Rabu, 06 Juni 2012

Under the Marriage: 7. BEFORE THE PRESS CONFERENCE + 8. AFTER THE PRESS CONFERENCE


7. BEFORE THE PRESS CONFERENCE

HARI ini pikiran Cakka semakin tak karuan. Beberapa kali dia bolak-balik dan mondar-mandir di dalam ruang tamunya. Bram, manajernya hampir pusing melihat Cakka bagaikan seterika.
Dia seperti itu bukan tak beralasan. Pasalnya, beberapa hari lalu Cakka telah menyetujui ide gila Daddy-nya yang sebenarnya sangat tidak memungkinkan. Dan sesuai rencana, Cakka akan keluar dan meng-klarifikasi semuanya hari ini di halaman rumahnya. Sedari tadi wartawan telah menunggu di depan rumah Cakka. Bahkan, sehari sebelum konferensi pers diadakan, sudah banyak wartawan yang silih berganti di depan rumah Cakka.
Di dalam hati Cakka cuma satu pertanyaan Cakka, apa Ujang berhasil membawa gadis seperti yang diinginkan Daddy? Cakka tentu tidak mau juga kalau Ujang membawa sembarang gadis untuk menjadi calon isterinya. Semoga pilihan Ujang tidak buruk!
Ini jadi sesuatu yang mendebarkan bagi Cakka! Dia seperti sedang akan melamar gadis yang akan menjadi isterinya, dengan arak-arak yang ramai membawa roti buaya, kembang tujuh rupa, mercon, dan trompet. Oke, itu lebay. Tapi bagaimana tidak? Daddy bahkan mengundang Mommy-nya untuk mengikuti konferensi pers ini supaya lebih meyakinkan. Bayangkan! Mengundang Mommy yang notabene sudah bercerai dengannya semenjak Cakka berusia 2,5 tahun.
Tiba-tiba alerts blackberry Cakka berbunyi. Dia segera merogoh kantongnya.
Ujang (Work) : Tuan muda, Ujang dan gadis yang di maksud sama Tuan besar sudah mendarat di Jakarta dengan selamat.
Mendapat pesan tersebut, Cakka segera memijat keypad-nya menghubungi Ujang.
...Hallo...
...Hallo tuan, udah nyampe, kita udah mau ke rumah ini...
...Tunggu...tunggu, kamu sudah beli gaun? Higheels? Aksesoris, udah percantik dia?...
...Wah, dia dasarnya emang cantik tuan, tidak perlu dimake-up juga, dan semuanya beres tuan...
...Oke! Aku sudah suruh sopir Daddy jemput kalian...
...Oke tuan, kita udah di luar dan sudah bertemu dengan Pak Emput...
...Sip... Eh, tunggu sebentar! Cincin...cincin!...
...Untuk apa tuan?...
...Aduh mampus, tadi aku lupa ambil cincin yang dipesan Daddy buat dipakaikan ke cewek itu, Jang, singgah dan langsung suruh pakai saja sama dia sudah tidak ada waktu, cepat yah, di emerald golden oke...
...Siap tuan...

***

Oik menatap Ujang yang meninggalkannya bersama seorang lelaki paruh baya di depan mobil yang mewah--menurutnya--dan dia di situ hanya bisa bengong. Setelah pembicaraan yang cukup serius dengan seseorang yang berada di balik telepon itu, Ujang kembali dan langsung membukakan pintu untuk Oik masuk ke dalam mobil tersebut.
APA?! Naik mobil ini? Oik mengerenyitkan dahinya. Tapi dia tetap mengikuti perintah Ujang untuk masuk ke dalamnya. Ini sungguh aneh, Ujang tak pernah menjelaskan pekerjaan apa yang akan menantinya di Jakarta. Ujang hanya berkata, kalau pekerjaan ini ringan banget malah. Dan gajinya lumayan besar. Sempat terbersit di benak Oik, Ujang akan membawanya ke tempat yang tidak-tidak. Tapi Ujang berhasil meyakinkannya untu tetap positive thinking. Tapi jujur saja, kali ini pikiran negatif itu kembali.
Bagaimana mungkin kalau Ujang yang katanya bekerja sebagai sopir malah dijemput dengan mobil mewah? Bagaimana mungkin kalau Oik minimal pekerjakan sebagai babu dan maksimal yah mungkin baby sitter dijemput dengan cara seperti ini?
Oik semakin kaget kala Ujang membawanya turun kesebuh toko berlian dan emas. Gila! Untuk apa mereka kemari?! Memang sih Ujang tak menyuruhnya turun. Hanya Ujang yang masuk dan tak lama kemudian keluar dan langsung menyerahkan sebuah kotak beludru ke dalam genggaman Oik. Oik melongo.
“Pakai yah, jangan dulu banyak tanya dan ndak usah berpikiran negatif, semua akan baik-baik saja,” kata Ujang dengan nada meyakinkan.
Oik ingin membalas perkataan Ujang yang tadi dengan sejuta pertanyaan yang ada dibenaknya. Namun entah kenapa lidahnya terasa kelu. Dia segera membuka kotak beludru yang ada di genggamannya. Dari dalam bias cahaya dari berlian yang berada di atas cincin emas putih itu mengkilau. Terlihat sangat mewah dan mahal. Dan sangat...
“WAW,” hanya kata itu yang mampu diucapkan oleh Oik. Waw...waw dan waw...
Dia tidak pernah memakai cincin seindah itu. Jangankan memakai, melihat atau bahkan membayangkan dirinya memakai cincin itupun tidak pernah. Dan kini, tanpa alasan yang jelas Ujang malah menyuruhnya memakai cincin itu sama seperti menyuruh seorang anak kecil memakan es krim kesukaannya.
Oik ragu menatap Ujang. Dirinya takut-takut meraih cincin itu. Namun Ujang menatapnya dengan tatapan Ayo--Pake--Jangan--buat--aku--marah. Oik jadi takut dengan tatapan itu. Maka dari itu, Oik mencoba memasangkan cincin itu di jarinya sendiri.
Dan...
Hap...
Pas...
Cincin itu terasa seperti dibuatkan memang khusus untuk Oik. Diapun menyunggingkan senyum samar di bibir tipisnya.
“Oke, Oik, kita hampir sampai, jangan pernah menjauh dariku,” kata Ujang sebelum mobil itu memasuki sebuah rumah yang besar dan megah dengan banyak sekali orang di halamannya.

***

“Ujang mana sih? Lama banget,” kata Cakka semakin panik, karena 5 menit lagi dia harus keluar dari sarangnya.
“Sabar Kka, paling sebentar lagi nyampe,” kata Bram menenangkan Cakka.
“Gimana aku bisa tenang coba---,”
“Tuan,” kata-kata Cakka terpotong dengan kehadiran...
“Ujang,” kata Cakka segera mendekat, “mana dia? Mana?,” tanya Cakka agak panik karena melihat Ujang yang hanya sendirian.
“Aduh, Ujang tak tahu Tuan, tadi pas Ujang turunin dia di depan, Ujang suruh jangan kemana-mana eh, pas Ujang balik dia sudah tidak ada di depan,” kata Ujang.
“Cakka! Lima menit lagi, ayo siap-siap keluar!,”
“Wait Ddy, Ujang lupa taruh ceweknya dimana,”
“Maksudnya?,” Daddy Cakka agak kurang paham dengan kalimat Cakka tadi.
“Aduh, gini aja Jang, cewek itu pake baju model bagaimana dan kayak apa? Pasti dia ada di kerumunan orang di luar, biar aku yang cari,” kata Cakka.
“Dia pakai gaun warna biru muda terus pake higheels, tingginya sekitar seratus lima puluh limaan, rambutnya panjang lurus, apalagi yah? Pokoknya dia manis tuan, matanya kecil, bibirnya tipis,”
“Oke...oke, aku cari,” kata Cakka dan langsung melangkah menuju pintu samping rumahnya.
Tepat saat dia membuka pintu samping rumahnya, dia melihat seorang gadis yang sedang merapikan rumahnya dan ciri-cirinya sama seperti yang di katakan Ujang...
Nah itu dia...
Tanpa banyak kata-kata Cakka segera meraih tangan gadis itu membawanya menuju kerumunan wartawan yang berkumpul di depan rumah Cakka.

***

8. AFTER THE PRESS CONFERENCE

JARI tangan Cakka masih berada di sela-sela jemari Oik. Dia terus menuntun Oik sampai masuk kembali ke dalam rumahnya.
Oik menatap sekeliling ruangan tempat dia dan Cakka berdiri sekarang ini. Ruang tamu yang megah dan besar, perabotannya pun terkesan mahal. Di desanya, dia tidak pernah melihat rumah seperti ini. Matanya tiba-tiba terhenti pada sosok Ujang yang berjalan ke arahnya.
“Duh Oik, kamu kemana aja, sudah aku bilang kan kamu ndak boleh kemana-mana,” kata Ujang.
“Kamu yang ninggalin aku tadi,” kata Oik.
“Eh, aku minta maaf yah, soal yang tadi,” sambung Cakka membuat Oik sadar kalau dia masih ada digandengan Cakka dan segera melepaskan tangannya. Dia tidak berkata-kata, wajahnya tiba-tiba memanas mengingat hal yang baru saja terjadi tadi. Sebenarnya apa sih pekerjaan yang sebenarnya ditawarkan Ujang untuk dirinya? Apa maksud pakaian yang dibelikan Ujang untuknya? Apa maksud mobil mewah? Apa maksud cincin? Apa maksud lelaki ini tiba-tiba menariknya? Apa maksud perkataan lelaki ini tadi? Dan apa maksud ciumana tadi...?
Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Oik.
“Aku ndak paham Jang, sebenarnya pekerjaan apa yang ada untukku disini?,”
“Aduh aku bingung Ik buat ngejelasinnya dari awal, aku juga ndak paham,”
”Biar saya yang jelaskan,” suara berat nan berwibawa menyela, semua mata segera tertuju padanya. Itu Daddy-nya Cakka, “bisa kita duduk dulu?,” lanjutnya sambil menunjuk sofa yang hanya berjarak 5 langkah dari tempatnya berdiri. Daddy Cakka mendahului mereka, duduk di samping Bram yang sudah lebih dulu duduk.
“Ayo,” ajak Cakka kembali menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Oik dan menariknya menuju sebuah kursi.
“Ujang! Kamu lihat keluar sebentar, apa masih banyak wartawan di luar?,” suruh Daddy-nya Cakka.
Ujang segera melangkahkan kakinya. Mengintip lewat jendela yang ada tepat di samping pintu utama.
“Masih tuan,” katanya.
“Oke, berarti, gadis manis, kita harus bersabar untuk penjelasan,” kata Daddy.
Daddy mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya kemudian berbicara. Sepertinya dia sedang berbicara dengan salah seorang satpam yang sedang menjaga wartawan di depan dan menyuruhnya lebih mengetatkan penjagaan.
Oik jadi makin kaget saat dirinya ditarik lebih mendekat dan menempel pada Cakka. Dan tangan Cakka bermain pada pundaknya.
“Iya Ddy... Aku dan Oik tuh maunya pernikahannya sederhana tidak usah terlalu mewah, yang penting Oik jadi milikku,” kata Cakka dengan suara agak kencang lalu menyapu sudut mata Oik dengan bibirnya.
Sekali lagi Oik kaget dengan perlakuan tiba-tiba Cakka kepadanya. Dia memalingkan pandangannya ke arah Cakka dengan mata yang membesar, untuk ukuran mata kecilnya. Tatapan kagetnya. Tapi Cakka malah membalas dengan senyuman tenangnya.
Cakka mendekatkan hidungnya ke telinga Oik dan menghembuskan napasnya tepat di samping daun telinga Oik. Membuat napas Oik berhenti untuk beberapa waktu.
“Oke, Daddy harap pilihan ini tepat,” kata Daddy.
“Off course Daddy, I'm in love with her...very, very love her,” kata Cakka lalu mencium Oik di samping daun telinganya itu.
“Cakka! Can you stop your activity? Don't you see, where you are?,”
“I know Ddy, but I don't know, why I can't stop to show how much I love her,” kata Cakka sambil menyeka bibir Oik dan membuat sesuatu seperti menari-nari di dalam perutnya. Dia kembali menatap Oik lalu mendekatkan bibirnya di tempat yang tadi disekanya sebelum akhirnya menempelkan bibirnya itu di situ. Kali ini darah Oik terasa seperti aliran sungai.
Lama-lama Cakka seperti memberikan terapi kepada Oik untuk mengetes fungsi organ tubuhnya. Jantung, checked. Paru-paru, checked. Perut, checked. Darah, checked. Apa lagi?
Cakka menatap ke arah jendela. Melihat kedua orang wartawan 'yang mencoba mengintip' ke dalam rumah Cakka ketahuan dan digeret oleh satpamnya. Cakka menghembuskan napasnya, kemudian dengan perlahan melepaskan tangannya dari bahu Oik. Tapi tidak menjauhkan dirinya.
“Sudah pergi,” kata Daddy, “Ujang, masih ramai di depan?,” tanya Daddy.
“Masih ada sekitar lima wartawan yang ngotot tidak mau pergi Tuan,” kata Ujang.
“Kita pindah ruangan, ke ruang keluarga ayo,” kata Daddy lalu berdiri mendahului semua, namun langkahnya tertahan dan berbalik lagi, “ah, Ujang, Bram, dan yang lain, biar saya, Cakka, Oik, sama ehm, Mommy-nya Cakka yang ke sana, kalian tunggu disini saja, oke!,”
Lanjut Daddy lalu melanjutkan langkahnya. Mommy-nya Cakka melangkah dengan ragu mengekor di belakang Daddy. Cakka berdiri, dan menatap ke arah Oik yang tidak melakukan gerakan sedikitpun. Cakka mengulurkan tangannya pada Oik. Gadis itu mendongak ke atas menyadari tangan Cakka yang terulur.
“Wanna hold your hand, can I? Kamu kan tak tahu jalan ke ruang keluarga,” kata Cakka.
Oik masih bingung dengan perkataan Cakka. Sebenarnya dari tadi dia bingung. Tapi, akhirnya menyerahkan tangannya ke atas telapak tangan Cakka, lalu berdiri dan mengikuti jejak Cakka.
Ruang keluarga Cakka berada di lantai 2 rumahnya. Ruangan keluarga jarang sekali di pakai untuk saat ini. Semenjak Daddy sibuk kerja dan kakaknya kuliah di luar negeri serta Cakka yang meniti karir, ruang keluarga hampir tak tersentuh.
Kali ini Oik duduk dengan Mommy, sedangkan Cakka dengan Daddy. Oik duduk di hadapan Daddy, sedangkan Cakka di hadapan Mommy.
“Nama lengkap kamu siapa?,” tanya Daddy.
“Oik, Oik Cahya Ramadlani,”
“Oke, Oik...kamu satu kampung dengan Ujang?,”
“Iya Pak, saya satu kampung dengan Ujang,” kata Oik.
“Kamu tahu untuk apa Ujang bawa kamu kemari,”
“Saya butuh kerja Pak, dan kata Ujang di sini ada pekerjaan, tapi pas sampai tadi saya bingung, kenapa jadi begini? Saya ndak paham Pak,”
“Kamu butuh pekerjaan berarti kamu butuh uang, kamu sebut saja berapa nominal yang harus saya bayar per bulan?,”
“Maksud Bapak?,”
“Ya ini pekerjaanmu,”
“Apa toh Pak? Saya ndak paham, mana pekerjaannya Pak? Dari tadi saya ndak diberi pekerjaan?,”
“Jadi tunangan dan calon isteri serta isteri Cakka,”
“APA?!,” Oik kaget setengah mati.
“Iya, kamu butuh uang kan? Dan butuh pekerjaan kan?,”
“Tapi saya ndak jual diri Pak,”
“Oh, saya tidak membeli, ini pekerjaan bukan transaksi jual beli, kan katamu kamu butuh pekerjaan,”
“Tapi bukan pekerjaan yang seperti ini Pak, saya bisa kok jadi pembantu di sini, bisa nyapu, ngepel, masak, nyetrika, dan lain-lain, saya siap untuk itu satu kali dua puluh empat jam kalau mau,”
“Saya tidak butuh pembantu, pembantu saya sudah banyak di rumah ini, dan semua siap satu kali dua puluh empat jam, saya butuh calon isteri buat anak saya,”
“Saya ndak pantas buat anak Bapak, anak Bapak selebritis, saya gadis kampung, pasti banyak gadis yang mau tanpa di bayar,”
“Nah itu! Saya butuh gadis yang bukan selebritis, gadis yang seperti kamu, dan saya mau membayar supaya ini dianggap sebuah pekerjaan, pasti kalau seseorang menganggap yang dilakukannya adalah pekerjaan dia akan ber-attitude baik untuk menyelesaikan pekerjaan itu bukan? Nah lagi pula saya mencarikan calon isteri buat Cakka untuk kepentingan karir Cakka, saya tidak mau mengambil resiko lain, kamu tidak beresiko untuk anak saya, bagaimana?,” tanya Daddy.
Oik nampak berpikir keras. Ini pekerjaan yang paling sulit untuknya. Jika dia disuruh memilih pekerjaan ini atau membajak sawah, mungkin dia akan memilih membajak sawah. Tapi bagaimana dengan orant tuanya yang berharap di kampung? Bagaimana dengan adik-adiknya? Dia memang sedang butuh pekerjaan yang menghasilkan uang!
“Pak saya punya orang tua di kampung---,” belum sempat Oik melanjutkan dipotong Daddy.
“Oh, tenang saja, mereka tidak perlu tahu soal ini, kamu bilang saja di sini kamu jadi asisten pribadi Cakka, nanti di saat yang tepat kita semua ke kampung kamu untuk melamar kamu seperti biasa, secara resmi supaya tidak ada yang curiga, yah pernikahannya tidak dilaksanakan buru-buru, mungkin enam bulan ke depan,”
Tiba-tiba ponsel Cakka berdering. Cakka berjalan menuju sudut ruangan untuk mengangkatnya. Sedangkan mereka melanjutkan percakapan mereka.
“Saya perlu berpikir,”
“Tidak perlu! Kamu harus menerima pekerjaan ini,” kata Daddy.
“Ddy, Mr. Pattinson, wanna talk to you,” kata Cakka mendekat sambil menyodorkan ponselnya. Daddy mengambilnya.
“Wait a few minutes, I'll be back, saya harap setelah saya menelepon kamu sudah punya jawaban,” kata Daddy lalu berjalan ke sudut ruangan menggantikan posisi Cakka tadi dan Cakka kembali ke tempat duduknya.
Oik menatap Cakka dengan perasaan yang gelisah. Entah kenapa, dia bahkan tidak tahu kenapa tiap kali dia menatap lelaki di hadapannya itu perasaan resah selalu muncul. Apa karena efek ciuman tadi? Atau karena lelaki ini memang penuh pesona?
Cakka sedang memainkan iPad di tangannya. Sesekali dia menggigit bibirnya sambil jari-jarinya menyentuh layar iPad.
Menjadi tunangan, calon isteri dan kelak menjadi isteri lelaki ini? Yang benar saja?
Sebuah tangan tersampir di pundak Cakka. Oik menatap ke arah yang empunya tangan. Itu Mommy-nya Cakka. Dia menyunggingkan seulas senyum padanya.
“Pikirkan baik-baik, kamu itu gadis baik-baik, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, dan kamu perlu tahu, Cakka itu juga lelaki baik-baik, tenang saja dia tidak seperti kata orang,” kata Mommy.
“Saya ndak paham Bu dengan semua keadaan ini,”
“Kamu tidak tahu masalah yang sedang menimpa Cakka?,”
“Saya ndak tahu Bu, maklum di kampung saya ndak ada tivi, saya tahu Cakka selebritis aja dari Ujang, makanya dari tadi saya bilang ndak paham,”
“Jadi begini sayang,” Mommy Cakka membelai rambut Oik, “Cakka punya masalah dengan ex-girlfriend-nya,”
“Ex-girlfriend?,”
“Iya, mantan pacarnya, dia putus sama mantan pacarnya, dan mantan pacarnya itu sama-sama selebritis, mereka pacarannya diam-diam dari publik, nah ketahuan pas mereka putus. Pacarannya sudah dua tahunan, dan mantannya itu tidak terima dengan keputusannya Cakka, jadi dia membuat pandangan orang tentang Cakka jadi buruk, dan karir Cakka mulai menurun, untuk mengembalikan itu dan untuk memutar balikan opini masyarakan makanya Daddy-nya Cakka mengajukan idenya yang menurut saya itu ide gila juga, yah, tapi pasti Daddy-nya punya alasan untuk itu,”
Oik mengangguk-ngangguk. Tapi sebenarnya tidak habis pikir dengan Daddy-nya Cakka itu. Cara seperti ini? Tidakkah ada cara lain?
Cakka terlalu. tenggelam dengan iPad-nya, makanya dia tidak mendengarkan pembicaraan yang terjadi antara Mommy dan Oik.
Daddy Cakka.  mengakhiri sambungan teleponnya dan menyerahkan kembali ponsel pada Cakka. Lalu dia duduk di samping Cakka.
“Bagaimana? Sudah kamu pikirkan? Dan saya tidak mau mendengar jawaban tidak!,”
Oik menghela napasnya, “baiklah, apapun jawaban saya, anggap saja saya menyetujuinya,”
“Oke, perlu kontrak kerja? Biar saya suruh siapkan pengacara saya,”
“Ndak usah Pak, ndak usah melibatkan hukum, saya tetap akan menjalankan pekerjaan saya, ndak perlu kontrak kerja, Bapak ndak usah membayar saya kalau saya melanggar, atau melakukan apapun yang Bapak mau terhadap saya, biar kita saja di rumah ini yang tahu ndak usah melibatkan oknum luar,” kata Oik.
“Oke baiklah, sebutkan nominal yang kamu mau, sekarang dan bulan seterusnya saya akan transfer ke rekening kamu,”
“Bapak atur aja, mungkin besar untuk saya, kecil untuk Bapak, jadi silahkan Bapak yang atur,”
“Oke baiklah, deal?,” Daddy Cakka mengulurkan tangannya pada Oik. Dengan ragu Oik membalas uluran tangannya.
“Saya anggap deal, ayo Cakka cukup, kita dipanggil Mr. Pattinson untuk penggarapan video klip single terbarumu, Oik, kamu tinggal di sini, kamar kamu tanya sama Ujang, apa yang kamu butuhkan tinggal bilang saja, oke,” kata Daddy lalu melangkah, sebelum keluar pintu bersama Cakka, Daddy berbalik, “Dha,” panggil Daddy, Mommy Cakka berbalik, “makasih sudah mau datang,” lanjutnya.
“Sama-sama, Cakka anakku juga, aku mau yang terbaik untuknya,” kata Mommy Cakka.

***

“CAKKA! YANG KAMU LAKUKAN TADI ITU KAMU SADAR KAN?!,” Bram heboh, saat Cakka baru menginjakan kaki di kamarnya ketika pulang dari pertemuannya dengan Mr. Pattinson.
“Yang mana?,” tanya Cakka santai sambil melepas jaket yang dikenakannya lalu mencampakannya ke sembarang tempat.
“Ya itu, yang di konferensi pers sama yang di ruang tamu, are you crazy? You kissed the girl... Not just a kiss but THE KISS!,”
“So?,”
“Cakka! Itu lebay sekali...,”
“ I think no! Nothing's gonna be over, If you fallin' in love, you know?,”
“What???!!! You mean, you're fallin' in love with the girl?,”
“Yeaah,”
“OH MY CAKKA!!!,”
“I'm not yours,”
“Tapi Cakka, kau baru bertemu dengannya satu kali, bagaimana kau mengatakan kalau kau jatuh cinta dengannya, hanya dengan satu kali pertemuan?,”
“Because, her lips so kissable, I wanna kiss her more and more...,” kata Cakka tersenyum jahil.
“Err, you're fallin' in LUST,” 
“Bilang LUST, tidak usah pakai urat kali! I'm kidding, I'm kidding, kalau tidak seperti itu mereka tidak akan percaya, sudahlah, just follow the game,”
“Oke...oke... But I dare, you stole her first kiss at the crazy time,”
“Maybe,” kata Cakka lalu mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandinya.

***

Oik duduk di meja rias di kamarnya---di kamar tamu rumah Cakka---sambil mematut dirinya. Dia mengambil sisir dan menyisir rambutnya yang basah. Tadi dia baru saja selesai mandi membersihkan dirinya. Satu per satu dia mulai kembali memutar memori saat masuk ke rumah ini. Gila! Semua yang terjadi di sini gila! Sama sekali di luar dugaannya.
Matanya kemudian tertuju pada bibir rossy-nya. Dia memegang bibirnya itu. Dan pipinya kembali memanas. Kenapa dia tidak menolak perlakuan Cakka tadi padanya?
Memori belakang otaknya berputar pada pembicaraannya dengan Nova saat menjaga ladang.

Oik dan Nova duduk di gubuk kecil seperti biasanya. Cuaca siang itu panas sekali, Oik mengambil kipas yang terbuat dari bambu, seperti kipas sate yang dibawanya dari rumah. Mengipas-ngipas ke lehernya yang sudah mengeluarkan banyak peluh.
Nova menyeruput sirup dari sebuah gelas hingga tak bersisa.
“Ik, kamu sudah pernah ciuman belum?,” 
“HAH?,” 
“Iya, ciuman,” kata Nova sambil mengerucutkan jari-jari tangannya lalu mendekatkannyam
“Aduh Nova, ndak bisa bahas yang lain?,” 
“Ya kita berbagi pengalaman saja Ik, pernah ndak?,” 
“Itu terlalu pribadi menurutku,” 
“Ndak juga normal kok kalau seumuran kita,” 
“Ndak, aku ndak pernah, memang kenapa?,” 
“Kamu perlu coba,” 
“Ah, gila! Ndak mau, memangnya kamu pernah coba?,” 
Wajah Nova tiba-tiba memerah, “Pernah, hehehe, sekali tapi, rasanya tuh kayak ada sesuatu yang meledak-ledak,” 
“Kamu kira bom apa?,” 
“Ye, dibilangin, nih ya, kalau kamu ngasih ciuman pertama kamu ke orang yang tepat, pasti rasanya tuh seperti itu, mungkin lebih, apalagi kalau kamu jatuh cinta padanya, bisa jadi terapi jantung,”
“Hahaha,” Oik tertawa garing.
“Memang lucu yah Ik?,”
“Iya, banget!,”
“Ndak, ini beneran Ik, coba sana gih, sama Randy, hahahahaha,”
“Novaaaaaaaaa!!! Aku ndak suka diaaaaaa,”
“Sama siapa dong? Mau nunggu selebritis yang cium kamu toh Ik baru kamu mau? Mimpi!,”
“Novaaaaaaaaaa,” Oik menggelitik Nova tak ada ampun.

Ya! Mimpi! Ini mimpi kan? Seperti yang dikatakan Nova tempo hari. Oik mengerjapkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mudah-mudahan dia bisa terbangun dari tidurnya.
Tapi nihil! Ini bukan mimpi, ini KENYATAAN. Tadi kata Nova juga kalau dia memberi ciuman pertama untuk orang yang tepat akan ada yang meledak-ledak dari dalam. Dan jika dia jatuh cinta pada orang itu bakalan jadi terapi jantung.
OKE! Tadi itu bukan cuma ada yang meledak-ledak, dan bukan cuma terapi jantung tetapi TERAPI ORGAN TUBUH! Kalau itu apa maksudnya? Apa? Apa? Apa? Kenapa sekarang dia jadi kepikiran hal konyol yang dia anggap dulu lelucon oleh Nova.
Apa karena sekarang dia juga mengalaminya?
Oik segera menggelengkan kepalanya lagi, berusaha membuang pikirannya itu. Melangkah dari meja rias menuju masterbed lalu naik ke atasnya menarik selimut dan tidur.

***

Under the Marriage: 5. DADDY + PRILLY = IMPOSSIBLE REQUEST + 6. UJANG + JAKARTA = IMPOSSIBLE LIFE


5. DADDY + PRILLY = IMPOSSIBLE REQUEST

RUANGAN terasa adem dengan petikan gitar Cakka. Dia mencoba membuat sebuah lagu untuk album terbarunya yang sedang dia garap. Kalau membuat sebuah lagu, biasanya Cakka membuat menyusun not balok dulu baru menyusun kata demi kata. Setelah sekitar 2 jam lebih Cakka berada di ruangan itu, dia keluar karena stuck in the moment. The inspiration doesn't come. Dia sudah selesai membuat nada lagunya tersisa kata-kata yang bagus untuk lagu tersebut.
Cakka memang sudah memikirkan judul lagu tersebut. Tapi untuk memilih kata-kata yang tepat sepertinya dia belum mendapatkannya. Backstreet. Yah, itu judulnya. Agak gimana yah? Cakka juga tidak pernah merencanakan membuat lagu dengan tema tersebut, tapi judul itu secara spontan terlintas di kepala Cakka. Bahkan Cakka seperti curhat di dalam lagu tersebut.
Entah kenapa dalam hubungan percintaan Cakka selama hidupnya selalu di hiasi dengan kata backstreet. Jujur memang, Cakka baru 2 kali dengan ini menjalin hubungan dengan perempuan. Shilla pacar pertamanya, dan yah backstreet menjadi pilihan. Sedangkan kali ini, awalnya memang Cakka merencanakan untuk backstreet tapi...setelah dipikir-pikir dia kan ingin mewujudkan perkataan Shilla, semakin ditunjukan bukannya semakin baik yah? Kalau soal Daddy-nya, dia yakin bisa mengurusnya. Daddy-nya kan tahu Cakka sudah dewasa dan seharusnya diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Tapi, malah Prilly yang meminta Cakka untuk sementara waktu jangan mengumbar hubungan mereka di depan publik, karena dia tidak mau di cap sebagai cewek perebut pacar orang, apalagi Cakka dan Shilla belum lama putus. Ditambah lagi, Shilla yang masih menyayangi Cakka. Dia cuma tidak enak dengan Shilla. Jadi untuk sementara biar Cakka, Prilly, Bram dan Bio saja yang tahu lebih dulu.
ВВМ alerts Cakka berbunyi. Cakka segera merogoh BBnya dari dalam saku dan melihat ВВМ yang masuk.
Prilly L: Buka twitter deh :(
Cakka Nuraga: Kenapa hunny?
Prilly L: kayaknya ex kamu curiga deh sama kita... :x
Cakka Nuraga: ih-_- kenapa lagi sih dia?
Prilly L: Buka twitter aja deh :( aku lagi dibully sama fans-fansnya. Gimana nih?
Cakka Nuraga: Apa?!!! Okay I'm on the way.

Cakka segera membuka applikasi twitter for blackberry miliknya untuk mengetahui apa yang terjadi di twitter.

@ladyshilla: Oh! Gue tahu skrg! Ada yg baru jadian!

@ladyshilla: slmt ya :') semoga dia sabar kayak aku ke kamu, semoga dia lebih baik dari aku. Yang lebih SETIA dari aku!

@ladyshilla: cieeeee, dulu gue dipanggil bebek sekarang dia Jamie :O

@ladyshilla: jadi gue lo anggap binatang gitu?

@ladyshilla: mana janji manis lo? “Aku gak akan punya cewek lain selain kamu” 

@ladyshilla: atau ini? “Aku mau selamanya sama kamu”

@ladyshilla: laki-laki kayak lo bullshit!

@ladyshilla: duhduhduh...cewe yang ngambil sisa orang aja bangga! Gatau malu banget!

@ladyshilla: cieeee cewek pelarian! HAHA~ perebut pacar org! Kurang murah apa lo!

Cakka jadi naik darah melihat tweets Shilla. Bagaimana dia menyimpulkan sih kalau Prilly dan dirinya punya hubungan? Cakka tidak pernah mengumbar status di ВВМnya kayak dulu noraknya dia ♡shilla atau ♡ashilla, dia bahkan tak pernah menulis seperti begitu diganti nama Prilly. Bio dan Bram sudah mengunci mulut rapat-rapat. Trus apa penyebabnya?
Cakka segera membuka twitter Prilly. Sepertinya di sana Cakka bisa menemukan jawabannya.
@PrillVers: I'm very lucky to have you in my life :)

@PrillVers: Landon <3 Jamie

@PrillVers: iya :) tapi versi beda hehe RT @KerenaVea: A walk to remember :))

@PrillVers: makasih ({}) RT @Ithe_Grithe: Cie Prill ada yg bru nih knalin dong, langgeng deh sama Landon itu hehe ;)

Dengan cepat Cakka menekan search pada aplikasi twitter for blackberry-nya itu lalu mengetikan nama @PrillVers untuk melihat mentions yang masuk padanya.

@Aynaaw_ShilFers: @PrillVers hai cewek perebut pacar orang! Hahaha~

@ShillaFeversss: @PrillVers sadar gak sih lo cewek! Lo itu gak lebih baik dari Shilla!

@MyPrincessShil: @PrillVers sama @cakkasan langgeng yah! Sama kebulshittan HAHAHA~

@OurAshilla: @PrillVers tampang kayak lo gak cocok saingan sama Shilla, bagai langit dengan bumi!

@harukazeku: Mending Bebek <3 Kodok RT @PrillVers: Landon <3 Jamie

@AshillAwesome: @ladyshilla vs @PrillVers ? Duh cowok, mata lo buta deh! Udah bgs punya pacar cantik diputusin buat gembel!

Cakka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan sikap Shilla bahkan sekarangpun fans-fansnya ikut campur dalam urusan pribadi mereka. Bukannya mereka sebagai selebritis harusnya diberi 'sedikit' ruang privacy? Sedikit saja. Hanya itu yang dia minta. Tapi sepertinya itu adalah sesuatu hal yang mustahil, tak mungkin dan tak akan pernah bisa. Cakka segera memijit keypad blackberry miliknya mengetikan sebuah kalimat.

@cakkasan: do u know? Dgn skpmu yg seperti itu membuatku bahagia telah melepasmu :) so I can found a new!

Sepertinya kalimat yang barusan Cakka ketik itu membuat kontroversial lagi. Banyak yang me-retweet ataupun reply terhadap tweet Cakka yang satu itu.

@cakkasan: Can I get my privacy please?

***

Sebulan Cakka menjalani hubungan backstreet dengan Prilly. Sebulan sudah dia dipenuhi oleh pertanyaan dari para infotaiment tentang gosip---atau sudah menjadi fakta---yang diciptakan Shilla. Tapi, baik dirinya maupun Prilly, sudah sepakat untuk mengunci mulut mereka. Tawaran sinetron striping untuk Cakka menumpuk di meja Bram, tapi mereka sepakat untuk menolak semuanya. Dari awal karir Cakka, dia sudah berjanji akan fokus pada seni musik dan tidak akan pernah bertukar dengan seni peran. Semua memang seni, tapi sejak kecil di dalam diri Cakka, musik itu sudah menjadi darah daging. Jadi, dia tak mau hanya karena 'sebuah gosip' menjadi sebuah stepping stone untuknya berpaling kepada seni peran. Cakka tidak mau jadi selebritis yang 'aji mumpung' atau semacamnya, dia mau pure bekerja di dalam bidang entertaiment berdasarkan hatinya sendiri.
Daddy Cakka sudah mulai curiga dengan segala gosip yang menerpa Cakka. Dia sudah mulai curiga dengan tingkah laku anaknya yang 'keluar tanpa Bram' dan tengah malam menghilang dari studio latihannya, seperti pada jamannya dulu saat diam-diam berpacaran dengan virus Jakarta coret itu. Daddy-nya jadi takut kalau jangan-jangan gosip yang dibuat oleh virus Jakarta coret itu memang benar-benar terjadi. Atau bisa dikatakan bukan gosip belaka. Daddy Cakka pun segera memanggil anaknya itu bersama Bram menghadapnya di studio musik.
“Daddy mau tanya Cakka! Kamu tidak pacaran dengan orang yang bernama Prilly itu kan?,”
“Kenapa tiba-tiba Daddy tanya seperti itu?,”
“Tidak akan ada asap kalau tidak ada api!,” kata Daddy-nya sok sastrawan.
“Apinya Shilla Daddy, dia kan yang membuat gosipnya,”
“Maksud Daddy bukan begitu, asapnya itu gosip yang diciptakan Shilla, apinya kamu!,”
“Kok aku?,”
“Siapa tahu kamu memang sedang ada something,” selidik Daddy Cakka.
“Aku malas bahas ini semua Ddy, aku capek dengan semua gosip ini,” kata Cakka sambil duduk di sofa yang terletak di sudut studio.
“Oh?! Kamu capek juga toh? Daddy kira kamu enjoy dengan semua gosip ini, makanya kamu sampai sekarang belum bertindak sesuatu, Daddy kira kamu memang rela kehilangan fans-fans kamu,”
“Tidak begitu juga Ddy, Cakka capek juga, tapi apa yang harus Cakka lakukan?,”
Daddy-nya tampak berpikir. Sebenarnya Daddy-nya sudah memikirkan ini dari awal. Sudah sejak lama. Hanya saja, dia menunggu. Jika dalam sebulan gosip Cakka dan semua embel-embelnya belum hilang, maka dia harus menggunakan cara alternatif ini.
“Kamu cepat-cepat melamar seseorang!,”
“APA?!,” Cakka seperti disengat listrik voltasi tinggi mendengar perkataan Daddy-nya itu.
“Iya, kenapa tidak, bila perlu kamu menikah, tapi dengan wanita pilihan Daddy!,”
“Oh Daddy please it's impossible request, bagaimana bisa aku menikah diusia muda seperti ini? Dan apalagi dengan...oh Ddy! This crazy!,”
“Why not? Banyak kok orang-orang yang menikah muda zaman sekarang ini! Dan kamu tenang saja ini cuma untuk membungkam mulut virus Jakarta coret itu! Kamu tidak mau kan dibebani dengan celotehannya itu, minimal kalau kamu sudah menikah orang akan berbalik memandang miring virus Jakarta coret karena masih mengharapkan suami orang, dunia akan terputar, kau tahu Cakka, dia sudah bermain politik kotor, kita juga harus sedikit taktik mengalahkannya,” kata Daddy-nya menjelaskan, “Ujaaaaaanggg,” panggil Daddy Cakka selanjutnya.
Beberapa panggilan sebelum Ujang masuk ke dalam studio Cakka. Dan dalam situasi ini, Cakka semakin bingung, untuk apa Daddy-nya itu memanggil Ujang?
“Jadi Daddy-ku yang anti politik kotor sekarang mau bermain licik juga,”
“Terkadang hidup itu adalah sebuah kompetisi, dimana kita harus mengerahkan seluruh tenaga kita untuk tetap hidup, dengan cara apapun, termasuk politik kotor untuk saat-saat yang mendesak seperti ini, nah Ujang, besok kamu pulang kan, Tuan boleh minta tolong sesuatu sama kamu?,”
“Apa itu Tuan?,” tanya Ujang.
“Kamu tolong carikan gadis yang cantik, baik, lugu dan polos di kampung kamu trus kamu bawa ke Jakarta, ongkosnya saya yang tanggung semua, segala kebutuhan gadis itu sebelum ke Jakarta pun saya yang tanggung,”
“Maaf Tuan, tapi kalau boleh tahu untuk apa yah Tuan gadis itu?,”
“Untuk menjadi isterinya Cakka,”
“APAAA?!,” Cakka, Ujang dan Bram yang sedari tadi diam berteriak terpekik mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Daddy-nya Cakka.
“Iya, kenapa? Ada masalah? Daddy rasa tidak kan? Kamu butuh seseorang yang sama sekali tidak terkenal untuk menetralisir semuanya ini, supaya virus Jakarta coret tidak berbuat macam-macam bukan? Dan kamu tidak dianggap mencari popularitas karena menikah dengan selebritis yang sedang naik daun atau mungkin menikah karena dijodohkan orang tua, otomatis mereka tidak akan pernah berpikir orang tua menjodohkanmu dengan gadis kampung yang lugu nan polos, iya kan? Itu cara yang paling aman!,”
“Tapi Ddy...,”
“Tidak ada tapi-tapian, ini cara paling ampuh dan aman yang Daddy ambil karena kamu tidak mau mengambil langkah apapun!,” kata Daddy Cakka dan untuk hal ini Cakka kehabisan kata-kata, “Ujang! Kamu ikuti saja perintah saya, tapi kamu jangan bilang dulu kalau sampai di sini dia akan mendapat pekerjaan besar itu, karang saja alibi yang masuk akal agar gadis itu mau untuk datang ke Jakarta, mengerti?!,”
“Mengerti Tuan,”
“Baik sekarang kamu boleh keluar, dan bersiap-siap untuk berangkat besok,” kata Daddy Cakka.
Ujang segera keluar dari studio Cakka.
Impossible request! Woaaah.

***

Cakka uring-uringan sejak tadi. Ujang pulang hari ini, dan seminggu lagi dia akan kembali membawa calon isterinya. Ini gila! Dia punya pacar tapi akan punya calon isteri dan calon isteri itu bukan pacarnya? Oh! It's gong crazy!
Ditambah lagi, sejak 2 hari ini, Prilly tidak memberikan kabar sama sekali. Baik lewat sms maupun ввм, teleponpun tidak pernah.
Cakka segera mengambil jaket yang tersampir di sandaran sofa kamarnya. Memakainya, lalu berjalan menuju garasi mobil dan mengambil CRV yang terparkir bebas di garasi. Cakka sengaja tidak menggunakan SUV atau X5 miliknya. Orang-orang bakalan tahu kalau itu mobil Cakka. Maka dari itu, dia mengambil CRV yang lumayan jarang dipakai. Tujuannya adalah menemui Prilly, di rumahnya. Cakka khawatir, jangan-jangan Prilly marah kepadanya atau Shilla mengancam dia supaya tidak berhubungan lagi dengan Cakka.
Dipacunya CRV itu menuju rumah Prilly. CRV itu berhenti disebuah rumah yang didesain minimalis namun tidak meninggalkan kesan modern. Cakka segera turun dan mengetuk daun pintu rumah itu.
Seorang wanita paruh baya, yang adalah pembantu Prilly keluar menemui Cakka.
“Bi, Prilly ada?,”
“Aduh, mulai dari mana yah, Bibi bingung Den,”
“Heh? Bingung? Memangnya Prilly kemana?,” Cakka jadi bingung dengan pernyataan membingungkan dari pembantu Prilly.
“Iya Den, hm, Nona Prill lagi di rumah sakit Den, sudah dua hari ini,”
“Apa?! Prilly di rumah sakit? Dia kenapa tidak bilang-bilang saya?,”
“Mana saya tahu Den, Non Prill tiba-tiba aja gitu di rumah sakit, dua hari lalu dia pulang dalam keadaan pincang, Bibi tanya katanya tidak apa-apa cuma tadi kecelakaan kecil pas syuting, trus tidak lama setelah itu ada seorang gadis datang, itu loh yang dia nyanyi lagu yang kayak gini ken stop tingking abot, stop toking abot yu, yang kayak gitu, siapa sih namanya... A..itu, As...sule,”
“Ashilla maksud Bibi?,”
“Iya Den, itu, dia datang trus marah-marah tidak jelas gitu sama Non Prill, trus dia tampar Non Prill, nah setelah di tampar Non Prill pingsan, mimisan, eh yang Asule, Asule itu kabur, nah itu penyebab Non Prill di rumah sakit,”
“Sial si Shilla! Prilly di rumah sakit mana Bi?,”
“Rumah sakit Medisacrify,” kata Bibi itu.
Tak buang-buang lama, Cakka kembali ke CRV-nya dan memacu menuju rumah sakit yang disebutkan sang Bibi.

***

Langkah kaki Cakka terdengar menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Prilly dirawat di salah satu ruangan VVIP di rumah sakit tersebut. Cakka menuju kamar tempat Prilly dan mendapati Prilly terbaring di atas ranjang sambil menonton. Cakka segera mendekatinya dan memeluknya lalu mengecup ubun-ubun kepalanya.
“Ya Tuhan Prill, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu tak memberiku kabar kalau kamu di rumah sakit?,” kata Cakka melepaskan pelukannya lalu duduk di samping ranjang Prilly.
“Aku tidak mau melihatmu khawatir,”
“Begini lebih membuatku khawatir, Sial si Shilla! Ini sudah gila! Dia sudah pakai cara kekerasan, aku harus bertindak,”
“Kamu mau apain dia?,”
“Aku mau nyamperin dia, buat perhitungan!,”
“Jangan! Itu akan menambah masalah,”
“Tapi dia sudah keterlaluan Prill, dia sudah pakai fisik!,”
“Sudahlah, aku pingsan bukan gara-gara dia, cuma karena aku capek seharian tapping acara masak terbaruku sampai tujuh episode sekaligus,”
“Tapi dia menamparmu, itu adu fisik namanya,”
Prilly berdiri dari posisinya. Kali ini dia memeluk Cakka dan menangis di pundak Cakka, ”Kka, kita sampai sini saja yah? Kita putus ya,”
“Kenapa bilang begitu? Kenapa? Kita baru satu bulan kenapa kamu minta putus? Apa gara-gara Shilla nyakitin kamu, maafin aku,”
Prilly menggeleng, “bukan, aku cuma merasa tidak pantas untukmu, kamu butuh mencari seseorang yang tidak membuatmu dalam zona merah,”
“Akulah yang membuatmu berada di zona merah,”
“Bram cerita sama aku semuanya Kka,”
“Bram? Dia tahu kamu sakit? Kenapa dia tidak memberi tahuku?,”
Sekali lagi Prilly menggeleng, “tidak, lewat ввм dia langsung memberi tahu tentang rencana Daddy kamu Kka, dan aku rasa Daddy kamu benar, please Kka, try to find someone new yang memang betul-betul pantas untukmu, dan itu bukan aku,”
“Tapi, Prill...aku masih sayang sama kamu,”
“Aku juga, tapi pikirkan kata Daddy-mu, aku setuju, tinggal kamu, dan aku mohon ikutilah, demi aku,”
Cakka melepaskan pelukan Prilly, “I will, tapi aku mau hubungan ini tetap berlanjut maaf kalau aku egois,” kata Cakka.
Prilly terdiam sejenak. Berpikir. Sebelum tersenyum dan mengangguk bersamaan dengan bulir air mata yang mengalir di pipinya. Kali ini Cakka merengkuhnya, menyandarkan dagunya di atas kepala Prilly.
One more impossible request. 
Maafkan aku... Aku tak bisa memilih...

***

6. UJANG + JAKARTA = IMPOSSIBLE LIFE

MATA Oik menyapu seluruh sudut pandang Desa Asri, dari atas sebuah bukit. Dia mengambil teropong kecil yang tergantung di lehernya dan meletakannya di depan kedua matanya. Benar-benar indah desanya itu. Namun tiba-tiba matanya terhenti pada sosok seorang gadis bersama seorang lelaki. Gadis itu sangat dikenalinya tentu saja, karena sosok gadis itu adalah Nova. Namun lelaki yang bersama Nova itu siapa yah? Oik berpikir-pikir dengan wajah familiar itu. Semakin lama dia berpikir. Akhirnya dia menyadari kalau itu...
“UJANG?!,” Oik terpekik.
Dia segera turun dari atas bukit itu dan berlari menuju ke arah Nova dan Ujang.
“Oiiiiikkkkk,” teriak Nova.
“Nova, Ujang ya?,”
“Wah, Iya, kamu masih kenal aku toh Ik, kirain sudah lupa,” kata Ujang.
“Ya ndak mungkinlah aku lupa, wong kita teman main,” kata Oik.
“Iya Ik, Ujang ini baru tiba, trus dia minta aku temani dia jalan-jalan,” kata Nova antusias.
“Kalau Oik ikut temani boleh ndak?,” tanya Oik.
“Oh, boleh banget Ik, boleh banget,” kata Ujang.
Mereka bertigapun berjalan berkeliling Desa. Banyak orang-orang yang menyalami Ujang karena kesuksesannya di kota. Walaupun Ujang hanya jadi sopir di Jakarta, tapi Ujang adalah orang terkaya di Desa Asri. Ujang punya banyak tanah yang dia beli hasil dari dia bekerja di kota. Ujang punya rumah dan juga punya banyak sepeda yang dijadikan rental sepeda di Desa itu. Jadilah orang-orang segan terhadap Ujang.
Menemani Ujang seperti begini, seperti membayangkan Oik berada di samping selebritis yang dipuja-puja banyak orang sehingga banyak yang mengerumuninya. Kalau Ujang datang bisa sebegini ramenya, dia tak bisa membayangkan kalau selebritis tiba-tiba mendarat di kampungnya ini. Pasti tidak cuma warga kampung saja, orang-orang di luar kampung pasti akan meramaikan kampungnya itu.
Hm, tapi Oik juga berpikir, yang punya televisi di kampung ini hanya bisa dihitung dengan jari. Jadi kemungkinan untuk tahu selebritis-selebritis hanya sedikit saja. Oik termasuk juga dalam jajaran orang yang tidak tahu selebritis-selebritis saat ini. Masa bodoh juga sih! Dan kenapa tadi juga dia sempat kepikiran tentang selebritis? Aneh!

***

Sebelum Oik masuk ke dalam rumahnya, Ibunya telah menunggunya di teras kecil rumahnya.
“Selamat malam Bu,”
“Selamat malam, dari mana saja kamu Nak jam segini baru pulang? Padahal hari ini hari minggu dan kamu tidak menjaga ladang,”
“Tadi Oik sama Nova, habis mengantar Ujang jalan-jalan keliling kampung,” kata Oik.
“Apa Ujang sudah tiba?,” tanya Ibunya Oik antusias.
“Sudah Bu,”
Tiba-tiba Ibunya Oik menarik tangannya dengan semangat, Oik kebingungan, “lho? Oik mau dibawa kemana toh Bu?,”
“Kita ke rumahnya Ujang, buat menanyakan lowongan kamu,” kata Ibunya Oik.
“Tapi Bu...ini sudah malam,”
“Tidak apa-apa, pasti Ujang maklum,” kata Ibunya Oik.
Merekapun berjalan kaki ke rumah Ujang. Setibanya di rumah Ujang mereka berdua disambut baik oleh Ujang. Mereka masuk ke dalam rumah Ujang dan duduk di sofa ruang tamu.
“Gini loh Nak Ujang, maksud kedatangan Ibu dan Oik kemari untuk menanyakan apakah di Jakarta, lebih tepatnya di tempat kamu bekerja ada lowongan untuk Oik?,” tanya Ibunya Oik.
“Oik mau ikut ke Jakarta?,”
“Iya Nak Ujang, mau juga seperti Nak Ujang yang sukses, itung-itung Oik membantu Ibu dan Bapak membiayai adik-adiknya sekolah,”
“Tapi...,” kata-kata Ujang terhenti kala dia ingat sesuatu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Oik. Menatap gadis itu dari ujung kepala ke ujung kaki, kemudian tersenyum, “sepertinya ada Bu, suruh Oik siap-siap, seminggu lagi dia berangkat bersama saya ke Jakarta, semua saya yang tanggung,” kata Ujang.
“Yang benar Nak Ujang?,” tanya Ibunya Oik terlalu antusias.
Ujang mengangguk.
“Aduh Nak Ujang terima kasih, sekali lagi terima kasih, Nak Ujang atas bantuannya,”
Mungkinkah setelah seminggu kedepan lagi aku bisa menjalani hidup keluar dari Desa ini?

***

“Oik, aku dengar kamu mau ke Jakarta ikut Ujang besok?,” tanya Randy turun dari sepedanya lalu menyejajarkan langkahnya dengan langkah Oik sambil mendorong sepeda.
Kala itu, Oik sedang akan membawa rantangan terakhirnya untuk keluarga Pak Jamal.
“Iya,” jawab Oik singkat sebelum tiba di depan rumahnya Pak Jamal.
Oik masuk ke dalam sementara Randy menunggu di luar. Setelah mengantar rantangan tersebut, tak beberapa lama kemudian Oik keluar dari rumah Pak Jamal.
“Naik,” kata Randy yang sudah naik ke atas sepeda dan menyuruh Oik membonceng di belakangnya.
Oik mengerenyit dan dengan hati-hati naik ke atas sepeda Randy.
Randy segera mengayuh sepedanya menyusuri jalanan Desa. Saat hendak mendekati ladang, Randy bukannya berhenti malah memacu sepedanya lebih kencang melewati ladang.
“Randyyyyy...aku mau dibawa kemana toh? Ladangnya sudah lewat, ini hari terakhirku bekerja, aku ndak mau melewatkannya,”
“Dan hari ini pun hari terakhir aku sama kamu, aku juga ndak mau melewatkannya,” kata Randy.
Oik terdiam. Dia tak tahu lagi harus membalas Randy dengan perkataan apa. Dia pun hanya mengikuti kemanapun Randy membawanya.
Mereka berhenti di sebuah sungai yang airnya jernih. Di sana terdengar sangat tenang. Oik turun dari situ dan duduk di sebuah batu besar di tepi sungai tersebut. Randy segera memarkir sepedanya dan duduk tepat di samping Oik. Mereka terdiam lama sebelum Randy memecah keheningan dengan senandungnya.

Sumpah tak ada lagi
Kesempatanku untuk bisa bersamamu
Kini ku tahu bagaimana cara ku
Untuk dapat trus denganmu

Oik hanya bisa menikmatinya. Ternyata suara Randy merdu juga. Oik pun menutup matanya. Sesaat ketika senandung Randy berhenti, Oik kembali membuka matanya.
“Ik, bahkan di saat-saat terakhir kamu seperti ini, kamu juga belum bisa membuka hati kamu buat aku?,”
“Aku ndak bisa Ran,”
“Ya sudah ndak usah dipaksakan, tapi kamu mau kan menemani aku satu hari ini di sini sebelum kamu pergi besok,”
Oik mengangguk tanpa suara. Randy menyunggingkan senyum tipis. Senyum miris.
Dia pun kembali menyenandungkan lagu yang tadi dinyanyikannya.

Bawalah pergi cintaku
Pada ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta

Di sini ku pun begitu
Terus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan
Kita nanti

Waktu terus berjalan. Oik dan Randy hanya menghabiskan waktu berdua tanpa seucap katapun kecuali senandung, kadang Randy, kadang Oik secara bergantian, itu saja. Namun waktu berjalan cepat.
Sore hari pun tiba, mereka telah lelah, pita suara mereka jadi terasa sakit, mereka mungkin telah mengalahkan penyanyi.
Randy melingkarkan tangannya di pundak Oik. Jujur saja dia merasa risih.
“Ik, kamu benar-benar ndak mau memberi aku kesempatan buat menyusup masuk ke hatimu, tapi...aku mohon, jangan halangi aku untuk melakukan yang satu ini, tanda perpisahan,” kata Randy kemudian melepaskan rangkulannya. Lalu menatap Oik dalam.
Oik jadi semakin takut, apalagi dengan kata-kata Randy tadi. Randy mendekat. Oik berontak hendak melarikan diri. Beberapa sentimeter lagi...
...
“TEMAN... TEMAN... KITA MANDI DI SINI... AIRNYA BERSIIIIIHHHH,” teriak suara cempreng anak lelaki membuat Oik menarik diri jauh sebelum Randy bisa mencapainya.
Dan Randy pun ikut menarik diri. Tidak jadi melakukan yang tadi ada dipikirannya.
“Mbak Oik di sini toh, dari tadi Oktav cariin, di cari Ibu, Mbak, katanya Mbak harus siap-siap sekarang,” kata Oktav yang tiba-tiba muncul.
“Ran, aku...aku harus siap-siap sekarang...aku...aku pergi dulu, dada...sampai ketemu lain waktu,” kata Oik segera berlalu dari hadapan Randy bersama Oktav.

***

“Ayah, Ibu, Oik pamit dulu,” kata Oik menyalami Ibu dan Ayahnya.
“Iya, doa kami selalu menyertaimu, jaga diri baik-baik yah di Jakarta,” kata Ayahnya Oik.
“Iya pasti, Oktav, Angel, titip Ayah dan Ibu, harus jadi anak yang rajin dan dengar-dengaran,”
“Iya Mbak Oik,” kata Oktav.
Tak lama kemudian, Ujang datang menjemput Oik. Dan mereka pun pergi dari Desa Asri.
Perjalanan dari Desa Asri hanya di tempuh dengan naik delman untuk mencapai terminal untuk naik Bus yang akan membawa mereka ke kota Salatiga. Dari Salatiga mereka baru berangkat lewat jalur udara.
Perjalanan dari Desa Asri ke terminal di butuhkan waktu 1 jam lebih. Dari terminal ke Salatiga sekitar 45 menit. Sampai di kota Salatiga, Ujang mengajak Oik ke sebuah Toko pakaian wanita dengan brand Zalora. Dan sepertinya mahal dan tidak cocok untuk Oik yang kampungan. Oik awalnya menolak karena alasan itu. Tapi, Ujang membujuknya untuk beli pakaiannya di sana. Ujang konsultasi dengan salah satu pegawai toko itu untuk pakaian-pakaian, sepatu, aksesoris dan lain sebagainya yang tepat untuk Oik.
Setelah itu barulah mereka menuju Bandara dan berangkat menuju Jakarta.
Selama perjalanannya menuju Jakarta, Oik berpikir, mungkinkah dia bisa menjalani kehidupan dengan nyaman disana? Sama seperti kehidupan di Desanya?

***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...