Sabtu, 03 Mei 2014

BELIEVE—SIX—[STUCK IN THE MOMENT]


SIX—STUCK IN THE MOMENT
“―And I know you can’t love me, hey
I wish we had another time
―”

JEMBATAN Erasmus terbentang. Salah satu jembatan termegah di dunia itu tampak kokoh berdiri. Lambang kejayaan Rotterdam itu menyeberangi sungai Nieuwe Maas. Lalu-lalang manusia yang berjalan kaki, bersepada, berkendaraan bermotor bahkan beberapa trem didekatnya. Menghiasi sore hari yang cukup dingin itu. Cakka memarkirkan SUV-nya di sebuah area pinggir sungai Nieuwe Maas yang terletak di Noordereiland. Ia kemudian turun dari dalam SUV-nya dan langsung membukakan pintu untuk Oik.
Oik mengernyit bingung. Untuk apa Cakka membawanya kemari? Ia cukup diantar pulang saja. Bukan dibawa jalan-jalan seperti ini.
“Aku minta dibawa pulang. Bukan malah dibawa ke sini,”protes Oik.
“Gue... eh, aku mau nunjukin sesuatu sama kamu. Just follow me, you’ll be fine,” kata Cakka.
Oik mendengus kesal. Sebelum akhirnya turun dari dalam SUV Cakka.
Saat turun Oik menghempaskan pandangan ke arah sekelilingnya. Benar-benar area yang bagus untuk memandangi keindahan jembatan Erasmus. Cakka mengambil langkahnya terlebih dulu. Sedangkan Oik mengekor dibelakangnya. Ia memandangi ke kiri dan ke kanan, memindai satu per satu orang-orang yang ada di sekitarnya. Cakka membawa Oik untuk duduk di salah satu bangku panjang. Dari bangku tersebut, selain dapat memandangi keindahan jembatan Erasmus. Mereka juga dapat melihat bendera Indonesia. Berkibar dengan gagahnya di langit Rotterdam. Berdampingan dengan bendera-bendera di berbagai belahan dunia. Ya, museum bendera. Oik tersenyum melihatnya. Tiba-tiba saja ia kangen Indonesia. Kangen mamanya, kangen papanya, kangen Ify dan kangen... Ob—ah nggak boleh. Oik menggeleng-gelengkan kepalanya.
Cakka heran melihat tingkah Oik itu. Ia mengernyitkan dahinya sambil menatap Oik, “Kenapa?”
Oik gelagapan, “eh, nggak apa-apa. Aku... cuma... lihat bendera Indonesia di sana jadi kangen Mama dan Papa,” katanya.
“Tapi kok geleng-geleng kepala?” tanya Cakka.
“Eh... nggak apa-apa kok. Bukan apa-apa,” kata Oik sambil tersenyum kaku.
“Ingat pacar ya?” tebak Cakka.
Oik menggeleng, “perasaan waktu di kantor kamu. Aku udah bilang kalau aku nggak punya pacar,” kata Oik.
“Trus?” Cakka masih tetap kepo, “atau ingat calon suami yang ninggalin kamu itu?”
Seketika wajah Oik berubah. That’s right!
“Jangan kepo deh,” jawab Oik sambil menatap ke arahyang berlawanan. Agar ekspresinya tidak dilihat oleh Cakka.
“Aku juga ditinggal tunangan sebulan sebelum pernikahan. Dan sekarang dia udah nikah sama orang lain,” kata Cakka. Ia mencoba merogoh sakunya. Menemukan rokok di sana. Tapi, ia ingat kalau Oik tidak boleh mencium asap rokok. Makanya ia mengurungkan niat merokoknya.Padahal, pada saat membicarakan Shilla seperti ini. Ia sangat membutuhkan rokok untuk merelaksasikan pikirannya.
Oik berbalik ke arah Cakka dengan ekspresi kaget,“Serius? Orang seperti kamu?” Oik tak percaya.
Cakka mengangguk, “Tapi udahlah, orang-orang kayak mereka nggak perlu disesalin kan? Mending melanjutkan hidup,” kata Cakka.
Oik tersenyum mengangguk, “Ya... aku tahu itu. Dan aku percaya suatu saat akan ada orang yang menatapku dengan cinta. Hanya kita saja yang belum menemukannya. Kita perlu beberapa moment sebelum kita stuck dengansebuah moment yang mengantarkan kitapada destiny kita masing-masing,”kata Oik sambil pandangannya menelusuri Jembatan Erasmus.
“Kalau gu—aku sih. Udahlah cinta itu bullshit. Nggak mau mikirin soal itu lagi,” kata Cakka acuh tak acuh.
“Lho? Kenapa?” tanya Oik.
Cakka sengaja tidak mau menjawab pertanyaan Oik. Ia menatap arloji yang terlingkar dipergelangan tangannya, “Ah ini saatnya. Kamu perhatikan di sana,” kata Cakka menunjuk sebuah kapal besar yang sedang mengarah ke jembatan Erasmus.
Oik panik. Kapal itu bahkan lebih tinggi dari dasar jembatan Erasmus. Kalau kapal itu mau melewati jembatan Erasmus. Pasti bagian atas kapalnya tertumbuk pada jembatan Erasmus.
“Aaaa... Cakka itu nanti jembatan sama kapalnya tabrakan,” kata Oik sambil mengigit bibirnya panik.
Cakka malah tersenyum, “Perhatikan saja, it will be fine,” kata Cakka.
Oik mencoba tenang. Dan mengamati perjalanan kapal besar itu. Sesekali ia menengok ke arah jembatan Erasmus. Yang sudah sepi dari kendaraan bermotor.
Welnu!(*),” kata Cakka sambil menatap arlojinya.
Seiringan dengan jembatan Erasmus yang membuka. Memberikan kesempatan pada kapal besar untuk lewat. Bersama itu pula, matahari mulai masuk ke tempat peristirahatannya. Oik terkagum-kagum. Matanya membesar. Mulutnya membulat seperti hendak mengatakan ‘O’. Ini biasanya hanya dilihat di-film-film. Dan sekarang ia benar-benar menyaksikannya.
It’s cool,” komentar Oik.
Ternyata ada beberapa kapal besar yang menyusul datang melewati jembatan Erasmus yang membuka itu.
“Biasanya adegan kayak gini terjadi setiap jam enam sore. Kegiatan lalu-lintas di jembatan Erasmus akan ditutup selama kurang lebih empat puluh lima menit. Sampai kapal-kapal besar lewat semuanya,” jelas Cakka.
Oik mengangguk-angguk, “Itu sebabnya ya, tagline Rotterdam itu world city, world port. Sesuailah. Hidup di kota yang dialiri oleh sungai di tiap sudut kota. Serasa hidup di atas airsaja,” kata Oik.
“Ya, Rotterdam kan dulu kota pelabuhan terbesar didunia. Sebelum direbut oleh Shanghai. But, Rotterdam still my favorite one,”kata Cakka. Ia kemudian beringsut sebelum berdiri tepat di hadapan Oik, “let’s go home!” ajak Cakka sambil mengulurkan tangannya.
Oik memohon, “I wanna stay here for a view minutes, please,” mohon Oik.
Cakka tertawa kecil, “Just a view minutes,” kata Cakka sebelum duduk kembali di sebelah Oik.

***

Pagi-pagi Oik sudah bersiap-siap. Hari ini lumayan dingin. Ia segera memakai sweater panjang berwarna coklat. Saat ia baru saja hendak mengambil ankle boots-nya. Ponselnya berdering. Ia melihat layarnya. Sebuah nomor yang tidak dikenal. Tapi dari kode negara di depan nomornya. Sepertinya bukan dari Indonesia. Dengan segera Oik mengangkat panggilan di ponselnya itu.
“Hallo,” jawab Oik.
Hallo, Ik. Ini aku, Ify,” kata suara tersebut.
Seketika Oik langsung terlonjak kaget, “Ify, ah apa kabar kamu? Aku kangen banget. Baru sekarang kita kontakan lagi. Aaaa sumpah deh,” teriak Oik.
Hahaha. Iya, Ik. Aku juga kangen kamu. Eh, tapi kita lewat Skype aja biar lebih bebas. Aku nelpon kamu cuma mau nyuruh kamu aktivin Skype kamu,” kata Ify.
“Oke, Ify. See ya in Skype,” kata Oik.
“See ya,” jawab Ify.
Kemudian ia segera mengakhiri panggilan di ponselnya itu. Ia mengambil Macbook-nya. Lalu duduk di atas sofa ruang tamunya. Sambil memangku Mackbook tersebut. Dengan segera mereka menghubungkan Skype-nya dengan Skype milik Ify.
Tak beberapa lama kemudian. Di layar Macbook-nya,muncul wajah seorang gadis. Gadis manis berwajah tirus dengan rambut sebahu yang diwarnai dengan warna brunette. Gadis itu bersorak kegirangan saat koneksinya sudah terhubung.
“Oiiiiik, kangen banget,” kata Ify sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya sendiri. Tanda ingin memeluk Oik.
“Sama. Kangen juga, Fy,” kata Oik melakukan hal yang sama.
“Eh... gimana? Gimana di Rotterdam? Asyik nggak?” tanya Ify.
“Ya, asyik juga. Kotanya aku suka. Bersih. Trus berasa hidup di atas air. Abis dimana-mana sungai,” kata Oik.
“Trus di Erasmus gimana?” tanya Ify lagi, “Sekarang giliran kamu yang cerita, Ik. Waktu dulu kan aku cerita tentang kehidupanku di Irvine. Sekarang kehidupan kamu di Rotterdam. Kampus kamu, di sana gimana pokoknya aku tagih sekarang titik,” lanjut Ify.
Oik tertawa kecil, “Oke fine. Mau mulai darimana?” tanya Oik.
“Darimana aja boleh,” kata Ify.
“Ya, aku suka kehidupan di Rotterdam pokoknya deh Fy. Walaupun ini salah satu kota besar di Belanda. Tapi nggak polusi kayak di Jakarta. Jadi enak. Paling enak juga nggak macet. Karena di sini lebih banyak yang berjalan kaki daripada naik kendaraan. Trus punya jalur-jalur sendiri.Yang bawa mobil jalurnya beda sama yang jalan kaki. Beda juga sama yang bawa sepeda. Erasmus juga bagus. Sistem ngajarnya juga pake international language. Kayaknya Papa memang jago dalam memilih universitas. Kampusnya juga luas enak. Tapi...” kata Oik.
Ia teringat tentang kejadian yellow raincoat kemarin.
“Kenapa, Ik?” tanya Ify penasaran.
Oik mencoba meraih white coffee yang ada di atas meja yang sudah sedari tadi disediakannya. Sebelum ia menjawab pertanyaan Ify. Sedangkan Ify menunggu dengan was-was.
“Riko ada di sini, Fy,” kata Oik berusaha tenang.
“Riko? Yang psycho itu?” Ify melotot.
“Yap.”
Oh my God, Ik.Ngapain dia di sana? You must be careful,” kata Ify.
“Aku nggak tahu, Fy. Makanya waktu itu aku berusaha sembunyi dari dia. Untungnya ada Cakka yang nolong aku,” kata Oik.
You say who? Caka? Who is?” tanya Ify.
“C-A-K-K-A for Cakka,”eja Oik.
Who is Cakka?”tanya Ify penasaran.
“Udah nggak usah bahas dia nggak penting. Cumate tangga...” belum selesai Oik menjelaskan pada Ify.
Tiba-tiba pintu apartemen Oik dibuka dengan kasar. Dan membuat Oik serta Ify kaget akan bunyinya.
“Apa itu, Ik?” tanya Ify.
Yang kemudian diiringi oleh sebuah suara berat, “Oik,lo—kamu maksudnya. Ngapain masih duduk di situ?” tanya Cakka yang masuk sembarangan ke dalam apartemen Oik. Ia menatap Macbook Oik yang menampilkan gambar seorang gadis. “Eh... lagi Skype. Sama siapa?” tanya Cakka langsung duduk di sebelah Oik, “Hey,” sapa Cakka pada Ify.
Oik hanya bisa cengo melihat tetangga aneh bin ajaibnya datang dan langsung SKSD dengan Ify.
“Siapa itu, Ik?” tanya Ify.
“Ini—”
“Gue Cakka Aylonso Pramanna, tetangganya Oik. Lo?” tanya Cakka.
“Oh... jadi ini yang namanya Cakka ya,” kata Ify tersenyum menggoda Oik.
“Dia cerita gue sama lo? Cerita apa? Yang tentang gue mau rape dia ya?” tanya Cakka ceplas-ceplos.
Rape?” Ify mengernyit.
“Ah, Fy. Nggak usah dipikirin. Dia becanda. Oh ya, gue harus ngampus. Kita sambung kapan-kapan lagi ya, da,” Oik gelagapan dan langsung memutuskan sambungannya dengan Ify dan menutup Macbook-nya.
Ia kemudian mengembuskan napasnya.
“Kamu itu ya—Argh!” Oik frustasi dan segera berdiri.Memasang ankle boots-nya tadi. Ia kemudian mengambil scraf-nya dan melingkarkan di leher. Lalu mengambil tas-nya dan berjalan keluar.
Kalau saja bukan karena mobilnya kemarin ditinggalkan di kampus! Pasti ia sama sekali tidak mau menerima tawaran tumpangan Cakka!

***

ify_calista:Masih ngutang cerita! See ya soon @oiksntika
ify_calista:Cakka ganteng sumpah, Ik. Yang lama lewat@oiksntika
(N.b: Seperti biasabaca twitter seperti linimasa aslinya bawah-keatas)

What? Apa maksud Ify sih dengan menyebut ‘yang lama lewat’. Dia pikir aku pacaran sama Cakka.Oh No!
Oik bergumam dalam hati saat membuka Twitter-nya.Twitternya itu sudah lama tidak dibukanya semenjak pindah ke Rotterdam. Padahal, dulu Oik itu Ratu Twitter. Setiap curahan hatinya ia tumpahkan diTwitter. Namun, semenjak kejadiannya dengan Obiet-Agni dulu. Ia jadi mengintrospeksi dirinya sendiri. Bahwa tidak semua privasinya bisa dicurahkan di tempat publik seperti itu.
Saat ini, Oik sedang berjalan berada di lift bersama Cakka. Menuju basement. Tiba di basement, Oik tidak melihat sama sekali SUV Cakka terparkir disana. Apa Cakka mempunyai mobil lain selain SUV-nya itu?
“Tunggu di sini,” kata Cakka.
Oik berdecak seiring kepergian Cakka. Ia kembali memperhatikan ponselnya. Melihat linimasa Twitter-nya. Tanpa memperhatikan Cakka lagi.
“Jangan sibuk sama ponsel terus. Ayo naik!” kata Cakka yang sudah berada tepat di depannya dengan comfortbike-nya Schwinn.
Oik melotot, “Mobil kamu mana?”
“Lagi di auto-salon,” jawab Cakka sekenanya.
“Jadi kita naik ini?” tanya Oik sambil menunjuk ke arah sepeda Cakka.
Cakka mengangguk, “Yap,” jawabnya.
“Aku naiknya?” tanya Oik.
Cakka menepuk boncengan yang ada di belakang.
Oik menggeleng, “Aku yang bawa!” katanya.
Cakka menatap Oik sepersekian detik sebelum mengangguk,“Oke,” katanya lalu turun dari sepeda.
Oik berjalan ragu ke arah sepeda tersebut. Sebelum mengambil sepeda tersebut dari Cakka, “Kamu nggak malu pake pakaian kantor kayak gini trus naik sepeda di bonceng lagi?”
Oik sengaja. Supaya Cakka membatalkan acara naik sepeda ini.
Nee, dulu waktu masih kuliah. Aku memilih naik sepeda dibandingkan mobil. Karena disini pejalan kaki atau yang bersepeda lebih dihormati pengguna jalan,” kata Cakka dan langsung naik ke boncengan.
Oik mengembuskan napasnya. Ternyata percuma. Orang seperti Cakka paling tidak bisa berkompromi. Hupfh. Oik pun mengayuh sepedanya meninggalkan basement.
“Ingat lewat Maasboulevard, jangan lewat Blaak,” Cakka memperingatkan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Oik.
“Iya ingat. Tapi, Cakka lepasin tangan kamu dong. Aku risi,” kata Oik.
Cakka tidak menghiraukannya. Ia malah sibuk menyapa setiap pejalan kaki yang berpapasan dengan mereka.
Goedemorgen.Prettige dag!” Itu perkataan Cakka.
Oik memang tidak tahu bahasa Belanda. Tapi kemungkinan perkataan Cakka sama dengan ‘good morning.Have a nice day’. Yang langsung dibalas oleh orang-orang itu dengan senyuman atau kata-kata yang sama dengan yang diucapkan Cakka atau u ook(**).
Oik ingin menutup mukanya malu. Kalau di Indonesia, ia seperti sedang membawa penjual keliling yang berteriak-teriak. ‘Seribu tiga,seribu tiga.’
Semoga perjalanan ini cepat berakhir.

***

Besok libur. Entah kenapa. Oik sama sekali tidak mendengarkan baik-baik di kelas. Ia sedikit mengantuk, setelah mengerjakan tugas hari ini. Yang pasti ketika ia berjalan di koridor sekolah banyak orang-orang menyebut sesuatu. Seperti ingin mengatakan kondangan atau konidin. Entahlah. Kalau kondangan masih masuk akal. Soalnya dikelasnya ada yang saling bertanya sebentar malam bakalan memakai pakaian apa untuk dansa. Ada yang mengatakan Maassilo, Thalia Lounge, Ahoy yang sama sekali tidak dimengerti Oik. Tapi kalau konidin. Oik tidak tahu apa obat itu diproduksi sampai ke Rotterdam atau tidak.Oke absurd.
Yang pasti besok tanggal 27 April 2015 dan di kalender nasional Indonesia bukan merupakan hari libur nasional. Oke, tapi ia tidak tahudengan kalender nasional Belanda. Yang pasti apapun bentuk kondangan atau konidin itu. Ia sama sekali tidak tertarik.
Oik segera mengeluarkan sebuah iPad dari dalam tasnya. Kemudian membuka aplikasi Twitternya.

oiksntika: Kondangan atau konidin? Ngakak aja deh.

Tulis Oik di Twitternya. Ia kemudian memperhatikan linimasa Twitter-nya itu. Kebanyakan dari Ify dan dari beberapa teman-temannyadi Indonesia. Salah satunya dari Dea.

Dea_Cyntia:Si kembar Karen & Karin. Ahhhh tante Manda gemes deh {} http://pic.twitter.com/UhsSTV96XV

Seketika Oik tertarik melihat gambar yang di-upload Dea. Kemudian ia tertohok saatmelihat dua sosok bayi mungil berusia 6 bulan. Bayi perempuan kembar nan mungilitu... anaknya Obiet dan Agni. Cepat-cepat Oik menutup foto tersebut dankembali ke linimasa-nya. Mereka mewarisi mata Obiet. Yang membuat Oik tidakkuat untuk melihatnya. Segera ia mengatur napasnya. Menetralisir pikirannya. Iatak boleh larut dengan masalah yang dulu kembali. Di Rotterdam, ia harusmemulai kehidupan baru.
Ia tetap melihat linimasa Twitter-nya. Sebelum iamenemukan sesuatu lagi. Ini bukan tentang Obiet. Ini tentang... Cakka?
Oik mengerutkan keningnya. Memperhatikan baik avatarseseorang. Tweet orang itu baru sajadi-retweet oleh Pricilla. Kemudiandibalas oleh Pricilla juga.

In reply to:
Sivia_SCP:Shanta Claisa Pramanna
Pricillaaa19:@Sivia_SCP Wah Mbak, selamat ya {} baby girl-nya cantik

Pramanna? Seperti nama belakang Cakka bukan? Avatarorang itu juga seperti ia dan... Cakka. Untuk memastikan Oik segera membukaprofil orang tersebut. Hendak melihat dengan jelas avatar orang itu.
Dan benar saja. Lelaki yang bersama dengan pemilik Twitter itu seperti Cakka. Tapi... auranya berbeda. Di situ Cakka tampangnyayang naughty hilang. Berubahpenuh....hm, susah sih mengungkapkannya. Trus matanya... ehm lebih sipit dari biasanya. Tapi kalau dilihat sekilas itu emang Cakka. Penasaran Oik mengembalikan kembali ke profil orang itu.

Shanta’s Mom
Loc:Jakarta, Indonesia
Web:-
Bio:Sivia Azalia. 28th. Shanta Claisa Pramanna’s Mom. @alfonsoalvin’swifey.

Oik segera membuka profil @alfonsoalvin. Stalker seperti ini memang sudah biasa dilakukan Oik. Oh... oke, jangan membahas soal yang dulu-dulu. Kalian sudah tahu semuanya.

Shanta’s Dad
Loc:Jakarta, Indonesia
Bio:Alvin Alfonso Pramanna. Blessed Daddy.

Avatar Twitter @alfonsoalvin seorang bayi yangsepertinya anaknya. Penasaran apa hubungan Sivia, Alvin dan Cakka ini. Oik segera membaca linimasa Alvin.

alfonsoalvin:Cinta anak gue
alfonsoalvin:Hari ini banyak tugas. Fighting!
alfonsoalvin:Gue nggak jadi kangen sama Cakka -_-
alfonsoalvin:Ya Tuhan jauhkan anak gue dari lelaki seperti dia -> RT @CakkaPRMN: slm buatShanta
alfonsoalvin:gue kangen malah dimaki :( RT @CakkaPRMN: apasih RT @alfonsoalvin: -__-“ yaTuhan ampuni adik kembar gue :(
alfonsoalvin:-__-“ ya Tuhan ampuni adik kembar gue :( RT @CakkaPRMN: godverdomme RT @alfonsoalvin: Missing you CakkaPReMaN

Oh... rupanya Cakka punya kembaran ya. Dan kembarannya itu sudah punya anak dan isteri. Masih ‘kepo’ Oik membuka profil Twitter Cakka.

Cakka.A.Pramanna
Loc:Rotterdam, NL
Bio:[Unrated]

Oik cengo melihat bio Cakka. Kalau dalam dunia film, unrated itu artinya tanpa sensor. Artinya semua adegan yang dipotong ditampilkan semua. Biasanya dalam bentuk DVD yang belogo unrated. Biasanya juga yang disensor kan itu... strong sexual content,kata-kata kasar, atau mungkin pembunuhan yang teramat sadis. Semacam itu. Berarti Twitter Cakka...

CakkaPRMN:Koningsnacht!
CakkaPRMN:Slm buat Shanta @alfonsoalvin
CakkaPRMN:apasih RT @alfonsoalvin: ya Tuhan ampuni adik kembar gue :(
CakkaPRMN:godverdomme RT @alfonsoalvin: Missingyou CakkaPReMaN @CakkaPRMN
CakkaPRMN:Gue RT @felaryalaia: siapa dong?
CakkaPRMN:Ga ada yg cocok jadi Mr. Grey kecuali 1 org @feryalaia
CakkaPRMN:S&M udah pernah cui bosen @garryvest
CakkaPRMN:Miss you, Slut RT @Cha_Acha: Miss you, Hun.
CakkaPRMN:Godverdomme, Alexis Bledel kek atauFelicity Jones kek @felaryalaia
CakkaPRMN:Gue g suka Dakota Johnson makanya gue g horny@felaryalaia
CakkaPRMN:diantara semua cuma lo yg brani standing69-an sama gue haha RT @Cha_Acha: Cakka... -____-“
CakkaPRMN:udah RT @felaryalaia: udah nonton Fifty Shades of Grey?
CakkaPRMN:dia paling jago -> @Cha_Acha RT @gerryvest: Women on top.
CakkaPRMN:S.O.B middle finger-up hahaha!
CakkaPRMN:#nw Lovelace

Oik shock berat. Cepat-cepat ia menutup Twitter milik Cakka yang penuh dengan kata-kata layak disensor itu. Kekagetannya masih ditambah lagi dengan pintu apartemen Oik yang dibuka secara tiba-tiba. Dan ia langsung dilempari orang dengan bungkusan.
“Kaos oranye dipake buat besok Koningsdag! Gaunnya dipake buat malam ini Koningsnacht. See you!” kata Cakka dari pintu dan langsung menghilang begitu saja.
Nah! Yang dibilang Cakka tadi maksudnya seperti kondangan dan konidin. Dan apa-apaan ini? Oik mengangkat paper bag yang di lempar Cakka tadi.

***

Oik sebenarnya agak was-was dengan Cakka. Setelah melihat Twitter-nya itu. Ia benar-benar terlihat seperti penjahat kelamin yang siap menerkam mangsanya. Ia menatap gaun Valentino tanpa tangan. Dengan atasan kulit dan bawahan berenda berwarna oranye yang diberikan Cakka tadi. Gaun itu sudah membungkus tubuhnya. Ia menimbang-nimbang. Pergi...nggak...pergi...nggak.
Setelah mencari informasi di costumer service di bawah. Ternyata hari ini bukan kondangan apalagi konidin melainkan koningsnacht semacam malam perayaan sebelum ulang tahun untuk Raja. Katanya, bakal banyak perayaan untuk malam ini yang diadakan serentak di seluruh Rotterdam bahkan di seluruh Belanda. Katanya juga, tiap warga kota tidak akan melewatkan acara seperti ini di tiap tahunnya.
Oik mengambil platform-nyadan memakainya. Kemudian melengkapinya dengan clutch.
Pintu apartemen Oik dibuka. Oke, mungkin ini kebiasaan buruknya. Selalu lupa mengunci pintu apartemen. Cakka masuk dari luar. Ia memakai jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja berwarna oranye. Pantofel dikakinya. Lebih rapi dari biasanya.
Ready?” tanyanya.
“Aku butuh penjelasan! Kita mau kemana?” tanya Oik.
“Kamu udah pake gaun tadi. Berarti mau dan tidak mau kamu harus ikut,” kata Cakka.
“Ya... aku emang mau ikut koningsnacht, tapi... kamu mau bawa aku kemana?” tanya Oik yang lidahnya terasa terputar ketika menyebutkan koningsnacht.
You choose!”kata Cakka.
“Aku yang milih? Aku aja nggak tahu ini acara kayak gimana, Cakka. Gimana bisa milih?”
“Pilih venue. Ahoy, Maassilo, Thalia Lounge, Club Vie, atau Off Corso?”
“Aku nggak—,” belum selesai Oik menyelesaikan kalimatnya. Ia sudah dibopong oleh Cakka. Ia meletakkan Oik dipundaknya. Oik mencoba merontah namun usahanya sia-sia. Ia sudah berteriak-teriak tapi tak ada yang mengerti dia karena menggunakan bahasa Indonesia. Orang-orang disitu malah mengiranya gila. Ditambah lagi Cakka yang berbicara dengan bahasa Belanda dengan orang-orang itu. Jadi tentu saja orang-orang itu lebih mempercayai Cakka.
“CAKKA... TURUNIN AKUUUU!!! AKU NGGAK MAU DI-RAPE SAMA KAMU,” kata Oik saat mereka beradadi dalam lift.
“Aku nggak biasa rape orang, Lieve. Kalau orang itu minta di-rape baru deh. Kamu kan nggak minta. Jadi ya, nggak usah panik gitu,” kata Cakka.
Let me down!” perintah Oik.
“Tadi cuma disuruh milih banyak alasan. Sekarang, udah dibantuin biar nggak buang tenaga turun ke bawah juga protes, Ck,” kata Cakka.
“Aku nggak minta kamu bantuin, let me down, now!” kata Oik.
“Oke... Oke,” kata Cakka segera menurunkan Oik.
Oik memperbaiki gaunnya yang sudah kusut. Ia kemudian bersandar di dinding lift. Untungsaja, di lift itu hanya mereka berdua. Ia mencoba mengatur emosinya. Oik sama sekali tidak tahu apa yang berada di pikiran Cakka.
Tiba-tiba saja kedua tangan Cakka menghalangi Oik. Ia menumpuhkan kedua telapak tangannya di dinding lift. Wajahnya berhadapan dengan wajah Oik beberapa cm. Mata Oikmelotot. Wangi musk menguar dari tubuh Cakka. Ia kemudian mendekatkan bibirnya ke leher Oik. Menyentuh secara perlahan permukaan kulit leher jenjang Oik dengan bibirnya. Oik mendesah tertahan. Cakka masih melakukan aktivitasnya seiring tangannya menyentuh pipi Oik. Oik malah menutup matanya. Ia merasakan getaran aneh saat Cakka melakukan itu.
Tring!
Tepat disaat bunyi lift tiba di sebuah lantai Oik kaget. Cakka segera menghentikan aktivitasnya. Saat sepasang suami isteri masuk di dalam lift bersama mereka. Oik hanya terdiam. Ia tidak mau melihat Cakka. Lamunanya malah membawanya pada getaran aneh tadi.
Tiba-tiba saja sebuah bisikan di telinga, “your mouth can tell me, not. But, I wish we had another time. To prove that you want too,” bisik Cakka.
***

(*) Sekarang
(**) Kalian juga

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...