langkah Oik. Sampai Oik benar-benar terdesak di dinding pembatas. Oh gosh! Cakka bakal mengulangi yang terjadi tadi. Semua yang ada disitu tampak tegang, melihat ‘aksi’ didepan mereka itu. Cakka kini sudah berdiri dihadapan Oik sebelum meletakan tangannya tepat disamping kepala Oik. Semua menahan nafas melihat kejadian itu. Cakka menatap mata Oik, seperti biasa Oik tak berani menatapnya dia memalingkan wajahnya kesamping. Cakka terlihat berbicara perlahan, hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.
“Oik tenang aja, gak usah takut mereka tahu yang sebenarnya, mereka gak tahu kalau kuncinya suara, jadi ayo lakukan seperti tadi, balas tatapan mata Cakka,” Kata Cakka sangat pelan.
Oik takut-takut membalikan kepalanya membalas tatapan Cakka. Hingga akhirnya terjadi tatap menatap antara keduanya. Cakka tersenyum tipis kemudian menghembuskan nafasnya diantara telinga dan leher Oik, seperti berbisik. Tapi, pada detik ini Oik merasakan bulu kuduk disekujur tubuhnya merinding. Ah! Ini gila! Cakka segera menyusupkan tangannya kebelakang kepala Oik antara tembok dengan kepala Oik. Membuat tarikan nafas dari orang-orang yang ada disitu kentara. Sivia nampak meramas lengan Alvin, Zahra bersembunyi dibalik Irsyad tapi sedikit mengintip, sedangkan Riko dan Nadya hanya bisa menganga. Wajah pucat kembali membungkus Oik, setelah seringai jahil dari Cakka. Hembusan nafasnya terasa dihadapan Oik membuatnya menutup matanya rapat-rapat. Setelah ini seharusnya Cakka mengakhiri ‘adegan flashback bisu’ ini. Tapi Oik merasakan nafas itu semakin mendekat sebelum merasakan sesuatu yang geli dihidungnya. Oik segera membuka matanya melotot dan mendapati Cakka tersenyum penuh arti padanya. Tapi itu… Cakka mengecup hidung Oik? Oik menelan ludahnya, ini tidak sesuai dengan ‘skenario flashback adegan bisu’ itu.
“Udah… trus kru manggil gue, udah tahu kan yang terjadi di dalam, jadi udah yah gak usah minta CCTV itu,” Kata Cakka.
“Jreeeet… gue kira lo berdua mau make-out disitu, gue udah siapin kamera nih biar disebar di youtube pasti viewers channel gue bakal banyak tuh… gak asyik ah,” Kata Riko segera dijitak oleh Nadya yang berada disampingnya.
“Asli… gue ikut ke hanyut sumpah! Gilaaaaa pantes aja sutradara sering pake lo berdua chemistrynya dapet bangeeet… gue merinding sumpah!,” Komentar Sivia.
“Gue kayak nonton the best romance film bisu tahu gak… sederhana tapi romantis,” Kata Zahra sambil bersandar dibahu Irsyad dan tak beberapa lama kemudian dia sadar dan segera bergidik ngeri begitu pula dengan Irsyad.
“Kenapa cewek-cewek jadi pada lebay begini yah… ini kan reka ulang bukan film,” Kata Alvin.
“Lo gak tahu sih Vin? kalau cewek itu sering pake perasaan dan lo tahu adegan Cakka dan Oik tadi tuh pake sangat terasa banget pake perasaannya, jadi kayak film-film romantis gitu,” Kata Nadya.
“Ehem…,” Sebuah suara mengagetkan mereka.
Mereka semua segera berpaling kearah sumber suara tersebut. Ternyata itu kru yang tadi. Dia menatap satu per satu orang-orang yang ada diruangan itu. Matanya terhenti pada Cakka dan Oik yang masih berada didekat tembok. Tersenyum kearah mereka seakan tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Cakka dan Oik. Membuat mereka tertunduk dengan tatapan membunuh itu.
“Hm, maaf yah dari pihak lactigames gak ngizinin buat para pesertanya melihat CCTV, hm, dan juga kita sudah tahu kok penyebabnya dan gak ada yang perlu diributin, ya sudah… kalian kembali ke beranda karantina lagi, cepat…,” Kata kru tersebut.
Merekapun segera melangkahkan kakinya keluar dari gedung tersebut.

♥♥♥

Malam haripun tiba, semua telah bersiap untuk menonton lactigames episode dua, mereka sangat teramat antusias sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi di beranda karantina. Bisa dipastikan ratting lactigames akan menanjak drastis. Satu jam sebelum lactigames dimulai orang-orang sudah bersiap-siap menunggu acara itu didepan TV. Ditemani makanan kecil, cemilan dan minuman ringan banyak yang mulai menyaksikan lactigames.
Lactigames diawali dengan flasback singkat episode kemarin yang diakhiri dengan pertanyaan…
Apakah yang Nadya lihat dikamar gadis dan meneriakkan nama Cakka dan Oik?
Bagaimana dinner mereka?
Apa yang akan terjadi diberanda karantina selanjutnya?
Terlihat Cakka yang hanya mengenakan boxerbriefsnya dipanggil Oik dan terjadi percakapan antara keduanya dan Oik meminta tolong untuk memperbaiki kran di kamar mandi cewek yang rusak. Kemudian terlihat Cakka dan Oik memasuki kamar cewek bersama. Setelah scene itu, kini giliran mereka berdua digeret menghadap kru lactiongames dan menjelaskan semua yang terjadi.
Selanjutnya, scene Cakka dan Oik yang dijemput oleh sebuah mobil menuju ke tempat mereka akan dinner. Sampai tiba di tempat dinner dan Debo yang datang menjelaskan serta Debo yang pergi meninggalkan Cakka dan Oik berdua. Dinner berdua Cakka dan Oik yang mengingatkan pemirsa pada sebuah film yang pernah dibintangi oleh mereka berdua, sehingga suasana terasa romantis.
Selanjutnya, aktivitas di beranda karantina saat kepergian Cakka dan Oik. Makan malam yang kacau karena masakannya Zahra yang tidak layak disebut makanan dan menyebabkan beberapa peserta sakit perut. Tentang Alvin dan Sivia yang kerjaannya berdua melulu, mengintip gaya pacaran mereka. Menguping pembicaraan Gabriel dan Riko yang sedang mengamati Alvin dan Sivia. Sampai Cakka dan Oik datang, Oik langsung ke kamar sedangkan Cakka bergabung dengan Gabriel dan Riko.
Langsung beralih ke kamar gadis, pembicaraan antara Oik dan Acha, sampai pada kedatangan Nadya. Dan kemudian pada Cakka, Riko, Gabriel dan Nadya sebelum Nadya tadi datang kekamar. Pembicaraan Riko yang menyebut-nyebut ‘backstage histeris’. Sampai kepergian Cakka dan Nadya. Setelah itu ada Iklan.
Setelah iklan, langsung pada besok paginya. Saat Oik sebagai leader yang harus bangun lebih pagi, Oik berjalan keliling beranda. Sampai pada Cakka yang menawarkannya teh hangat. Setelah itu, saat semuanya dibangunkan Oik dengan pengeras suara. Semuanya bangun, dan berbaris serta saat Debo dan Angel datang untuk mengevaluasi.
Oik yang kena hukuman karena menerima teh dari Cakka segera mengikuti langkah Debo dan Angel ke kolam belakang. Debo dan Angel menjelaskan hukuman yang diterima Oik. Tepat saat Oik menjatuhkan dirinya kekolam berenang, Cakka berteriak bahwa Oik tak bisa berenang. Kejadian dipercepat sampai Oik telah berada dipelukan Cakka yang mencoba menenangkan Oik yang pucat dan batuk-batuk akibat tadi. Sampai Debo menyuruh kamera untuk off sehingga iklan kembali.
Debo dan Angel telah kembali dan memberikan games memasak untuk semua. Dibagi oleh beberapa kelompok. Selanjutnya saat mereka memasak dimeja masing-masing. Kegiatan masak mereka, sampai masak selesai dan penilaian bahwa Gabriel dan Sivia yang menang dan mendapat reward jalan-jalan berempat dengan Debo dan Angel di kebun strawberry.
Scene selanjutnya, Jalan-jalan Debo, Angel, Gabriel dan Sivia yang seperti biasa ditinggal pergi oleh para host itu membuat Gabriel dan Sivia memetik strawberry sambil berbincang-bincang sampai pada masa lalu mereka, ternyata waktu mereka pacaran dulu pernah jalan-jalan di kebun strawberry juga. Kemudian beralih pada kegiatan di bersih-bersih karantina. Cakka dan Alvin yang hampir bertengkar karena mood Alvin sedang tidak baik. Serta permainan konyol yang membuat Riko menjadi manusia paling lucu dimuka bumi ini. Sampai Gabriel dan Sivia kembali, kemudian iklan lagi.
Kegiatan menunggu Zahra menyiapkan makan siang, pertengkaran Alvin dan Sivia karena perginya dia dengan Gabriel yang notabene adalah mantannya. Oik yang baru selesai berbicara dengan seorang kru tentang kepemimpinan Oik. Disuruh sang kru untuk memanggil Cakka. Setelah ditolak Irsyad untuk memanggil Cakka, Oik yang pergi sendiri menemui Cakka dikamarnya. Kemudian fokus pada Gabriel dan Acha yang berbicang-bincang dikolam belakang.
“Jadi alasan lo untuk menerima tawaran ngikutin games ini apa sih Yel?,” Tanya Acha sambil menjiprat-jiprat air dikolam berenang sedangkan Gabriel duduk tak jauh dari situ.
“Gue? Nothing! Just for fun… gue gak nyangka malah ketemu Sivia lagi disini, huh!,”
“Lo masih ada rasa gak sih sama Sivia?,”
“Yang itu gue gak tahu, gue sendiri bingung,”
“Hm, bukannya lo lagi dekat sama kakaknya Oik yah, siapa tuh…hm, Ify… iya yang sekalian manager Oik juga,”
“Itu… Ify tuh baik, dan kayaknya dia dekat sama siapa saja yang dia kenal, bukan cuma gue… kalau dekat gue dan Ify emang lagi dekat tapi gak ada something special hanya partner kerja pada project video klipnya Oik saja,”
“Oh… gitu ya,”
“Yap… lo sendiri kenapa ikut games ini?,”
“I want to tell something to someone… dan gue bakal berani ngomong ini kalau someone itu lebih dekat lagi sama gue, okay selama ini memang dekat tapi gue belum cukup punya nyali… but, yang pasti it’s about the truth… nah berhubung gue tahu dia juga bakalan ikut games ini, padahal gue udah reject tawaran ikut games ini dan gue akhirnya ngubungin kru untuk accept tawaran ini lagi,” Kata Acha.
“Who’s your someone?,”
“I think you know him, kamu pasti bisa menebaknya,” Kata Acha.
Dan langsung beralih pada Oik yang dicegat Riko ketika baru keluar dari kamar cowok. Pertanyaan Riko tentang apa yang dilakukan Cakka dan Oik didalam sampai pada kedatangan Irsyad, Zahra, Alvin, Sivia dan Nadya yang membuat mereka membahas CCTV.
Apa yang dilakukan Cakka dan Oik (lagi) sehingga membuat beranda gempar?
Akankah hubungan Alvin dan Sivia terancam dengan adanya Gabriel?
Tunggu kelanjutannya…

♥♥♥

LAGs episode 2: Seruuuuu!!!
Hayoooo siapa yang nonton LAGs a.k.a Lactiongames episode dua angkat tangan? *angkat tangan*. Gue nonton dong, kalian semua pasti nonton kan? Gue Cuma mau sharing sedikit pendapat gue tentang LAGs.
Satu kata pas gue nonton LAGs… Seru!... Seru ngeliatin ke-unyu-an Cakka dan Oik. Seru cinsetnya Alvin-Sivia-Gabriel. Kocaknya Riko dan ngenesnya Irsyad juga Zahra. Hahahahahaha.
Cuma kayaknya banyak kasus yang terjadi dan menjadi misteri, sini gue uraikan dah.
Cakka tuh kayak perhatian sama Oik, banget malah. Dibantuin perbaikin keran sampe dikira lagi ‘mandi berdua’ oleh Nadya. Cakka bikinin Oik teh hangat pagi-pagi yang membuat Oik dihukum. Cakka tahu kalau Oik gak tahu berenang trus dia nolongin Oik. Tapi… pas gue lihat perhatiannya Cakka sama Acha juga yang pas keiris tangannya, gue kira Cakka emang perhatian sama semua cewek -____-
Someone yang di maksud Acha itu siapa? Berarti Acha ngikutin games ini karena ada sesuatu... Haduuuh jadi penasaran kayaknya bakalan seru kalau diikutin terus nih. Kayaknya ada hubungan sama yang bikin Oik pucat pas dibisikin Acha di kamarnya.
Curiga sama Gabriel jangan-jangan masih ada 'rasa' sama Sivia. Soalnya jawabannya bingung, dan gak ada yang pasti. Mana waktu dikebun stoberi mereka romantis banget, kalau Alvin tahu... Saya yakin bakalan heboh lagi tuh Beranda Karantina.
Kenapa akhirnya selalu bikin penasaraaaaan... Aaaaaa itu Oik kenapa pas dicegat Rikooooo... Cakka ngapain Oik yah di dalam? *nethink
Oh ya, kalian dengar kan Riko nyebut-nyebut 'BACKSTAGE HISTERIS' yang dimaksud yang waktu itu dong dipostingan gue dulu. *tinktink...
Terbuktikan kalau gue gak bohong? :p
Nata_

Comments:

Indri: Aaaaaaa... Gue nonton, iyaaaa banget seru banget itu mah... Pokoknya best games deh untuk saat ini... Acara tipi paling dinanti. Gak sabar menunggu...

Sialaneh: Seru sih, cuma jadi kayak pake skenario deh ini kayak reality show jaman sekarang yang hampir keseluruhannya berdasarkan skenario gue yakin ini juga pake skenario.

Rath: Menurut gue gak pake skenario kok, hm, yaaa soalnya peserta-peserta LAGs yang non selebriti mereka bilang gak ada skenario sama sekali dan yang artis bintang tamu LAGs dulu, dan memang gak ada kok, kan dulu pernah dibahas soal LAGs without scenario dan semua sudah menjamin 100% gak ada skenario. Oke, diluar ini gue suka banget episode kali ini! Serunya pake banget!

Dessy: Nah itu! Siapa yang gak percaya waktu itu hayoo? Udah kita bilang ada yang aneh karena 'hal itu' tak digosipkan sehingga dunia gak heboh... Gue bersyukur deh adanya acaranya ini hahaha.

Wulan: Gue kok jadi punya feeling someone yang dimaksud Acha itu Cakka -_-, secara waktu yang nyanyi-nyanyi itu Acha kebanyakan bilang sayang Cakka. Berapa kali gue gak hitung dah... Tapi Cakka sama Oiknya so sweet dari dinner sampe ending.

Cintani: Aduh... Ga tau mau ngomong apa deh... Gue lagi terharu *srooot (˘̩̩̩.˘̩ƪ) ... Tahu gak sih gue tuh kangen banget-bangetan sama film-film Cakka bareng Oik gitu. Nonton LAGs jadi kayak nonton film Cakka Oik lagi... Big hug ({}) *kiss (˘⌣˘)ε˘`)

  Rhaya: Gabriel ganggu aja tahu gak... Gue nyesek pas di kebun stroberi itu loh... Sivia kayak lupa kalau punya pacar Alvin hiks... Alpin cabal yaw :3 haha... Iya seru yah... Ga sabar nunggu selanjutnya...

Namlot: Hahaha... Belum lengkap kalau selebnya gak ditambah Shilla, bdw, semenjak Cakka ikut LAGs... Shilla juga kok ikut ngilang padahal video klip mereka baru di luncurin dan endingnya keren ƪ(˘⌣˘)┐ƪ(˘⌣˘)ʃ┌(˘⌣˘)ʃ

More Comments (1.335)»

Seperti biasa lactiongames dihari kedua ini membuat para pemirsanya heboh. Dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya lewat situs-situs di dunia maya dan pembicaraan di dunia  nyata.

♥♥♥

To: Roy Manager
Roy?

Cakka mengirim sebuah pesan untuk manajernya ketika dia sedang berbaring dikamarnya. Di lactiongames diijinkan untuk menggunakan handphone tapi hanya untuk sms tidak untuk hal-hal lain seperti menelepon, browsing, BBM dan lain sebagainya peserta yang ketahuan menggunakan handphone untuk itu akan di diskualifikasi.

From: Roy Manager
Nape? Lo kangen sama gue?

To: Roy Manager
Ish… Cuma misscall doang juga.

From: Roy Manager
Alesan lo… pasti ada maunya,
Soalnya tumben bgt lo inget sama gue.

To: Roy Manager
Apa deh kata lo, Ray?
Dia gak ngabisin makanan
Yg gue tinggalin u/ 2bln kan?

From: Roy Manager
Udah abis dari kemarin kaleee…
Lo pelit amir dikit bgt yg di kulkas,
Terpaksa gue dan Ray Patungan
Buat beli stock baru.

To: Roy Manager
Dasar, sableng lo be2,
By the way, lo nonton LAGs kagak?

From: Roy Manager
LAGs? Apaan itu?

To: Roy Manager
Errr! Lo pura2 o’on atau
Benar2 o’on sih?
Yaaa Lactiongames!

From: Roy Manager
Nah kan benar tebakan gue!
Pasti ada alesan deh sms gue!

To: Roy Manager
NONTON GAK?!

From: Roy Manager
Nyantai dong bray!
Capslocknya nakutin ._.
Iyalah~ gue nonton, gue kan
Manajer yang baik u,u

To: Roy Manager
Trus?!

From: Roy Manager
Trus apaan?!

To: Roy Manager
YA TERUS GIMANA TAYANGANNYAAAA?

Cakka mulai dongkol menghadapi manajer yang superduper o’on itu. Sebenarnya alasan Cakka untuk sms Roy adalah ingin mengetahui apakah rahasianya dengan Oik sudah tersebar dengan sempurnanya ke seluruh Indonesia? Sejujurnya perasaannya sejak tadi siang sudah tidak tenang. Apalagi kalau melihat Oik, dia semakin resah. Makanya dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada lactiongames dilayar kaca pada manajernya.

From: Roy Manager.
Oh… Cakka…
Gue cuma pengen bilang…
Kalau lo udah selesai di LAGs...
Lo langsung nikahin Oik aja yah…
:p

Cakka menelan ludahnya membaca sms yang sama sekali tidak nyambung dari manajernya itu. Cakka sudah tidak berpikir tentang pertanyaan yang dia berikan tadi. Kali ini dia tampak sangat amat resah membaca sms dari Roy itu. Ya Tuhan kenapa Roy berkata seperti itu? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan? Dengan gemetaran Cakka mengetik balasan untuk Roy, manajernya.

To: Roy Manager
Apa maksud lo? Jgn blg kalau
Yg itu udh ditayangin :O x_x

From: Roy Manager
Yang manaaaa???

To: Roy Manager
Kalau yg itu…
Yg buat kamu blg aku plg dari sini
Hrs nikahin Oik…

From: Roy Manager
Ya… itu pndptku :p
Gue suka, dan gue rasa
Chemistry kalian gak Cuma cocok
Jadi pemain film tapi
Lebih cocok jadi suami istri *kabooor

Cakka sedikit menghembuskan nafasnya membaca sms dari Roy barusan. Ada kata pendapatnya bisa jadi cuma pendapatnya dan kasus itu belum ditayangkan. Cakka mencoba mencari tahu lebih lagi.

To: Roy Manager
Roy, emg yg ditayangin apa aja?

From: Roy Manager
Bujubuset gue mau ceritain smua?
Panjang… kan lo udh ngalamin disana
Yaaa mungkin ditayangin!

To: Roy Manager
PLEASE ROY GUE BUTUH TAHU!
DAN GAK USAH TANYA
APA ALASANNYA!
DON’T WASTING MY TIME
WITH YOU!

Cakka kembali dongkol terlalu membuang waktunya dengan mengirim sms pada manajernya. Coba saja dia bertanya pada orang lain, mungkin dia akan lebih cepat mendapatkan informasi. Sedikit lama Cakka menunggu sampai akhirnya Roy membalas.

From: Roy Manager
Intinya di LAGs lo kyk jadi peran utama
Bareng Oik u,u
Dan gue suka hahahaha >:D
Kayaknya lo dan Oik sama2 masih punya
Ehem…ehem… Cuma kalian be2 aja
Yang gengsi :p
Turunin gengsi lo deh Kka…
Ini kesempatan buat ngaku sama Oik ;)

Kalau saja Roy tahu Cakka sudah menurunkan gengsi dan memberi tahu Oik tadi, tapi di sisi lain Cakka bersyukur karena dari inti percakapannya dengan Roy berarti ‘kejadian di kamar itu’ belum ditayangkan. Cakka bukan mengatakan tidak dalam hatinya tapi belum. Suatu saat pasti akan ditayangkan… huh!

To: Roy Manager
Oh!

From: Roy Manager
Kok Cuma oh sih!
Gak asyik!

To: Roy Manager
Trus? Lo mau gue ngomong apa gitu?

From: Roy Manager
Tanya apa kek gitu…
Gue lagi BT soalnya gue
Ditinggal sendiri sama Ray
Dia lagi jalan sama anak tetangga noh.

To: Roy Manager
Gimana keadaan Shilla?

Cakka kaget sendiri setelah menekan tombol send. Bisa-bisanya dia bertanya tentang Shilla? Dia kan mengikuti kuis ini untuk menghindari gosipnya dengan Shilla. Kenapa sekarang dia yang bertanya?

From: Roy Manager
PlisdehKka… jgn maruk!
Jgn blg lo kangen Shilla juga.

To: Roy Manager
Gue sebagai partner kerja
Yang gak bertanggung jawab
Krn ninggalin pekerjaan waktu
VC baru lauching jg rada ngerasa bersalah.

From: Roy Manager
Tahu dah tuh!
Gue pusing tau gak!
Wartawan sering kmari nanyain
Nasib duet lo sama Shilla.
VC luncur lo mlh ikut LAGs
Dan Shilla bagaikan menghilang
Ditelan bumi, gue hubungin
Mereke nomornya udah ga aktip-_-

To: Roy Manager
Masa? Lo gak tanya Omnya Shilla?
Atau? Lo gak coba ke rumahnya gitu.

From: Roy Manager
Cieee perhatian :p
Gak M-A-L-E-S
Shilla bkn urusan gue,
Urusan gue kan cm lo!

To: Roy Manager.
Oh…! Yaudah gue bobo dulu,
Sian tinggal gue yg bgn nih,
Bye nite.

Setelah sms itu, Cakka segera membuka laci nightstand dan mematikan handphonenya dan meletakan handphonenya di laci nightstand itu menutupnya. Lalu mematikan lampu diatas nightstand itu. Menarik selimut, tapi sebenarnya dia tak bisa tidur. Wajah Oik selalu terbayang, diselingi rasa penasarannya tentang smsnya dengan Roy tadi. Kemana perginya Shilla?

♥♥♥

Senin, 26 Maret 2012

Behind the Scene #11

Remind us constantly...
Dibawah bulan purnama...
Dan bila aku pun rindu.
Pada nyamannya senyummu.
Pada hangatnya tawamu.
Ku kan datang dengan gitar.
Nyanyi lagu kesayangan.
Sampai kuingat indahnya kamu.
Wooo...oo...oo
Wooo...oo...oo
Tunggulah aku dihati kamu.
Tempat labuhan semua rinduku.
Tunggulah aku dihati kamu.
Tempat labuhan semua mimpiku.
“Cakka... Lagunya kok dirubah-rubah kayak gitu?,” Tanya Oik setelah Cakka selesai bernyanyi dengan gitarnya.
“Memang kenapa? Gak boleh yah?,” Tanya Cakka balik.
“Ya gak boleh... Lagu orang loh, ada hak ciptanya,”
“Cakka gak ngambil, cuma pinjem buat ungkapin isi hati sama Oik,”
“Gombal,”
“Emang... Tapi jujur,”
“Eh Cakka, lihat deh bulan purnama, sinarnya indah yah,” Oik memalingkan perhatian Cakka. Agar Cakka tak melihat betapa tersipunya dirinya.
“Oik gak takut?,” Tanya Cakka.
“Takut kenapa?,”
“Soalnya kata orang-orang kalau bulan purnama itu, setan-setan menari dibawahnya,”
“Hahahaha... Cakka lucu deh, Oik gak takut sama yang kayak gituan,” Kata Oik sambil tertawa. Diapun menerawang menatap purnama sempurna malam itu.
“Kalau ini Oik takut gak yah, hey Ik, look at me,” Kata Cakka.
Saat Oik memalingkan wajahnya...
Cup---, pipi Oik disentuh oleh sesuatu yang basah.
Ternyata Cakka sudah bersiap dari tadi mendekat agar saat Oik memalingkan kepalanya... Dia dapat melakukan 'hal itu' pada Oik.
“Cakka..........,” Oik kaget sambil memegang pipinya, sentuhan itu masih sangat terasa dipipinya.

♥♥♥

Selama dalam perjalanan Cakka dan Oik pergi ketempat dinner mereka berdua hanya saling berdiam diri. Cakka hanya tampak merapikan rambutnya. Oik cuma memegang kedua lengannya, dia baru menyadari betapa dinginnya malam ini dan dia hanya memakai gaun tanpa lengan. Mobil yang membawa Cakka dan Oik berhenti disebuah tanah lapang, namun dibagian kirinya terdapat tulisan yang diterangi lampu warna-warni. Lactigames. Artinya mereka tidak pergi jauh dari beranda karantina. Pintu mobil segera dibuka oleh body guard yang berada disitu. Cakka dan Oik segera turun dari mobil dan segera melangkahkan kaki. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, mereka melihat sebuah meja dengan 3 kursi. Dan sebuah lilin berada tepat ditengah-tengahnya. Nampak Debo sudah menunggu mereka berdua.
Setelah tiba tepat didepan Debo.
“Cakka, Oik, welcome,” Sambut Debo sambil tangannya menunjuk dua kursi didepannya segera mempersilahkan mereka duduk.
Diatas meja telah tersedia hidangan-hidangan yang nampak menggoda. Sup krim asparagus, sebagai makanan pembuka. T-Bone steak bearnaise, Chicken veronique, Salad balsamic, sebagai makanan utama. Chocolate fudge cake, sebagai dessert. Ini mewah...
“Ini sebagai reward kalian, hm, tapi sebelum memulai dinner mending saya langsung to the point menjelaskan tugas-tugas kalian, mulai dari tugas Oik, as leader Oik punya tanggung jawab khusus untuk mengatur jadwal kegiatan peserta-peserta di beranda karantina tanpa mengganggu jadwal dari lactigames sendiri, trus kamu wajib bangun lebih dulu dari peserta-peserta yang lainnya dan menghukum peserta-peserta yang terlambat bangun, tapi...jika kamu yang terlambat bangun, kamu akan dapat hukuman yang lebih berat, dan tentu saja kamu mendapatkan hak istimewa saat babak eksekusi nanti, yakni memilih menyelamatkan atau menjerumuskan? Kau bisa memakai hakmu memilih orang yang kamu anggap layak bertahan atau kau bisa memakai hakmu memilih orang yang kamu anggap tidak layak sama sekali bertahan...kamu sanggup menjalankannya?,” Tanya Debo sambil menyerahkan sebuah bannie hat yang bertuliskan leader sebagai tanda kepemimpinan Oik dan sebuah kertas yang berisi peraturan-peraturan.
Cakka menatap Oik was-was, tugas Oik terdengar sangat berat. Dia takut Oik tak sanggup menjalaninya.
“Sanggup!,” Jawab Oik mantap dan mengambil bannie hat dari tangan Debo.
“Bagus...sekarang tugas Cakka as keyholder hm, Cakka kau seperti pencabut nyawa didalam games ini...tugasmu memang hanya pada saat babak eksekusi baru digunakan...yakni menentukan siapa yang akan bertahan dan akan pulang dari peserta yang lain...tapi ingat, gunakan tak-tik, karena jika kamu salah memilih itu akan membahayakan posisi kamu di beranda karantina, kau mengerti?,” Tanya Debo sambil menyerahkan sebuah kunci kepada Cakka.
Cakka mengangguk mantap mengambil kunci tersebut, “Mengerti,”
“Bagus,” Kata Debo sambil menepuk kedua tangannya dan kemudian berdiri setelah datangnya 2 orang body guard. “That's all, saya pergi dulu, enjoy your dinner,” Kata Debo mengedipkan mata kemudian berlalu bersama salah satu body guard sedangkan yang satunya lagi mengangkat kursi Debo meninggalkan Cakka dan Oik. Cakka dan Oik terpekik kaget artinya... Mereka harus dinner berdua? Mereka menelan ludah mereka masing-masing, kemudian menatap makanan yang tadinya menggoda iman, tapi saat ini rasa kenyang melanda. Mereka berdua 'agak' risih, apalagi mereka yakin kamera mengintip disekitar mereka, dengan canggung Cakka memecah keheningan dinner.
“Oik... Gak makan?,” Tanya Cakka.
“Eh... Gak...Cakka aja yang duluan,” Kata Oik.
Cakka mengambil mangkok dihadapannya dan mengisinya dengan sup krim asparagus. Setelahnya, menukar dengan mangkok yang ada dihadapan Oik.
“Oik makan yah...nanti sakit makan telat,” Kata Cakka sambil mengisi mangkok yang ditukarnya tadi kemudian meletakan mangkok itu dihadapannya.
Oik menatap Cakka heran. Ya Tuhan, Cakka sangat perhatian padanya. Kenapa bisa begini? Dari pertama kali mengikuti games ini sampai saat ini, Cakka sudah banyak membantunya. Pertanda baikah ini akan hubungan mereka membaik kembali?
Malam itu sinar bulan terpancar sempurna, ya malam ini purnama sempurna, Cakka dan Oik belum menyadarinya. Mereka terhanyut menikmati makanan yang ada dihadapan mereka. Sebenarnya berusaha menikmati. Sampai...
Masih saja kuteringat kata iringi kau pergi
Jadikan sore itu satu janji
Kau akan kembali untukku, serta untuk diriku
Mengingatku walau aku jauh
Akupun sempat janjikan, kukayuh semua mimpiku
Kulabuh tepat di kotamu…
Dan kaupun s’lalu janjikan kau ‘kan menungguku datang
Bersatu kembali seperti dulu
Dan bila akupun rindu pada nyamannya kecupmu
Pada indahnya tawamu
Kudendangkan dengan gitar lagu-lagu kesayangan
Sambil kuingat indah wajahmu

Oo… oo… ooo… 2x

Tunggulah aku di Jakartamu
Tempat labuhan semua mimpiku
Tunggulah aku di kota itu
Tempat labuhan semua mimpiku.
Cakka dan Oik kaget kala dari ujung ada sebuah panggung dan diatasnya ada seorang yang menyanyikan lagu itu dengan seseorang yang mengiringinya dengan petikan gitar.
Oik menatap langit malam itu, akhirnya dia menyadari malam ini purnama sempurna...lagu itu...lagu kenangan yang liriknya 'sedikit' diubah Cakka untuk dirinya...dan...
Ya Tuhan! Kenapa ini seakan diputar ulang?

♥♥♥

Cakka dan Oik yang telah selesai menikmati makan malamnya dijemput dengan mobil yang sama dengan tadi. Tak beberapa lama kemudian mereka telah tiba diberanda karantina. Dengan langkah gontai keduanya memasuki beranda karantina lewat pintu utama. Peserta-peserta yang lain tampak sudah selesai makan malam dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Alvin dan Sivia sedang dipojokan sambil saling cubit hidung. Irsyad sedang menyapu lantai. Sesekali dia menggeleng frustasi karena tak bisa melakukan hal itu, maklum dia tak terbiasa. Zahra tidak tampak, sepertinya dia sedang berada didapur membersihkan bekas makanan peserta yang makan malam di beranda karantina. Gabriel dan Riko tampak berbincang-bincang. Nadya sedang nonton televisi sedangkan Acha tidak kelihatan. Oik segera melangkahkan kakinya setengah berlari untuk naik ke lantai 2 sedangkan Cakka memilih untuk bergabung bersama Gabriel dan Riko.
Tiba dikamar, Oik segera menghempaskan dirinya diranjang. Tanpa melepaskan alas kaki serta tanpa mengganti gaunnya. Belakangan ini seakan mengingatkan saat-saat indah bersama Cakka dulu. Kenapa begitu sering terulang? Oik menutup matanya, dada berdesir mengingat kejadian itu, semakin kemari semakin menyesakkan. Ah! Masalah itu lagi! Oik menggelengkan kepalanya. Kemudian segera melangkahkan kakinya, mengambil piyama untuk segera tidur, karena besok dia harus bangun paling pagi.
Oik hendak masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya, saat pintu kamar mandi dari dalam dibuka. Seseorang yang sudah memakai piyama keluar dari kamar mandi.
“Eh, Oik...udah pulang,” Sapanya.
“Iya Cha...gue mau ganti baju dulu yah,” Kata Oik sambil melangkah masuk ke kamar mandi namun sebelumnya...
“Ik...klo udah lo temanin gue dikamar aja yah...kita ngobrol-ngobrol disini,” Kata Acha. Oik mengangguk lalu mengunci pintu kamar mandinya.
Tak beberapa lama kemudian, Oik keluar dengan menggunakan piyama dan langsung duduk diranjangnya yang berdampingan dengan ranjang Acha.
“Ik...gimana dinner lo sama Cakka tadi? Seru kan?,” Tanya Acha.
“Seru kok,” Kata Oik.
“Wah enak banget lo menang reward bisa makan malam diluar gitu, makanannya gimana?,”
“Sup krim asparagus, T-Bone steak bearnaise, Chicken veronique, Salad balsamic,  Chocolate fudge cake,” Kata Oik.
“Wuiihhh enak...disini lo tahu gak Ik yang dimasak Zahra apaan?,” Tanya Acha, Oik menggeleng, tentu saja dia tidak tahu, “Telor ceplok kematengan, sama terong goreng gosong, trus minumannya jus jeruk kemanisan, menderita banget gue bisa-bisa pulang dari sini gue kurus kering,” Keluh Acha.
Oik terkekeh mendengar nama makanan aneh bin ajaib yang disebutkan Acha.
“Trus tujuan lo ikut acara ini sebenarnya apa sih Cha?,” Tanya Oik.
“Ada kamera gak disini yah...?,” Acha celingak-celinguk mencari dikamar mereka apa ada kamera tersembunyi disitu. Dan sepertinya ada, tapi Acha tidak yakin disudut mana kamera tersebut.
“Ada kayaknya...soalnya...,” Oik tak melanjutkan kata-katanya, setelah mengingat kejadian kemarin, awkward moment bathtub.
“Yaudah deh...gue bisik aja yah sama lo,” Kata Acha sambil turun dari ranjangnya dan naik ke ranjang Oik dan langsung duduk disamping Oik membisikkan sesuatu...

♥♥♥

“Eits, Cakka yang baru aja dinner sama Oik, gimana dinnernya?,” Tanya Riko.
“Seru kok, ralat yah bertiga sama Debo,” Kata Cakka sebelum teman-temannya menjurus kearah yang 'lebih' tentang dinnernya dengan Oik tadi.
“Yah apapun, yang penting, kalau menurut kasat mata gue...lo sama Oik kayak ada 'something' gitu...tau deh kayak yang dibackstage histeris itu...lo kan......awh,” Kaki Riko diinjak Cakka, “Sakit tahu Kka,” Kata Riko sambil merintih karena Cakka menginjaknya dengan sepenuh tenaga.
“Ko sumpah gue penasaran ada apa sih di backstage histeris?,” Tanya Gabriel.
“Ah...gak kok Gab, waktu di histeris gitu kan kita sama-sama bareng Oik juga, ya kan Ko?,” Kata Cakka bersilat lidah.
Riko memutar bola matanya, ini anak jago sekali bertele-tele.
“Gue boleh gabung gak?,” Tanya Nadya dan segera duduk disamping Cakka.
“Boleh kok,” Kata Gabriel.
“Thanks ya, soalnya, gue jadi obat nyamuk ngelihatin orang pacaran disana,” Kata Nadya sambil memberi kode menunjuk Alvin dan Sivia.
“Makanya lo cari pacar Nad,” Kata Riko.
“Kayak lo punya pacar aja,” Sambung Gabriel.
“Cieeee yang panas gara-gara mantan pacarnya udah dapet pacar dan mesra-mesraan didepan sana sedangkan dirinya masih sendiri,” Goda Riko pada Gabriel.
“Riko...lo biang gossip banget ya...,” Kata Gabriel.
“Kka...dari tadi lo diem aja nih gak ngomong,” Kata Nadya pada Cakka.
“Kan Cakka lagi membayangkan makan malam yang indah tadi,” Kata Riko.
“Ckck...,” Cakka menggeleng frustasi melihat pembicaraan ini sudah sangat kacau.
Diapun segera berdiri dari situ dan membuang langkahnya menjauh dari mereka.
“Woi... Cakka! Mau kemana?,” Tanya Gabriel.
“Ganti baju...gerah,” Kata Cakka menaiki tangga.
“Gue juga ah ke kamar...bye,” Kata Nadya menyusul Cakka menaiki tangga.
“Woi Nad, lo mau ke kamarnya Cakka yah? Mau ngapain? Tidur bareng? Ya ampuuuun,” Teriak Riko, membuat Alvin dan Sivia ikut menengok kearah Cakka dan Nadya.
“Apelo... Otak mesum aja yang lo pikirin,” Teriak Nadya sambil melemparkan setengah sendalnya kearah Riko dan tepat mengenai jidat Riko, dia hanya bisa meringis kesakitan. Gabriel terkekeh. Sedangkan, Cakka kembali menggeleng dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Tiba dikamar Cakka, Cakka segera mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan boxerbriefsnya dan segera berbaring ditempat tidurnya.
Memeluk gulingnya dengan erat dan membayangkan gulingnya itu... Oik. Cakka terlonjak kaget! Dia segera berdiri lalu memegang kepalanya. Lama-lama dia bisa gila begini. Sebenarnya apa sih perasaannya pada Oik itu?

♥♥♥

Nadya masuk ke kamar cewek. Mendapati wajah Oik memucat setelah Acha membisikan sesuatu padanya. Penasaran Nadya segera bergabung dengan Acha dan Oik.
“Lagi bicarain apa sih kayaknya seru?,” Tanya Nadya ikut naik ke ranjang Oik, “Acha bisikin apa sih sampe wajah lo pucat gitu?,” Tanya Nadya lagi.
“Hah? Pucat... Nggg... Gak... Perasaan lo aja kali Nad,” Kata Oik.
“Ya kali...emang lo bilang apa sih Cha?,” Tanya Nadya kepo.
“Ada deh...lo kepo banget deh,” Kata Acha.
“Ish pelit,” Kata Nadya lalu membaringkan dirinya di ranjang Oik.
“Ya ampun...,” Oik terpekik, dia segera beranjak dari ranjangnya, meraih tasnya lalu mengambil handphonenya, dan dengan segera memijit tuts handphonenya itu.
“Lo sms Ozy yah Ik?,” Tanya Acha.
Oik mengangguk, “Gue udah janji sama dia pas nyampe disini gue sms dia tapi kemarin gue lupa,” Kata Oik.
“Gara-gara keasyikan mandi bareng Cakka,” Kata Nadya.
Oik mendengus, “Tolong ya, gue gak mandi bareng Cakka, gue kan udah ngejelasinnya,” Kata Oik.
“Ya...ya...ya...bdw, Ozy tuh siapa sih? Pacar lo Ik?,” Tanya Nadya kepo lagi.
“Nad...lo jadi orang jangan kepo dong,” Acha sedikit kesal karena kekepoan cewek yang satu ini.
“Ozy itu sahabat gue tapi sahabat Acha juga kok,” Kata Oik.
“Owh...gitu toh,”
“Ya gitu,” Kata Acha.
Oik melihat screen handphonenya. 1 Message Alerts.
From: Ozy
Ya udh tahu kok. Slmt berjuang ya :)
Bdw, gw nntn eps 1.
Sumpah gw penasaran.
Apa yg terjadi sma lo& Cakka ;)

Oik menelan ludahnya. Berarti? OH NO! Jangan bilang episode besok malam. Tentang dia dan Cakka yang digerek ke pihak pengelolah acara karena 'hal itu'. Mati!

♥♥♥

Pagi-pagi benar, jam 5 subuh Oik sudah bangun. Dia bingung mau melakukan apa di jam 5 subuh begini. Tidak mungkin dia tidur lagi. Karena bisa-bisa dia bangun terakhir dan mendapatkan hukuman. Tadi malam dia sudah mengatur jadwal untuk kegiatan mereka seminggu kedepan. Dan hari ini dia akan membacakannya. Setelah segar mandi pagi, Oik segera keluar dari kamar. Dia belum membangunkan teman-temannya karena memang belum saatnya bangun. Zahra sebagai chef dan Irsyad sebagai Mad jadwal bangunnya jam 06.00 sedangkan peserta yang lain bebas asalkan sebelum jam 07.30. Dia berjalan mengelilingi beranda karantina yang luas itu. Mencari cara untuk membangunkan teman-temannya agar tidak ada satupun yang dihukum. Tapi dia akhirnya bingung. Lelah Oik mengitari beranda karantina, Oikpun menghempaskan tubuhnya di sofa ruang nonton. Dia segera memasang televisinya dan mulai mencari siaran yang bisa menghibur. Sepertinya acara kartun adalah pilihan yang tepat.
Terdengar suara sendok didalam gelas yang digoyang-goyang. Oik kaget, dia segera menoleh. Cakka tersenyum sambil memberikan teh hangat yang dibuatnya. Memberikan ke tangan Oik. Oik bingung menerimanya.
“Minum, supaya tubuhnya Oik hangat,” Kata Cakka.
Oik menatap teh yang ada ditangannya itu, menatap Cakka yang menaikan setengah alisnya, kemudian menyesapnya dengan hati-hati. Cakka tersenyum.
“Habiskan, ngomong-ngomong, Cakka belum mandi, Cakka mandi dulu yah,” Kata Cakka segera beranjak meninggalkan Oik dan naik keatas lagi.
Oik menghela nafas, Ya Tuhan... Apa maksud Cakka dengan segala perhatiannya belakangan ini? Trus bagaimana dengan... Oik membatin.

♥♥♥

“Perhatian... Perhatian... Semuanya banguuuuuuuun!,” Teriak Oik menggunakan pengeras suara yang dia temukan di gudang setelah mencari lagi, membuat beberapa orang sontak kaget dari tempat tidurnya. Bahkan Riko sampai jatuh terguling-guling dilantai kamar, Gabriel yang karena terkekeh melihat Riko malah ikut terjatuh sehingga dikamar lelaki terjadi kegaduhan.
Sedangkan dikamar cewek nampak tenang karena 2 dari 3 cewek yang masih dikamar selain Oik dan Zahra masih tertidur. Nadya masih tidur dengan gaya ayunya memegang boneka tazmania sedangkan Sivia tertidur sambil sesekali mengigau nama Alvin. Acha mendengus melihat gaya tidur kedua temannya itu. Dengan sandal boneka teddy warna coklatnya Acha melangkah ke kamar mandi dan bersiap-siap mandi.
“Pokoknya semua bersiap-siap yah! Gue sebagai leader tadi mendapat pesan dari pihak lactigames bahwa sebentar akan datang tamu! Jadi siapa terlambat akan dapat hukuman... Jadi banguuuuuuuuuun!,” Teriak Oik lagi.
Membuat 2 gadis yang masih tertidur itu terbangun kaget dan segera berhambur dulu-duluan masuk kamar mandi setelah Acha keluar dari kamar mandi.
“Pokoknya semua kecuali chef dan mad habis bersih-bersih diri berkumpul diruang tamu!,” Kata Oik masih menggunakan pengeras suara.
Setelah semuanya bersih-bersih mereka segera menuju ke ruang tamu. Masih tertinggal Sivia yang belum datang. Oik memandang jam tangannya menunjukan pukul 07.27. Tinggal 3 menit lagi kalau Sivia belum datang dia dinyatakan akan dihukum.
Untungnya Sivia datang jam 07.29 jadinya dia tidak dihukum. Setelah semuanya berkumpul terdengar ketukan pintu. Irsyad sebagai mad segera membukakan pintu. Dari luar muncul Debo bersama Angel datang bertamu ke beranda karantina.
“Ya, baiklah para peserta hari ini, kita akan mengevaluasi kegiatan kalian selama kurang lebih sehari ini,” Kata Debo.
“Oik!,” Panggil Debo tegas.
Oik segera menjawab, “Iya,”
“Kamu tahu, kamu punya kesalahan dan harus dihukum?,” Kata Debo.
Oik mengerenyit. Masalah apa lagi? Bukankah masalah dengan Cakka sudah diselesaikan kemari?, “Apa itu?,” Tanya Oik.
“Hm, sepertinya kamu belum membaca peraturan yang kuberikan kemarin penuh, poin nomor 20. Leader tidak boleh menerima barang, benda, sogokan atau apapun yang diberikan peserta lain,” Kata Debo.
Oik berpikir, apa yang dia terima? Perasaan tidak ada.
“Kau tadi pagi menerima teh yang diberikan Cakka dan kami anggap melanggar peraturan tersebut,” Kata Debo.
Cakka langsung angkat bicara, “Tapi Bo, gue gak ngasih benda, barang atau nyogok Oik...gue ngasih karena gue sendiri yang mau ngasih gak ada niat apapun!,” Kata Cakka.
“Apapun itu, adalah resiko leader dan Oik ikut saya dengan Angel ke kolam belakang untuk menerima hukuman!,” Kata Debo, “Yang lain tetap disini! Atau terima konsekuensi!,” Sambungnya.
Cakka sangat merasa bersalah pada Oik. Karena dirinya, Oik jadi dihukum. Dia menatap kepergian Oik bersama Debo dan Angel dengan tatapan bersalah. Sedangkan Oik membalas tatapannya dengan tatapan yang tak bisa diungkapkannya.
Tiba-tiba perasaan Cakka berubah tidak enak ketika menyadari dua kata yang Debo ucapkan tadi... Ya Tuhan... Oik kan?
Cakka segera beranjak dari tempatnya.
“Kka lo mau kemana?,” Tanya Alvin.
Cakka tak menggubrisnya dia malah berlari menuju kolam belakang.
“Cakka jangan nekat deh! Lo mau ikutan dihukum juga!,” Kata Sivia.
Cakka terus melangkahkan kakinya. Nah benar, Cakka mendengar Angel sedang menjelaskan hukuman yang akan dijalani Oik.
“Jadi Oik, lo harus berenang mengumpulkan sebanyak minimal tiga koin yang ada didasar kolam berenang ini,” Kata Angel.
“1...2...3,” Hitung Debo.
Oik yang menatap kolam berenang takut dan ragu akhirnya terjun. Bersamaan dengan Cakka berlari menerobos body guard yang menjaga. Sekuat tenaga akhirnya berhasil menerobos, kala Oik timbul tenggelam di kolam berenang.
“Dasar bodoh! Oik gak tahu berenang!,” Umpat Cakka sebelum.
Byurrrrrr.... Cakka ikut terjun kedalam kolam berenang.
Remind me constanly...

♥♥♥

Maaf yah kalau rada-rada pendek... karena saya banyak kerjaan di kantor... huhuhu ini saja baru pulang lembur... okey deh ... tunggu part 12nya yah :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...