Minggu, 31 Maret 2013

BELIEVE―FOUR―[CATCHING FEELINGS]

FOUR―CATCHING FEELINGS
“―They say we’re too young for love
But I’m catching feelings―

BANDARA  Zestienhoven terlihat ramai. Banyak orang hilir-mudik. Cakka menyampirkan syalnya di leher. Walaupun ini musim semi tetap saja udara di sini lebih dingin dari Indonesia. Lima tahun tidak berada di sini. Cakka merasakan keadaan yang begitu berbeda. Embusan napasnya di udara menghasilkan uap. Padahal dulu, kalau musim semi ia bahkan bisa keluar dengan celana pendek dan baju kaos biasa. Kenapa sekarang terasa seperti ini sih? Pasti gara-gara sudah terbiasa dengan panas Jakarta yang begitu mencekam.
Cakka mendelik ke kiri dan ke kanan. Mencoba mencari orang yang mengenakan kaos seragam berwarna ungu dengan tulisan Tropische Vakantie Tour. Anak buah papanya. Ya, di sini papanya punya perusahaan yang bergerak di bidang tour. Khususnya tour ke Negara tropis. Bali, Indonesia menjadi paket unggulan tentunya. Kata papanya Cakka akan dijemput oleh anak buahnya itu menuju MyCityLofts Skyline, apartemennya.
Dag Meneer,” sapa seorang pria dengan rambut blonde dan bermata biru.
Hallo, tuan.
Dag Meneer,” balas Cakka menyapa sapaan orang itu.
Mag ik me voorstellen?  Ik ben Peter Bergsma, Ik ben je papa werknemer,” katanya lalu menyalami Cakka.
Bolehkah saya memperkenalkan diri? Saya Peter Bregsma. Karyawan papa anda.
Cakka membalas uluran tangannya, “Ik ben Cakka Aylonso Pramanna, Aangenaam om met u kennis te maken, Peter,” katanya.
Saya Cakka Aylonso Pramanna, senang berkenalan dengan anda, Peter.
Neem ik u mee naar uw appartement,” kata Peter sambil mengambil koper Cakka dari tangannya. Lelaki itu mulai mendorong koper Cakka.
Mari saya antar ke apartement anda.
Okee, Dank u wel,” kata Cakka sambil mengekor di belakang Peter.
Peter membawa Cakka ke sebuah SUV yang terparkir di lapangan Parkir. Ia memasukan kopernya ke dalam bagasi. Lalu mengambil alih kemudi. Cakka duduk di samping kemudi. SUV itu pun keluar dari Bandara terus ke Fairoaksbaan. Cakka menatap ke kiri dan ke kanan. Masih sama seperti lima tahun lalu saat ia meninggalkan Rotterdam.
hoe was je reis, Meneer?” tanya Peter saat mereka belok ke arah kanan memasuk Glize-Rinjenstraat.
Bagaimana perjalanannya tuan?
Ik genoot ervan,” jawab Cakka sambil mencoba menyalakan ponselnya.
Saya menikmatinya.
Goed,” katanya.
Bagus.
Lima belas menit kemudian mereka akhirnya tiba di MyCityLofts Skyline. Apartemen yang terletak di  Schiedamsedijk 60. Merupakan salah satu apartemen yang strategis karena sangat dekat dengan pelabuhan dan dengan pemandangan jembatan Erasmus. Tidak hanya itu di situ juga dekat dengan Museum Maritim, Museum Bersejarah, Blaak Market Square and the Cube Houses. Dulu, waktu Cakka masih kuliah di Erasmus Universiteit. Dia juga tinggal di sini. Jadi artinya, Cakka kembali pada masa-masa kuliahnya dengan keadaan yang berbeda.
Cakka segera turun dan SUV itu. Membuka kacamatanya. Menatap bangunan Skyline itu kembali. Bangunan kokoh menjulang tinggi. Cakka segera menyeret kopernya masuk ke dalam lobi.
Dat de auto sleutel en uw appartement sleutel,” kata Peter sambil menyerahkan dua buah kunci ke tangan Cakka.
Ini kunci mobil dan apartemen anda.
Cakka segera mengambilnya, “dank u wel,” kata Cakka berterima kasih.
Ik moet weg. Zoveel werk in het kantoor,” kata Peter.
Saya harus pergi. Masih banyak pekerjaan di kantor.
Okee. Dag Peter,” kata Cakka.
Dag Meneer,” Peter pun berlalu dari hadapan Cakka.
Cakka segera menuju lift untuk naik ke lantai sepuluh. Tempat apartemennya berada. Tiba di lantai sepuluh, Cakka segera menyusuri koridor. Ia sudah hafal jalan di sini. Jadi, tanpa melihat nomornya ia sudah tahu apartemennya sebelah mana. Dengan segera Cakka memutar kunci apartemen dengan nomor 888. Lama ia memutar, seperti ada yang aneh di kuncinya. Tapi, saat ia memutar gagang pintu, apartemen itu terbuka. Dengan segera Cakka masuk ke dalam.
Apartemen itu sangat dominan dengan warna putih. Dipadu padankan dengan sofa berwarna silver. LED di depan sofa tersebut. Cakka segera menghempaskan tubuhnya ke atas sofa tersebut. Perjalanan yang cukup melelahkan. Saatnya untuk tidur dulu. Tapi tidak di sofa ini.
Cakka segera menyeret kopernya ke kamar. Ia segera membuka pintu kamar. Menaruh kopernya secara sembarangan. Dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas masterbed di situ. Ia pun hendak menutup matanya. Tapi ada yang aneh. Sepertinya shower di kamar mandinya menyala. Apa petugas apartemen ini lupa mematikannya?
Cakka mendesah dan segera berdiri dari mastebed-nya. Seperti ini yang mengganggu ketenangannya. Payah! Masa apartemen seperti ini petugasnya tidak teliti. Cakka segera memutar gagang pintu kamar mandi. Ia berjalan masuk ke dalamnya. Betapa kagetnya ia saat mendapati di balik sliding door ke bathtub ada siluet seorang gadis dengan gaya sensual sedang menyabuni badannya. Cakka menelan ludah. Oke, yang terlihat memang cuma siluet. Tapi… kenapa sampai ada gadis di apartemennya?
Cakka masih menikmati setiap gerakan gadis itu sebelum sebuah teriakan menyadarkannya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,” teriak gadis itu menyadari keberadaan Cakka. Ia segera menarik pakaian mandi yang tergantung tak jauh dari tempatnya dan menutupi bagian tubuhnya.
Gadis itu segera menggeser sliding door kamar mandi itu. Lalu melotot menatap Cakka yang berdiri terpatung di hadapannya. Gadis dengan rambut ikal panjang yang basah. Embun-embun air masih membasahi wajahnya.
Spijt me, dit een ongeluk. Ik ken je niet binnen bent,” kata Cakka.
Maaf, ini tidak sengaja. Aku tidak tahu ada orang di dalam.
I don’t understand. I can’t speak Dutch. Can you speak english?” Gadis itu berusaha meredam emosinya. Daripada roaming berbicara dengan lelaki bejat di hadapannya yang dengan tidak senonohnya masuk ke kamar mandi orang. Lebih baik mencari solusi bahasa dulu. Nanti kalau ia bisa berbahasa inggris mungkin ia bisa memakinya dengan asshole, son of bitch, fuck you, dog gone you, god damn you, bone head, dan lain sebagainya.
Oh sorry, it just an accident, I don’t know you’re inside,” kata Cakka kemudian.
You get into my private area. You such as son of bitch,” katanya.
And you’re the bitch!” bukannya meminta maaf lagi. Cakka malah balas memaki gadis itu. Bagi Cakka, minta maaf cuma sekali. Dua kali itu namanya penghinaan. Dan penghinaan bagusnya dibalas dengan penghinaan.
Gadis itu benar-benar naik pitam. Ia segera berjalan mendekati Cakka lalu berteriak di hadapan Cakka, “get out from there or I’ll call security and tell you’re going to rape me!”
Do you want me to rape you? Okay, let’s get naked,” kata Cakka sambil menyunggingkan senyum nakalnya yang lebih terkesan menantang gadis itu.
“Arggghhh,” gadis itu menggelengkan kepalanya frustasi. Ia segera melangkah keluar dari kamar mandi. Cakka mengekor di belakangnya.
“Oh Tuhan, tolong aku menghadapi laki-laki gila seperti dia,” kata gadis itu setengah berbisik.
Samar-sama Cakka bisa mendengar perkataan gadis itu, “apa lo bilang? Gue gila? Lo yang gila bukan gue. Ini apartemen gue kenapa lo yang ada di dalam?” Cakka menyerocos ketika tahu kalau gadis di hadapannya ini orang Indonesia juga.
“Kamu memang gila. Ini apartemen aku, kamu masuknya sembarangan,” katanya.
“Hello, apartemen tripel delapan itu punya gue dari lima tahun lalu,” kata Cakka ngotot.
Gadis itu segera mengambil kunci apartemennya dan menunjukan nomor yang tertera dikuncinya persis di depan mata Cakka, “nih… delapan-delapan-delapan. Jadi yang salah kamu, kamu harus keluar dari sini! Mau punya kamu dari seribu tahun lalu kek. Lima puluh ribu tahun lalu kek. Yang penting ini sekarang punyaku,” katanya.
Cakka kaget melihatnya. Ia segera merogoh kunci yang diberikan karyawan papanya kepadanya. 889. Sial kenapa 889? Cakka mendesah. Ia segera meraih ponselnya lalu menelepon papanya tercinta. Kenapa bisa apartemennya berubah menjadi nomor 889? Tapi sayangnya tidak kunjung ada jawaban. Dengan segera Cakka memencet nomor Alvin. Siapa tahu Alvin tahu dengan hal ini. Setelah nada sambungan akhirnya Alvin menjawab.
Hallo… wah Kka udah sampai ya di sana?”
“Lo pasti tahu kenapa apartemen gue pindah jadi delapan-delapan sembilan?” tanya Cakka tanpa menghiraukan sapaan saudara kembarnya itu.
Oh itu, iya Papa baru ngasih tahu tadi kalau apartemen lo pindah di muka apartemen lama lo. Soalnya, Papa bilang bagusan yang di depan. Katanya lebih besar dan lebih bagus view-nya. Sebelum lo berangkat dia lupa bilang sama lo. Jadinya―,” belum sempat Alvin menyelesaikan penjelasannya Cakka sudah mengakhiri sambungannya.
Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Sebelum menarik koper dan melangkah menuju pintu kamar tersebut. Di samping pintu kamar tergantung sebuah almamater. Itu almamater Erasmus Universiteit dengan name tag di dada kiri. Cakka segera membaca name tag itu.
Oik Santika
Student of Master programmes
Specialisation Accounting and Finance
Oik Santika? Cakka segera menoleh ke belakang lagi menatap gadis yang ada di belakangnya. Gadis itu menatapnya heran. Sebelum Cakka membuka pintu kamar dan membantingnya dengan kencang lalu pergi dari situ.
Oik hanya bisa menghela napasnya. Ternyata ada juga orang gila seperti dia di sini. Hupfh.

***

Cakka menyesap kopi yang baru di buatnya sambil duduk di sebuah sofa dekat kaca yang bisa membuatnya menikmati pemandangan jembatan Erasmus dari situ. Ia merogoh ponselnya kembali. Ini belum selesai. Ia masih mau apartemennya yang ditempati Oik Santika itu. Apa-apaan coba? Papanya berlaku militan tanpa mempedulikannya?
Setelah lima kali percobaan menelepon papanya. Akhirnya papanya mengangkat telepon darinya.
Hallo Cakka kenapa? Papa baru selesai meeting jadi baru lihat telepon kamu,” kata Alons dari seberang.
“Cakka mau apartemen lama Cakka,” kata Cakka to the point.
Lho? Kenapa? Yang itu lebih bagus. Kamu lebih leluasa melihat Erasmus Bridge dari situ,” kata Alons.
“Pokoknya Cakka udah catch apartemen itu. Jadi nggak ada orang lain yang bisa menempati apartemen itu selain Cakka,” kata Cakka.
Itu punya MyCityLofts bukan punya Papa,” kata Alons.
“Ck, Cakka tahu itu Pa, tapi Cakka udah klop dengan angka tripel delapan. Het is mijn geluksgetal(*),” kata Cakka.
Apalah arti sebuah angka Cakka,” kata Alons.
“Bagi Cakka penting, pokoknya nggak mau tahu apartemen itu harus balik ke Cakka,” kata Cakka dengan segala ke keras kepalaannya.
Alons menghela napasnya mulai frustasi lagi dengan anaknya yang satu ini, “tapi nggak bisa Cakka, setahu Papa yang nomor delapan-delapan-delapan. Udah di booked sama anaknya Bob Suganda. Kamu kan bisa berteman dengan dia. Seenggaknya kalau berteman dengan dia kamu bisa main-main ke apartemen lama kamu,” kata Alons.
“Oh berteman dengan orang yang bilang Cakka mau perkosa dia?”
Mendengar perkataan Cakka itu Alons kaget, “kamu apain dia Cakka?” tanya Alons dengan nada meninggi.
Kalmeren(**) Papa, itu gara-gara papa tahu nggak. Cakka kan nggak tahu kalau apartemen Cakka pindah di depan. Jadi Cakka masuk aja ke dalam apartemen lama Cakka. Salah dia juga nggak ngunci pintu apartemennya. Trus Cakka ke kamar deh, tahunya Cakka dengar shower nyala, Cakka niatnya mau matiin eh nggak tahunya ada dia di dalam,” jelas Cakka.
TRUS?
“Dia bilang Cakka mau perkosa dia. Enak aja! Cakka nggak biasa perkosa orang adanya mereka sendiri yang minta diperkosa,” kata Cakka dengan cueknya.
Kamu bilang begitu sama dia?” tanya Alons masi dengan nada meninggi.
“Nggak kok. Cakka bilang kalau mau diperkosa ayo,” kata Cakka lagi-lagi dengan nada santainya.
Dalam hatinya ia menghitung mundur. Pasti sebentar lagi papanya itu akan mengoceh.
3…
2…
1…
“Cakka! Kamu tuh memang anak yang nggak tahu sopan santun,” kata Alons. Nah bener kan. Cakka pun segera menyiapkan telinganya agar tidak panas mendengar ocehan papannya, “kalau dia lapor papanya tentang kamu itu. Papa bisa malu kalau tersebar di seluruh kalangan pengusaha. Nanti Papa dibilang nggak tahu didik anak. Papa dibilang punya anak yang nggak punya tata krama, etiket, moral dan lain sebagainya. Kamu mau Papa kamu dicap seperti itu?”
“Dia nggak tahu kan aku anaknya Papa,” kata Cakka.
“Tapi lama-lama dia pasti tahu juga Cakka. Haduh! Kamu tuh emang dasar ya,” kata Alons frustasi.
“Udah Pa, nggak usah terlalu berlebihan gitu kenapa. Ini luar negeri bukan Indonesia. Udah biasa kayak gitu. Lagipula itu Cakka cuma becanda,” kata Cakka.
“Becanda kamu yang berlebihan. Seharusnya di luar negeri kamu harus membawa kebudayaan Indonesia kamu―,”
Tit. Belum sempat papanya selesai bicara. Cakka mematikan sambungan telepon tersebut. Ia malas mendengarkan ocehan papanya. Tujuannya untuk apartemennya itu bukan untuk mendengarkan ocehan papanya. Ck.
Cakka segera membanting ponselnya itu secara sembarangan. Lalu kembali menyesap kopi yang dibuatnya. Menikmati indahnya jembatan Erasmus.
Setelah kopinya telah habis ia segera menyambar jaketnya untuk keluar. Jalan-jalan lebih baik. Daripada stress berdiam diri di situ. Mungkin ia bisa mengunjungi teman-teman lamanya semasa kuliah atau bisa ke pub, anywhere.
Ia membuka pintu apartemennya. Saat ia berada di luar. Gadis tadi juga sedang membuka apartemennya hendak keluar. Apartemen mereka yang berhadapan membuat mata mereka saling terantuk.
Cakka memperhatikan gadis di hadapannya itu. Ia agak menyipitkan matanya mencoba mengamati. Gadis itu terlihat takut dengan tatapan Cakka yang tajam. Cepat-cepat ia mengunci pintu apartemennya. Saat baru saja satu langkah ia menyusuri koridor. Cakka menghalanginya. Mereka kini saling berhadapan. Gadis itu menghela napasnya.
Mau apa lagi sih dia?
“Permisi, aku mau lewat,” katanya.
“Kayaknya gue kok pernah liat lo,” kata Cakka.
“Iya, kan tadi kamu lihat aku di kamar,” jawabnya.
“Ya… sebelum yang tadi maksudnya,” kata Cakka.
Gadis itu menutup matanya berusaha mengingat juga. Sebelum dia membuka matanya lalu menjawab, “di TMII,” jawabnya singkat.
“Oh lo kan gadis gila yang siang bolong jalan-jalan di Keong Mas pake bridal dress kan?” kata Cakka mengingat-ngingat.
“Iya,” katanya, “udah puas? Minggir aku mau lewat,” lanjutnya.
Tapi Cakka masih tetap bergeming pada posisinya. Membuat gadis itu menghela napasnya kembali dan mencari jalan lain. Baru satu langkah ia berjalan tubuhnya tertabrak badannya Cakka yang kekar. Wangi musk menguar dari tubuh Cakka. Membuat gadis itu ‘sedikit’ terbuai. Cepat-cepat ia menyadarkan dirinya. Cakka masih menghalangi jalannya.
“Lo mau kemana?” tanya Cakka.
“Belanja bahan makanan,” katanya.
“Emangnya tahu jalanan di Rotterdam sini? Tahu harus belanja dimana?” tanya Cakka.
Gadis itu terhenti. Sebenarnya dia tidak tahu juga. Tadi tujuannya mau bertanya pada petugas apartemen di bawah.
“Bukan urusan kamu,” katanya.
“Gue anterin lo gimana?” tawar Cakka.
“Aku nggak biasa naik tumpangan orang asing,” katanya.
“Yaudah kenalan apa susahnya sih. Gue Cakka,” kata Cakka mengulurkan tangannya.
Gadis itu menatap uluran tangan Cakka dengan hati-hati.
“Gue nggak punya virus menular. Nggak usah dilihatin kayak gitu juga kali. Lo kan nggak bisa bahasa Belanda, dan orang-orang di pasar sini kalau lo mau belanja bahan makanan penjualnya nggak mengerti bahasa Inggris. Gue kan bisa bantu lo buat komunikasi sama mereka,” kata Cakka.
Gadis itu berpikir sejenak. Benar juga sih. Daripada dia stress dan pulang tanpa hasil. Apa salahnya dia meminta tolong lelaki gila ini. Hupfh. Akhirnya gadis itu membalas uluran tangan Cakka, “Oik,” katanya memperkenalkan dirinya.
Bukannya melepaskan uluran tangan Oik. Cakka malah menggenggam tangannya. Lalu menggandengnya menyusuri koridor apartemen. Entah kenapa Oik punya firasat ini awal yang buruk.

***

Cakka memarkir SUV-nya setelah tiba di Blaak Market. Dari apartemen mereka hanya memakan waktu lima menit menggunakan mobil untuk tiba di Blaak Market. Tadi sebenarnya Oik ingin mereka masing-masing membawa mobil saja. Tapi Cakka tidak mengizinkannya. Ia malah menyuruh Oik masuk ke dalam SUV-nya. Alhasil, mereka berdua pergi ke Blaak Market dengan SUV Cakka.
Blaak Market adalah pasar paling besar di pusat kota Rotterdam. Blaak sangat menarik karena adanya the cube houses, the pencil building, dan tempat perhentian trem. Pasar rakyat ini menjual berbagai macam barang dengan berbagai macam harga.
Cakka segera menggandeng Oik masuk ke dalam Blaak Market. Oik menghempaskan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Banyak penjual dan pembeli. Di sebuah sudut ada penjual keju dengan berbagai varian. It’s sounds great! Karena selain kincir angin dan bunga tulip, Belanda juga terkenal dengan keju.
“Lo mau cari apa?” tanya Cakka.
“Sayur sama buah deh, buat persediaan makanan,” kata Oik.
Cakka kembali menyeret Oik semakin masuk ke dalam Blaak Market. Mereka menuju penjual buah dan sayur yang ada di situ. Begitu banyak buah dan sayur di dalamnya.
“Lo bilang aja yang lo mau beli nanti gue yang tanyain,” kata Cakka.
“Apel, ceri, toge sama buncis, pokoknya apel satu kilo yang lain satu pond aja,” kata Oik.
“Sori ya, gue tanya lo beli sayur emang lo tahu masak?”
“Ya… dikit-dikit sih. Tumis-tumis doang. Ya hitung-hitung aku belajar mandiri. Daripada setiap hari makan di restoran.”
“Oke deh kalau begitu,” kata Cakka. Ia segera memalingkan pandangannya ke arah penjual di situ.
Penjual itu segera menyapa Cakka, “Zegt u het maar, Meneer?”
Anda perlu apa, Tuan?
Mag ik een pond taugé, drukknopen en kersen,” kata Cakka.
Berikan saya satu pon toge, buncis, dan ceri.
“Alstublieft, Meneer. Wilt u ook peren kopen?” tanya penjual itu.
Silakan tuan. Apakah anda mau membeli pir?
Nee, Geef mij maar een kilo appels,” kata Cakka, “Hoeveel kost dat?” tanya Cakka kemudian.
Tidak, berikan sekilo apel saja. Berapa harganya?
Eens kijken... Een pond kersen vijf euro, een pond taugé zes euro, een pond drukknopen zes euro, een kilo apples tien euro. Dat is dan zevenentwintig euro,” kata Penjual itu sambil menghitung di kalkulatornya.
Sebentar… satu pond ceri lima euro, satu pond toge enam euro, satu pond buncis enam euro, satu kilo apel sepuluh euro. Jadi semuanya dua puluh tujuh euro.
“Dua puluh tujuh euro,” kata Cakka sambil mengulurkan tangannya ke arah Oik menuntut uang dari Oik.
“Apaan dua puluh tujuh euro?” tanya Oik.
“Harganya, lo ngarep gue yang bayarin?”
“Oh iya,” cepat-cepat Oik mengambil uang dari dalam dompetnya. Tentu saja yang di dalam sudah bukan rupiah. Semuanya sudah ditukar dalam pecahan euro. Ia segera mengambil uang dan memberikannya pada Cakka.
Cakka segera memberikan uang yang diberikan Oik pada penjual. Lalu mengambil belanjaan yang sudah dibungkus dengan plastik. Oik mengulurkan tangannya hendak mengambil belanjaannya itu.
“Udah biar gue yang bawa,” kata Cakka, “dank u wel, mevrouw,” kata Cakka pada penjual itu lalu berjalan mendahului Oik sambil membawa kantong plastik itu.
Oik menatap punggung Cakka. Lelaki dihadapannya ini ternyata tidak segila kesan pertama yang dia berikan pada Oik. Ternyata dia lumayan baik juga. Tapi entahlah bisa jadi ini hanya sementara. Atau mungkin lelaki ini punya penyakit gila yang sering datang dan pergi.
“Lo liatin apa lagi di situ? Ayo!” kata Cakka berbalik menghadap Oik yang masih bergeming di depan penjual buah dan sayur itu.
Oik kaget segera mengekor di belakang Cakka. Semoga dia bisa betah tinggal di sana. Ya, walaupun dengan tetangga seperti Cakka.

***
(*)  Itu angka keberuntunganku.
(**) Tenang.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Lanjut lanjut lanjut lanjut cik pleaseeeeee, LOVE YOUUUU :***

Syifa Khoirunisa mengatakan...

lanjuuuuut kak :(

Wiwik Sumanti mengatakan...

Gak sabar nunggu kelanjutannya

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...