Rabu, 03 April 2013

BELIEVE―FIVE―[YELLOW RAINCOAT]

FIVE―YELLOW RAINCOAT
“―When the wind blows, and the sun goes away
And the sand fall, stormy day, it's a destroyer, this is for you
―”

INI merupakan hari pertama Cakka kerja. Mengawasi perusahaan papanya itu. Perusahaan Papa Cakka terletak di dekat Erasmus Universiteit. Tepatnya di Burgemeester Oudlaan. Dari apartemen Cakka membutuhkan waktu sembilan sampai sebelas menit untuk tiba di sana. Lewat tiga alternatif jalan. Masboulevard, Abram van Rijckevorselweg dan lewat Blaak. Untungnya, di sini tidak macet seperti di Jakarta. Jadinya, Cakka tidak perlu tergesa-gesa untuk pergi ke kantor. Ia segera berjalan ke arah pantri di dapur. Mengambil toaster kemudian berjalan membuka kulkas mengambil keju dan parutan yang berada di samping kulkas. Ia juga mengambil roti dan memarut keju di atasnya. Setelah selesai, ia memanggang roti itu di dalam toaster.
Sambil menunggu, Cakka menyeduh teh hangat. Sekitar lima menit roti itu matang, Cakka segera mengambilnya dan meletakkan roti itu di atas piring. Lalu membawanya ke meja makan. Hidup seperti ini sudah biasa untuk Cakka. Semenjak kuliah di sini, ia sudah terbiasa dengan hidup mandiri. Hanya di Jakarta saja dia memperkerjakan pembantu gara-gara mamanya. Jangan anggap ia anak manja yang hanya tahu makan di restoran siap saji. Ia bukan tipe orang seperti itu. Hidup di Belanda membuat Cakka lebih tahu menghidangkan masakan Belanda ketimbang masakan Indonesia. Ia bisa membuat beberapa hidangan khas Belanda seperti: Stamppot, makanan yang terbuat dari kentang yang direbus dan dihancurkan dan dicampur dengan beberapa sayuran seperti wortel atau sayuran hijau lainnya seperti boerenkool. Stroopwafel, wafel yang dibuat dari adonan tepung, mentega dan susu yang dipanggang dengan disisipi karamel di tengah-tengahnya. Hutspot, yang dibuat dengan kentang, wortel, dan bawang bombay. Dan masih banyak lagi. Tapi sesungguhnya Cakka lebih suka dengan masakan Indonesia. Nasi kuning buatan mamanya lebih tak terkalahkan. Cakka hanya mencicipi makanan Indonesia semasa di Belanda ketika bulan puasa tiba. Karena di Daan Hag, Kedutaan Besar Republik Indonesia tiap Jumat mengadakan buka puasa bersama. Semua masakan yang dihidangkan adalah masakan khas Indonesia. Dan itu merupakan momen yang jarang saat ia berada di Belanda.
Cakka memakan suapan terakhir roti yang dibuatnya lalu menyesap tehnya. Segera ia mengambil serbet dan menyeka bibirnya dengan serbet. Ia pun berjalan ke arah sofa dan mengambil tas kerjanya di situ. Baru saja ia hendak beranjak pergi dari situ. Ponsel Cakka berdering. Ia melihat layar ponselnya tersebut.
Alvin Calling...
Saudara kembarnya itu apa-apaan lagi sih? Cakka melihat arlojinya. Jam di Belanda menunjukkan pukul 07.15 pagi. Perbedaan waktu Belanda dengan Indonesia sekitar tujuh jam berarti kira-kira di Indonesia sudah pukul 02.15 siang. Cakka segera memencet tombol hijau pada ponselnya.
“Kenapa lagi lo?” bukannya menyapa Cakka malah bertanya dengan sinis.
“Bisa nggak sih Kka, nggak usah gitu-gitu amat sama gue. Kita udah jauh juga,” kata Alvin.
“Ya deh, ada perlu apa? Lo nggak tahu di sini masih pagi dan gue baru mau berangkat kantor sekarang,” kata Cakka.
“Gue tahu kok. Gue kira lo belum bangun, kan biasanya lo ngebo. Atau nggak lo jetleg. Lo cerita kek sama gue pas lo nyampe di sana. Waktu itu lo malah matiin nggak jelas,” kata Alvin.
“Lo mau gue cerita apa? Pokoknya gue udah nyampe Rotterdam dengan selamat sentosa,” kata Cakka sambil kembali duduk di sofanya. Lama-lama berdiri kakinya pegal.
“Ya kejadian apa kek gitu yang menarik selama lo sampe di sana.”
“Lo pasti udah dengar cerita perkosa-perkosa itu kan dari Papa. Jadi gue nggak usah cerita lagi.”
“Lo gila ya Kka, baru aja sampe udah ada yang lo mau rape,” kata Alvin.
“Gue cuma becanda Vin, gue nggak pernah rape orang kan lo tahu itu! Se-ekstrim apa sex life gue. Gue bukan klepto.”
“Tapi tampang lo tampang orang klepto, hahahahaha,” tawa Alvin.
“Terserah deh mau bilang gue apa! Puas? Udah ah gue mau ngantor,” kata Cakka.
“Eh...eh tunggu. Gue belum selesai. Gue sebenarnya mau minta saran lo makanya gue telepon lo,” kata Alvin.
“Dari tadi kek to the point. Saran apa?”
“Gini... kan besok ulang tahun pernikahan gue sama Sivia. Gue mau minta saran sama lo surprise apa yang bagus buat Sivia.”
Surprise? Apa ya...” Cakka berpikir sejenak, “lo berdua main sub-dom aja. Nanti Sivia yang jadi dom-nya biar lo jadi sub-nya. Biar Sivia perbuat semaunya sama lo. Dijamin itu hadiah terindah,” kata Cakka ceplas-ceplos.
“Cakka... plis deh. Otak lo di beresin dikit napa. Gue minta saran yang romantis bukan erotis.”
“Bilang! Lo tadi perasaan nggak bilang minta saran yang romantis.”
“Udah buruan, lo ada ide nggak. Gue stuck nih nggak tahu mau ngasih hadiah apa.”
“Lo bawa Sivia jalan-jalan mendingan. Ke sekolah kita waktu SMA. Nostalgia sedikit sama masa-masa PDKT norak kalian. Trus lo ajak noh candle light dinner di atas genteng sekolah. Abis itu kalian nyanyi-nyanyi deh pake gitar sampe pagi di situ,” usul Cakka sebenarnya sih tetap masih ceplas-ceplos.
Alvin berpikir sejenak, “ah Kka... di atas genteng sekolah gimana ceritanya itu? Nggak ada meja, nggak ada kursi, trus nggak ada makanan, mau makan angin?”
“Plis deh IQ lo yang di atas rata-rata di pake. Ya, lo sewa orang-lah buat merubah genteng sekolah jadi restoran sementara waktu. Gue kasih saran yang erotis nggak mau. Gue kasih saran yang romantis nggak mau. Ya udah deh. Berarti lo bawa Sivia makan bakso di pinggir jalan aja sana.”
“Nah! Ide bagus itu. Makasih Cakka.”
Tit. Sambungan diputus. Ide bagus dari segi mana sih? Makan bakso dipinggir jalan tidak terlihat lebih bagus dari candle light dinner di atas genteng sekolah bukan? Entah apa yang dipikiran saudara kembarnya itu sehingga mengatakan itu ide bagus. Bilang aja mau paket hemat. Surprise romantis kok makan bakso di pinggir jalan. Ck.
Cakka segera berdiri dari tempat duduknya. Terserah Alvin deh, Cakka tidak mau ambil pusing. Ia pun melangkah keluar dari apartemennya. Kakinya menyusuri koridor apartemen kembali. Pakaian Cakka cukup rapi hari ini dengan setelan jas berwarna dark grey, kemeja putih dan monk strap. Ia berjalan menuju lift. Lift hampir tertutup otomatis, dengan segera Cakka berlari dan meletakan tangannya di antara pintu. Sehingga, pintu itu terbuka otomatis.
Di dalam hanya ada seorang gadis dengan almamater Erasmus Universiteit. Siapa lagi kalau bukan Oik. Ia mengenakan blouse, dan rok levis yang lumayan pendek mempertontonkan kaki jenjangnya yang bertumpu pada wedges. Rambutnya tergerai dengan indah. Cakka menatap Oik dari ujung rambut sampai ujung kaki saat dia masuk ke dalam lift. Mata almond-nya yang tajam membuat Oik sedikit was-was dengan tatapannya itu. Apalagi mereka hanya berdua di dalam lift.
“Lo mau ke kampus?” tanya Cakka basa-basi.
“Kelihatannya?” Oik berusaha cuek.
“Sepertinya,” kata Cakka.
“Kamu mau ke kantor?” Oik balik basa-basi.
“Nggak. Gue mau kondangan,” kata Cakka.
“Ck,” Oik berdecak. Ia salah kalau basa-basi dengan orang seperti Cakka.
Keheningan pun menyergap keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sebelum bunyi lift tanda mereka telah tiba di lantai dasar. Pintu lift terbuka secara otomatis. Keduanya bergerak keluar dari lift tersebut. Karena sama-sama terburu-buru, saat mereka melewati pintu. Tak sengaja mereka saling menyenggol. Tas Cakka sempat di tangkapnya makanya ia berhasil menyelamatkan barang-barangnya agar tidak berserakan di lantai. Berbeda dengan tas Oik yang jatuh dan terbuka menyebabkan diktat-diktat Oik berserakan di lantai depan lift. Bukan hanya diktat-diktat sih benda-benda pribadi Oik ada juga yang berserakan. Bedak, lipgloss, cermin, sisir, conditioner, pembalut. Oke, awkward sekali.
Cakka segera membantu Oik memunguti kembali benda-benda yang berserakan itu. Oik mendesah kesal. Ada satu barang yang menarik Cakka yaitu jas hujan berwarna kuning yang di lipat Oik di dalam tasnya. Hanya jas hujan itu saja yang selamat dari serakan barang-barang Oik.
“Lo bawa jas hujan ke kampus? Ada gitu fungsinya?” tanya Cakka setelah selesai membantu Oik memunguti satu per satu barang-barangnya.
“Makasih sudah mau membantuku. Kayaknya bukan urusan kamu deh,” kata Oik.
“Aneh!” komentar Cakka singkat.
Oik segera berjalan mendahului Cakka yang masih bergeming di depan lift. Cakka mengangkat kedua bahunya. Lalu berjalan menuju lapangan parkir mengambil SUV-nya. Brio Oik juga terlihat keluar dari lapangan parkir. Cakka mengekor di belakang Brio Oik melewati jalan-jalan di Schiedamsedijk. Toh mereka satu tujuan juga kan? Kalau Oik tersesat juga kan setidaknya Cakka bisa mengawasinya. Oik kan orang baru di sini. Tapi tunggu… tunggu. Kenapa Cakka jadi peduli dengan Oik?
Cakka mengangkat kedua bahunya dan terus mengikuti Oik. Brio Oik mengambil rute Blaak. Apa-apaan sih Oik? Lewat Blaak adalah rute paling lama karena harus berputar. Kenapa ia tidak mengambil Jalan Maasboulevard sih? Ah! Cakka mendesah. Sepertinya gadis itu perlu diajarkan tentang jalan-jalan di sini.

***

Dari tadi Cakka menghitung sudah enam kali dia menguap. Bosan dengan cuap-cuap orang kepercayaan papanya itu yang sedang menjelaskan sistem kerja perusahaan papanya selama ini dengan Bahasa Belanda. Ngomong-ngomong soal Bahasa Belanda, Cakka cukup lancar berbahasa Belanda bukan hanya karena ia kuliah di sana. Sistem kuliah di Erasmus Universiteit juga menggunakan Bahasa Inggris. Mereka diharuskan memakai Bahasa Internasional. Omanya―mama dari papanya adalah orang Belanda asli. Tapi sudah menetap di Indonesia. Jadi dulu sebelum meninggal omanya itu yang mengajarkan Cakka Bahasa Belanda. Karena Cakka tertarik dengan Negeri Kincir Angin ini. Ya... walaupun pernah menjajah Indonesia. Terkadang membuat Cakka berpikir. Indonesia merdeka tapi tidak sepenuhnya merdeka. Toh masih banyak kemiskinan dan kemelaratan. Coba saja Indonesia diambil alih Belanda dan dijadikan Negara Hindia Belanda pasti Indonesia tidak akan semelarat itu. Mungkin bisa jadi bakalan maju seperti Belanda saat ini. Oke, itu sangat tidak nasionalisme, Cakka tahu. Tapi itu hanya pemikirannya sih. No offense.
Cakka mulai bosan. Tidak ada satu pun penjelasan dari Mr. Fisscher ini yang masuk di kepala Cakka. Ia menghela napasnya. Biar saja, toh ia bisa minta dijelaskan lagi sama papanya. Setahu Cakka dan seingat Cakka penjelasan papanya tentang perusahaannya ini adalah perusahaannya ini bergerak dalam bidang tour yang mengemas paket perjalanan ke daerah tropis. Biasanya yang memakai jasa mereka adalah turis-turis dari Belanda yang suka berjemur di bawah pantai Kuta, Bali. Paket perjalanan pun ada beberapa macam ragam. Dan bisa di sesuaikan dengan keinginan para turis.
Karena Cakka sudah di situ, otomatis dia menjadi CEO bagi perusahaan itu atas mandat sepenuhnya dari papanya. Tapi ada tugas khusus yang diberikan papanya untuknya mengontrol keuangan juga. Karena Cakka kuliah di bidang accounting, auditing and control. Jadi setidaknya itu memang makanan Cakka. Walaupun sudah ada bagian accounting, auditing dan control di situ, tapi setidaknya untuk ilmu yang Cakka dapat, bisa dikembangkan di lapangan. Ada jeripayahnya sendiri. Bukan terima bersih dari hasil kerja keras papa dan anak buahnya.
Setelah mendengar cuap-cuap dari Mr. Fisscher itu, Cakka segera di antar oleh sekretarisnya Mr. Fisscher menuju ruangannya.
Ruangan di dalam dominan dengan warna ivory, hanya lemari dan meja yang berwarna seperti kayu mahoni. Semuanya berwarna ivory. Oke, itu memang warna kesukaan papanya. Dan saat ini ruangan ini miliknya. Jadi, ia berhak sepenuhnya atas ruangan ini. Sepertinya akan lebih cocok jika ruangan ini berwarna silver. Akan terlihat lebih mewah dan sexy. Rawr. Sepertinya Cakka harus mencari desain interior yang pas untuk ruangannya ini.
Ia segera melangkahkan kaki ke arah meja kerjanya. Banyak berkas menumpuk di depannya. Itu laporan hasil kerja mereka selama beberapa bulan belakangan ini. Biasanya, Alons datang enam bulan satu kali ke Rotterdam untuk menengok hasil kerja selama satu semester. Setelah itu kembali lagi ke Indonesia lagi. Karena ia punya bisnis yang lain di Indonesia juga. Sekarang ada Cakka, artinya Cakka yang harus memeriksa semuanya. Karena perusahaan ini sekarang jadi tanggung jawab Cakka sepenuhnya. Jadi Cakka harus mengelolah perusahaan ini sebaik mungkin. Ia pun mengangkat lalu memperhatikan satu per satu berkas di atas mejanya. Kebanyakan berkas adalah perjanjian kerjasama antara perusahaannya dengan beberapa ticketing, resort, hotel dan semacamnya. Ada juga laporan pemasukan dan pengeluaran. Cakka mendesah, sebelum meletakan kembali di atas meja semua berkasnya.
Mulai hari ini, hari-harinya akan semakin panjang dengan pekerjaan barunya ini. Ia sudah berjanji pada orang tuanya kemari bukan untuk bersenang-senang. Melainkan untuk bekerja. Cakka memang tipe orang yang keras kepala. Tapi, sekali ia berjanji terutama pada orang tuanya. Ia harus menepatinya.

***

Erasmus Universiteit berdiri kokoh di hadapan Cakka. Dari jendela ruangannya yang transparan Cakka memperhatikan kampusnya dulu. Hilir-mudik mahasiswa masuk keluar di depannya. Jadi mengingat masa-masanya sewaktu kuliah dulu. Sejenak ia tersenyum. Mengingat begitu banyak kenangan yang kampus itu berikan kepadanya. Mulai dari salah masuk kelas sewaktu pertama kali masuk kampus sampai pesta perpisahan yang mengharukan. Mulai dari pacaran sama gadis nerd sampai dosen yang so sexy. Berteman dengan berbagai macam suku bangsa yang ada di kampus itu. Setidaknya memberi pengalaman tersendiri untuk Cakka.
Asyik ia memperhatikan mantan kampusnya itu. Mata Cakka tiba-tiba terantuk pada seseorang yang paling mencolok dari antara orang-orang yang baru keluar dari kampus. Seseorang dengan jas hujan berwarna kuning? Di tengah hari yang cerah seperti ini? Yang benar saja?
Tiba-tiba saja Cakka teringat pada jaket hujan kuning yang ia lihat di tas Oik tadi pagi. Apa itu Oik ya? Tunggu... tunggu. Cakka memperhatikan gerak-gerik manusia berjas hujan kuning itu. Sepertinya ia sedang mengendap-ngendap dan mengawasi kiri dan kanannya. Nah untuk apa lagi ia mengawasi kiri dan kanannya seperti itu? Tertarik, Cakka segera mengambil jas-nya yang tersampir di kursi kerjanya lalu melangkah keluar dari ruangannya. Ia tidak menghiraukan sapaan seorang karyawan padanya saat ia keluar dari ruangannya. Langkahnya dipercepat menuju pintu keluar kantornya. Cakka menggeser sliding door sebelum benar-benar keluar dari perusahaannya. Ia menyusuri trotoar sebelum menyeberang ke Erasmus Universiteit.
Tangan Cakka tersampir di bahu orang itu sebelum dengan segala kekagetannya menengok ke arah Cakka dengan mata melotot. Cakka yang dipelototi jadi ikut kaget juga.
“Oik,” sapa Cakka.
“Cakka... aku kira siapa,” katanya dengan perasaan lega lalu menghembuskan napasnya.
“Ngapain kamu pake jas hujan di saat seperti ini?” tanya Cakka heran.
“Aku... Aku...” belum sempat Oik menyelesaikan perkataannya. Ia seperti dikagetkan lagi. Ia langsung menempelkan dirinya pada Cakka. Kepalanya berada di dada bidang Cakka. Wajahnya sengaja ia sembunyikan di dada Cakka. Sambil menutup matanya erat-erat. Otomatis membuat Cakka kaget dengan perlakuan Oik itu.
“Lo kenapa?” tanya Cakka heran.
“Bawa aku dari sini plis, kamu nggak usah banyak tanya... cepetan,” kata Oik dengan suara panik.
“Tapi lo geser dulu dong dari dada gue,” kata Cakka.
Oik menggeleng, “plis... biarin aku kayak gini dulu, nanti aku jelaskan tapi nggak sekarang ya,” kata Oik agak memelankan volume suaranya.
“O... oke,” Cakka segera mencari cara bagaimana ia bisa membawa gadis ini dengan posisi tetap seperti ini?
Ia pun segera melingkarkan tangan kanannya dipinggang Oik dan tangan kirinya memegang kepala belakang Oik. Sebelum menyeret langkahnya yang diikuti Oik kembali ke kantornya. Cakka membawa Oik menyeberang sebelum sama-sama menapaki trotoar dan akhirnya tiba di kantor Cakka. Wajah Oik masih terbenam di dada Cakka saat mereka memasuki kantor Cakka. Mata Oik pun masih tertutup sehingga ia tidak menyadari beberapa pasang mata yang menatap mereka di kantor itu. Cakka segera membawa Oik ke ruangannya.
“Udah... semuanya sudah aman. Lo buka mata lo deh,” kata Cakka.
Oik segera menggeser kepalanya dari dada Cakka. Sedari tadi ia dimanjakan oleh wangi musk yang menguar dari tubuh Cakka. Sehingga ia lupa untuk membuka matanya. Cepat-cepat ia membuka matanya lalu menatap sekelilingnya.
“Kamu bawa aku dimana?” tanya Oik.
“Di kantor gue. Kantor gue kan hampir berhadapan dengan kampus lo. Sekarang gue tagih penjelasan lo,” kata Cakka.
Oik berjalan ke arah jendela transparan Cakka dan menatap gerbang depan Erasmus Universiteit. Ruangan Cakka berada di lantai dua. Sehingga lebih leluasa menatap gerbang Erasmus itu. Cakka berjalan ke samping Oik sambil mengikuti arah pandang Oik.
“Gue bukan tipe rentenir yang terus menagih hutang nasabahnya ya,” kata Cakka.
Oik mengembuskan napasnya, “aku pasti cerita. Tapi tunggu. Sumpah jantungku masih serasa mau copot. Kalau aku udah tenang ya baru aku cerita.”
“Oke, gue tunggu,” kata Cakka kemudian meninggalkan Oik sendiri bergeming di situ.
Ia berjalan ke arah sofa lalu duduk di situ. Cakka kemudian mengambil rokok dari dalam sakunya sebelum memasangnya. Cakka menyesap rokok itu kemudian mengembuskannya kembali. Asap rokok mulai memenuhi ruangan.
Pernapasan Oik tiba-tiba saja terasa sesak. Ia memalingkan pandangannya ke arah Cakka yang ada di sofa. Saat mendapati Cakka merokok tiba-tiba Oik terbatuk-batuk.
“Cakka, uhuk... matiin rokoknya plis,” kata Oik sambil terus terbatuk-batuk dan napasnya terdengar satu-satu.
“Apa hak lo? Ini ruangan gue. Terserah gue mau ngapain. Udah untung tadi gue nolongin lo,” kata Cakka tidak menghiraukannya.
Oik terlihat sangat susah bernapas, “aku... aku...” belum sempat Oik menyelesaikannya, ia malah jatuh pingsan. Sontak Cakka kaget. Ia segera menyulut api rokoknya ke dalam asbak sebelum mendekat ke arah Oik yang pingsan. Ia menepuk-nepuk pipi Oik mencoba membangunkannya.
“Woi, bangun lo. Jangan becanda kayak gitu. Nggak lucu tahu,” kata Cakka.
Cakka terus menepuk pipi Oik. Tapi gadis itu tak kunjung bangun juga. Ada ya orang yang  menghirup asap rokok trus pingsan? Baru tahu Cakka. Cepat-cepat ia membopong Oik ke sofa ruangannya. Kemudian berjalan kembali lagi mengambil tas Oik yang jatuh. Ia kembali mendekat ke arah Oik. Membuka jas hujan yang dipakainya menyisakan blouse-nya. Cakka meletakkan jas hujan itu di atas meja kemudian berlutut di samping sofa tempat ia membaringkan Oik. Cakka belum pernah menghadapi orang pingsan seperti ini. Harus dengan cara apa ia membangunkan Oik? Tadinya Cakka ingin menghubungi bagian OB untuk menyuruh membawakan air. Tapi Cakka mengurungkan niatnya. Takut mereka pikir Cakka berbuat macam-macam pada Oik. Jadi lebih baik ia berpikir cara apa yang bisa membangunkan gadis ini sebelum ada orang masuk ke dalam ruangannya dan mengira yang tidak-tidak.
Cara pertama: berbisik di telinganya sambil mengumbar kata-kata manis.
Biasanya mempan buat gadis-gadis yang mengambek. Tapi Oik kan pingsan bukan ngambek? Apa salahnya di coba?
Cakka mendekatkan bibirnya ke telinga Oik, “bangun sayang, kalau lo nggak bangun gue juga bakalan pingsan,” bisik Cakka.
Oke. Itu bukan manis. Tapi lebih terkesan awkward. Lagi pula mana bisa orang pingsan disamakan dengan orang yang ngambek? Berarti Cakka harus mencari cara lain agar Oik bisa bangun.
Cara kedua: belai pipinya dengan gerakan sensual. Err.
Biasanya bisa buat gadis-gadis terangsang. Siapa tahu kan Oik terangsang juga dan langsung bangun. Berikutnya urusan belakangan.
Cakka segera menyentuh pipi Oik dengan jemarinya. Pipi Oik terasa begitu lembut di kulitnya. Seperti kulit bayi. Lama-lama Cakka menikmati setiap gerakan sentuhannya di pipi Oik. Sepertinya bukan Oik yang terangsang tapi malah Cakka akan kalau terus-menerus seperti itu. Lagi pula bagaimana bisa sih orang pingsan terangsang? Adanya orang yang sadar. Dan saat itu... Cakka yang sadar. Cepat-cepat ia menghentikan aktivitasnya di pipi Oik.
Ck. Gadis ini kapan bangunnya sih?
Cakka menghela napasnya. Apa lagi yang harus dilakukannya biar gadis ini bangun?
Cara ketiga: sleeping beauty does exist! Cium.
Cakka sangat tidak menyukai cerita dongeng dan semacamnya. Dulu waktu mamanya menceritakan cerita dongeng sebelum tidur. Ia biasa menutup kupingnya dengan bantal. Meski masih bisa terdengar samar-samar saat mamanya bercerita. Sleeping beauty bercerita tentang seorang putri yang tertidur selama beberapa tahun dan terbangun karena ciuman pangeran. Siapa yang tidak bisa melek karena ciuman Cakka? Oke. Sebenarnya ini ide buruk. Tapi darurat! Apa salahnya dicoba?
Cakka segera mendekatkan wajahnya ke wajah Oik. Menatap gadis itu yang matanya sedang terkatup. Awalnya, Cakka ingin menciumnya di mata. Biar dia bisa melek. Tapi... entah mengapa ciuman itu malah mendarat di bibir Oik. Seperti ada magnet yang menarik bibirnya agar menyentuh bibir Oik juga. Tekanan bibir Oik terasa lembut seperti es krim. Membuat Cakka ingin lebih dalam lagi mencicipinya. Tapi... Oik kan pingsan err. Cakka tidak biasa mencium orang yang tidak sadarkan diri seperti itu. Satu lumatan dan Cakka langsung melepaskannya.
Benar-benar ide buruk. Oik bukannya bangun. Tapi membuat ia terlihat seperti orang bodoh saja. Coba tadi kalau ada orang yang masuk?
Tapi, baru sekarang Cakka berpikiran seperti ini. Kenapa Cakka jadi peduli dengan gadis ini? Teman bukan, saudara bukan, orang asing juga bukan. Cuma tetangga yang telah merebut apartemen kesayangannya.
Cepat-cepat Cakka berdiri dari situ. Kakinya baru terasa kram karena sejak tadi berlutut. Sepertinya menyiram dengan air adalah yang paling tepat. Dengan langkah yang masih tertatih Cakka berjalan ke arah meja kerjanya hendak menghubungi OB.
Namun, saat Cakka baru meletakan gagang telepon di telinganya Oik terlihat menggeliat. Perlahan ia membuka pejaman matanya. Cakka segera meletakan gagang telepon itu pada tempatnya lagi.
“Kamu udah matiin rokoknya kan?” tanya Oik saat kesadarannya pulih.
Ternyata sleeping beauty bekerja lebih lambat.
“Udah... lo aneh ya masa hirup asap rokok doang pingsan?”
Oik berusaha berdiri dari sofa Cakka kemudian duduk di situ. Cakka berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
“Aku memang nggak bisa menghirup asap rokok. Kayak sesak gitu,” kata Oik.
“Lo asma?” tanya Cakka.
“Bukan, aku nggak ada penyakit asma. Lebih ke trauma sih. Waktu kecil, pernah jalan-jalan sama mama di sebuah toko trus aku ngilang gitu. Aku terjebak di sebuah ruangan yang penuh dengan asap. Dan mulai ada nyala api ruangannya sesak banget dan aku pingsan. Tahunya, pas bangun aku sudah di rumah sakit. Ternyata toko itu kebakaran dan aku masuk di gudang toko itu, jadi mulai dari situ kalau aku menghirup asap apa aja pasti terasa sesak dan nggak bisa napas. Apalagi kalau lama-lama pasti pingsan,” cerita Oik.
Cakka malah tertawa, “cuma gara-gara itu?”
“Bagi aku itu nggak cuma. Aku juga nggak suka ngeliat cowok yang merokok. Merokok nggak membuat seseorang terlihat keren tapi terlihat bajingan,” kata Oik terkesan menyindir.
“Gue memang bajingan. Jadi santai aja,” kata Cakka dengan gaya santainya dan membuat Oik menggeleng-gelengkan kepalanya.
Memang susah bicara dengan orang seperti Cakka.
“Jas hujanku mana?” tanya Oik saat menyadari ia tidak mengenakan lagi jas hujannya.
“Tuh di atas meja,” kata Cakka.
Oik segera mengambil jas hujannya itu melipatnya lalu mengambil almamaternya dari dalam tas. Memasukkan jas hujan itu ke dalam tasnya dan memakai kembali almamaternya.
Tak sengaja Oik menatap Cakka tepat di matanya. Mata tajamnya menyiratkan pertanyaan. Seketika Oik ingat akan janjinya menceritakan pada Cakka yang terjadi tadi. Ia menghembuskan napasnya panjang sebelum membuka suaranya.
“Tadi aku punya janji sama kamu ya? Buat nyeritain yang terjadi,” kata Oik.
“Nggak usah nanya kalau lo mau cerita buruan cerita,” kata Cakka.
“Tadi aku habis dikejar-kejar sama seseorang yang psycho gitu,” kata Oik.
Psycho?” tanya Cakka sambil mengernyitkan dahinya.
Oik mengangguk, “iya... itu dia teman kompleks aku dulu waktu SMP. Dulu dia pernah nembak aku tapi aku tolak. Soalnya aku nggak suka. Semenjak saat itu aku diteror terus sama dia. Dari dia ngasih kodok mati, boneka barbie yang rambutnya udah dibotakin, sampe brownies busuk di depan rumahku dan semua itu tulisannya menyeramkan,” kata Oik.
“Memangnya tulisannya apa sih?” tanya Cakka tertarik.
“Kalau kodok mati itu ada kertas putih sama darah-darah kodok tulisannya itu kamu liat kodok ini, kalau kamu terus menerus menolakku nasibku akan seperti kodok ini. Kalau yang di boneka barbie itu tulisannya kamu nggak mau kan nasib kamu botak kayak barbie ini? Trus kalau yang brownies basi itu tulisannya tahu nggak hati kamu busuk kayak brownies ini, masih banyak lagi sih yang dia kirim-kirim ke aku dan semuanya bikin aku takut dan langsung nyuruh mama pindah rumah dan pindah sekolah. Dari situ dia udah nggak ganggu aku lagi. Tapi... nggak tahu kenapa dia ada di sini juga, aku kaget banget tadi sumpah, makanya aku langsung lari trus pake jas hujan itu biar nggak ketahuan,” kata Oik.
Mendengar perkataan Oik itu, Cakka malah tertawa sekencang-kencangnya.
“Ada yang lucu?” tanya Oik.
“Banget. Lucu banget sumpah. Lo pake jas hujan kuning itu biar nggak ketahuan tapi lo tahu nggak sih dengan lo kayak gitu malah buat lo ketahuan. Soalnya lo paling mencolok diantara teman-teman kampus lo. Gue aja lihat dari atas sini sakit mata karena kuningnya terlalu mencolok,” kata Cakka.
“Tapi itu jalan satu-satunya, aku udah nggak ada ide lagi tadi. Kamu jangan berani meledek jas hujan kuning kesayanganku ya,” kata Oik sambil memeluk jas hujannya itu.
“Kesayangan? Hadiah dari siapa? Pacar?” tanya Cakka.
“Bukan. Aku nggak punya pacar, itu hadiah dari Mama waktu aku ulang tahun yang ke tujuh belas. Aku selalu nyimpan hadiah dari Mama dari aku masih umur satu sampai dua puluh lima tahun ada semua, tapi yang jadi kesayanganku yang ini soalnya aku suka warna kuning,” kata Oik.
“Lo anak mami yah?” tanya Cakka.
“Kalau iya kenapa? Mau menghinaku sudah besar masih anak mami?”
“Sama. Gue juga anak mami kok santai,” kata Cakka santai.
“HAH?!” Oik menganga. Lelaki dihadapannya ini memang sering membuatnya terkejut. Baru kali ini Oik mendengar seorang lelaki mengatakan dengan sendirinya kalau dia anak mami. Ajaib.
“Kenapa? Nggak usah shock gitu kali. Mending gue bilang gue anak mami daripada gue bilang gue anak tetangga,” kata Cakka.
“Iya juga sih, cuma aku kaget aja. Orang kayak kamu yang tampangnya sangar anak mami,” kata Oik.
“Kalau bukan Mama gue nggak bakalan lahir ke dunia ini. Oh ya, by the way si psycho itu teman kampus lo ya? Wah gawat dong kalau dia balik lagi neror lo,” kata Cakka.
“Aku nggak tahu juga, semoga aja nggak,” kata Oik.
“Tapi heran gue dia bisa di kampus lo kalau bukan anak kampus,” kata Cakka.
“Entahlah, tapi makasih banget ya Cakka kamu udah mau nolong aku, kalau nggak ada kamu aku nggak tahu nasib aku sekarang kayak apa,” kata Oik.
“Sama-sama,” kata Cakka sambil tersenyum ke arah Oik, “by the way, gue kurang nyaman bicara dengan lo. Soalnya lo pake aku-kamu, gue pake gue-lo. Berasa janggal gitu,” kata Cakka.
“Aku nggak biasa pake gue-lo. Aku dididik Mama sama Papa pake aku-kamu jadi dari kecil memang terbiasa seperti ini,” kata Oik.
“Gue sih di rumah pake sebut nama nggak pake gue-lo, ya kecuali sama pacar gue sih baru pake aku-kamu,” kata Cakka.
“Berarti kamu yang ngalah aja, kamu kan bisa pake aku-kamu. Aku nggak biasa pake gue-lo,” kata Oik sambil merapikan tasnya dan menyampirkan tasnya di bahunya sebelum berdiri.
Cakka juga ikut berdiri, ia mengerutkan keningnya mencoba berpikir, “ya udah deh, nggak apa-apa, ngalah daripada janggal,” kata Cakka kemudian.
Sejujurnya, Cakka orang yang paling tidak bisa untuk mengalah. Tapi kenapa ia mau mengalah soal aku-kamu gue-lo dengan Oik? It’s weird, isn’t it?
“Oke deh, aku pulang dulu ya, kelas hari ini udah selesai,” kata Oik kemudian beringsut dari situ.
Cakka menahan tangan Oik dan membuat Oik berbalik, “aku antar ya,” tawar Cakka.
“Hah?” Oik kaget.
“Mobil kamu masih di kampus kan? Kalau ada dia lagi bagaimana? Jadi aku antar aja, sampe kampus. Atau kalau kamu mau sampe apartemen juga boleh. Biar mobil kamu tinggal di kampus. Besok kita berangkat bareng,” kata Cakka.
Oik berpikir sejenak. Benar juga sih. Tapi mending Cakka mengantarnya sampai ke kampus saja. Biar dia naik mobilnya sendiri sampai apartemen.
“Kamu antarnya sampe kampus aja ya. Biar aku pulang sendiri. Aku nggak apa-apa kok. Tenang aja,” kata Oik.
“Kamu apa-apa. Tadi pagi kamu ambil arah Blaak padahal lewat Maasboulevard lebih dekat. Jadi sekalian tunjukin jalan cepat dari Schiedamsedijk sampe Burgemeester Oudlaan,” kata Cakka dan langsung menarik Oik keluar dari ruangannya.
Oik hanya bisa menghembus, “you’re stalker,” katanya terpaksa mengikuti Cakka yang menariknya.
Cakka tidak menghiraukannya ia terus membawa Oik keluar dari kantornya. Diiringi tatapan bingung karyawan-karyawannya di situ. Dari samping, Oik bisa melihat raut wajah Cakka. Genggamannya yang erat dan kuat di tangan Oik membuatnya merasakan otot-otot Cakka disetiap genggaman Cakka. Bagi Oik, arti genggaman kuat Cakka itu bukannya mau berlaku kasar padanya, melainkan ingin melindunginya. Tapi apakah Cakka seperti itu? Ia baru sadar, ia baru menceritakan bagian dari dirinya pada Cakka tadi. Padahal mereka baru kenal beberapa hari lalu.
Dari ekor mata Cakka, ia bisa melihat kalau Oik memperhatikannya.
“Nggak usah liatin aku kayak gitu juga kali. Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kalau kamunya nggak minta diapa-apain,” katanya masih dengan gaya khasnya lalu membuka pintu SUV-nya untuk Oik masuk.
“Ck,” Oik berdecak sebelum masuk ke dalam SUV Cakka.

***

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Ayo semangat buat lanjutin,,,,,,g sabar nunggu klnjutannya gmana??? :D

Anonim mengatakan...

Harus maksa buat cepetan lanjut ini.. Udah beberapa hari gak post loh cik..
Oik yang misterius, cakka yang terlihat nakal nambah rasa penasaranku. Wahh.. #Lebeh.. :P
Pokoknya cepetan dilnjut!!!

Anonim mengatakan...

Lanjuttttt dong chikk, udah lama ga ngepost kannnnn ayo dongggg dilanjuttt

Anonim mengatakan...

udah 5 hari gak posting kemana sih cik? kita kangen ceritanya tauu...

Nida Salsabila mengatakan...

Lanjutin dong kak...

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...