Rabu, 06 Juni 2012

Under the Marriage: 3. NEW GIRLFRIEND = NEW DISASTER + 4. HOPE = LESS


3. NEW GIRLFRIEND = NEW DISASTER

CAKKA baru saja turun dari panggung sebuah acara off air, sang manajer langsung mencegatnya di dekat tangga turun.
“Cakka! Kita perlu bicara,”
Cakka mengerenyit menatap manajernya itu, “Ada masalah?,”
“Yeaay...besar!,” jawabnya.
“Okay, aku sudah selesai, kita bicara di mobil, bilang sama panitianya aku pulang duluan,” kata Cakka langsung memasukan gitarnya ke dalam sarung dan menyampirkan di bahunya. Beberapa orang security segera mengawalnya keluar bersama manajernya menuju SUV miliknya. Tadi mereka sempat berdesak-desakan karena ada beberapa fans Cakka yang hendak menerobos penjagaan, tapi untungnya mereka bisa tiba di mobil dengan selamat.
“Kemana Tuan?,” tanya Ujang, supirnya.
“Balik ke rumah dulu,” kata Cakka.
SUV itupun meninggalkan area acara off air tersebut.
“Masalah apa lagi sih?,” tanya Cakka.
“Kamu tidak jadian kan dengan Prilly?,”
“Ck...kenapa memangnya?,”
“Kamu kenapa pasang fotonya jadi DP ВВМ kamu? Sudah tahu nenek lampir itu masih ada di kontak kamu, masih aja cari masalah dengannya?,”
“Oh itu? Terserah diriku dong mau pasang foto siapa saja gitu, pajang foto kamu juga kalau aku mau, pajang foto Ujang juga, terserah dong,”
“Tapi kamu tahu tidak kalau Shilla, menggosipkan kamu punya pacar baru si bule itu, aku yakin deh kita pulang ini wartawan antri di depan rumah,”
“Hah? Kapan dia bilang begitu?,”
“Sixteen minutes ago...biasa di twitter-nya, kamu tahu tidak, kamu sekarang jadi selebriti yang penuh sensasi, orang-orang sekarang menilai kalau kamu sengaja begini untuk mendongkrak karir kamu,”
“Tapi kenyataannya tidak seperti itu Bram...,”
“Iya, tapi publik menilai lain, sepertinya dia memang sengaja ingin merusak image kamu di mata umum, karena merasa telah tersakiti olehmu,”
Cakka menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Dia bingung sekali dengan cara pemikiran Shilla. Sebenarnya, dia juga masih ada rasa dengan Shilla saat mengakhiri hubungannya. Tapi, belakangan ini dia ilfeel sendiri melihat beberapa bacotan Shilla di twitter. Seakan-akan dia adalah orang yang paling tersakiti di dunia ini.
“Okay, kalau dia mau aku punya pacar baru, aku tembak Prilly sebentar malam, kosongkan schedule untuk sebentar malam, booking restoran, siapkan semuanya,” kata Cakka kepada Bram.
Wajah Bram terlihat begitu cepat berpindah-pindah ekspresi, pertama mengerutkan keningnya, kemudian membuka mulutnya, lalu membentuk mulutnya seperti hendak mengatakan “Hah?!”, matanya melotot besar sebelum akhirnya menelan ludahnya dan berkata dengan wajah bengong.
“Kamu...yakin?,”
“Itu kan yang dia mau? Gosip supaya jadi nyata? Sebenarnya aku sudah capek Bram dari dulu, yang dia buat gosip Nadya vs Nadya dulu saat kita masih jadian, yang dia gembar-gemborin aku ke Yogyakarta bersama Nadya Almira, kemudian dia bilang aku dekat sama Nadya anaknya partner kerja Daddy, padahal semua itu tidak benar, kalau dia mau kali ini semua yang dia katakan benar, okay aku akan ikuti permainannya,” kata Cakka berapi-api.
“Kamu tidak minta pendapat Daddy-mu? Gimana kalau Daddy-mu tidak setuju kamu sama Prilly itu? Dan bakal menyerangnya sama seperti Shilla dulu?,”
“Yah backstreet lagi dong cyin,”
“Kamu senang banget backstreet gitu...kamu tahu tidak kalau kamu itu sedang mencari bencana?,”
Cakka tidak mau menanggapi perkataan Bram kali ini. Dia membiarkan Bram berceloteh sendiri selama perjalanan menuju rumahnya.
Benar saja, ketika tiba di rumahnya sudah banyak orang dengan kamera dan alat perekamnya bertengger di depan gerbang rumah Cakka. Cakka mengeram kesal. Lama-lama dia bosan dengan keadaan ini. Bisa tidak sih hidupnya tenang seperti dulu tanpa ada gangguan infotaiment yang haus akan gosip tentang dirinya? Dia bisa saja menerima infotaiment di rumahnya karena bagaimanapun tanpa pers seorang artis itu nothing. Tapi bisa tidak yang mereka liput kegiatan Cakka di studionya atau usaha untuk merampungkan albumnya dari pada menanyakan gosip yang tidak jelas yang diciptakan oleh virus Jakarta coret –kata Daddy-nya– itu merugikannya. Kadang Cakka sering tertawa kala Daddy-nya itu menyebut Shilla dengan virus Jakarta coret, itu di karenakan dulu waktu Cakka belum menetap di Jakarta dan masih merintis karir bolak-balik Yogyakarta-Jakarta, Cakka sering ke Jakarta sendiri tanpa ada jadwal apapun di sana hanya untuk bertemu dengan Shilla, padahal waktu itu mereka belum punya hubungan khusus, hanya sahabatnya saja, tidak lebih. Makanya Daddy-nya menyebut Shilla dengan virus Jakarta coret sampai saat ini. Perasaan dulu Shilla tak sebawel sekarang. Dulu, sebelum Cakka berpacaran dengannya, waktu mereka masih berstatus sahabatan, Shilla seseorang yang enak diajak ngobrol, suka mendengarkan curhat, dan nyambung kalau mengeluarkan opini-opini, entah kenapa belakangan ini berubah. Berubah menjadi sangat menjengkelkan dan mengacaukan hidupnya belakangan ini! Huh!

***

Jam sudah menunjukan pukul 19.00, saatnya Cakka menjalankan rencana dadakan yang disusun olehnya di mobil saat perjalanan pulang. Jadwal telah dia kosongkan, restoran telah dipesan, tadi juga dia telah menghubungi Prilly dan menyuruhnya untuk pergi ke restoran yang telah dipesannya itu. Katanya dia akan mengajarkan Prilly di sana. Soalnya, di rumahnya sedang tidak aman, wartawan bolak-balik ke rumahnya. Awalnya Prilly menolak dan menyuruh menundanya. Tapi Cakka bersikeras dan Prilly pun menyetujuinya.
SUV Cakka segera melaju menyusuri jalan ibukota, kali ini dia pergi sendiri tanpa Bram dan juga tanpa Ujang. SUV itu berhenti di sebuah restoran yang cukup mewah. Restorannya tampak sepi, ya memang seharusnya sepi karena Cakka sudah mem-booking-nya. Cakka segera turun dari SUVnya menyampirkan jasnya di bahu. Lalu memasuki area restoran itu. Restorannya semi-outdoor, salah satu pegawai disitu menyapanya.
“Selamat malam,”
“Malam...teman saya sudah datang?,” tanya Cakka.
“Sepertinya belum, silahkan sesuai dengan pesanan meja di tepi swimming pool telah disediakan, anda boleh menunggu disana,”
“Okay, kalau teman saya datang silahkan arahkan kesana yah?,” kata Cakka sebelum melangkah menuju sebuah meja yang telah di hias sedemikian rupa. Meja tersebut berada tepat di samping area swimming pool. Cakka duduk di situ sambil memainkan iPadnya.
Dari luar Prilly dengan side whirl dress turun dari M3-nya dan segera memasuki area restoran tersebut. Dia agak sedikit kaget karena setahu dia restoran ini selalu ramai, tumben malam ini sepi. Seorang pegawai yang tadi menyapa Cakka, kini menyapa Prilly juga. Dia segera mengantar Prilly menemui Cakka yang sedang menunggu di dalam.
“Hai,” sapanya lalu duduk di hadapan Cakka.
Cakka tersenyum sebelum membalas sapaannya, “Hai,”
Prilly memandang sekelilingnya, sepertinya ada hawa aneh bin ajaib di sekitarnya. Karena “agak” sedikit kurang connect dengan keadaan di sekitarnya, dia pun membuka suara bertanya pada Cakka.
“Kka...aku kok dari tadi tidak melihat satu orangpun di sekitar sini? Padahal restoran di sini biasanya ramai,”
Cakka mengangkat kedua bahunya, “Kali aja mereka memberi kita kebebasan buat berdua disini,”
“Hm, trus kamu kenapa tidak bawa gitar? Atau kamu lupa di mobil?,” tanya Prilly sambil celingak-celinguk mencari keberadaan gitar Cakka yang tak kunjung dilihatnya sejak tadi. Cakka juga tampak lebih “wah” penampilannya dengan jas.
“Aku bawa banyaaaakk kok...,” kata Cakka.
“Mana?,” Prilly mengerenyit.
“See,” kata Cakka menepuk tangannya. Tiga orang yang membawa gitar menghampiri mereka. Seseorang dari mereka memberikan Cakka gitar hitam yang biasa di pakainya ketika tampil di depan publik. Cakka segera mengambilnya dan mulai memetiknya, ketiga orang yang datang juga ikut memetik gitarnya.
Jamie... Jamie...
You're the love
Because you're a wind
In the name of love
It's a walk to remember

Jamie... Jamie...
You're the light in the dark
Because you're the sunshine
In the name of love
It's always be an unforgettable

Jamie... Jamie...
I'm your Landon...
Please, Look at me...
If I'm Landon...
Will you be my Jamie?

Prilly kaget mendapati akhir dari lirik lagu ciptaan Cakka yang terinspirasi dari novelnya Nicholas Sparks A Walk To Remember, seseorang dari tiga pemain gitar itu memberikan bunga tulip untuknya. Dia hanya bisa menganga belum bisa menyerap semua ini di dalam otaknya.
Cakka mengangkat setengah alisnya, “I'm waiting for your answer, choose one...me or tulip? If you accept the tulip it means you reject me, if you leave the tulip and hug me, it means you allow me as your Landon?,”
Perlu beberapa menit Prilly untuk menyerap semua yang terjadi sebelum dia menyadari bahwa ada seorang lelaki di hadapannya yang sedang menginginkannya menjadi “Jamie”-nya?
“Cakka...ini?,”
“Ssshh... Tak usah bertanya lagi, hanya ada dua pilihan saat ini,”
“Tapi kan kita baru kenal,”
Cakka tersenyum, “jawab saja, I'm waiting,”
Prilly menatap secara berganti-gantian antara bunga tulip itu dengan Cakka, sesekali menggigit bibirnya, sesekali juga matanya menyipit, keningnya berkerut. Tak lama kemudian dia bangkit dari kursinya, dengan cepat menyambar tulip yang ada di tangan seseorang yang memegang gitar tersebut...
Dia mengambilnya...
Tapi langkahnya dilanjutkan kembali mendekat ke arah Cakka dan segera memeluknya.
Jadi... Sekarang Cakka yang kebingungan, dia menolak atau menerima Cakka?
“Bunga tulip ini cantik, kan kasihan kalau dibiarkan begitu saja, biar aku yang merawatnya yah di rumahku, thanks,”
“Jadi kau?,” Cakka mengerenyit bingung.
“I hug you, It means?,”
Cakka kemudian tersenyum dan mengangguk mengerti.
“Ehem...ehem maaf mengganggu, makanannya sudah siap dihidangkan,” kata waitress memecah keromantisan malam itu.

***

“Kamu sudah jadian?,” Bram membuka mulutnya besar-besar menganga menatap Cakka yang baru menyampaikan berita paling mencengangkan seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia.
“Yap,”
Bram cuma bisa menggeleng-geleng, dia tak tahu lagi masalah apa yang akan dihadapi Cakka setelah mempunyai pacar baru seperti saat ini.
“Aku tidak tanggung jawab ya Kka, kalau nanti Shilla mencak-mencak di twitter lagi, atau Daddy-mu tahu tentang hal ini,”
“Aku juga tidak menyuruhmu bertanggung jawab dengan keputusanku ini, apa yang aku putuskan tetap aku pertanggung jawabkan,”
“Oh ya?! Trus bagaimana dengan Shilla, orang telah mengecap kamu yang tidak-tidak kamu belum bisa juga bertanggung jawab ngomong ke publik kalau semua itu tidak benar,”
“Lho?! Kalau soal itu apa yang harus ku pertanggung jawabkan? Bukan aku yang nge-tweet bukan aku yang menyimpulkan, kenapa aku yang harus bertanggung jawab?,”
“Setidaknya klarifikasi,”
“Ah,” Cakka hanya mendesah tak menghiraukan, dia malah memetik-metik gitarnya.
“New girlfriend, it means new disaster for you,”

***

@PrillVers: Thanks for tonight :* beautiful night ever! Landon :) hehehe

@JBiooww: @PrillVers ecieee siapa tuh Landon? :O trus yang itu gimana? :O

@PrillVers: @JBiooww ada deh :p lo kepo bgt sih!

@JBiooww: @PrillVers  ввм yah :p

@PrillVers: @JBiooww ga mau lo kan ember :p

@JBiooww: @PrillVers janji deh gue gak ngember -_-v

***

@laddyshilla: duh :x kok pengen nyilet yah nyesek *srot*

@ladyshilla: kok perasaan gue gak enak banget yah dari tadi.

@ladyshilla: Mantan adalah jodoh yang tertunda :x *noofense

@ladyshilla: gue akan setia buat nunggu lo disini :') sampe kapanpun!

@ladyshilla: #maafgabisamoveone

@ladyshilla: duh pengen deh nimpukin batu ini di kepala lo! Supaya lo tau seberapa sakit jadi gue yg tiap hari kgn sama lo!

@ladyshilla: andai waktu bisa diputar kembali gue milih gamau kenal lo kalau tau2nya diginiin!

@ladyshilla: etdah mulai lagi itu dua orang ._.

@ladyshilla: cieeeee...cieeeee...cieeee

@ladyshilla: kangen bebek gue! Lalalalala~

Lihatlah betapa random-nya tweets Shilla.

***

@cakkasan: :* :) ({})

@JBiooww: #kode -» RT @cakkasan: :* :) ({})

@cakkasan: @JBiooww apa sih kode2 -_-

@JBiooww: @cakkasan gpp :) yg ptg besok jgn lupa #kodelagi

@cakkasan: @JBiooww lupa apa?

@JBiooww: @cakkasan mau gue frontalin? OH OKE!!!

@cakkasan: @JBiooww jangan! Kamu janji bkn sama aku loh tadi...

@JBiooww: @cakkasan iya deh tapi jadi kan? :)

@cakkasan: @JBiooww iya deh iya...

@JBiooww: @cakkasan sip (y)... Asek :p

***

@ladyshilla: yakin deh gue ada yg aneh :O selidikin ah~

***

4. HOPE = LESS

OIK berjalan menyusuri jalanan desa membawa rantangan. Mengantarkannya pada pelanggan-pelanggan masakan ibunya. Masakan Ibunya Oik memang terkenal di Desa Asri paling top markotop. Selesai dari situ, seperti biasa dia ke ladang. Kali ini, dia yakin tidak akan terlambat. Oik sengaja berangkat pagi-pagi benar. Itu juga dikarenakan ban sepedanya kempes, jadi dia harus meninggalkan sepeda kesayangannya itu dan berjalan kaki.
Kringgg...kringgg suara sebuah sepeda dari belakang Oik. Oik menoleh kearah belakang. Mendapati sebuah sepeda federal berwarna merah putih di belakang Oik, dengan seorang lelaki seumuran Oik di atas sepeda tersebut.
“Eh, Randy, selamat pagi,”
“Pagi Oik, mau ke ladangnya Ayah sama Ibu yah? Sini biar aku yang antarkan,”
“Ah, ndak usah Ran, takut kamu repot, aku bisa jalan kaki,”
“Nanti kamu kelelahan,”
“Sudah biasa,”
“Ayolah Oik, nanti tak bilangin sama Ayah dan Ibu kemarin kamu datang terlambat,”
“Da...dari mana kamu tahu?,”
“Ndak penting, yang penting kamu naik atau nanti tak laporin hayo...,”
Oik terpaksa mengangguk dan naik di belakang sepeda Randy.
“Pegangaaaaaan,” kata Randy lalu mulai mengayuh sepedanya.
Randy adalah anak dari pemilik sawah yang Oik dan Nova jaga. Sebenarnya, dari masa SMA, Randy sudah berulang kali menyatakan cintanya pada Oik. Tapi selalu ditolak Oik, dengan alasan dia masih sekolah dan belum mau pacaran. Setelah lulus SMA-pun Randy tetap saja ditolak Oik dengan alasa belum siap menjalani suatu hubungan khusus dengan lelaki manapun. Dan Randy tetap bertekad menunggu sampai Oik benar-benar siap.
Tiba di ladang, Nova belum datang dan jam juga masih menunjukan pukul 06.15, biasanya mereka datang jam 06.30. Setelah memarkir sepedanya, Randy menuju pondok kecil di situ menemani Oik sampai Nova datang.
Hening. Semilir angin berhembus membawa ke sejukan. Embun pagi pun kelihatan segar. Mentari pagi menampakan keceriaan.
“Oik,”
“Iya,”
“Kamu...ehm...kamu sudah siap belum?,”
“Siap apa?,” tanya Oik dengan wajahnya yang polos.
“Yah, yang aku tanya tempo dulu sampai sekarang pun aku akan tetap menanyakannya sampai kau siap,”
“Jangan terlalu banyak berharap dariku Ran, banyak yang suka kamu,”
“Tapi aku ndak suka mereka Oik, aku sukanya sama kamu, aku akan tunggu kamu sampai kapanpun, Oke kalau kamu belum siap sekarang,”
“Aku cuma ndak mau jadi pemberi harapan palsu,” Kalimat itu yang Oik ucapkan sebelum Nova datang merusak suasana.
“Weeeei! Pagi-pagi sudah pacaran,”
“Weh Nov, aku ndak pacaran,”
“Hahahaha, iya aku kan becanda tadi,”
“Ehm, Ik, Nov, aku pulang dulu yah, aku ndak bisa temani kalian lama-lama, soalnya tadi Ayah menyuruh aku memanggil Ibu yang dari pagi sekali di rumahnya Mpok Uti, aku kelupaan...hehehe, da Oik, da Nova,” katanya segera mengambil langkah bergegas menuju sepedanya. Mati! Gara-gara mengantar Oik tadi dia lupa kalau Ayahnya yang marah-marah karena pagi-pagi sekali sudah ditinggal isterinya. Bisa-bisa dia dicincang sampai di rumahnya. Tapi, tak apalah, demi Oik.
Oik dan Nova menatap kepergian Randy.
“Oik, kasihan lho dia, menunggumu dari SMA,”
“Aku ndak pernah suruh dia menunggu,”
“Ya...tapi kamu kenapa ndak coba buka hati kamu buat dia?,”
“Aku ndak bisa,”
“Ndak? Belum Ik, tapi suatu hari,”
“Ya...semoga saja,”

***

Oik baru tiba di rumah ketika melihat Ibunya sedang membaca sebuah kertas yang baru saja diberikan Oktav kepada Ibunya. Ibu terlihat serius menjelajahi kalimat demi kalimat yang ada di atas kertas tersebut.
Oik mendekati Ibunya dan Oktav.
“Apa itu Bu?,”
“Ini nak, tunggakan uang sekolah dan uang ujian Oktav, gurunya ngasih surat panggilan,”
“Berapa bulan Bu? Oik punya tabungan dari hasil menjaga ladang, mungkin bisa menutupinya,”
“Lima bulan nak, ah...sepertinya itu ndak cukup,”
“Ibu harus datang besok, soalnya kalau Ibu ndak datang kata kepsek Oktav bakal dicoret dari siswa ujian,” kata Oktav.
“Bayar seberapa yang ada dulu lah Bu, nanti Oik ikut menghadap kepseknya Oktav,” kata Oik, “bentar ya Bu, Oik ambil uangnya,” katanya segera berlari ke dalam dan mengambil sebuah celengan bebek-bebekan, mencampakkannya ke lantai dan uangpun berserakan. Mereka bertiga mencoba mengumpulkan uang-uang itu lalu menghitungnya.
“Ini hanya cukup untuk tiga bulan,” kata Ibunya.
“Ya sudah yang penting beban Ibu berkurang,” kata Oik.
“Ik...,”
“Ya Bu?,”
“Ibu harap kamu bersungguh-sungguh dengan apa yang kamu katakan tempo hari,”
Oik mengerenyit, “tentang apa Bu?,”
“Tentang kamu mau ikut Ujang kalau ada lowongan,”
Oik terhenti. Kemudian menatap Ibunya. Melihat sebuah gurat 'keputusasaan' di mata Ibunya itu.
Mungkin sudah saatnya dia membahagiakan kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Jika itu merupakan suatu jalan keluar kenapa tidak dia mencobanya?

***

Under the Marriage: 1. THE PROBLEM IS BEGIN + 2. BEAUTIFUL PLACE IS IN HERE

1. THE PROBLEM IS BEGIN

SEBUAH majalah melayang dalam bayang-bayang bebas di udara sebelum akhirnya menabrak tembok dan terpental ke lantai.
“Makanya Cakka sudah Daddy bilang dari dulu, Daddy tidak setuju kalau kamu pacaran dengan virus Jakarta coret itu, Daddy sudah menduga dia akan menimbulkan masalah yang baru untukmu di kemudian hari, nah ini buktinya,” seorang pria paruh baya berkoar-koar.
“Berhenti menyebutnya dengan virus Jakarta coret Ddy, namanya Shilla,” bela Cakka.
“Sudah! Kamu tidak usah membelanya! Kau tahu ayah dan Bram manajer kamu, dari dulu sudah mengusahakan supaya kamu tidak dinilai modal tampang doang, dan mengurangi haters kamu yang bertebaran dimana-mana karena menilaimu seperti itu, dan see the result, kita berhasil, yang dahulu haters sekarang jadi lovers, dan kamu sudah mulai bisa menikmatinya bukan?! Sekarang apa? Wanita itu dengan sengaja berkoar-koar di twitter yang adalah jejaring sosial, kamu menyakitinya, kamu tak tahu perasaan wanita, dan lain sebagainya untuk menarik simpati orang-orang, apalagi boleh dibilang karirnya sekarang lebih sedikit di atas kamu, and then see now! Yang dulunya lovers kamu, sekarang lebih membela virus Jakarta coret itu!,” pria itu melanjutkan koar-koarnya.
Lelaki bertubuh gempal menghempaskan dengan kasar sebuah majalah yang deadline-nya CAKKA NURAGA SAKITI ASHILLA ZAHRANTIARA disusul sebuah tabloid dengan foto Cakka di depannya tertulis 2 TAHUN BACKSTREET DIBALASKAN RASA SAKIT. Selanjutnya, lelaki bertubuh gempal itu menunjukan berita dari situs online di iPad-nya DIKEJAR BANYAK PRIA SHILLA TETAP HARAPKAN CAKKA.
“Apa sih yang diinginkan Cakka Nuraga? Ashilla Zahrantiara, cantik, berprestasi dan berbakat. Dari dulu publik sangat menginginkan mereka berdua pacaran, saat semua tahu mereka punya hubungan khusus dan ingin merayakannya ternyata mereka malah sudah mengakhirinya owh...sayang sekali. Melalui twitter-nya, Shilla dengan terang-terangan mengatakan masih menyayangi mantannya itu, tapi menurut beberapa sumber ayahnya Cakka tidak menyukainya maka dari itu dia sering disindir ayahnya, semua salut karena Shilla bisa bertahan...apa sih yang di mau Cakka? Cewek yang setia seperti Shilla? Banyak yang mengejarnya tapi dia tetap bertahan pada satu hati... Cihh!! Apa banget nih berita Kka, setia? Selingkuh tiada dua maksudnya? Setia hasil bukan proses, masih pacaran sudah setia-setia mati aja sekalian supaya setia,”lelaki gempal itu membaca yang ada di iPad-nya.
“Ya sudah lah Ddy, Bram, tak usah dipermasalahkan yah, terserah dia mau berkata seperti apa, kan pada kenyataannya Cakka tidak menyakitinya, kita putus baik-baik kok,”
“Apa?! Kamu mau membiarkan begitu saja? Ini sudah tidak bisa terserah dia, she ruin your career dear, semua orang sekarang menilai buruk tentangmu, semua jadi melihat dari point of view-nya dia, karena privacy-nya diumbar di depan umum, sudah begitu dia pinter banget mengambil alih suasana,” kata lelaki gempal yang adalah Bram, manajer Cakka.
“Ambil alih keadaan gimana Bram?,” tanya Cakka.
“Yah gini Kka, kemarin tuh dia abis galau dan berkoar-koar tentang kamu, bilang kamu begini-begitu-begono, habis itu besoknya dia sok care gitu sama fans-nya yang sakit, mati, dan lain-lain, besoknya menghina kamu, nyindir kamu, dan besoknya lagi pura-pura kuat senyum dalam tangis gitu, selanjutnya kayak gitu terus,”
“Kamu stalk twitter-nya yah Bram, atau jangan-jangan kamu followers-nya lagi?,”
“Ih, ogah jadi followers-nya, kalau stalk sih, iye dikit...hehehehe,”
“Sudah tidak usah ditanggapi, stay cool and calm, ditanggapi dia makin menjadi, yang penting dia tidak menyakiti siapapun, ya sudah, pusing ah...aku mau latihan di studio aja, project buat album baruku lebih penting,” kata Cakka sambil mengambil gitar akustik di atas tempat tidurnya lalu melangkah keluar dari kamarnya itu.

***

@JBiooww: @cakkasan woiii temen gue mau minta di ajarin gitar nih sama lo, boleh nggak?

@cakkasan: @JBiooww boleh, bayar :p sehari = honor manggung sanggup? :p

@JBiooww: @cakkasan yaelah gue seriusan ini?

@cakkasan: @JBiooww canda :p hehehe, siapa sih penasaran deh?

@JBiooww: @cakkasan ada deh :p lo bisa nggak? Ntar kalau lo mau baru gue bilang

@cakkasan: @JBiooww yaudah deh, boleh ;) suruh datang aja ke rumahku

@JBiooww: @cakkasan bener nih? Gue suruh datang :p

@cakkasan: @JBiooww iyaaahhh...

@JBiooww: @cakkasan gue ввм lo deh pinnya yah ;)

@cakkasan: @JBiooww okeeee ;)

Blackberry Cakka berdering tanda sms masuk. Dia segera membukanya dan membaca pesan singkat yang masuk itu.

Manajer Gempal (Work)
Kamu dengan Bio punya rencana apa sih Kka?
Cakka Nuraga: Apa? Nggak...cuma tmnnya minta diajarin gitar doang...knp?
Manajer Gempal: Mantan kamu kembali menggalau lagi noh...
Cakka Nuraga: Elah, knp lagi?
Manajer Gempal: Noh, dia penasaran siapa yg bakal kamu ajarin katanya dri dulu dia minta diajarin kamunya nggak pernah mau, giliran org mau sampe bagi pin segala
Cakka Nuraga: Ngapain diajari kalau dia sdh bisa sendiri? Udah ya, aku udh bilang stay cool...
Manajer Gempal: Sekata kamu aja deh

Cakka tidak membalas lagi sms terakhir manajernya karena menurutnya sudah cukup. Bunyi alert blackberry messenger-nya berdengung. Segera dibukanya.

Juan Bio: Blackberry Contact: Prilly L | save | cancel

Cakka segera menekan tombol save sehingga dengan otomatis ter-invite. Tak beberapa lama kemudian diterima oleh orang yang bernama Prilly, yang kata Bio ingin belajar gitar darinya.

Prilly L: Thanks Cakka udah invite :)
Cakka Nuraga: Iya sama2 ;) kata Bio, kamu mau belajar gitar?
Prilly L: Hahaha... Bio nih suka mulut ember, dan nggak jelas, tapi iya nih lagi berusaha belajar...
Cakka Nuraga: Iya emang orangnya kayak gitu ._. Tapi bener kamu mau belajar? Mau aku ajarin?
Prilly L: Mau banget bisa main gitar, tapi nggak usah deh bisa sendiri nanti ngerepotin kamu, kamu kan sibuk...
Cakka Nuraga: Belakangan ini lagi banyak yang kosong kok, kalau kamu mau datang ke rumah aja, nggak apa2 kok
Prilly L: Tuh kan aku ngerepotin...
Cakka Nuraga: Nggak sama sekali kok :) aku senang kalau bisa membantu
Prilly L: Bener nih?
Cakka Nuraga: Iyaaaa...udah tahu alamat rumahku?
Prilly L: Udah kok :)
Cakka Nuraga: (y) ditunggu
Prilly L: (y) thank you Cakka ƪˇ▼ˇ¬
Cakka Nuraga: Sip

Blackberry Cakka bergetar lagi, bukan tanda sms maupun ВВМ melainkan tanda mentions masuk di twitter-nya. Selain mentions dari para fans-nya yang setia menyapa dari pagi hingga pagi lagi. Ada mention dari Bio, temannya menanyakan soal yang tadi mereka bicarakan.

@JBiooww: Cakkawww...udeh? Udeh lo invite? @cakkasan

@cakkasan: @JBiooww udah dongs :3 ;)

@JBiooww: @cakkasan aseeek XD jadi nih?

@cakkasan: @JBiooww Jadeeee...

@JBiooww: @PrillVers RT @asssveet: Bi, siapa sih yg minta diajarin gitar sma Kka? Gue jg mau dong lo suruh Kka ngajarin gue :3

Melihat mention Bio ke account twitter Prilly, Cakka segera menekan username-nya dan menekan tombol follow pada profilnya. Kemudian kembali membaca mentions dan membalas beberapa tweets dari fans untuknya yang dilihatnya. Tangannya bisa patah jika membalas semua tanpa terkecuali.

Manajer Gempal (Work) Calling...

Itu yang tertera di layar depan blackberry-nya, dengan cepat dia mengangkat telepon dari manajernya tersebut.

...Apa sih?...
...Kka dia itu cewek bule yah?...
...Apa nih yang bule?...
...Itu yang cewek minta diajarin gitar...
...Oh itu? Emang kenapa sih? Aku belum tahu, tapi dari avatarnya sih kayaknya indo gitu...
...Pantes...
...Pantes apanya?...
...Shilla berkoar-koar lagi, cieee yang bule sekarang, cieeee jadeeee apa nih...
...Dia berarti sering nge-stalk twitterku...
...Yaelah udah pasti itu...
...Yaudah lah, aku kan sudah bilang dari tadi yang kayak gini tidak perlu dilapor-lapor segala, biarkan anjing yang menggonggong, kafila berlalu...
...Yayaya...

Klik. Cakka segera memutuskan sambungan telepon dengan manajernya. Dia meletakan blackberry-nya di atas nightstand, sebelumnya membuat silent. Mumpung hari ini jadwalnya sedang longgar, dia butuh istirahat. Dia segera menarik selimut dan tidur.

***

Prilly L: Cakka hari ini kamu ada jadwal? Aku bisa main ke rumahmu?
Cakka Nuraga: Ada sih, tapi sekitar sore aku ada di rumah, cuma istirahat 2 jam-an lah, dateng aja...
Prilly L: Jgn deh...kamu kan mau istirahat
Cakka Nuraga: Nggak apa-apa kok, dateng aja
Prilly L: Hm, jam brp kamu bisanya?
Cakka Nuraga: Jam 4, soalnya jam 6 aku ada off air.
Prilly L: Oh, oke deh (y)

Pendulum jam menunjukan puku 15.25, ketika Cakka tiba di rumahnya. Tadi dia ada acara dari pagi sampai beberapa menit yang lalu di acara musik berbagai stasiun tv. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi, dengan cepat dia mandi dan menggati pakaiannya.
Bell rumah Cakka berdering. Cepat-cepat Mbok Sun, pembantu di rumah Cakka membuka pintu rumahnya. Di balik pintu nampak seorang gadis blasteran dengan rambut kecoklatan, bermata coklat, memakai white abstract printed dress dengan wedges devict. Dia tersenyum ke arah Mbok Sun.
“Selamat sore, Cakka ada?,” tanyanya.
Mbok Sun menatap gadis itu dari ujung rambut ke ujung kakinya.
“Weleh-weleh, koe ini Prilly tak? Yang koki di tipi-tipi itu?,”
“Iya Bu,”
“Aaaaaa, aku tuh nge-pens sama Non Prilly, jago masak, ajarin Mbok Sun dong sekali-sekali,” kata Mbok Sun sambil memeluk Prilly, membuat Prilly hanya bisa terkekeh melihat tingkah Mbok Sun, “aduh maap yah Non, Mbok Sun berlebihan, abis Mbok Sun nge-pens, tadi Non nyari Tuan Cakka yah? Ayo masuk Non, biar Mbok panggilin,” lanjut Mbok Sun mempersilahkan Prilly masuk ke dalam.
Prilly menunggu di ruang tamu, sedangkan Mbok Sun segera memanggil Cakka. Tak beberapa lama kemudian, Cakka dengan gitar akustiknya turun menemui Prilly di ruang tamu.
“Hai,” sapa Cakka.
Prilly tersenyum berdiri dan mengulurkan tangannya, “Hai, Prilly,”
“Cakka,”
“Aku tidak mengganggu jadwal istirahatmu kan?,”
“Ahaaa...tidak apa-apa, tidak mengganggu sama sekali, oh ya kamu mulai belajar dari akustik dulu yah,” kata Cakka sambil menyerahkan gitar ke tangan Prilly.
“Bentar aku ambil gitar satunya lagi,” kata Cakka kemudian melangkah pergi, lalu kembali dengan sebuah gitar akustik juga.
“Boleh kita mulai?,” tanya Cakka.
“Okay,”
Cakka pun memulai mengajarkan Prilly beberapa kunci-kunci dasar gitar. Dua jam berlalu tanpa terasa, Cakka harus segera menghadiri acara off air. Cakka mengantar Prilly ke depan pintu rumahnya.
“Kka...thanks ya,”
“Haha, you're welcome,”
“Kapan-kapan aku boleh kan main kemari lagi?,”
“Tentu saja, aku akan mengajarkan kamu sampai kamu bisa sendiri,” kata Cakka.
“Okay, aku pulang dulu...bye,” pamit Prilly, mereka cipika-cipiki sebelum akhirnya Prilly melangkah menuju M3 miliknya.

***

@ladyshilla: Gue sayang banget sama lo! Tapi lo aja yang nggak pernah peduli sama gue!

@ladyshilla: Tukaran sekarang! Lo yang di posisi gue, sakit nggak?

@ladyshilla: Bayangin! 2 thn! Gue nggak bisa lupa, ternyata lo cowok bullshit, sama kayak cowok lain!

@ladyshilla: Tahu nggak lagu tadi buat lo! Lo nonton nggak? Pasti nggak kan?

@ladyshilla: Oh pantes nggak nonton, abisnya lagi sama bule

@ladyshilla: Cantikan gue atau bule sih? HAHAHA

@ladyshilla: Cowok kayak lo cuma bisa nyakitin cewek!

@ladyshilla: Duh...lo beruntung dulu ngedapetin gue yang sabar banget! Si Bule sabar nggak?

@ladyshilla: Cihhh...liat aja nanti!

***

2. BEAUTIFUL PLACE IS IN HERE

SEORANG gadis mengayuh sepedanya menyusuri jalanan pedesaan. Desa Asri, sesuai dengan namanya Desa ini nampak sejuk dan nyaman. Pepohonan rindang tumbuh hampir di setiap rumah penduduk. Semilir angin sepoi-sepoi nan sejuk membuat Desa itu semakin terasa nyaman. Padi hampir menguning, sebentar lagi musim panen. Sang gadis memarkir sepedanya di tepi ladang, dan mengambil langkah menuju gubuk kecil yang tak jauh dari tempat parkiran sepedanya. Di gubuk kecil itu sudah ada seorang gadis seusianya melambaikan tangan ke arahnya.
“Oik...,” panggil gadis di gubuk.
Oik tersenyum menatapnya, dan melanjutkan langkahnya hingga tiba di gubuk kecil itu.
“Aduh...maaf ya Nov, aku terlambat, habisnya aku harus mengantar pesanan Mbak Ifah dan Bu Rahma, jadi aku agak terlambat kemari,” katanya.
“Iya...kalau aku sih ndak masalah, cuma Pak Rojab dan Bu Tika loh Ik,”
“Iya...kamu jangan bilang yah soal ini sama mereka, kamu mau makanan apa? Ini sudah ku bawakan gratis ndak usah bayar, buat makan siang kita sambil menjaga ladang ini,”
“Hahaha...yo wes, kamu paling pinter yang namanya bujuk-membujuk,” kata Nova.
Oik segera duduk di gubuk kecil itu, untuk menjaga ladang milik Pak Rojab dan Bu Tika. Dia bekerja di situ sudah sejak dia masih SMA, setiap pulang sekolah dia selalu menjaga ladang bersama Nova, temannya. 4 tahun yang lalu dia telah menyelesaikan bangku pendidikannya di SMA. Ya, karena dia adalah orang kampung, jadi dia tidak melanjutkan kuliah. Orang tuanya adalah orang yang pas-pasan, tidak mungkin bisa menyekolahkannya sampai di bangku kuliah.
Tempat yang paling indah adalah Desaku...
Dimana pohon dengan bebas tumbuh tanpa takut terancam ditebang...
Dimana padi menguning menandakan kehidupan...
Dimana manusia bahu membahu membangun Desa tanpa perlu merusak alam...
Terima kasih Tuhan, aku telah dilahirkan ke dunia ini, di Desa ini...
Aku berjanji apapun yang terjadi tak akan pernah meninggalkan Desaku ini...
Karena aku tak perlu berkeliling dunia mencari tempat indah itu, cukup disini... Di Desa Asri...
Tempat Indah ada disini...

***

Senja telah tiba, Oik dan Nova yang sedari tadi menjaga ladang kembali bersiap-siap pulang ke rumah mereka. Setelah beres-beres mereka bergegas menuju sepeda Oik yang terparkir di tepi ladang tadi.
“Ik, aku boleh numpang yah? Sampe di depan jalan aja,”
“Yo wes, naik,” kata Oik yang telah naik di atas sepedanya, Nova pun ikut naik membonceng di belakang sepeda Oik.
“Pegangaaaaaan,” teriak Oik sebelum mengayuh sepedanya.
“AAAAAAAA.....,” Nova jadi ikut mendramatisinya.
Sepeda merekapun menyusuri jalan pedesaan tanpa aspal, masih murni tanah, terkadang melewati bebatuan. Menyapa orang-orang yang lalu lalang di sekitar mereka. Sebelum akhirnya Nova turun dan Oik melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.
“Mbak Oik pulaaaaaang,” teriak Angel, adik Oik yang paling kecil, dia segera menyambutnya dengan pelukan. Oik pun segera menggendong Angel dan masuk ke dalam rumahnya.
“Kamu ini nduk... Mbak Oik kan baru pulang, capek udah minta digendong,”
“Hehehe, ndak apa-apa toh Bu, Oik yang mau gendong Angel,” kata Oik.
“Angel main dulu sama Mbak Oktav yah, Ibu ada perlu sama Mbak Oik,”
Oik melepas Angel dari pelukannya. Setelah gadis kecil itu berlalu. Oik duduk di sebuah meja tak jauh dari Ibu yang sedang menjahit. Dia segera mengambil ceret dan menumpahkan air di dalam sebuah gelas dan hendak meminumnya.
“Oik, apa kamu ndak ada niat buat cari kerja?,”
“Lho? Oik kan ini kerja, jaga ladang Pak Rojab dan Bu Tika, kerja bantu Ibu mengantar rantangan ke rumah-rumah,” kata Oik sambil meletakan gelas kosong yang air di dalamnya telah dihabiskannya, dia kembali menumpahkan air dari dalam ceret ke gelas yang sama.
“Maksud Ibu bukan seperti itu, kamu lihat Ujang anaknya Mas Karyo, dia sudah bisa bangun rumah dari kerjaannya ke kota,”
GLEKKK... Oik serasa menelan kelereng bukan air mendengar perkataan dari Ibunya itu. Perlu beberapa waktu untuk menetralisir sebelum dia berkata, “Jadi maksud Ibu, Oik cari kerja di kota?,”
“Iya...kamu tahu kan ekonomi keluarga kita pas-pasan, siapa tahu dengan ke kota kamu bisa memperbaiki ekonomi keluarga kita, Oktav sudah mau masuk SMA tahun ini, Angel mau masuk SD, Ibu sama Bapak ndak punya cukup uang, nanti harus ada yang berhenti sekolah,”
“Bu, baik Oktav maupun Angel ndak ada yang boleh berhenti sekolah, pendidikan itu asset besar dalam kehidupan,”
“Makanya nak, boleh ndak bantu Bapak sama Ibu, lagi pula kan kamu punya ijazah SMA, kalau Bapak dan Ibu lulus SD aja endak, jadi pasti di Kota jadi pemulung, lagi pula nak, Ibu sudah bicara sama Mas Karyo, katanya bulan April nanti Ujang mau ke sini, siapa tahu dia bisa bantu kamu ke kota buat dapat kerjaan,”
“Tapi Bu, Oik ndak mau meninggalkan Desa ini, Oik sudah nyaman di sini, Oik ndak terbiasa hidup di luar, apalagi di kota yang Oik dengar banyak hal-hal tidak baik dan tidak benar, nanti kalau di sana Oik dijual kepada sindikat perdagangan wanita bagaimana?,”
“Ndak akan, Mas Karyo bilang kalau di sana Ujang kerjanya baik-baik, jadi supir sama salah satu penyanyi siapa yah namanya tadi Ja.. Jaka... Eh... Saka... Eh Cicak, aduh susah, pokoknya itulah, siapa tahu kan kamu bisa jadi juru masak atau pembantu disana, hitung-hitung gajinya besar,”
“Tapi kalau ndak ada lowongan bagaimana?,”
“Kalau ada kamu mau yah nak?,”
“Kalau ndak ada,”
“Pasti ada! Ibu yakin itu, ya Oik...anak Ibu yang paling cantik,” Ibunya Oik berusaha membujuknya.
“Ibu mah...kalau ada maunya gitu,” Oik cemberut.
Ibu mendekat ke arahnya lalu menggelitikinya membuat Oik terkekeh.
“Mau yaaaa?,” Ibunya Oik terus saja menyerang Oik.
“Aduh Bu, geli...hahahaha,”
“Makanya mau yah?,”
“Iya deh Bu...iya mau...tapi kalau ada lowongan,” Oik menyerah.
Ibunya akhirnya menghentikan serangan kelitikan itu. Ibunya tersenyum membelai rambut Oik, “Kamu memang anak Ibu yang penurut,” kata Ibu setelahnya berlalu dari hadapan Oik.
Oik menghela napasnya.
Aku ndak akan pernah rela meninggalkan tempat indah ini.

***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...