Kamis, 21 Maret 2013

Sparks of Love―[2]


TWO―MESSAGE IN A BOTTLE
“―Someday you'll find someone special again.
People who've been in love once usually do.
It's in their nature.―”

TANAH itu masih basah. Daun-daun masih dipenuhi embun pagi. Sisa-sisa hujan masih berjatuhan dari atas genteng. Aroma khas pagi hari menari-nari di sekitar hidungnya. Oik melangkahkan kakinya menuju belakang rumahnya. Digalinya tanah di belakang rumahnya itu. Kejadian beberapa tahun lalu terputar di dalam benaknya.
Seketika ia tersenyum mendapati sebuah botol dengan secarik kertas di dalamnya. Botol bekas vodka yang ia comot dari koleksi botol minuman almarhum ayahnya dulu. Almarhumah bundanya boleh punya buku diari yang memuat banyak rahasia. Tapi dia juga punya sebuah rahasia ah bukan rahasia tapi sebuah keinginan yang dia kubur bertahun-tahun lalu. Ia segera membuka tutup botol tersebut. Secarik kertas yang digulung rapi secara silinder itu dibukanya. Tulisannya beberapa tahun lalu… tulisan yang sudah mulai luntur dimakan usia.

A message in a bottle…

Kata orang, menulis pesan dalam botol kemudian menghanyutkannya disungai akan bisa mengabulkan segala permintaanmu. Tapi aku tahu permintaan ini tak akan pernah dikabulkan, makanya kutanam saja. Sebagai lambang aku harus mengubur segala keinginanku ini.
Aku ingin seseorang berada di sampingku. Bukan ayah yang pemabuk juga bukan bunda yang penjudi. Setidaknya seorang kakak. Yang bisa menjadi penyelamatku. Bukan ayah yang menurunkan penyakitnya padaku. Yang bisa menjadi penjagaku. Bukan bunda yang mengekang segala tingkah lakuku. Aku mau seseorang yang bangga dan menyebut dia adalah orang yang paling beruntung karena memilikiku. Bukan ayah dan bunda yang selalu bertengkar mempertentangkan siapa yang menurunkan atau siapa yang mempunyai gen pembawa penyakitku. Dan bukan keluarga yang tanpa cinta…
Tuhan… aku tahu ini tidak mungkin. Tapi, tidak bisakah seseorang yang sakit sepertiku merasakan kebahagiaan walau hanya secuil?

Semenjak kepergian bundanya. Dia merasa sangat melankolis. Ditinggalkan di rumah yang mewah. Oh… tapi kekayaan itu tidak ada apa-apanya. Ayah yang pemabuk dan tukang main perempuan yang menduduki kursi DPRD karena politik kotor. Ibunya yang setelah kepergian ayahnya menghambur-hamburkan uang kotor ayahnya menjadi dua kali lipat lebih kotor lagi dengan menjadi bandar judi terbesar. Oik merasa kotor untuk menikmati semuanya. Tapi… bukankah dengan uang-uang itu dia dibesarkan?
Kenapa kenyataan hidupnya begitu tragis? Mulai dari semenjak kandungan dibenci bundanya. Dilahirkan tanpa cinta. Melihat ayah dan bundanya bertengkar setiap hari. Dikekang layaknya bayi yang baru berusia beberapa bulan. Punya penyakit turunan yang akan dibawa seumur hidupnya. Dan… kini ia sebatang kara di tengah sangkar emas.
Mungkinkah ia harus mencari jalan kebebasan dengan mencari kakaknya? Kakak yang selama ini diimpikannya?

***

25 Juli 1999
PRANGGG!!! Pecahan beling botol vodka terdengar berserakkan di lantai. Oik kecil takut ia bersembunyi di belakang lemari. Tiba-tiba terdengar jeritan ayahnya. Kemudian teriakan bundanya.
“Bodoh! Sudah kubilang kan jangan pecahkan botol vodka itu! Bahaya! Nanti aku repot mengurusi darah-darahmu yang bertebaran dimana-mana,” marah bundanya, “Ateeeeee!!! Ineeeeeemm!!!” teriak bundanya memanggil kedua pembantunya.
“Jangan berteriak membuat kupingku sakit,” kata ayahnya.
“Ini demi keselamatanmu, kamu mau mati kehabisan darah?” kata bundanya.
“Bilang saja kamu ingin cepat-cepat aku mati kan memang?” ayahnya tidak mau kala.
Dua orang pembantu perempuan datang bersama dua orang pembantu laki-laki. Mereka menopang tubuh ayahnya agar bisa duduk. Mereka segera mengambil tindakan meletakkan kaki ayahnya lebih tinggi. Kemudian Ate membersihkan luka tuannya dengan alkohol. Inem mencoba meredam pendarahan yang terjadi di kakinya dengan mengikat kaki tuannya itu. Bundanya hanya melihat tanpa melakukan tindakan apapun.
“Idha!! Kita belum selesai!” kata ayahnya.
Bundanya tersenyum meremehkan, “kamu urus penyakitmu itu dulu baru kita selesaikan,” katanya.
“Inem kamu sapu pecahan belingnya dan pastikan Oik tidak main-main ke daerah ini. Karena kalau dia juga kena pecahan beling juga rumah ini akan banjir darah. Gara-gara kamu anakku juga punya penyakit keparat itu!”
Inem segera pergi ke belakang untuk mengambil peralatan untuk membersihkan pecahan beling. Ayah dan bunda Oik masih dengan tatapan perang.
“Asal kamu tahu ya hemofilia itu bukan jenis penyakit yang mudah diturunkan. Kalaupun aku hemofilia, dan kalau kamu bukan carrier. Pasti Oik tidak akan terkena hemofilia. Karena kamu tahu hemofilia itu jarang temurun pada perempuan. Bahkan tidak pernah! Ingat kamu itu carrier-nya!”
“Oh… hahahaha tidak pernah? Oik itu memang hemofilia terima saja kenyataannya kalau kamu yang menyebabkannya begitu juga,” bundanya tertawa garing, “so funny you know! Kalaupun aku carrier, tapi kamu yang membawa penyakit itu pada Oik! Dan jangan mengalihkan kesalahan itu padaku,” kata bundanya.
“Dan kalaupun kamu menikah dengan orang yang diabetes melitus anakmu juga akan diabetes melitus juga. Karena bagaimana pun kamu pembawa sifatnya!” ayahnya tak mau kalah.
“Yakin aku pembawa sifatnya?” bundanya meremehkan.
“Yakin! Seyakin-yakinnya! Sudah kubilang hemofilia pada anak perempuan itu jarang kalau ibunya bukan carrier!”
“Tetap itu salahnya yang punya hemofilia!”
“Kalau bukan karena menghargai persahabatan Papa dengan Ayahmu aku nggak akan menikah dengan kamu!”
“Kalau bukan karena menyelamatkan keluargaku aku juga nggak mau menikah denganmu!”
“Dan kamu dan keluargamu akan hidup melarat dan miskin di jalan karena kamu anak yang durhaka. Orang tua yang bersusah payah membanting tulang untuk kuliah anak mereka. Tapi anaknya bukannya kuliah malah menghambur-hamburkan uangnya?” sindir ayahnya.
“Jaga mulut kamu! Kenapa bawa-bawa keluargaku dalam hal ini?”
“Kamu yang mulai duluan!”
“Kamu…”
“Kamu…”
“Kamu…”
Dan lagi-lagi Oik melihat orang tuanya bertengkar hanya karena hal yang klasik di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Oik kecil menangis di belakang lemari. Setelah Inem membersihkan pecahan-pecahan beling. Dia pun menghampiri Oik yang bersandar di belakang lemari. Berusaha menghibur majikan kecilnya itu. Oik pun dibawa Inem kembali ke kamarnya.
Oik tidur tengkurap di atas kasurnya. Samar-samar masih terdengar pertengkaran ayah dan bundanya. Ia masih kecil untuk mengerti akan semuanya ini. Tapi ia lelah mendengar semua yang terjadi pada keluarganya.
Ia pun tertidur dengan air mata mengalir di pipinya…

***

6 April 2010
Oik sedang tidur tengkurap. Gulingnya diletakkan di dekat dagunya sebagai penahan dagunya itu. Inem mengelus-ngelus kepala majikan kecilnya itu. TV Plasma di hadapannya sedang memutar sebuah FTV yang mengisahkan kisah cinta anak SMA. Sedari tadi Oik tampak menikmati scene demi scene FTV itu. Terkadang ia tersenyum namun tatkala juga raut wajahnya berubah sedih.
“Bi kenapa Oik nggak boleh sekolah ya kayak mereka?” tanya Oik, “kenapa Oik hanya diizinkan home-schooling yah sama Ayah dan Bunda? Padahal Oik kan pengin juga punya banyak teman seperti mereka,” keluh Oik.
“Orang tuanya Non nggak mau kalau Non kenapa-kenapa di sekolah, soalnya di sekolah menurut mereka terlalu ekstrim buat Non,” kata Inem.
“Memang separah itu ya penyakit hemofilia sampai-sampai Oik nggak bisa sekolah kayak mereka?” kata Oik.
“Nggak tahu Non kalau soal parah nggak-nya. Yang pasti Bibi pernah dengar pembicaraan Tuan dengan Nyonya yang mengenai sekolah Non. Katanya disekolah kalau Non luka siapa yang mau ngobatin? Trus kan Non sudah dibuat daftar yang nggak boleh dikerjain sama Non. Kalau di sekolah nggak ada yang ngontrol makanya Nyonya takut,” jelas Inem.
 “Tapi kan Oik juga pengin Bi punya teman-teman, bahkan punya sahabat. Dan Oik kan pengin ngerasain punya pacar kayak si Kintan di FTV itu,” kata Oik polos.
“Nanti juga Non punya teman-teman, punya sahabat juga, Non juga punya pacar. Non kan cantik pasti banyak yang mau sama Non,” kata Inem.
“Bahkan kalau mereka tahu aku pengidap hemofilia?” tanya Oik.
Inem tidak menjawab. Dia bingung mau menjawab apa pada majikannya ini. Seketika hening menyergap ruangan itu. Yang terdengar hanyalah percakapan para aktor dan aktris yang sedang memainkan perannya di layar plasma yang terpasang di hadapan mereka.
“Bi… jatuh cinta itu gimana sih rasanya?” tanya Oik memecah keheningan.
Inem bingung bagaimana menjelaskan definisi cinta untuk anak umur 17 tahun tapi belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Dia memutar otaknya mencari kata-kata yang tepat. Dia tidak ingin penggambaran seperti jantung berdebar kencang, hati bergetar hebat, napas tiba-tiba tak terkendali, dan lain sebagainya. Karena dia tahu Oik berbeda dari anak-anak seusianya.
“Jatuh cinta itu… seperti gula,” kata Inem akhirnya.
Oik terlihat bingung ia mengernyit, “kok gula?” tanyanya heran.
“Iya… gula, Non tahu kan rasanya gula?” tanya Inem.
Oik mengangguk, “manis,” kata Oik.
“Seperti itulah jatuh cinta… manis, tapi Non pasti nggak tahu kan cara pembuatannya?”
Oik menggeleng sambil menunggu Inem melanjutkan kata-katanya.
“Gula itu harus melewati banyak proses seperti ekstraksi, pemurnian, pemanasan dan evaporasi, kristalisasi, sentrifugasi, serta pengeringan sebelum tebu yang keras itu menjadi butir-butir gula. Jadi jatuh cinta itu nggak instan, dia harus melewati berbagai proses dulu sebelum menghasilkan sesuatu yang manis,” kata Inem.
Oik mengangguk-angguk.
“Tapi…” Inem menyambung lagi.
“Tapi apa Bi?” tanya Oik penasaran.
“Jatuh cinta itu juga seperti kopi, Non tahu kan rasanya kopi?” tanya Inem lagi.
Oik mengangguk, “pahit,” jawabnya.
“Kopi itu memang pahit. Tapi banyak manfaat untuk kesehatan juga dari mulai mencegah penyakit jantung sampai mengatasi perubahan suasana hati dan depresi. Begitu pula cinta kadang nggak selalu manis, kadang juga pahit. Tapi lihatlah pelajaran yang diberikan cinta untuk kita ke depannya, agar kita bisa melangkah lebih baik di masa depan,” kata Inem lagi.
Lagi-lagi Oik mengangguk-angguk.
“Tapi cinta juga seperti kembang api,” kata Inem lagi.
Oik kembali mengernyit, “kembang api?”
Inem mengangguk, “iya kembang api, kadang meletup kadang redup tapi menghasilkan sesuatu yang indah sampai kamu tak ingin kembang api itu berakhir. Begitu pula cinta kadang meletup kadang redup tapi percayalah itu membawamu kepada sebuah tujuan. Sebuah tujuan yang indah dan abadi ataupun hanya hilang di telan masa,” kata Inem.
Kali ini Oik benar-benar tidak mengerti dengan perkataan inem itu, “maksud Bibi?” tanya Oik.
“Jawabannya ada di dalam hatimu sayang,” kata Inem.
Oik masih sibuk memikirkan perkataan Inem. Ia menghiraukan FTV yang telah selesai dengan happy ending itu. Ia mencoba memahami apa yang pembantunya katakan itu. Kemudian telepon rumahnya berdering membuatnya berhenti dari pikirannya itu dan menyaksikan pembantunya berjalan ke arah telepon di kamarnya lalu mengangkatnya.
Inem terlihat kaget mulutnya menganga. Matanya berkaca-kaca. Ia terlihat shock sebelum menutup teleponnya dan kembali berjalan ke arah ranjang Oik.
“Non… Non kuat ya,” katanya menghibur membelai Oik. Padahal Oik bingung apa maksud pembantunya itu.
“Kuat kenapa Bi?” tanya Oik.
“Tuan… Tuan baru saja meninggal di rumah sakit. Pendarahan di dalam otaknya akibat benturan waktu jatuh di tangga kantornya.”
Oik shock. Ayahnya telah berpulang.

***

Oik mengemasi barang-barangnya di dalam sebuah koper dibantu oleh Inem dan Ate. Besok ia akan berangkat ke Yogyakarta menemui kakaknya yang dikatakan bundanya. Rumah keluarga Oik akan dijaga oleh Farah dan keluarga. Farah adalah adik dari bundanya Oik. Seperti yang dikatakan pada surat wasiatnya, bahwa Farah yang akan menempati rumahnya. Aneh saja Oik sebagai anaknya bahkan tidak mendapat sepeserpun dalam peninggalan bundanya―dan memang Oik tidak mau sepeserpun karena sebagian besar harta mereka adalah haram.
Inem dan Ate serta pembantu-pembantu yang lain juga akan pulang ke kampung halaman mereka. Jadi bagi Oik, tidak ada hal yang membuatnya bisa bertahan tinggal di rumah itu. Bundanya mau kan ia dijaga? Kalau Inem dan Ate serta yang lainnya tidak ada siapa yang mau menjaganya? Ia tidak yakin dengan keluarga-keluarga orang tuanya itu. Jadi ia lebih baik mencari kakaknya itu bukan?
“Non yakin mau pergi ke Yogyakarta sendirian?” tanya Inem.
“Yakin Bi,” kata Oik sambil memasukan kaosnya ke dalam koper.
“Tapi Non belum pernah berpergian jauh. Kalau Non ada apa-apanya bagaimana? Nanti Bi Ate dan Bi Inem merasa bersalah membiarkan Non,” kata Ate.
Oik berhenti menatap kedua pembantunya itu, “Oik nggak apa-apa kok Bi. Cukup doa dari Bi Ate dan Bi Inem saja sudah cukup kok. Yakin Oik sampai Yogyakarta dengan selamat,” katanya meyakinkan.
Ate dan Inem saling pandang-pandangan. Mereka berat melepaskan majikannya itu.
“Kalau begitu Non pulang ke Solo bareng Bi Inem aja dulu, nanti baru Bi Inem antar ke Yogyakarta,” kata Inem.
Oik menggeleng, “Oik bisa kok. Oik nggak mau ngerepotin Bi Inem atau pun Bi Ate. Makasih ya sudah mau bantu bunda menjaga Oik dari kecil. Oik bakalan kangen banget sama kalian berdua,” kata Oik.
Keduanya segera memeluk Oik. Mereka sudah menganggap Oik seperti anak mereka sendiri. Karena dari kecil Oik bersama-sama dengan mereka. Kedua wanita itu berkaca-kaca. Seakan mereka akan kehilangan putri mereka yang akan merantau.
“Bibi juga akan kangen sama Non,” kata Ate.
Inem menghapus air matanya menggunakan jemarinya, “nanti kalau sudah ketemu kakaknya Non janji ya bakal selalu ingat kita,” kata Inem.
Oik mengangguk, “Oik sayang Bi Inem dan Bi Ate, pasti Oik akan selalu ingat,” kata Oik sambil melepaskan pelukannya.
“Kalau kakaknya Non Oik ganteng, nggak boleh jatuh cinta ya sama dia, dia kan kakaknya Non,” kata Inem berusaha bercanda di tengah-tengah keharuan yang ada.
Seketika mereka bertiga tertawa bersama.

***

2 komentar:

kartika diga mengatakan...

lanjut kak.........

Lelasipit mengatakan...

Great. Bikin mata sedikit berkaca-kaca :)

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...