Jumat, 15 Juli 2011

Cahaya & Cakrawala (dua)

(Dua)

"Berawal dari sebuah kehilangan, segala sesuatu bisa berubah."

M

alam hari, ketika bulan menampakan wajahnya, dan bintang mulai bermunculan menghiasi indahnya malam itu. Dua orang gadis baru saja terbangun dari tidurnya yang tampaknya begitu lelap. Cahaya dan Nadira. Setelah beranjak dari tempat tidurnya, mereka bergantian masuk dan membersihkan diri mereka dikamar mandi yang terletak didalam kamar Nadira. Dua gadis itu kini telah segar, mereka turun kebawah. Diruang tengah tampak sepasang suami isteri yang sedang duduk bersantai melepaskan kepenatan mereka setelah seharian bekerja. Nadira segera menarik Cahaya menuju ruang tengah tersebut, dengan langkah ragu dan ‘agak’ takut didalam hatinya dia hanya bisa pasrah ditarik oleh sahabatnya itu.

“Ma, Pa…” Kata Nadira setengah berteriak lalu segera mengecup pipi kedua orang tuanya itu.

“Ini siapa sayang?” Tanya Mama Nadira ketika melihat Cahaya berdiri tak jauh dari situ.

“Dia Cahaya Ma, temanku yang aku ceritakan tempo dulu. Dia mau tinggal sekaligus kerja disini Ma… Kan dia bisa Bantu-bantu mbok Nah didapur… Boleh yah Ma? Sekaligus temanin Nadira, kan Mama dan Papa sering keluar kota…” Bujuk Nadira kepada kedua orang tuanya.

“Gimana Pa?” Tanya Mama Nadira meminta persetujuan.

“Boleh kok, yang penting kamu senang kami setuju saja…” Kata Papa Nadira. Nadira memeluk kedua orang tuanya. Cahaya datang mendekat lalu menyalami kedua orang tua Nadira sebagai tanda terima kasih.

Beruntung jadi Nadira, walaupun cuma orang tua angkat tetapi sangat menyayanginya, hupfth andai akupun begitu. Ah… Pikir apa aku ini…Harusnya aku bersyukur masih punya orang tua… Walaupun cuma Ibu, karena aku tak pernah tahu ayahku… Dibandingkan dengan Nadira yang dari kecil telah kehilangan orang tuanya… Yah pantas kalau sekarang dia menemukan kebahagiaannya… Cahaya segera menepis sebuah rasa –mungkin sedikit iri– didalam hatinya.

^ ^ ^

Sudah sebulan semenjak hari dimana Cahaya datang ke kota Jakarta, dan sudah sebulan pula artinya dia bekerja di rumah Nadira, begitu menyenangkan. Setiap hari Cahaya membantu mempersiapkan makan pagi, siang dan malam untuk Nadira. Kadang juga membantu nyuci baju, ngepel, bersihin halaman rumah. Walau itu semua dilarang Nadira, karena dia tidak menganggap Cahaya sebagai pembantu. Tapi Cahaya tetap gembira dengan semuanya.

“Ca, ini gaji lo untuk bulan ini…” Nadira menyerahkan amplop kepada Cahaya.

Cahaya membuka amplop tersebut, matanya terbelalak kaget ketika melihat uang yang banyak bahkan terlalu banyak untuk pekerjaan tak seberapa –menurutnya– yang Ia lakukan.

“Nad, ini terlalu banyak…”

“Udah ambil aja… Anggap yang lain bonus…” Kata Nadira sambil tersenyum.

“Makasih ya Nad… Aku tak tahu harus bilang apa… uang ini bisa aku pakai buat sekolah lagi dan sebagian bisa aku kirim buat Ibu dikampung…”

“Eitss… masalah sekolah kamu gak perlu pikirin Ca, gue udah bicara sama bokap dan nyokap gue… Katanya mereka bakal biayain lo masuk sekolah bareng gue di Budi Bangsa… Uang untuk sekolah mending lo tabung aja, dan sisanya lo kirim buat keluarga lo dikampung…”

“Wah Nad, kamu memang sahabatku yang paling baik…” Kata Cahaya sambil memeluk Nadira sebagai ucapan terima kasih.

“Never mind Ca, That’s what friends are for…”

^ ^ ^

Bahagia ternyata tak datang lama, bahagia ternyata tak selamanya.

Baru menginjak keempat bulan Cahaya di Jakarta, sebuah musibah terjadi kepada kedua orang tua angkat Nadira, dan itu juga artinya musibah bagi Nadira dan juga dirinya. Ketika melaksanakan tugasnya keluar kota kedua orang tua Nadira mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Nadira kehilangan kedua orang tua angkatnya karena kecelakaan yang naas itu. Tak cuma itu, rumahnya dan segala fasilitasnya disita oleh bank untuk menutupi segala hutang perusahaan orang tua angkatnya. Alhasil, Cahaya dan Nadirapun harus keluar dari rumah itu… Untunglah Cahaya masih punya tabungan yang dia simpan. Jumlahnya lumayan, bisa menghidupi keduanya selama beberapa bulan kedepan. Mereka akhirnya menyewa sebuah kamar disebuah tempat kos-kosan khusus wanita.

“Ca, gue gak tahu mau bilang apa sama lo… makasih banyak yah lo masih mau jadi sahabat gue walaupun sekarang keadaannya gak sama kayak dulu…”

Cahaya tersenyum mendengarkan perkataan Nadira.

“Seperti katamu that’s what friends are for…”

Keduanyapun berpelukan.

Awalnya, mereka memang masih bisa bertahan menghadapi hidup hanya dengan uang tabungan milik Cahaya, sambil Cahaya dan Nadira mencari-cari pekerjaan. Tapi, sama sekali tak ada lowongan untuk anak-anak yang masih kelas 10 SMA seperti mereka. Lama kelamaan uang tabungan Cahaya semakin menipis, ditambah mereka harus membayar uang ujian. Tapi, untunglah Cahaya dan Nadira akhirnya bisa mendapat pekerjaan paruh waktu. Cahaya menjadi waitress di sebuah café sambil sesekali menghibur café dengan suaranya yang bagus, sangat bagus malah. Sedangkan Nadira bekerja disebuah toko pakaian, kebetulan dia bisa menjahit. Mereka bekerja sepulang sekolah. Meski gajinya tak seberapa, tapi lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi, Keadaan terasa semakin mendesak, ketika Nadira jatuh sakit.

“Nad, hidung lo berdarah… Lo sakit? Kita kerumah sakit…” Cahaya panik ketika melihat darah segar mengucur dari hidung sahabatnya itu.

“Gue gak apa-apa kok Ca, Cuma mimisan biasa…” Kata Nadira sambil mengambil sapu tangan dan membersihkan hidungnya.

“Tapi Nad…” Belum sempat Cahaya melanjutkan kata-katanya terdengar sebuah bunyi ‘Bruuukk’. Nadira ambruk dihadapannya. Dengan sigap Cahaya segera menggotong Nadira dan mencari taksi langsung membawanya ke sebuah rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari tempat kos mereka. Setiba dirumah sakit, Nadira segera dirujuk ke UGD. Cahaya menunggu diluar dengan harap-harap cemas. Pemeriksaan terhadap Nadira telah dilakukan berjam-jam tetapi dokter yang menanganinya tak kunjung keluar juga sampai akhirnya Cahaya tertidur dibangku rumah sakit.

^ ^ ^

Sebuah tangan dan sebuah suara membangunkan Cahaya dari tidurnya. Seorang suster berdiri dihadapannya.

“Maaf anda kerabatnya pasien yang bernama Nadira?” Tanya Suster itu.

“Iya sus… Bagaimana dengan saudara saya sus?”

“Dia masih diruang UGD, dokter ingin membicarakan sesuatu dengan anda tentang kondisi pasien… Mari saya antar keruangannya…” Kata suster tersebut kemudian melangkahkan kakinya dengan Cahaya mengekor dibelakangnya menuju ruangan Dokter.

Setiba diruangan Dokter Cahaya segera duduk dan menanyakan keadaan Nadira.

“Bagaimana keadaan Nadira Dok? Dia gak apa-apa kan?” Tanya Cahaya kepada sang Dokter. Dokter menghela nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pasien terkena penyakit yang cukup berbahaya. Dia terkena kanker darah atau yang biasa dikenal dengan leukimia, meski baru stadium awal. Tapi penyakit ini sangat berbahaya dan mematikan, karena belum ada obat yang pasti untuk mengobati penyakit ini, selain meminum obat yang kami berikan pasien juga harus melakukan kemoteraphy setiap harinya. Lebih baik melakukannya sejak dini agar umur pasien bisa lebih panjang. Karena kalau tidak penyakitnya akan bertambah parah. Tapi untuk itu butuh biaya yang tak sedikit…”

Cahaya shock mendengar apa yang dituturkan Dokter itu. Apa? Nadira kena penyakit leukemia? Oh Tuhan, cobaan apalagi ini? Tidak cukupkah cobaan yang kami hadapi selama ini? Cahaya berontak dalam hatinya menuntut keadilan Tuhan.

Setelah berbicara dengan Dokter, Cahaya menyempatkan dirinya melihat Nadira yang belum sadarkan diri meski sudah dipindahkan keruang rawat inap. Setelah ini, Cahaya bertekad untuk mencari pekerjaan lagi yang bisa mendapatkan banyak uang guna membayar biaya pengobatan Nadira. Bagaimanapun Nadira sahabatnya, mengingat semua kebaikan Nadira dulu, Cahaya merasa sangat berhutang budi kepada Nadira. Dan juga untuk mengirimkan uang kepada orang tuanya, pasti sekarang orang tuanya khawatir karena sudah 2 bulan berjalan Cahaya tak kunjung mengirim uang kepada kedua orang tuanya. Tapi dimana dia bisa mendapat pekerjaan seperti itu? Apalagi dirinya masih dibawah umur?

Sudah seharian Cahaya berputar-putar tak jelas. Diapun kembali ketempat kosnya untuk beristirahat sejenak. Didepan kos-kosannya ada seorang wanita, dia adalah tetangga baru Cahaya namanya mbak Rita. Melihat wajah Cahaya yang kusut dan semraut wanita itu mendekati Cahaya.

“Kenapa wajah lo kacau gitu Ca?” Tanya mbak Rita.

“Ini mbak, Nadira sakit… Gue butuh uang buat pengobatannya Nadira…”

“Temen lo sakit apa emangnya?”

“Leukimia mbak…”

“Wow… Bahaya tuh… Emang lo butuh uang berapa?”

“Banyak mbak, sebenarnya gue butuh kerjaan yang menghasilkan uang yang banyak… untuk membiayai pengobatan Nadira… huh! Tapi mana mungkin ada lowongan untuk anak SMA kayak gue…”

Mbak Rita mengitari Cahaya dengan tatapan penuh arti lalu menjentikan jarinya.

“Bisa! Bahkan lebih dari yang lo butuhkan, lo tinggal mengubah penampilan lo… trus entar malam lo ikut gue ke tempat kerjaan gue…”

Cahaya tahu sebenarnya apa pekerjaan mbak Rita. Dia bekerja disebuah Bar, dan Cahaya tentu saja tahu apa yang dimaksud mbak Rita.

“Maaf mbak Cahaya gak bisa, Ingat mbak kita masih punya Tuhan… dan pekerjaan itu sangat tidak disukai Tuhan…” Tolak Cahaya

“Huh! Udah susah masih aja sok suci lo! Terserah lo deh! Gue cuma nawarin, lo tinggal pilih deh gak usah sok suci trus dapet uang banyak dan bisa ngebiayain sahabat lo itu atau lo pertahanin pendirian lo yang gak penting itu dan sahabat lo mati begitu aja…!”

Cahaya terdiam. Dia membayangkan apabila sahabatnya itu pergi untuk selama-lamanya. Gak… Gak… Itu gak boleh terjadi

“Yaudah deh! Kalau lo berubah pikiran temui gue di tempat kerja gue… Dolphin Bar Kemang…” Kata mbak Rita sambil beranjak pergi dan masuk kedalam kamarnya. Cahayapun ikut masuk kedalam kamar kosnya didalam Ia merenung sampai akhirnya tertidur.

^ ^ ^

Sudah 5 hari Nadira dirumah sakit, Cahaya bolak-balik kerumah sakit. Nadira memang sudah siuman, tapi dia tak tega melihat sahabatnya itu yang menahan sakit. Meski tidak pernah mengeluh kepada Cahaya tapi dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat kesakitan. Dokter belum menangani Cahaya dengan sepenuhnya, kemoteraphy belum kunjung dimulai karena Cahaya belum mampu membayar biaya kemoteraphy. Hanya diberikan obat-obatan penghilang rasa sakit yang ditimbulkan penyakitnya dari Dokter. Cahayapun belum memberi tahukan keadaan yang sebenarnya kepada Nadira. Karena dipikirnya Nadira akan shock apabila mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Yang lebih parahnya lagi sekarang Cahaya dipecat dari pekerjaan yang sebelumnya karena sering terlambat masuk. Dan sekolah beberapa kali mengeluarkan surat peringatan kepada Cahaya dan Nadira perihal uang sekolah yang menumpuk. Hupfh!! Benar-benar menjadi dilemma buat Cahaya.

Apa dia harus menerima tawaran mbak Rita? Hanya itukah jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang yang cukup membiayai pengobatan Nadira, membayar uang sekolah serta mengirimkan uang kepada keluarganya dikampung? Dunia benar-benar makin kejam!!!

Dengan takut Cahaya turun dari sebuah taksi. Penampilannya kali ini benar-benar berbeda. Rambut yang biasa Ia kuncir kini dibiarkan tergerai, tampak rambut panjang berombak terjuntai kebawah. Wajahnya pun tampak sedikit dipoles dengan make-up, sedikit eyeliner, lipgloss dan perona pipi. Dia menghela nafasnya masuk ke sebuah tempat yang didepannya terpajang sebuah papan nama ‘Dolphin Bar’.

Didalam sangat riuh dengan suara musik disco yang begitu kencang. Remang-remang lampu disco yang warna-warni menyilaukan mata menyambut Cahaya ketika masuk kedalam tempat itu. Seorang wanita dengan Pakaian serba mini dan make-up yang tebal menghisap sebuah puntung rokok mendekati Cahaya.

“Cari siapa?” Tanyanya yang asing melihat Cahaya.

“Mbak Rita…” Jawabnya singkat.

Wanita itu menatap Cahaya dengan tatapan yang aneh. Lalu menarik Cahaya.

“Ikut gue…” Katanya sambil membawa Cahaya kesebuah tempat, disana penuh dengan Gadis-gadis yang mungkin seusianya atau hanya berbeda beberapa tahun dengannya. Mbak Rita datang menyambut Cahaya dengan senyum penuh kemenangan.

“Akhirnya lo dateng juga… itu tandanya lo terima tawaran gue…”

Cahaya tak mengeluarkan sepatah katapun dia hanya menelan ludah mendengar kata-kata mbak Rita.

“Oke lo tunggu aja bareng mereka disini… sebentar lagi pelanggan datang… Siap…siap…” Kata mbak Rita.

Cahaya duduk bersama dengan seorang gadis seusianya, tapi gadis itu tampak ‘liar’ dengan tattoo kupu-kupu dileher sebelah kanan, sambil meminum segelas minuman beralkohol.

“Anak baru lo? Gue baru liat...”

Cahaya tak menjawab, mentalnya betul-betul masih belum siap berada ditempat seperti ini.

“Nama lo Siapa? Kenalin gue Arni… gak usah takut-takut biasa kali gue gak bakalan gigit lo atau telen lo…” Katanya mengulurkan tangannya.

Cahaya menyambut tangan Arni dan menjawab singkat “Cahaya…”

“Oh, hm… Kok bisa gadis yang kayaknya lugu kayak lo berada di tempat kayak gini?”

Cahaya menghela nafasnya lalu menjawab “Keadaan yang memaksa… Lo sendiri kenapa ada disini?”

“Karena gak ada yang bisa buat gue bahagia…”

“Trus disini kamu bisa menemukan kebahagiaan?”

“Tidak sama sekali…”

“Trus kenapa kamu masih bertahan disini?”

“Terlanjur…”

“Cahaya…” Sebuah suara menghentikan percakapan antara Cahaya dan Arni. Telah berdiri dihadapan mereka mbak Rita bersama seorang lelaki tampan yang mengenakan jas kerja berwarna dark-grey dan dasi berwarna pale blue dengan badan yang cukup atletis dan tinggi yang cukup proporsional. Usianya kira-kira 20 tahun tersenyum penuh arti sambil menatap Cahaya.

“Kenalkan, namanya Arga… Kamu harus menemaninya malam ini, ayo sini… Jangan buat dia kecewa… Have fun yah!” Kata mbak Rita memperkenalkan lelaki yang berdiri disampingnya sambil memanggil Cahaya. Cahaya berdiri agak takut lalu bersalaman dengan laki-laki yang bernama Arga itu tanpa mengenalkan namanya. Setelah itu mbak Rita pergi bersama gadis-gadis yang berada disitu meninggalkan Cahaya dan Lelaki yang bernama Arga itu berdua. Arga mengajak Cahaya duduk disofa yang tadi diduduki Cahaya.

“Kamu pasti anak baru disini…” Tanya Arga pada Cahaya, tapi Cahaya diam tak bergeming.

“Siapa namamu?” Tanyanya sambil membelai bagian pipi sampai keleher Cahaya. Cahaya mengadakan perlawanan kecil dengan menjauhkan kepalanya dari tangan itu.

“Cahaya…” Jawab Cahaya singkat dan terkesan ketus.

“Well, Cahaya… Nama yang cantik sama seperti orangnya…”

Arga menumpahkan vodka kedalam dua buah gelas yang tersedia.

“Temani aku minum dulu…” Katanya sambil memberikan sebuah gelas kepada Cahaya. Cahaya menatapnya sebentar mengambilnya lalu memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan. Arga memegang dagu Cahaya dan memutarnya agar kembali berhadapan dengan Arga. Kali ini Cahaya tak memberikan perlawanan yang cukup berarti dia pasrah. Walaupun dalam hatinya menangis. Tetapi wajah Nadira terngiang dikepalanya. Membuat dia harus bertahan ditempat seperti itu.

Arga memaksa Cahaya untuk meminum segelas vodka yang diberikannya. Mbak Rita tampak melihat perlakuan Cahaya dari jauh memberikan tatapan ‘sangar’ kepada Cahaya. Dan membuat Cahaya akhirnya meminum minuman tersebut. Belum habis segelas Cahaya tampak pusing karena tak terbiasa meminum minuman seperti itu. Kepalanya terasa berputar-putar, Dia mendengar Arga juga sudah berbicara tak karuan. Ditengah kepalanya yang masih terasa berputar-putar. Arga menarik dirinya beranjak dari situ. Karena terasa sangat pusing dan lemah diapun hampir terjatuh namun berhasil ditangkap Arga yang langsung memeluk Cahaya, Dia tak bisa berbuat apa-apa Cahaya membiarkan Arga menggotong tubuhnya kesebuah tempat. Dibelakang pantry Bar ternyata disana ada sebuah lorong yang membawa mereka kesebuah tempat yang banyak dipenuhi kamar-kamar. Arga membuka salah satu kamar disitu menggotong Cahaya masuk kedalam. Kemudian membanting pintu ‘BLAAAM’ . Pintu tertutup.

^ ^ ^

“Permisi boleh saya duduk disini?” Tanya seorang lelaki tampan dengan rambut yang dibiarkan sedikit berantakan namun terlihat seperti model rambut masa kini, bukan karena tak disisir. Dia mengenakan pakaian semi-casual yang membuat dia terlihat ‘agak’ sedikit lebih muda dari usianya.

Cahaya tersadar dari lamunannya.

“Oh ya, Silahkan…” Katanya masih dengan posisi kedua tangannya memegang kedua lengannya.

Lelaki itu duduk dihadapan Cahaya dan mengeluarkan laptopnya, berkutat dengan laptop sambil meneguk coca-cola kaleng. Tanpa sedikitpun memperdulikan Cahaya.

Hei, Untuk apa dia ketempat seperti ini. Kalau hanya mau bermain laptop sambil minum minuman ringan seperti ini? Tak perlu di Bar kan? Di café mungkin lebih terhormat. Cahaya keheranan melihat lelaki yang ada dihadapannya ini.

^ ^ ^

Cahaya & Cakrawala (satu)

(Satu)

"Tak ada seorangpun yang menginginkan dirinya untuk terjebak pada kesalahan. Tapi situasi dan kondisi kadang memaksanya."

R

emang-remang lampu disco serta iring-iringan music DJ, tak membuat seorang wanita muda ikut larut dan turun kelantai disco, dia hanya terdiam sambil memegang kedua lengannya seperti kedinginan, tetapi sebenarnya dia tidak kedinginan. Hanya, dia merasa nyaman dengan posisi seperti itu. Sesekali diteguknya sebuah gelas yang berisi minuman beralkohol. Setelah cukup lama terdiam seseorang menghampirinya.

"Ca, cowok yang sana mau sama loh..." Kata seorang wanita yang tampak dewasa kepada wanita muda itu sambil menunjuk seorang cowok yang masih memakai seragam SMA... Seragam SMA itu sepertinya Ia kenali... Ya, itu seragam SMA alumni sekolahnya... SMA Budi Bangsa, Celana kotak-kotak dasi Coklat ditambah logo sekolahnya dibagian saku seragam. Dilengan kirinya, terpampang dengan jelas 'X' yang menunjukan kelasnya.

"Oh, kelas sepuluh, pantesan gak pernah lihat disekolahan. Berani juga anak bau kencur kayak gitu main ditempat ginian. Perasaan dari gue masuk SMA sampe gue lulus dua tahun lalu, gak ada siswa sekolah gue yang kemari. Eh, ini bau kencur berani banget datang kemari. Ah gak mau gue! cari yang lain!..." Tolak wanita muda itu.

"Tapi Ca, lo pikir lagi deh. Lo gak perlu kerja keras kalau sama anak kecil kayak gitu lagian bayarannya banyak..."

"Alah! Paling nyopet uang bokapnya... Nanti kalau bokapnya cari uangnya, bisa jadi dia balik kemari minta ngembaliin uangnya... Udah ah gue males... Lo pergi aja cari yang lain... Si Zelvi kek atau itu noh anak baru Si Aura jangan gue!..."

"Yaudah deh Ca, kalau lo gak mau... Bye..." Kata Wanita itu segera beranjak menjauhi Gadis itu menuju ke arah cowok yang sedari tadi nunggu. Setelah mengatakan sesuatu kepada cowok itu, tampak wajah kecewa darinya. Segera wanita itu menarik anak SMA itu menuju wanita-wanita muda lain yang berkumpul disebuah sofa sambil meminum beberapa minuman beralkohol.

"Ckck... Anak jaman sekarang..." Gumamnya...

Tak lama kemudian Pikirannya menerawang mengingat kembali kejadian yang membuatnya masuk kedunia gelap itu. Ya, Waktu itu dia juga seumuran dengan anak SMA tadi. Seharusnya dia tak heran dengan anak SMA tadi. Tapi entahlah, Batinnya saja masih menolak kalau dia sekarang terjebak ditengah kegelapan.

^ ^ ^

"Cahaya gak mau kita hidup susah terus... Cahaya cuma mau kita keluar dari kesusahan ini... Cahaya mau pergi ke Jakarta, untuk merubah nasib kita!" Tekad Cahaya

"Tapi nak, kamu kan baru lulus SMP, bisa tidak untuk menunggu sebentar lagi sampai kamu lulus SMA..." Seorang wanita paruh bayah mengelus halus kepala anaknya.

"Gak bisa bu, kalau Cahaya terus disini... Bisa-bisa Cahaya putus sekolah, melihat keadaan ekonomi kita yang makin menurun..."

"Tapi nak..."

"Sudah, pokoknya besok Cahaya akan berangkat, Ibu tenang aja... Cahaya janji akan jaga diri Cahaya baik-baik, Mohon restu ibu..."

"Ya sudahlah nak, kalau kamu sudah bertekad apa yang ibu bisa lakukan... Hanya membantumu dalam doa..."

Keesokan harinya, Cahaya benar-benar berangkat menuju kota Jakarta. Beberapa Jam perjalanan dari desanya menuju Jakarta. Di Jakarta dia memang tak punya sanak saudara atau keluarga. Tapi, Dia punya kerabat, sahabat waktu SD, namanya Nadira. Yang dilakukan Cahaya ketika berada di Jakarta adalah mencari rumah Nadira. Nadira pernah pulang kampung beberapa tahun lalu, waktu Cahaya masih duduk dibangku kelas 8 SMP. Dia mengajaknya agar ikut dengannya ke Jakarta dan tinggal dirumahnya, Tapi Cahaya menolaknya. Nadira sempat memberikan alamat rumahnya kepada Cahaya. Dan tujuannya pertamanya di Jakarta adalah rumah Nadira.

Beberapa lama dia berputar-putar di kota metropolitan. Ternyata mencari rumah Nadira tak semudah yang dia bayangkan. Buktinya sudah berjam-jam dia luntang-lanting di jalanan, rumah Nadira belum kunjung dia temukan, Jakarta terlalu luas. Bukannya rumah Nadira yang Ia temukan, malahan dijalan dia bertemu dengan preman, lelaki mata keranjang yang gemar bersiul setiap kali melihat gadis-gadis muda seperti dirinya. Tapi, untunglah Cahaya cukup cerdik menghadapi mereka semua. Sehingga dirinya dan barang yang dibawanya aman.

Rumah berwarna earth dengan tiang tinggi dan kusen jendela melengkung serta ornamen dan profile yang khas, neo-klasik berdiri gagah dan megah didepannya diiringi dengan hilangnya sinar mentari bergantikan sosok langit yang berwarna kecoklatan, segera dilihatnya secarik kertas kecil yang dirogohnya dari saku celana. Yah, ini rumah Nadira, Mata Cahaya terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ini rumah Nadira? Hatinya bergumam kecil. Cahaya diam tak bergeming sampai seorang satpam menghampirinya dari dalam rumah.

“Permisi neng, ada yang bisa saya Bantu?” Tanya satpam itu.

“Eh, iya… Saya mau tanya sesuatu…” Kata Cahaya sambil memberikan secarik kecil kepada satpam itu.

“Alamat ini benar disini kan Pak?”

Satpam melirik secarik kertas kecil itu lalu mengangguk kecil.

“Ya, benar…”

“Berarti benar kalau ini rumahnya Nadira Almaya Putri, Dia itu teman saya dari kampung…”

“Oh Non Nadira… Ya, benar… Maaf kalau boleh saya tahu nama anda siapa?”

“Saya Cahaya Pak, Cahaya Ramadhina… Bilang saja begitu Pak, pasti Nadira tahu…”

“Baiklah, Non tunggu disini sebentar…” Kata satpam sambil membuang langkahnya masuk kedalam rumah.

Tak beberapa lama kemudian keluar seorang Gadis cantik dengan rambut panjang terjuntai sampai menutupi punggung dengan bandana berwarna maroon, memakai singlet putih serta hotpants berwarna hitam. Ia segera berlari menuju gerbang tempat Cahaya berdiri. Segera membukakan gerbang tersebut, lalu memeluk Cahaya dan menarik Cahaya masuk kedalam. Cahaya hanya bisa pasrah mengikuti reaksi temannya itu ketika melihat dirinya.

“Ca… Akhirnya lo dateng juga… Huaaa… seneng banget bisa ngeliat lo lagi… Yuk masuk!...”

“Iya Nad, kamu tambah Cantik... tak apa-apa aku datang kesini tanpa ngabarin kamu?”

“Ya gak apa-apa lah Ca, Gue malah senang akhirnya lo mau menerima tawaran gue datang kemari... Yuk...”Kata Nadira sambil membuka pintu rumahnya dan menarik kembali Cahaya masuk kedalam rumahnya. Didalam ternyata lebih mewah daripada diluar. Arsitektur gaya romawi masih terasa sampai kedalam namun tak meninggalkan kesan modern pula karena, terdapat beberapa sofa modern berwarna maroon ketika memasuki ruang tamu, dihampir setiap sudut ada bupet yang tertata dengan rapi. Ada juga guci-guci antik berbagai macam rupa menghiasi rumah ini.

Cahaya tahu, Nadira diangkat sebagai anak oleh sepasang suami-isteri yang tidak dikaruniai anak. Waktu itu Nadira masih kelas 6 SD, dia sangat dekat dengan Cahaya ketika orang tua angkatnya membawanya pergi ke Jakarta. Dia memang anak yatim-piatu dikampung dia hanya dibesarkan oleh neneknya yang sudah tua rentah dan sakit-sakitan. Cahaya tahu bahwa orang tua angkat Nadira orang kaya. Tapi dia tak pernah membayangkan rumah Nadira yang sekarang seperti ini.

"Tapi Nad, Aku tidak enak sama orang tuamu..." Kata Cahaya ditengah perjalanan naik tangga menuju lantai dua. Kamar Nadira.

"Gak apa-apa kok Ca, Gue udah pernah bilang hal ini sama Bokap dan Nyokap gue... Katanya gak apa-apa, mereka malah senang gue punya teman yang tinggal serumah... Soalnya mereka sering gak dirumah... Keluar kota bahkan keluar negeri gitu..."

"Bokap dan Nyokap itu siapa yah?" Tanya Cahaya polos.

"Hahaha, oh iya, lo kan gak tahu arti bokap nyokap yah... Ayah dan Ibu maksud gue..." Kata Nadira sambil membuka pintu kamarnya, Tampak sebuah kamar yang cukup luas. Masterbed dengan seprei berwarna baby pink tepat berada ditengah-tengah kamar, disudut ada meja rias yang ditata dengan apik dan rapi, ada pula home teater tepat dipojok depan ranjang dan banyak boneka tersusun rapi disebuah lemari kaca. Cahaya menatap 'waw' kamar itu.

"Oh jadi disini manggil Ayah dan Ibu itu Bokap dan Nyokap yah?" Tanya Cahaya masih dengan kepolosannya sambil meletakan tas yang dibawanya disamping lemari tak jauh dari situ, sedangkan Nadira berjalan menuju masterbed lalu duduk disitu.

"Hahaha, lo ternyata masih polos banget Ca, yah gaklah itu tuh cuma istilah anak Jakarta gitu... Udahlah lama-lama lo terbiasa juga pake bahasa kayak gini... Mending lo Istirahat dulu, Pasti lo capek kan? Seharian nyari rumah gue, nanti malam orang tua gue baru pulang, nah nanti gue kenalin lo sama orang tua gue..."

“Tapi Nad, aku datang ke Jakarta bukan untuk tinggal gratis disini sama kamu… Aku mau cari kerja Nad… Untuk biayain keluargaku dikampung…”

“Lha? lo kan masih kecil Ca, baru aja lulus SMP… Masa lo mau kerja?”

“Umurkan tak menghalangi seseorang untuk mandiri ya kan? Aku cuma mau membantu ekonomi keluargaku. Aku gak mau keluargaku hidup susah selamanya…”

“Hmmm… Gini aja deh daripada lo nyari kerja diluar, mending lo kerja dirumah gue aja… Bantu-bantu pembantu gue didapur, masak mungkin, atau apalah terserah lo… Yah, sebenarnya sih gue gak mau lo kerja kayak gini, kan sama aja lo jadi pembantu dirumah gue… Tapi daripada lo nyari kerja diluar… Di Jakarta salah melangkah bahaya… Banyak jebakan iblis dimana-mana… Gimana? lo mau kan? Nanti gue gaji perbulan terserah lo mau minta berapa aja…” Tawar Nadira

Cahaya tersenyum lalu mengangguk kecil, dan membuang langkahnya menuju masterbed. Kemudian tidur bersama Nadira disitu. Sejenak, Keduanya terlelap.

^ ^ ^

Cahaya & Cakrawala

Cahaya & Cakrawala.

Cahaya. Ibuku menamakanku Cahaya, katanya itu lambang ketegaran, agar aku bersinar ditengah kegelapan dan mengisi setiap ruang hampa dengan setitik Cahaya. Dan berharap sinarku takkan redup terus berpijar bagi diriku, orang tuaku dan sesama manusia. Ibuku memang tidak salah menamakanku Cahaya. Karena aku memang bercahaya, tapi ditempat yang salah. Big Black Hole!

Cakrawala. Ayahku memberikanku nama Cakrawala. Yang melambangkan kekuatan, agar aku bisa membentang membelah bumi, agar aku selalu terlihat gagah dan tangguh. Ya, Apa yang ayah inginkan terjadi. Dengan didikan keras ayah aku menjadi seseorang yang di inginkan ayah. Kekuatan dengan keangkuhanku, membelah bumi dengan kekerasanku. Yap, mungkin itu yang ayah inginkan.

Cahaya dan Cakrawala adalah dua sosok yang bertolak belakang tapi bernasib sama. Cahaya, seorang gadis yang terhimpit dengan keadaan ekonomi. Sedangkan Cakra, seorang lelaki yang terikat dengan segala aturan ayahnya. Apa yang terjadi ketika mereka berontak?

Bencana! Yang membuat mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka masing-masing. Sampai takdir mempertemukan mereka. Begitu dekat, namun begitu jauh!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...