Rabu, 26 Oktober 2011

Jodoh Kita - 2

[2]
Oik
What a crazy job!

“Hal terindah adalah melihat orang yang kita sayang tersenyum, meski kita harus berkorban.”

B
agaimana perasaanmu jika diminta untuk menjadi Pacar untuk tunangan orang? Tentu saja harga dirimu terasa dipermainkan orang. Tapi apa yang akan anda pilih jika dihadapkan pada dua pilihan. Menerima pekerjaan menjadi pacar untuk tunangan orang dan bisa membiayai nenek yang sedang sakit? Atau tetap memegang harga diri dengan membiarkan nyawa nenek terancam? Tentu pilihan yang sulit bukan?
Namaku Oik Cahya Ramadlani, Kalian bisa memanggilku Oik. Umurku 24 tahun. Aku mempunyai keluarga yang sangat aku sayangi yang tinggal di Desa Asri, desa kecil yang lumayan terpencil didaerah Jawa Tengah. Bertahun-tahun lalu ibuku mengadu nasib di Jakarta dengan menjadi pembantu dirumah orang kaya. Dengan begitu ekonomi keluarga kami bisa tercukupi, Sehingga Aku bisa lulus SMK jurusan tata boga. Kebahagiaan itu perlahan sirna ketika nenek jatuh sakit. Keuangan kami menurun karena membiayai nenek yang sakit. Bahkan gaji Ibu tidak cukup untuk membayar pengobatan nenek. Maka dari itu untuk menambah biaya pengobatan nenek aku ikut ibu ke Jakarta. Sedangkan nenek diurus oleh ayah dan adikku, maklumlah Ayah adalah anak satu-satunya nenek dan kakek juga udah meninggal jadi itu tanggung jawab seorang anak. Sesampai aku di Jakarta aku bukannya malah menerima sebuah pekerjaan yang sangat gila. Itu karena teman anak majikan Ibu. Memintaku menjadi pacar untuk tunangannya. What a crazy job! Aku menerimanya bukan mau bila dijadikan selingkuhan tapi semata-mata untuk keluargaku soalnya uang yang aku peroleh dari pekerjaan ini sangat banyak. Maka dari itu aku menerimanya.
Sudah sebulan semenjak aku menerima tawaran Shilla. Tapi, aku juga belum dipertemukan dengan yang namanya Cakka. Tunangan Shilla. Kenapa belum? Karena kata Shilla aku harus dilatih dulu. Berbicara bahasa Indonesia yang baik, Berbahasa inggris, tata krama, makan dengan sendok, garpu dan pisau, cara berjalan dan masih banyak lagi. Sebulan memang waktu yang singkat, tapi aku sudah lumayan bisa untuk menguasainya. Kecuali, makan dengan pisau.
“Oik… Hati-hati dong… dagingnya kena baju aku…” Keluh Angel.
“Eh iya, waduh… aku gak sengaja non…” Kataku sambil membersihkan baju non Angel yang kotor akibat ulahku yang masih belum bisa memotong daging steak dengan pisau.
“Duh, Ik… udah berapa kali aku bilang jangan panggil aku dan Angel non lagi… Panggil Shilla dan Angel aja gak usah pake embel-embel non di depan gimana rencananya bisa berhasil kalau kamu masih manggil aku dan Angel non…” Kata Shilla
“Iya… iya… maaf Shilla, maaf Angel…”
“Yaudah gak apa-apa lain kali jangan di ulang… Ayo lanjut lagi belajar motongnya yang betul…” Kata Shilla
Angel dan Shillapun meneruskan mengajariku memotong daging steak yang terlihat pasrah di meja makan. Aku mengikuti arahan Angel dan Shilla, mereka terlihat mahir dan sudah terbiasa melakukan hal ini. Ah…. Sungguh aku tak bisa sejajar dengan mereka berdua. Bagaimanapun caranya, mereka terlalu sempurna sedangkan aku hanya seorang gadis desa dengan pendidikan standar. Masa mereka menilaiku bisa menggoda Cakka? Dari mana bisa? Aku jadi makin penasaran dengan Cakka, tunangannya Shilla itu.

^^^

Jam 3 subuh aku sudah terbangun dari tempat tidur. Sebenarnya memang aku tak bisa tidur. Bagaimana bisa tidur, aku tidur ditempat yang gak biasa. Kamar ini terlalu mewah untukku. Kamar dengan masterbed, hometeater, design interior yang sangat mewah dan lain sebagainya. Ini sangat waw!. Jadi mulai tadi malam aku akan tinggal sebagai penghuni dikamar ini. Bahkan dirumah mewah ini. Ini rumahnya orang tua Shilla yang lama dan sudah tidak ditinggali lagi, yang tinggal disitu hanya dua orang pembantu dan satu orang tukang kebun yang dipercayakan untuk mengurus rumah itu. Jadinya, Shilla menyuruhku tinggal disini untuk melancarkan rencananya. Dan hari ini juga rencananya aku akan dipertemukan dengan Cakka. Karena menurut Shilla, semuanya sudah sempurna.
Sebelumnya Shilla memberikanku sebuah buku catatan, apa yang aku butuhkan, apa yang aku nilai tentang Cakka, dan apa yang aku dan Cakka lakukan. Agar dia bisa memantau lewat buku catatan tersebut.
Oliva Ivania Kayana, Oik. 24 Tahun. Designer. Lulusan fashion designer university of USA. Baru datang dari  California. Ayah dan Ibu pengusaha, yang tinggal di Jerman. Anak tunggal. Suka memasak.
Itu yang kutulis di halaman pertama buku catatan ini. Supaya aku tidak lupa dengan asal-usul seseorang yang tidak nyata, yang aku akan perankan bak pemain film, telenovela ataupun sinetron.
Daripada aku berdiam diri dikamar ini, sambil menunggu Shilla dan Angel datang menjemputku mendingan aku beres-beres rumah dan masak. Itu lebih menyenangkan daripada memikirkan hal itu yang nanti akan menambah beban pikiranku.

^^^

“Ya ampuuuun, Oik…” Shilla dan Angel yang baru datang kaget ketika melihatku sedang membersihkan taman yang ada didepan rumah.
Aku tersenyum sambil mengankat jari tengah dan telunjuk membentuk huruf ‘V’. Sedangkan Shilla dan Angel menggeleng-gelengkan kepala mereka lalu menarikku dari situ hm, lebih tepatnya menyeretku ke kamar mandi lalu menyuruhku mandi.
Setelah selesai mandi, ganti baju dan make-up. Ya, mulai sekarang aku harus terbiasa make-up sendiri. Sebenarnya semenjak sebulan lalu sih aku diajarkan hal itu, tapi rutinitasnya mulai hari ini. Aku segera berjalan menuju ruang makan, karena Shilla dan Angel menungguku sambil sarapan makanan yang ku masak.
“Yuk, Ik kita berangkat…” Kata Shilla ketika aku baru tiba diruang makan.
“Kemana?” Tanyaku kebingungan, Apa Cakka mau dikenalkan kepadaku sekarang? Bukannya kata Shilla nanti sebentar malam pada sebuah acara?
“Butik trus salon…”
“Salon lagi…? Butik lagi…?”
“Oik sayang… Walaupun kamu udah tahu make-up sendiri gak mungkin kan kamu ke acara penting gak ke salon, trus masa gak beli baju baru…”
“Tapi baju yang kamu belikan buat aku sudah terlalu banyak Shilla, dan bagus-bagus serta bisa dipake…”
“Pokoknya ikut ayo…” Katanya menyeretku masuk kedalam mobilnya lalu meluncur ke sebuah butik tak jauh dari rumah yang kutinggali sekarang.

^ ^ ^

Aku berdiri didepan sebuah kaca, seakan tak percaya kalau ini Oik. Aku tampak berbeda dengan dress panjang tanpa lengan berwarna hitam dengan paiyet-paiyet silver yang mengkilap, kalung kecil dengan buah berbentuk hati meilingkari leherku, higheels, rambut sebahuku digerai dan sebuah jepitan cantik menghias rambutku serta make-up minimalis namun terkesan berbeda dari Oik yang biasanya. Sangat berbeda.
“Oliva Ivania Kayana… Oke… sekarang Oik… nama lengkapmu berubah… acting dimulai…” Kataku menyugesti diriku sendiri, Lalu segera melangkah menjauhi kaca dan keluar menuju ruang tamu tempat dimana Shilla dan Angel menungguku.
Mereka tampak tercengang sebentar.
“Oik… Kamu beda banget…” Kata Angel
“Yaudah jangan bengong… Cepat sini Ik… Kita atur rencana…”
Aku segera bergeming dari tempatku berdiri dan duduk bersama-sama dengan Shilla dan Angel.
“Jadi gini Ik, Acara malam ini adalah acara pertunangan teman Cakka waktu SMA, namanya Irsyad. Nah, kebetulan Irsyad itu bertunangan dengan anak partner kerja papanya Angel. Dan Angel juga lumayan dekat dengan tunangannya, jadi kemarin Angel cerita dia gak bisa pergi soalnya ada urusan mendadak harus keluar negeri tapi Angel bilang kalau dia akan diwakili oleh temannya yang baru datang dari luar negeri yaitu kamu. Aku bakal pergi ke acara itu, bersama Cakka. Nanti kamu lihat aja cowok yang bersama denganku itulah Cakka. Aku bakal pulang ditengah acara, disaat aku gak ada kamu manfaatkan kesempatan itu bagaimanapun caranya, kamu harus berkenalan dengan Cakka…” Shilla menjelaskan panjang lebar.
Aku mengangguk mengerti.
“Nama calon tunangannya Irsyad itu, Gita… Nanti kamu bilang aja sama Gita kamu itu teman aku…” Angel memperjelas.
Setelah mantap, Aku berangkat diantar oleh sopir Angel menuju sebuah hotel berbintang, tempat akan dilaksanakan acara pertunangan tersebut.

^^^

Aku turun disebuah hotel berbintang, dan segera menuju ke area swimming pool hotel didepan ada beberapa security melakukan penjagaan ketat. Memeriksa undangan-undangan. Aku segera mengeluarkan sebuah undangan dari tas kemudian masuk kedalam. Didalam penuh kemewahan, aku belum penah berada ditengah-tengah pesta orang kaya seperti ini. Nyaliku tiba-tiba ciut. Oke, Oik disaat seperti ini kamu harus PD.Ingat kamu bukan Oik Cahya Ramadlani tapi Oliva Ivania Kayana. Kataku yang terus menyugesti diriku sendiri agar nyaliku tidak semakin ciut. Aku mendongak dan berjalan bak orang-orang kaya namun tetap anggun.
Aku memilih sebuah tempat yang kurasa nyaman untuk aku berdiri sambil memperhatikan setiap tamu yang ada. Ya, orang kaya. Rata-rata tamu yang hadir penuh dengan kesan glamour. Kulihat Shilla baru datang bersama seorang pria. Semakin mendekat kearahku lalu melewatiku. Terlihat jelas. Seorang pria yang tinggi dan badan proporsional, kulitnya putih, wajahnya sangat tampan, rambutnya ditata rapi mengenakan Setelan jas berwarna hitam dan dasi berwarna abu-abu terlihat serasi bersama Shilla yang cantik, tinggi, anggun dan sempurna. Satu yang membuat sesuatu memetikku didalam entah rasa apa ketika mata sayu milik pria itu –Cakka– bertemu tepat dengan mataku ketika mereka melewatiku tadi.
Acarapun dimulai, Sang Wanita cantik dengan gaun berwarna putih serta sang pria dengan jas berwarna putih serasi. Sampai pada pertengahan acara kulihat Shilla sedang membicarakan sesuatu dengan Cakka. Lalu mengecup pipi Cakka, dan pergi dari situ. Memutar melewatiku lalu keluar. Sepertinya Shilla sengaja melewatiku sebagai kode untuk aku beraksi.
Oke Cakka, tunggu aku sebentar lagi, Permainan dimulai.

3 komentar:

Annisa Dirga :) mengatakan...

Lanjut kaka!!

Pratiwi Islamadina mengatakan...

lanjutnya kakak!!

santy alansyah mengatakan...

lanjut kak bagus cerita

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...