Sabtu, 03 Mei 2014

BELIEVE—SEVEN—[RUNAWAY LOVE]


SEVEN—RUNAWAY LOVE
“―I won’t stop until Ifind
my runaway love―”

Club Vie.
OIK membaca sebuah papan nama. Saat Cakka menghentikan langkah kakinya tepat di depan bangunan itu. Itu sebuah club. Oik menaikkan kedua alisnya. Sambil dahinya berkerut. Sebenarnya ia enggan mengeluarkan suara. Semenjak kejadian di dalam lift tadi. Selama perjalanan mereka tadi. Yang hanya berjalan kaki .Karena Rotterdam saat itu penuh dengan manusia di jalan-jalan. Sebagian manusia yang berjalan-jalan itu menggunakan pakaian berwarna oranye. Ia hanya mengikuti Cakka saja. Entah kemana Cakka akan membawanya. Dan ia berhenti tepat di depan Club Vie itu.
Club Vie terletak tidak begitu jauh dengan apartemen mereka. Lebih tepatnya di Maasboulevard 300. Sepanjang sungai Nieuwe Maas dekat area pelabuhan lama. Makanya mereka tidak memakan waktu lama untuk tiba di situ.
You know. This is my first time to celebrate koningsnacht,” kata Cakka, “Let’s go inside!” lanjut Cakka sambil melangkahkan kakinya.
Oik mengernyit, “Your first time? Are you kidding me? Bukannya kamu udah pernah di Rotterdam sebelumnya?” Oik enggan melangkahkan kakinya.
“Iyamemang. Tapi tahun ini baru perayaan kedua koningsnacht dan koningsdag,” kata Cakka yang kemudian menghentikan langkahnya. Kembali kepada Oik yang tetap bergeming.
Oik semakin tidak mengerti dengan perkataan Cakka, “Maksudnya? Perayaan koningsnacht dan koningsdag ini perayaan baru?” tanya Oik.
Nee, tapi dulu namanya berbeda. Koninginnenacht, atau malam ratu dan koninginnedag atau hari ratu. Setelah Ratu Beatrix lengser dua tahun lalu. Digantikan oleh anaknya Raja Willem-Alexander. Perayaannya beruban nama menjadi koningsnacht dan konigsdag atau malam raja dan hari raja. Waktu aku di sini perayaannya setiap tanggal dua puluh sembilan April malam untuk koninginnenacht dan tiga puluh April untuk koninginnedag.Tapi karena sekarang Raja Willem-Alexander berulang tahun tanggal dua puluh tujuh April. Jadi perayaannya dimajukan,” jelas Cakka.
“Jadi tanggal tiga puluh April itu ulang tahunnya Ratu Beatrix juga?” tanya Oik.
Cakka menggeleng, “itu ulang tahunnya Ratu Juliana. Ibunya Ratu Beatrix. Namun perayaannya tidak berubah setelahnya,” jelas Cakka lagi.
Oik mengangguk-angguk sebenarnya masih ada bagian yang ia kurang pahami. Namun, setidaknya penjelasan Cakka itu memberinya secercah pengertian, “Memangnya perayaannya apa saja? Sampai kita harus masuk ke club seperti ini. Aku nggak pernah masuk club,” aku Oik.
“Banyak.Dance along the night, Dj’s around, Nacht van oranje and many more. Makanya, kita masuk ke dalam supaya kamu bisa tahu,” kata Cakka.
Oik masih bergeming. Ia menatap pintu masuk yang ramai. Dua orang penjaga di kiri dan di kanan pintu. Ia mengangkat kedua alisnya. Menggembungkan pipinya.Menimbang-nimbang. Jika ia masuk itu recordpertamanya masuk ke dalam club. Di Jakarta, ia sama sekali tidak pernah masuk ke dalam club. Selain karena selalu dijaga oleh orang tuanya. Ia memang samasekali tidak berniat masuk ke dalam club.Ia jauh dari dunia malam.
Too long,” kata Cakka dan langsung membopong Oik. Seperti yang dilakukannya di apartemen tadi.
“CAKKA!” teriak Oik saat dirinya sudah berada di pundak Cakka.
Orang-orang yang mengantri di depan pintu masuk langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Cakka dan Oik. Cakka tidak ambil pusing. Ia terus berjalan masuk ke dalam antrian.

***

Suara musik DJ menggema di seluruh ruangan. Oik menghempaskan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan itu diselimuti dengan warna magenta. Dengan lampu sorot berwarna biru. Tidak berbeda jauh dengan yang berada di jalanan tadi. Di ruangan itupun banyak orang dengan pakaian oranye. Mereka sedang turun ke lantai dansa menikmati musik DJ. Seorang host menghampiri Cakka dan Oik yang sedang berdiri. Ia menyapa dengan bahasa Belanda. Yang membuat Oik hanya bisa mengikuti saja.
Host itu membawa Cakka dan Oik ke sebuah tempat. Itu executive class. Sebuah tempat yang dikhususkan. Di situ terdapat sofa yang empuk. Beberapa minuman sudah berada di atas meja. Dilengkapi dengan gelas-gelas kaca. Setelah berterima kasih kepada sang host. Cakka mengajak Oik duduk di sofa.
Oik merasa asing dengan keadaan seperti itu. Musik yang terlalu berdentum keras.Membuat telinga Oik agak tidak nyaman. Orang-orang yang berpesta miras. Maupun yang berdansa dengan segala gerakan. Mengikuti iring-iringan musik DJ. Ada pula lelaki yang shirtless serta perempuan yang hanya mengenakan lingerie. Seperti ini yang namanya koningsnacht? Ah! Tahu begitu ia tidak usah datang. Sepertinya, otak Cakka sama seperti semua orang di sini. Dari Twitter-nya tadi saja.... iyuhh. Oik bergidik ngeri. Beringsut duduk agak menjauh dari Cakka.
“Kenapa?” tanya Cakka.
“Eng...Nggak apa-apa. Di sini cuma... agak dingin,” kata Oik berbohong.
Cakka segera melepas jas yang dikenakannya. Menyampirkannya di bahu Oik.
Oik tersenyum kaku, “Makasih,” kata Oik.
Kemudian keduanya terdiam. Cakka menumpahkan vodka ke dalam gelasnya. Lalu meminum.
“Kamu tahu nggak kenapa semua orang memakai warna oranye?” tanya Cakka.
“Yang aku tahu oranye itu warna kerajaan Belanda. Ya, mungkin karena itu,” kata Oik.
That’s right! Dan malam ini temanya nacht van oranje,” kata Cakka.
“Cakka...” panggil Oik.
“Hm...” jawab Cakka sambil meminum kembali gelas vodka-nya.
“Jadi perayaan koningsnacht itu...” belum sempat Oik menyelesaikan perkataannya.
Cakka malah berteriak, “Godverdomme, welnu! Laten we dansen(*).”
Diikuti antusiasme orang-orang yang sama dengan Cakka. Instrumen yang sangat up-beat diputar sang DJ. Orang-orang sudah dengan semangat bergoyang sambil berteriak-teriak.
Shall we dance?” Cakka menaikkan alisnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Oik. Bukan malah menyambut tangannya. Oik malah menatap heran. Cakka yang gemes melihat Oik yang selalu lambat memberi respon. Ia mengambil kembali jas yang ia berikan pada Oik tadi. Melemparkan sembarangan ke sofa. Dan untuk yang ketiga kalinya segera membopong Oik dari sofa empuk. Ketiga kalinya Oik memberontak. Tapi tetap tak pernah dihiraukanoleh Cakka. Orang-orang begitu sibuk dengan goyangannya masing-masing. Teriakan Oik pun tertutup oleh musik DJ. Sehingga tak ada yang memperhatikan Cakka yang sedang membopong Oik dibahunya turun ke lantai dansa.
Oik kebingungan saat dirinya sudah berada di lantai dansa. Dengan segala euforia yang ada. Oh... ini bukan lantai dansa ballroom dengan iring-iringan musik waltz. Kalian pasti tahu bagaimana keadaan club. Orang-orang yang mengangkat-angkat tangannya sambil bergoyang apalagi ketika sang DJ mengatakan ‘put your hands up’. Riuh teriakan orang seakan sama kencangnya dengan musik yang diputar DJ.
“Kayaknya kamu harus belajar cepat dalam mengambil keputusan,” bisik Cakka di telinga Oik. Sebenarnya bukan sebuah bisikan. Cakka berbicara dengan suara normalnya. Namun karena musik DJ yang sangat keras terdengar seperti bisikan.
Oikmasih bergeming.
Oh c’mon. Take off your good girl. Move yourbody. Let’s dance!” Cakka masih tetap tidak menjauh dari telinga Oik.
Melihat gadis itu sama sekali tidak bereaksi. Cakka kembali berbisik, “Close your eyes. Follow the music. And let your body move,” katanya.
Cakka menunggu reaksi Oik kembali. Gadis itu mulai menutup matanya. Merasakan dentuman musik DJ. Ketukannya, iramanya. Tiba-tiba saja tubuhnya mulai bergerak. Satu gerakan. Dua gerakan. Pinggulnya, bahunya, badannya seakan mencoba mengikuti ketukan musik. Cakka tersenyum. Not bad!
Oik membayangkan ia sedang menjadi Babi dalam Tres Metros Sobre El Cielo. Film roman Spanish kesukaanya. Saat H mengajak Babi ke sebuah club untuk pertama kalinya. Dan ia mulai melakukan gerakan. Seperti Oik saat ini. Ternyata bergerak seperti ini tidak buruk. Ia malah seperti merasakan sebuah kebebasan.
Tiba-tiba saja dalam gerakannya ia merasakan sebuah sentuhan membelai wajahnya. Membuatnya bergerak semakin cepat dan liar. Membelai lengannya, tangannya. Sampai sentuhan itu berubah menjadi sebuah tangan yang melingkar di pinggang Oik.
Oikmembuka matanya dan mendongak ke atas. Menemukan Cakka yang sedang tersenyum kearahnya.
Let’s change the music,” bisik Cakka.
Cakka membawa Oik bergerak. Tapi dengan gerakan yang pelan. Satu langkah ke kanan. Satu langkah ke kiri. Mereka melakukan slowdance. Di tengah riuh orang yang bergoyang dengan musik up-beat. Cakka membawa Oik menghadapnya. Kemudian melingkarkan tangan gadis itu ke leher Cakka.
You’re crazy, pretty lame,” komentar Oik.
Yeah, sexy nerd,” balas Cakka.
Oik tertawa kecil menyindir. Cakka malah tersenyum nakal. Oik menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menunduk. Ia benar-benar lupa sedang berhadapan dengan siapa. Cakka terus membawanya bergerak perlahan.
Oik menutup matanya kembali sambil bersenandung. Kali ini ia bergerak mengikuti senandungnya. Dan pada saat ia sedang benar-benar menikmatinya. Sebuah tekanan yang lembut mendarat di bibirnya. Oik kaget. Belum sempat ia berpikir, tekanan itu malah berubah menjadi lumatan. Sebuah desiran dirasakan Oik. Seiring kakinya yang tiba-tiba saja serasa melemah ketika menerima lumatan-lumatan itu.
Oi kkemudian tersentak menyadari sesuatu. Ia membuka matanya dan melepaskan ciuman tersebut. Ia mengatur napasnya yang sudah tidak beraturan. Lalu menatap Cakka yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajamnya.
3...
2...
1...
PLAK! Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi Cakka. Seiring Oik meninggalkan Cakka. Menerobos keramaian orang yang sibuk bergoyang. Sambil menangis dan memegang bibirnya.

***

Oik berlari sekuat tenaga. Menjauhi Club Vie. Menyusuri jalan Maasboulevard yang penuh dengan pejalan kaki juga. Ia berlarimenerobos mereka semua. Pikirannya masih blank dengan apa yang terjadi tadi.
BRUK!
Oik menabrak seseorang.
“Awh,” Oik memekik karena dirinya terjatuh.
Ibu-ibu yang ia tabrak juga jatuh.
I’m sorry, Mam. My mistake. Are you okay?” tanya Oik yang berusaha berdiri. Kemudian membantu Ibu itu.
Ik begrijp het niet. Wat zeg je?,” tanya Ibu itu.
Aku tidak mengerti. Apa yang kamu katakan?
Oik kebingungan. Apa yang Ibu ini katakan?
Zij spijt. Zij vragen over uw conditie,” kata sebuah suara dari belakang Oik.
Dia menyesal. Dia menanyakan keadaanmu.
Ik ben orde,” jawab Ibu itu sambil kembali berdiri dan meninggalkan Oik.
Aku baik-baik saja.
“Lo nggak bisa lari kemana-mana, Oik Santika,” kata suara itu yang diiringi sebuah cengkraman yang erat.
Oik berusaha membalikan badannya. Hendak melihat orang yang mencengkramnya itu. Betapa kagetnya Oik ketika melihat...
Remember me? I’m the boy you used to hate when we’re thirteen,” katanya.
“Riko...”
Long time no see,” katanya semakin mencengkram Oik lebih kencang.
“Lepasin!” kata Oik.
Riko menggeleng, “Masih ingat the bald Barbie? Gue buat lo kayak gitu dulu baru gue lepasin. Ikut gue!” pintah Riko.
“Nggak! Gue nggak mau!” teriak Oik yang sudah di seret Riko.
“Nggak nyangka lo datang sendiri ke kandang gue,” kata Riko.
Oik yang panik segera menginjak kaki Riko dengan platform-nya. Membuat Riko merintih kesakitan. Cengkramannya melemah. Oik segera memanfaatkan kesempatan itu untuk lari.
Ia berlari secepat yang ia bisa. Double nightmare.

***

Tadi Cakka mencari Oik di apartemennya. Tapi, apartemennya itu masih terkunci. Tak ada tanda-tanda ada Oik di dalam. Cakka sudah bertanya pada resepsionis dibawah. Kata mereka Oik belum pulang. Ia pun kembali ke Club Vie dengan membawa sepeda. Siapa tahu Oik kembali ke sana.
Cakka mendengus kesal. Baru kali ini ia ditampar setelah mencium seorang gadis. Tapi, itu malah membuat Cakka penasaran pada Oik.
Tak beberapa lama kemudian, Cakka tiba di depan Club Vie. Ia segera memarkirkan sepedanya. Ia berjalan ke arah pintu masuk. Belum sempat tiba di pintu masuk, punggung Cakka di tabrak oleh sesuatu. Cakka segera berbalik.
Ia mendapati seorang gadis berambut ikal terurai dan bergaun oranye di belakangnya menunduk. Ia kelihatan ketakutan. Itu... Oik.
Oik segera memeluk Cakka, “Bawa aku pergi dari sini, please,” mohon Oik pada Cakka.
Cakka agak sedikit kaget dengan perlakuan Oik itu. Tadi gadis itu menamparnya karena ciumannya. Sekarang, gadis itu malah memeluknya dan menyuruh membawanya pergi. Aneh.
Di tengah pertanyaan Cakka yang masih bergelut dalam benaknya. Cakka tidak mau melewatkan kesempatan ini. Ia segera melingkarkan tangan kanannya di pinggang Oik. Sedangkan tangan kirinya memegang puncak kepala Oik. Menuntunnya ke sepeda yangia parkir tadi.
Ia segera naik di atas sepedanya. Oik duduk menyamping diboncengan. Dan tanpa diperintah Cakka gadis itu segera melingkarkan tangannya di pinggang Cakka. Ia menenggelamkan kepalanya di punggung Cakka.
Cakka segera mengayuh sepedanya meninggalkan Club Vie.

***

Cakka dan Oik sedang duduk di sebuah bangku di luar restoran De Tuin. Restoran yang terletak di tepi danau Kralingse itu tampak sejuk dengan alunan suara musikjazz.  Caro Emerald sedang melantunkanlagu A Night Like This. Keduanya menatap Danau Kralingse yang begitu tenang dihadapan mereka. Keduanya sama sekali tidak mengeluarkan suara.
Cakka sengaja tidak bertanya. Membiarkan Oik benar-benar tenang. Sepertinya gadis itu benar-benar ketakutan.

“...I have never dreamed it
Have you ever dreamed a night like this
I cannot believe it
I may never see a night like this
When everything you think is incomplete
Starts happening when you are cheek to cheek
Could you ever dream it
I have never dreamed, dreamed a night like this...”

“Kalau Indonesia dulu berhasil direbut Belanda. Berarti Indonesia juga merayakan koningsnacht ataupun koningsdag juga ya,” kata Oik tiba-tiba.
Cakkamengernyit heran. Kenapa pembicaraannya jadi seperti ini? Tapi tidak apa, yang penting Oik sudah mau meng eluarkan suaranya.
“He-eh.Kita mempunyai gubernur jenderal orang Indonesia. Tapi kepala negara kita Willem-Alexander. Lucu juga,” kata Cakka.
“Nggak akan ada perayaan tujuh belasan,” kata Oik matanya sama sekali tidak mau menatap Cakka, “Tapi, aku ngebayanginnya ngeri. Di Indonesia kalau ada perayaan kayak gini. Nggak bakal ada upacara. Nggak bakal ada panjat pinang. Yang ada hanya acara di club, restoran dan lain sebagainya. Dipenuhi DJ dan penyanyi-penyanyi. Berdansa sana-sini,”lanjutnya.
“Tunggu besok aja di koningsdag. Kamu pasti bakalan merubah pandangan kamu. Ini bukan hanya sekadar perayaan hura-hura kok,” kata Cakka.
Oik tidak menjawab Cakka. Ia sibuk dengan pikirannya yang sedari tadi menyelubungi.
“Tadi...kamu jangan pikiran yang macam-macam ya. Aku tadi dikejar Riko,” kata Oik.
“Riko?” Cakka mengernyit.
“Si psycho yang aku ceritain waktu itu,”kata Oik.
“Trus?” tanya Cakka penasaran.
“Ya...gitu deh. Udahlah. Aku lagi pusing malam ini,” kata Oik.
Cakka tidak mencoba bertanya lebih banyak lagi. Ia membiarkan Oik tenang lagi.
“Bawa aku jalan-jalan keliling tempat ini!” pinta Oik.
Cakka mengangguk. “Ayo,” ia mengulurkan tangannya.
Oik menatap ragu. Namun sebelum Cakka melakukan hal yang tidak diinginkannya. Oik menyambut tangan Cakka. Mereka mengelilingi restoran tersebut.
Oikmenatap ke arah bangunan kaca yang sedang dilewati mereka. Bangunan itu adalah restoran De Tuin. Orang-orang berpasangan sedang melakukan slow dance di dalam. Oik dapat melihatnya karena restoran itu sebagian besarnya dari kaca. Pemandangan yang lebih enak untuk dilihat dari Club Vie tadi. Lebih tenang dan syahdu. Kenapa Cakka tidak membawanya ke sini saja sih tadi?
Oik masih larut dalam pikirannya. Mereka terus berjalan dengan sangat pelan.
You stole... my first... kiss,” kata Oik melepaskan tangannya dari genggaman Cakka. Sambil menghentikan langkahnya didepan sebuah bangunan.
Windmill house. Bangunan rumah berwarna coklat. Dengan kincir angin di atap bagian depan rumah tersebut.
Cakka melotot. Matanya yang tajam menatap Oik. Kemudian tertawa, “Hahaha, are you kidding me? Oik, itu nggak lucu sama sekali.”
“Aku nggak lagi becanda, Cakka. Itu—Argh!” Oik memegang kepalanya. Matanya berkaca-kaca.
“Kamu hampir menikah. How can you never been kissed?” Cakka heran.
“Hubungan aku sama Obiet dulu emang nggak seperti yang dikira orang-orang. We are couple. But, if we were two. We act like... we’re friends. He actually hugs & kisses me. But justkissed me on cheek, eyebrow, fontanel or forehead.” curhat Oik.
He didn’t love you,” komentar Cakka.
I know. But I love him with all my heart. And I never demand him to do that. I just want him to love me back. I want him before he knows me well,” kata Oik.
Such a jerk! Kalau begitu kenapa dia maupacaran bahkan hampir nikah sama kamu? Maksud kamu dengan you want him before he knows you well?” tanya Cakka.
Oik menggeleng, “Mungkin, karena Putra. Ya… looong…loooongtime ago when I was childhood. When I didn’t know about love yet,” kata Oik.
“Putra siapa lagi? Maksud kamu cinta masa kecil?” tanya Cakka semakin bingung.
“Kakaknya Obiet. Tidak juga. Aku awalnya hanya penasaran. Setelah bertemu rasa itu muncul,” jawab Oik.
“Apa hubungannya? Aku semakin nggak ngerti,” kata Cakka.
“Dan kamu nggak akan pernah ngerti,” kata Oik.
“Oke, aku nggak akan pernah ngerti. Tapi, apa kamu nggak pernah coba cium dia gitu? Jangan munafik, pasti kamu mau juga kan?”
Oikmengangguk, “Actually. I wish my first kiss is my wedding kiss. But, you broke that way,” katanya sambil mengembuskan napasnya.
“Berarti Obiet itu hebat. Dia udah nyentuh hati kamu. Tanpa perlu ‘nyentuh’ kamu,” kata Cakka. Kali ini ia benar-benar ingin merokok. Pengakuan Oik tadi membuat ia juga ikut pusing. Sangat aneh. Di jaman sekarang masih ada yang diusia twenty-something and never been kissed.
Oikmengulurkan tangannya yang memegang doublemint. “Sebagai ganti rokok,” kata Oik seakan membaca gerak-gerik Cakka.
Cakka tertawa kecil sambil mengambil doublemint itu, “Dank u wel,” kata Cakka.
How about yours?” tanya Oik.
Me? Kamu nggak bener-bener pengin tahukan?” Cakka malah balik bertanya.
“Aku pengin tahu,” jawab Oik.
“Oke…”Cakka menghela napasnya, “Different withyour story. Aku dan Shilla melakukan hal selayaknya pasangan. Kisses, hugs and making love.”
Seharusnya Oik tidak perlu kaget mendengar pengakuan Cakka itu. Tapi kenapa ia malah membesarkan matanya.
“Kita aja ketemu dari one night stand,hahaha.”
What?” Teriak Oik.
Cakka tertawa melihat ekspresi Oik. Lucu. “Biasa aja kali. Ekspresinya nggak usah gitu juga. Ya memang seperti itulah takdir mempertemukan kita. Udahlah akusensitif kalau berbicara tentang Shilla. Bone head for her! Dia sudah menikah mungkin sekarang sedang hamil. I don’t know. Yang pasti penghinaannya di cafe waktu itu aku nggak akan pernah lupa,” kali ini Cakka yang curhat.
“Obiet malah sudah punya anak kembar,” kata Oik dengan senyum yang dipaksakan, “Kamu juga punya kembaran kan?”
“Darimana kamu tahu?” tanya Cakka menyelidik.
“Twitter,” kata Oik, “Aku nggak sengaja lihat tweet isterinya saudara kembar kamu,” kata Oik.
“Gara-gara mereka semua aku pindah ke sini. Menghindar dari orang tua yang suka membanding-bandingkan aku dengan Alvin. Terdesak disuruh-suruh nikah. Aku muak dengan itu semua,” kata Cakka sambil memamasukkan doublemint-nya ke mulutnya.
“Karena itu? Atau karena pelarian cinta?” tanya Oik sambil mengangkat kedua alisnya.
“Yeah. Salah satunya,” kata Cakka.
“Nggak usah malu mengakui. Karena akupun begitu,” kata Oik tersenyum dan mengedipkan matanya.
Seketika keduanya tertawa.

***

Cakka menatap arlojinya. Sudah menunjukkan pukul 03.00 subuh. Tak terasa ia dan Oik bercerita sambil duduk melantai sambil bersandar di dinding windmill house sampai tertidur.  Menceritakan kehidupan masing-masing. Dan sudah subuh begini.
Cakka menatap Oik di sampingnya yang tertidur dengan kepala di bahu Cakka. Ia menepuk pipi Oik lembut hendak membangunkan.
Oik menggeliat. Sebelum matanya terbuka dan kaget. Cepat-cepat ia membenarkan posisinya.
“Jam berapa ini? Aku ketiduran ya?” tanya Oik sambil mengucek matanya.
“Tiga subuh. Kita ketiduran,” Cakka membenarkan ucapan Oik.
“Pulang yuk. Ngantuk berat,” ajak Oik sambil menguap.
“Oke,” Cakka berdiri. Ia kemudian membantu Oik berdiri.
Ia segera membuka jasnya dan menyampirkan di bahu Oik. Oik segera mengambil langkah.
“Oik,” panggil Cakka yang membuat Oik berhenti dan berbalik menatapnya.
Cakka segera mendekat ke arah Oik.
Sorry buat yang tadi malam,” kata Cakka.
Tiba-tiba saja pipi Oik terasa panas. Ah... kenapa Cakka mengingatkannya lagi sih?
Tepat berada di samping Oik, Cakka berbisik, “I stole your first kiss. Before you know that,” kata Cakka dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Oik. Bibir Oik terasa dingin. Efek mint yang ditimbulkan doublemint yang dikunyah Cakka tadi. Satu lumatan sebelum Cakka menarik Oik pergi dari situ.
Minta maaf dan melakukannya kembali. Apa itu memang sifat semua laki-laki?

***
(*) Ayo berdansa!

-----

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...