Rabu, 20 Maret 2013

Sparks of Love―Prologue

Sparks of Love


PROLOGUE―AT FIRST SIGHT
“―Just when you think it can't get any worse, it can.
 And just when you think it can't get any better, it can.―”

GADIS itu memperhatikan orang-orang yang lalu lalang ke sana kemari. Ia melihat secarik kertas yang ada di tangannya. Ini benar-benar kompleks perumahan yang dikatakan almarhumah bundanya. Ia kembali memastikan lagi. Tapi setelah dibaca berulang-ulang kali tidak ada yang berubah―tentu saja. Alamatnya masih tetap…

Jl. Kaliurang KM 6 sawit sari.

Cuma itu! Tanpa nomor. Tanpa model rumah entah klasik? Modern? Minimalis? Neo? Gothic? Oke semakin hancur perkiraannya. Ia menghela napasnya sebelum melanjutkan perjalanannya. Seorang ibu dengan menggendong bayi lewat di depannya. Segera ia menghampiri ibu itu ingin menanyakannya untuk memastikan.
“Permisi Bu,” sapa gadis itu.
Ibu itu segera menoleh ke arah gadis itu, “ya? Ada perlu ya?” tanyanya.
“Saya dari Jakarta Bu, mau nanya ini benar kan Jalan Kaliurang kilometer enam, Sawit Sari?” tanya gadis itu sambil memperlihatkan secarik kertas pada Ibu itu.
Ibu itu mengangguk-angguk, “iya benar,” jawab ibu itu lagi.
“Kalau begitu tahu pemuda yang kira-kira usianya setahun atau dua tahun di atas saya yang tinggal di sini?” tanyanya lagi.
“Wah… kalau pemuda yang usianya sepantaran Mbak mah, di sini banyak, kalau namanya Mbak sebutkan mungkin saya bisa membantu,” jawab ibu itu.
“Haduh… itu-lah Bu, namanya saya tidak tahu, makanya bingung,” katanya sambil merubah ekspresinya setengah putus asa.
“Lagi pula Mbak, kalau cari alamat orang mbok ya tahu alamat rumahnya yang lengkap. Bila perlu nomor rumahnya, supaya lebih gampang nyarinya,” kata ibu itu.
“Ya sudah Bu, nggak apa-apa. Makasih ya Bu,” katanya berterima kasih kemudian berlalu dari hadapan ibu itu.
Ia menghembuskan napasnya. Ternyata untuk mencari orang yang tidak kita kenali dan tidak kita ketahui alamatnya yang jelas itu susah. Apalagi di daerah asing seperti ini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum berjalan kembali menyusuri jalanan.
Sekian lama ia berjalan, gadis itu merasa kelelahan. Ini merupakan perjalanan terjauh yang ditempuhnya selama ini. Mengingat dahulu almarhumah bundanya sering melarangnya untuk melakukan berbagai aktivitas termasuk berjalan jauh seperti ini. Ia kemudian singgah di sebuah warung makan untuk sekadar minum. Ternyata jalan-jalan bisa menimbulkan dahaga. Ia segera memesan minuman dingin lalu duduk di salah satu meja warung. Sambil menunggu jari tengah dan telunjuknya diketuk-ketukan di atas meja.
Dari ekor matanya, gadis itu merasakan ada seseorang yang mengawasinya. Orang itu duduk dua meja di sampingnya. Gadis itu segera menolehkan kepalanya ke samping tempat orang itu duduk. Ternyata dia adalah seorang lelaki bermata kelabu yang agak sayu, berambut hitam dengan potongan mohawk. Lelaki itu sedang memakan lotek. Saat mata mereka beradu, lelaki itu tersenyum ke arahnya. Senyum yang membuat pipinya panas. Gadis itu segera menundukkan kepalanya dan fokus kembali menunggu minumannya.
Tak beberapa lama kemudian pemilik warung itu membawakan minuman dingin pesanan gadis itu. Segera ia kemudian menuntaskan dahaganya. Kerongkongannya terasa lega ketika menikmati segarnya minuman yang diminumnya. Ia segera meletakan gelas kosong di atas meja. Tak sengaja, ia menatap kembali lelaki itu. Lelaki itu sedang menyuap makanan terakhirnya ke dalam mulut. Kemudian membersihkan mulutnya dengan sebuah tisu. Lelaki itu sepertinya menyadari kalau gadis itu sedang menatapnya. Dia membalas tatapan gadis itu, sekali lagi dia tersenyum. Senyumnya kali ini benar-benar menggoda. Oke mungkin kali ini, pipinya memerah. Lelaki itu sepertinya ingin flirting dengannya. Jelas-jelas ia akan kalah karena sedikitnya pengalaman flirting dengan para lelaki. Dahulu ia dikekang oleh bundanya untuk bergaul dengan lawan jenis.
Akhirnya ia menyadari bahwa sudah sekian lama ia menatap lelaki asing di sampingnya itu. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya lagi. Mengatur bajunya meraih tas selempangnya. Kemudian berjalan hendak keluar dari warung tersebut. Ia menghela napasnya sebelum melangkah. Ia akan melewati lelaki tadi sebelum benar-benar keluar dari warung tersebut.
Tepat saat ia berada di depan meja lelaki itu. Tangan terjulur ke arahnya. Ia segera menatap pemilik tangan itu. Ah… tatapan dan senyuman itu lagi!
“Cakka,” ucapnya menyebutkan namanya.
Hah? Gadis itu menatapnya kaget. Ia mengajaknya berkenalan? Dengan tatapan heran gadis itu menatap tangan yang masih terjulur di hadapannya. Kemudian dengan ragu ia menyalami lelaki itu. Tangan kasar dan kuat ala lelaki itu disambutnya. Kemudian tersenyum kaku menjawab namanya.
“Oik,” jawabnya.
Lelaki itu sepertinya agak kaget. Ia berdiri dari bangkunya menatap Oik dengan tatapan aneh. Tangannya dengan tangan Oik masih tertempel satu dengan yang lainnya. Ia menatap Oik dari ujung rambut sampai ujung kaki kemudian menyadari satu hal…
“Kamu… kamu… ehm maksudku, bunda kamu Idha Ramadlani?” tanyanya hati-hati.
Oik tertarik, dia melepaskan tangannya dari tangan Cakka sebelum mengangguk, “iya, kok kamu tahu?” Oik bertanya heran.
Tanpa disangka lelaki itu malah membawanya ke dada bidangnya. Meneggelamkannya di dalam pelukan kokohnya. Deg. Jantung Oik berdebar kencang mencium wangi musk yang menguar dari tubuh Cakka. Tapi entah kenapa ia merasa nyaman berada di dalam pelukan lelaki asing ini.
Cukup lama, sebelum Cakka melepaskan pelukannya itu. Oik mencoba kembali ke bumi saat pelukan itu terlepas. Ia mengatur napasnya yang tidak beraturan sebelum memberinya tatapan yang di baliknya tersimpan pertanyaan.
“Ka… kamu siapa?” tanya Oik dengan suara agak bergetar.
“Kamu kemari untuk mencari kakakmu kan?” tanyanya.
Oik mengangguk perlahan sambil dengan polosnya menunjukkan sebuah kertas yang dirogohnya dari sakunya. Itu catatan kecil dari bundanya sebelum meninggal, “kamu tahu dia yang mana?” tanyanya.
“Aku… aku kakakmu,” kata Cakka walaupun agak berat mengatakan itu.
Oik setengah tidak percaya telah menemukan kakaknya. Benarkah lelaki ini kakaknya? Matanya melotot, mulutnya menganga. Tanpa terasa air mata mengalir di pipinya.
“Kakak…” kali ini Oik yang memberinya pelukan.
Oh God! Thanks I found him, nothing’s better than this. Pekik Oik dalam hatinya.
Cakka tersenyum menatap Oik yang sedang memeluknya. Senyum yang aneh. Holy crap! Ia flirting dengan adiknya sendiri? He got impression at first sight with his own sister? Isn’t it a bad start?

***

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ayooo... Come on lanjut!!!!!

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...