Jumat, 15 Juli 2011

Cahaya & Cakrawala (dua)

(Dua)

"Berawal dari sebuah kehilangan, segala sesuatu bisa berubah."

M

alam hari, ketika bulan menampakan wajahnya, dan bintang mulai bermunculan menghiasi indahnya malam itu. Dua orang gadis baru saja terbangun dari tidurnya yang tampaknya begitu lelap. Cahaya dan Nadira. Setelah beranjak dari tempat tidurnya, mereka bergantian masuk dan membersihkan diri mereka dikamar mandi yang terletak didalam kamar Nadira. Dua gadis itu kini telah segar, mereka turun kebawah. Diruang tengah tampak sepasang suami isteri yang sedang duduk bersantai melepaskan kepenatan mereka setelah seharian bekerja. Nadira segera menarik Cahaya menuju ruang tengah tersebut, dengan langkah ragu dan ‘agak’ takut didalam hatinya dia hanya bisa pasrah ditarik oleh sahabatnya itu.

“Ma, Pa…” Kata Nadira setengah berteriak lalu segera mengecup pipi kedua orang tuanya itu.

“Ini siapa sayang?” Tanya Mama Nadira ketika melihat Cahaya berdiri tak jauh dari situ.

“Dia Cahaya Ma, temanku yang aku ceritakan tempo dulu. Dia mau tinggal sekaligus kerja disini Ma… Kan dia bisa Bantu-bantu mbok Nah didapur… Boleh yah Ma? Sekaligus temanin Nadira, kan Mama dan Papa sering keluar kota…” Bujuk Nadira kepada kedua orang tuanya.

“Gimana Pa?” Tanya Mama Nadira meminta persetujuan.

“Boleh kok, yang penting kamu senang kami setuju saja…” Kata Papa Nadira. Nadira memeluk kedua orang tuanya. Cahaya datang mendekat lalu menyalami kedua orang tua Nadira sebagai tanda terima kasih.

Beruntung jadi Nadira, walaupun cuma orang tua angkat tetapi sangat menyayanginya, hupfth andai akupun begitu. Ah… Pikir apa aku ini…Harusnya aku bersyukur masih punya orang tua… Walaupun cuma Ibu, karena aku tak pernah tahu ayahku… Dibandingkan dengan Nadira yang dari kecil telah kehilangan orang tuanya… Yah pantas kalau sekarang dia menemukan kebahagiaannya… Cahaya segera menepis sebuah rasa –mungkin sedikit iri– didalam hatinya.

^ ^ ^

Sudah sebulan semenjak hari dimana Cahaya datang ke kota Jakarta, dan sudah sebulan pula artinya dia bekerja di rumah Nadira, begitu menyenangkan. Setiap hari Cahaya membantu mempersiapkan makan pagi, siang dan malam untuk Nadira. Kadang juga membantu nyuci baju, ngepel, bersihin halaman rumah. Walau itu semua dilarang Nadira, karena dia tidak menganggap Cahaya sebagai pembantu. Tapi Cahaya tetap gembira dengan semuanya.

“Ca, ini gaji lo untuk bulan ini…” Nadira menyerahkan amplop kepada Cahaya.

Cahaya membuka amplop tersebut, matanya terbelalak kaget ketika melihat uang yang banyak bahkan terlalu banyak untuk pekerjaan tak seberapa –menurutnya– yang Ia lakukan.

“Nad, ini terlalu banyak…”

“Udah ambil aja… Anggap yang lain bonus…” Kata Nadira sambil tersenyum.

“Makasih ya Nad… Aku tak tahu harus bilang apa… uang ini bisa aku pakai buat sekolah lagi dan sebagian bisa aku kirim buat Ibu dikampung…”

“Eitss… masalah sekolah kamu gak perlu pikirin Ca, gue udah bicara sama bokap dan nyokap gue… Katanya mereka bakal biayain lo masuk sekolah bareng gue di Budi Bangsa… Uang untuk sekolah mending lo tabung aja, dan sisanya lo kirim buat keluarga lo dikampung…”

“Wah Nad, kamu memang sahabatku yang paling baik…” Kata Cahaya sambil memeluk Nadira sebagai ucapan terima kasih.

“Never mind Ca, That’s what friends are for…”

^ ^ ^

Bahagia ternyata tak datang lama, bahagia ternyata tak selamanya.

Baru menginjak keempat bulan Cahaya di Jakarta, sebuah musibah terjadi kepada kedua orang tua angkat Nadira, dan itu juga artinya musibah bagi Nadira dan juga dirinya. Ketika melaksanakan tugasnya keluar kota kedua orang tua Nadira mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Nadira kehilangan kedua orang tua angkatnya karena kecelakaan yang naas itu. Tak cuma itu, rumahnya dan segala fasilitasnya disita oleh bank untuk menutupi segala hutang perusahaan orang tua angkatnya. Alhasil, Cahaya dan Nadirapun harus keluar dari rumah itu… Untunglah Cahaya masih punya tabungan yang dia simpan. Jumlahnya lumayan, bisa menghidupi keduanya selama beberapa bulan kedepan. Mereka akhirnya menyewa sebuah kamar disebuah tempat kos-kosan khusus wanita.

“Ca, gue gak tahu mau bilang apa sama lo… makasih banyak yah lo masih mau jadi sahabat gue walaupun sekarang keadaannya gak sama kayak dulu…”

Cahaya tersenyum mendengarkan perkataan Nadira.

“Seperti katamu that’s what friends are for…”

Keduanyapun berpelukan.

Awalnya, mereka memang masih bisa bertahan menghadapi hidup hanya dengan uang tabungan milik Cahaya, sambil Cahaya dan Nadira mencari-cari pekerjaan. Tapi, sama sekali tak ada lowongan untuk anak-anak yang masih kelas 10 SMA seperti mereka. Lama kelamaan uang tabungan Cahaya semakin menipis, ditambah mereka harus membayar uang ujian. Tapi, untunglah Cahaya dan Nadira akhirnya bisa mendapat pekerjaan paruh waktu. Cahaya menjadi waitress di sebuah café sambil sesekali menghibur café dengan suaranya yang bagus, sangat bagus malah. Sedangkan Nadira bekerja disebuah toko pakaian, kebetulan dia bisa menjahit. Mereka bekerja sepulang sekolah. Meski gajinya tak seberapa, tapi lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi, Keadaan terasa semakin mendesak, ketika Nadira jatuh sakit.

“Nad, hidung lo berdarah… Lo sakit? Kita kerumah sakit…” Cahaya panik ketika melihat darah segar mengucur dari hidung sahabatnya itu.

“Gue gak apa-apa kok Ca, Cuma mimisan biasa…” Kata Nadira sambil mengambil sapu tangan dan membersihkan hidungnya.

“Tapi Nad…” Belum sempat Cahaya melanjutkan kata-katanya terdengar sebuah bunyi ‘Bruuukk’. Nadira ambruk dihadapannya. Dengan sigap Cahaya segera menggotong Nadira dan mencari taksi langsung membawanya ke sebuah rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari tempat kos mereka. Setiba dirumah sakit, Nadira segera dirujuk ke UGD. Cahaya menunggu diluar dengan harap-harap cemas. Pemeriksaan terhadap Nadira telah dilakukan berjam-jam tetapi dokter yang menanganinya tak kunjung keluar juga sampai akhirnya Cahaya tertidur dibangku rumah sakit.

^ ^ ^

Sebuah tangan dan sebuah suara membangunkan Cahaya dari tidurnya. Seorang suster berdiri dihadapannya.

“Maaf anda kerabatnya pasien yang bernama Nadira?” Tanya Suster itu.

“Iya sus… Bagaimana dengan saudara saya sus?”

“Dia masih diruang UGD, dokter ingin membicarakan sesuatu dengan anda tentang kondisi pasien… Mari saya antar keruangannya…” Kata suster tersebut kemudian melangkahkan kakinya dengan Cahaya mengekor dibelakangnya menuju ruangan Dokter.

Setiba diruangan Dokter Cahaya segera duduk dan menanyakan keadaan Nadira.

“Bagaimana keadaan Nadira Dok? Dia gak apa-apa kan?” Tanya Cahaya kepada sang Dokter. Dokter menghela nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pasien terkena penyakit yang cukup berbahaya. Dia terkena kanker darah atau yang biasa dikenal dengan leukimia, meski baru stadium awal. Tapi penyakit ini sangat berbahaya dan mematikan, karena belum ada obat yang pasti untuk mengobati penyakit ini, selain meminum obat yang kami berikan pasien juga harus melakukan kemoteraphy setiap harinya. Lebih baik melakukannya sejak dini agar umur pasien bisa lebih panjang. Karena kalau tidak penyakitnya akan bertambah parah. Tapi untuk itu butuh biaya yang tak sedikit…”

Cahaya shock mendengar apa yang dituturkan Dokter itu. Apa? Nadira kena penyakit leukemia? Oh Tuhan, cobaan apalagi ini? Tidak cukupkah cobaan yang kami hadapi selama ini? Cahaya berontak dalam hatinya menuntut keadilan Tuhan.

Setelah berbicara dengan Dokter, Cahaya menyempatkan dirinya melihat Nadira yang belum sadarkan diri meski sudah dipindahkan keruang rawat inap. Setelah ini, Cahaya bertekad untuk mencari pekerjaan lagi yang bisa mendapatkan banyak uang guna membayar biaya pengobatan Nadira. Bagaimanapun Nadira sahabatnya, mengingat semua kebaikan Nadira dulu, Cahaya merasa sangat berhutang budi kepada Nadira. Dan juga untuk mengirimkan uang kepada orang tuanya, pasti sekarang orang tuanya khawatir karena sudah 2 bulan berjalan Cahaya tak kunjung mengirim uang kepada kedua orang tuanya. Tapi dimana dia bisa mendapat pekerjaan seperti itu? Apalagi dirinya masih dibawah umur?

Sudah seharian Cahaya berputar-putar tak jelas. Diapun kembali ketempat kosnya untuk beristirahat sejenak. Didepan kos-kosannya ada seorang wanita, dia adalah tetangga baru Cahaya namanya mbak Rita. Melihat wajah Cahaya yang kusut dan semraut wanita itu mendekati Cahaya.

“Kenapa wajah lo kacau gitu Ca?” Tanya mbak Rita.

“Ini mbak, Nadira sakit… Gue butuh uang buat pengobatannya Nadira…”

“Temen lo sakit apa emangnya?”

“Leukimia mbak…”

“Wow… Bahaya tuh… Emang lo butuh uang berapa?”

“Banyak mbak, sebenarnya gue butuh kerjaan yang menghasilkan uang yang banyak… untuk membiayai pengobatan Nadira… huh! Tapi mana mungkin ada lowongan untuk anak SMA kayak gue…”

Mbak Rita mengitari Cahaya dengan tatapan penuh arti lalu menjentikan jarinya.

“Bisa! Bahkan lebih dari yang lo butuhkan, lo tinggal mengubah penampilan lo… trus entar malam lo ikut gue ke tempat kerjaan gue…”

Cahaya tahu sebenarnya apa pekerjaan mbak Rita. Dia bekerja disebuah Bar, dan Cahaya tentu saja tahu apa yang dimaksud mbak Rita.

“Maaf mbak Cahaya gak bisa, Ingat mbak kita masih punya Tuhan… dan pekerjaan itu sangat tidak disukai Tuhan…” Tolak Cahaya

“Huh! Udah susah masih aja sok suci lo! Terserah lo deh! Gue cuma nawarin, lo tinggal pilih deh gak usah sok suci trus dapet uang banyak dan bisa ngebiayain sahabat lo itu atau lo pertahanin pendirian lo yang gak penting itu dan sahabat lo mati begitu aja…!”

Cahaya terdiam. Dia membayangkan apabila sahabatnya itu pergi untuk selama-lamanya. Gak… Gak… Itu gak boleh terjadi

“Yaudah deh! Kalau lo berubah pikiran temui gue di tempat kerja gue… Dolphin Bar Kemang…” Kata mbak Rita sambil beranjak pergi dan masuk kedalam kamarnya. Cahayapun ikut masuk kedalam kamar kosnya didalam Ia merenung sampai akhirnya tertidur.

^ ^ ^

Sudah 5 hari Nadira dirumah sakit, Cahaya bolak-balik kerumah sakit. Nadira memang sudah siuman, tapi dia tak tega melihat sahabatnya itu yang menahan sakit. Meski tidak pernah mengeluh kepada Cahaya tapi dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat kesakitan. Dokter belum menangani Cahaya dengan sepenuhnya, kemoteraphy belum kunjung dimulai karena Cahaya belum mampu membayar biaya kemoteraphy. Hanya diberikan obat-obatan penghilang rasa sakit yang ditimbulkan penyakitnya dari Dokter. Cahayapun belum memberi tahukan keadaan yang sebenarnya kepada Nadira. Karena dipikirnya Nadira akan shock apabila mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Yang lebih parahnya lagi sekarang Cahaya dipecat dari pekerjaan yang sebelumnya karena sering terlambat masuk. Dan sekolah beberapa kali mengeluarkan surat peringatan kepada Cahaya dan Nadira perihal uang sekolah yang menumpuk. Hupfh!! Benar-benar menjadi dilemma buat Cahaya.

Apa dia harus menerima tawaran mbak Rita? Hanya itukah jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang yang cukup membiayai pengobatan Nadira, membayar uang sekolah serta mengirimkan uang kepada keluarganya dikampung? Dunia benar-benar makin kejam!!!

Dengan takut Cahaya turun dari sebuah taksi. Penampilannya kali ini benar-benar berbeda. Rambut yang biasa Ia kuncir kini dibiarkan tergerai, tampak rambut panjang berombak terjuntai kebawah. Wajahnya pun tampak sedikit dipoles dengan make-up, sedikit eyeliner, lipgloss dan perona pipi. Dia menghela nafasnya masuk ke sebuah tempat yang didepannya terpajang sebuah papan nama ‘Dolphin Bar’.

Didalam sangat riuh dengan suara musik disco yang begitu kencang. Remang-remang lampu disco yang warna-warni menyilaukan mata menyambut Cahaya ketika masuk kedalam tempat itu. Seorang wanita dengan Pakaian serba mini dan make-up yang tebal menghisap sebuah puntung rokok mendekati Cahaya.

“Cari siapa?” Tanyanya yang asing melihat Cahaya.

“Mbak Rita…” Jawabnya singkat.

Wanita itu menatap Cahaya dengan tatapan yang aneh. Lalu menarik Cahaya.

“Ikut gue…” Katanya sambil membawa Cahaya kesebuah tempat, disana penuh dengan Gadis-gadis yang mungkin seusianya atau hanya berbeda beberapa tahun dengannya. Mbak Rita datang menyambut Cahaya dengan senyum penuh kemenangan.

“Akhirnya lo dateng juga… itu tandanya lo terima tawaran gue…”

Cahaya tak mengeluarkan sepatah katapun dia hanya menelan ludah mendengar kata-kata mbak Rita.

“Oke lo tunggu aja bareng mereka disini… sebentar lagi pelanggan datang… Siap…siap…” Kata mbak Rita.

Cahaya duduk bersama dengan seorang gadis seusianya, tapi gadis itu tampak ‘liar’ dengan tattoo kupu-kupu dileher sebelah kanan, sambil meminum segelas minuman beralkohol.

“Anak baru lo? Gue baru liat...”

Cahaya tak menjawab, mentalnya betul-betul masih belum siap berada ditempat seperti ini.

“Nama lo Siapa? Kenalin gue Arni… gak usah takut-takut biasa kali gue gak bakalan gigit lo atau telen lo…” Katanya mengulurkan tangannya.

Cahaya menyambut tangan Arni dan menjawab singkat “Cahaya…”

“Oh, hm… Kok bisa gadis yang kayaknya lugu kayak lo berada di tempat kayak gini?”

Cahaya menghela nafasnya lalu menjawab “Keadaan yang memaksa… Lo sendiri kenapa ada disini?”

“Karena gak ada yang bisa buat gue bahagia…”

“Trus disini kamu bisa menemukan kebahagiaan?”

“Tidak sama sekali…”

“Trus kenapa kamu masih bertahan disini?”

“Terlanjur…”

“Cahaya…” Sebuah suara menghentikan percakapan antara Cahaya dan Arni. Telah berdiri dihadapan mereka mbak Rita bersama seorang lelaki tampan yang mengenakan jas kerja berwarna dark-grey dan dasi berwarna pale blue dengan badan yang cukup atletis dan tinggi yang cukup proporsional. Usianya kira-kira 20 tahun tersenyum penuh arti sambil menatap Cahaya.

“Kenalkan, namanya Arga… Kamu harus menemaninya malam ini, ayo sini… Jangan buat dia kecewa… Have fun yah!” Kata mbak Rita memperkenalkan lelaki yang berdiri disampingnya sambil memanggil Cahaya. Cahaya berdiri agak takut lalu bersalaman dengan laki-laki yang bernama Arga itu tanpa mengenalkan namanya. Setelah itu mbak Rita pergi bersama gadis-gadis yang berada disitu meninggalkan Cahaya dan Lelaki yang bernama Arga itu berdua. Arga mengajak Cahaya duduk disofa yang tadi diduduki Cahaya.

“Kamu pasti anak baru disini…” Tanya Arga pada Cahaya, tapi Cahaya diam tak bergeming.

“Siapa namamu?” Tanyanya sambil membelai bagian pipi sampai keleher Cahaya. Cahaya mengadakan perlawanan kecil dengan menjauhkan kepalanya dari tangan itu.

“Cahaya…” Jawab Cahaya singkat dan terkesan ketus.

“Well, Cahaya… Nama yang cantik sama seperti orangnya…”

Arga menumpahkan vodka kedalam dua buah gelas yang tersedia.

“Temani aku minum dulu…” Katanya sambil memberikan sebuah gelas kepada Cahaya. Cahaya menatapnya sebentar mengambilnya lalu memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan. Arga memegang dagu Cahaya dan memutarnya agar kembali berhadapan dengan Arga. Kali ini Cahaya tak memberikan perlawanan yang cukup berarti dia pasrah. Walaupun dalam hatinya menangis. Tetapi wajah Nadira terngiang dikepalanya. Membuat dia harus bertahan ditempat seperti itu.

Arga memaksa Cahaya untuk meminum segelas vodka yang diberikannya. Mbak Rita tampak melihat perlakuan Cahaya dari jauh memberikan tatapan ‘sangar’ kepada Cahaya. Dan membuat Cahaya akhirnya meminum minuman tersebut. Belum habis segelas Cahaya tampak pusing karena tak terbiasa meminum minuman seperti itu. Kepalanya terasa berputar-putar, Dia mendengar Arga juga sudah berbicara tak karuan. Ditengah kepalanya yang masih terasa berputar-putar. Arga menarik dirinya beranjak dari situ. Karena terasa sangat pusing dan lemah diapun hampir terjatuh namun berhasil ditangkap Arga yang langsung memeluk Cahaya, Dia tak bisa berbuat apa-apa Cahaya membiarkan Arga menggotong tubuhnya kesebuah tempat. Dibelakang pantry Bar ternyata disana ada sebuah lorong yang membawa mereka kesebuah tempat yang banyak dipenuhi kamar-kamar. Arga membuka salah satu kamar disitu menggotong Cahaya masuk kedalam. Kemudian membanting pintu ‘BLAAAM’ . Pintu tertutup.

^ ^ ^

“Permisi boleh saya duduk disini?” Tanya seorang lelaki tampan dengan rambut yang dibiarkan sedikit berantakan namun terlihat seperti model rambut masa kini, bukan karena tak disisir. Dia mengenakan pakaian semi-casual yang membuat dia terlihat ‘agak’ sedikit lebih muda dari usianya.

Cahaya tersadar dari lamunannya.

“Oh ya, Silahkan…” Katanya masih dengan posisi kedua tangannya memegang kedua lengannya.

Lelaki itu duduk dihadapan Cahaya dan mengeluarkan laptopnya, berkutat dengan laptop sambil meneguk coca-cola kaleng. Tanpa sedikitpun memperdulikan Cahaya.

Hei, Untuk apa dia ketempat seperti ini. Kalau hanya mau bermain laptop sambil minum minuman ringan seperti ini? Tak perlu di Bar kan? Di café mungkin lebih terhormat. Cahaya keheranan melihat lelaki yang ada dihadapannya ini.

^ ^ ^

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...