Sabtu, 30 Maret 2013

BELIEVE―ONE―[THAT SHOULD BE ME]


ONE―THAT SHOULD BE ME
“―You’re taking him where we used to go
Now if you’re trying to break my heart
It’s working ‘cause you know that―”

PASANGAN pengantin itu terlihat bahagia di atas pelaminan. Kedua mempelai memakai pakaian adat. Nuansa tradisional sangat terasa di ballroom hotel itu. Seorang lelaki dari sudut menatap pasangan pengantin di atas pelaminan itu dengan tatapan nanar. Kekesalan, kekecewaan dan sakit hati bercampur jadi satu. Tidak boleh! Ia harus kuat. Ia tidak boleh terlihat lemah di sini. Walaupun sebenarnya perasaannya sedang diuji tapi ia laki-laki bukan perempuan yang lemah dan menangis dengan cengeng saat melihat mantan tunangan yang masih dicintainya menikah dengan orang lain.
Seseorang menepuk bahunya menguatkan. Ia menatap ke arah orang yang menepuk bahunya.
“Lo nggak apa-apa kan Bro?” tanya lelaki bermata sipit disebelahnya.
Kalau dilihat-lihat lelaki itu mirip dengannya. Hanya berbeda di matanya. Ia bermata almond dengan tatapan tajam. Sedangkan lelaki disampingnya bermata sipit dengan tatapan lebih lembut.
“Gue nggak apa-apa tenang aja kok. Gue bukan cewek, nggak perlu deh lo sok care kayak gitu,” katanya.
“Sebagai saudara kembar lo, gue punya ikatan batin sama lo. Dan... kata ikatan batin gue, hati lo hancur sekarang nggak usah pura-pura deh depan gue,” katanya.
Ia tersenyum sinis, “lo nggak usah sok tahu deh Alvin, gue tahu lo saudara kembar gue tapi lo nggak berhak masuk campur dalam kehidupan gue,” katanya.
“Gue nggak masuk campur kok. Mungkin sifat lo kayak gitu yang membuat Shilla―,” kata-kata Alvin dipotong Cakka.
“Halah bullshit,” kata Cakka langsung meninggalkan Alvin berjalan ke arah meja dan mengambil sparkling wine.
Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya. Seorang wanita di sampingnya menenangkan Alvin.
“Sabar sayang, mungkin Cakka masih butuh waktu buat menerima. Tapi aku salut sama Cakka, seenggaknya dia mau datang meski aku tahu hatinya hancur,” kata Sivia.
“Ya mungkin saja,” kata Alvin sambil menatap saudara kembarnya itu yang berada di sudut ruangan sambil menyesap sparkling wine di tangannya. Dalam hatinya ia juga sebenarnya kasihan. Tapi apa yang ia bisa perbuat?
Cakka menghela napasnya sesak. Bahkan setiap tarikan napasnya ia merasakan sesuatu menghimpitnya dalam hati. Ia segera menghabiskan gelas kedua sparkling wine-nya. Menatap lagi pengantin di atas pelaminan. Kini pengantin itu sedang memotong sebuah kue tart di hadapan mereka. Sang pria menggenggam erat tangan sang wanita, mereka bersama-sama memegang pisau untuk memotong kue pernikahan itu. Kebahagiaan membungkus keduanya.
Kenapa sih Shil, lo nggak bilang dari awal kalau lo nggak suka konsep pernikahan garden party? Kenapa lo nggak bilang kalau lo mau indoor party dengan tatanan tradisional kayak gini? Dan kenapa lo nggak bilang kalau lo mau juga ikut ambil andil dalam menyusun pernikahan kita? Kenapa lo baru bilang saat itu juga?
Tatapan Cakka melembut menatap wajah wanita yang sedang berada di pelaminan itu. Ia merindukan senyumannya itu. Setahun lalu senyum itu masih menjadi miliknya. Tapi sekarang itu senyum itu bukan miliknya lagi.
Suap-suapan kue antara kedua mempelai pengantin membuat Cakka semakin menggenggam erat gelas sparkling wine-nya. Melihat kemesraan mereka rasa-rasanya Cakka ingin berteriak pada mempelai pria saat itu juga ‘seharusnya gue yang ada di posisi lo!’ tapi Cakka mengurungkan niatnya. Itu memalukan dirinya sebagai lelaki.
Namun, saat sang MC mengatakan sebentar lagi akan ada wedding kiss membuat Cakka tidak tahan lagi berada di ruangan itu. Ia menghempaskan gelas secara kasar di atas meja. Bahkan hempasannya terdengar di seluruh sudut ballroom. Membuat semua mata tertuju padanya yang sedang berjalan keluar dari ballroom itu.
THAT SHOULD BE ME!
Teringat kembali kejadian setahun yang lalu...

***

Suasana cafe itu terasa asing. Kedua manusia yang berada dipojok cafe sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Cakka sedang sibuk dengan laptonya sedangkan Shilla sibuk dengan pikirannya sendiri. Suara penyanyi cafe yang sedang melantunkan lagu swing menggema di seluruh sudut ruangan. Jemari sang gadis diketuk-ketukan di atas meja. Dengan sabar ia menunggu Cakka sampai menghentikan kesibukannya dengan laptopnya.
Lieve(*), pokoknya aku sudah siapkan semuanya. Wedding organizer kan kemarin udah bilang oke semua. Udah booking venue, udah pesan cincin, semuanya udah, kamu nggak usah pikirin apa-apa lagi, jadi bulan depan kita nikah semuanya sudah siap,” katanya sambil menghentikan aktivitasnya dengan laptopnya menatap gadis cantik dengan rambut lurus panjang menjuntai menutupi punggungnya.
Shilla tidak merespon. Ia terlihat gelisah dari tempat duduknya mempertimbangkan yang ada di dalam pikirannya. Cakka memperhatikan gadisnya itu. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dipikiran gadisnya itu.
Lieve, kamu kenapa?” tanyanya, “kayaknya dari tadi kelihatan gelisah.”
Shilla berusaha fokus dan menatap mata almond Cakka. Ia sudah memikirkan matang-matang dengan keputusannya. Sudah selama beberapa bulan belakangan ini. Dan sekarang saatnya mengutarakannya. Sebelum semuanya terlambat.
Shilla meraih tangan Cakka, menggengamnya erat. Kemudian menatapnya sedalam mungkin dengan tatapan penyesalan.
“Cakka...” Shilla menghela napasnya, “ada yang aku mau omongin sama kamu, tapi kamu tenang aja dulu ya, dengar aku sampai selesai dulu baru kamu ngomong ya. Aku cuma minta satu kali ini aja, kan selama ini aku selalu dengarin kamu. Kali ini kamu dengarin aku dulu ya,” kata Shilla.
Cakka membalas tatapan Shilla dengan tatapan tajamnya. Pandangannya menyimpan pertanyaan. Tapi ia memberikan kesempatan Shilla untuk melanjutkan perkataannya.
“Makasih banget Kka, karena selama ini kamu sudah repot-repot mengurus pernikahan kita. Tanpa aku ikut campur sedikitpun. Tapi kamu nggak pernah tahu kan betapa aku sebagai perempuan ingin ikut ambil andil dalam pernikahanku nanti. Betapa aku ingin banget merancang gaun pernikahanku sendiri. Bukan sepenuhnya kerjaan desainer,” kata Shilla.
“Lho? Kenapa kamu baru bilang sekarang?” tanya Cakka.
“Kamu nggak pernah kasih kesempatan aku Kka. Selama ini aku selalu sabar Kka. Kamu mau atur hidup aku bagaimana pun aku terima. Bahkan saat kamu terlalu overprotective sama aku. Selama pacaran sampai tunangan sama kamu, dengan perhatian kamu yang berlebihan itu aku bukannya merasa spesial tapi, aku malah lebih merasa seperti bayi yang dikekang dalam box. Aku nggak bisa gerak sama sekali. Kamu larang aku hang-out sama teman-teman aku. Kamu suruh aku berhenti jadi model padahal kamu tahu kan itu seperti sebagian dari nyawaku. Tapi semuanya aku ikutin karena aku cinta sama kamu Kka. Selama tiga tahun kita pacaran, aku berusaha bertahan karena cinta. Tapi... aku sadar aku cinta sama kamu aja itu nggak cukup. Karena setiap hubungan butuh kepercayaan. Dan dengan kamu tidak mempercayakan aku buat ngurus pernikahan kita. Aku jadi mikir dua kali untuk melanjutkan hubungan kita ke jenjang pernikahan,” kata Shilla.
Cakka tersentak. Matanya yang tajam menatap Shilla semakin tajam lagi, “maksudnya?” tanya Cakka mencoba mencari kejelasan dari pernyataan Shilla tadi.
“Aku mau batalin pernikahan kita,” kata Shilla.
WAT(**)?” mata Cakka tiba-tiba melotot mendengar perkataan Shilla barusan ia segera melepaskan genggaman tangan Shilla dari tangannya.
“Maafin aku Kka, tapi aku nggak tahan aja dengan kelakuan kamu yang kayak gini,” kata Shilla.
“Shilla, tapi pernikahan kita tinggal satu bulan kamu nggak bisa ngebatalin gitu aja, ini nggak cuma urusan kamu sama aku tapi dua keluarga kita,” kata Cakka.
“Aku tahu kok Kka, aku sudah memikirkannya. Aku yang bakalan tanggung jawab atas semua kerugiannya. Aku yang bakalan ganti uang yang telah keluar untuk pernikahan kita pokoknya semuanya,” kata Shilla.
“Tapi Shil―,”
“Keputusan aku sudah bulat Kka, maafin aku. Aku nggak bisa melanjutkannya. Terima kasih Kka, gara-gara kamu aku jadi menyadari bahwa cinta aja nggak cukup untuk bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan,” kata Shilla kemudian berdiri dari tempatnya menyampirkan tasnya ke bahunya.
Berjalan mendekati Cakka lalu memberikan ciuman perpisahan pada Cakka di dahinya sebelum pergi meninggalkan Cakka, “good bye,” katanya sebelum keluar dari cafe tersebut.
Cakka menghela napasnya menatap Shilla yang semakin menjauh. Ini benar-benar awkward. Bagaimana mungkin pernikahannya yang tinggal sebulan lagi tiba-tiba saja batal? Dan tunangannya meninggalkannya di cafe begitu saja?

***

Cakka menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di apartemennya. Ia menyalakan sebatang rokok yang ia ambil dari dalam sakunya. Ingin menetralisir pikirannya. Menghempaskan segala kekesalan yang ada di dalam hatinya.
Pintu apartemennya berderit, sebelum seseorang masuk ke dalam. Alvin berjalan mendekati Cakka dan duduk di sofa tak jauh dari tempat Cakka duduk.
“Ngapain lo buat keributan dipestanya Shilla sama Gabriel? Lo childish banget tahu nggak kalau begitu,” kata Alvin.
Cakka menghembuskan asap rokok ke udara, “gue cuma nggak tahan berada di situ, lagi pula gue cuma banting gelas, emang ngefek begitu?”
“Ngefek banget Kka, lo nggak tahu semua mata tertuju pada lo saat lo keluar dari ballroom,” kata Alvin.
“Lo cuma nggak tahu gimana rasanya jadi gue. Lo nggak tahu kan tekanan yang gue dapat sekarang? Papa nyuruh gue cepat-cepat nikah gara-gara lo udah nikah duluan sedangkan gue sampai dua puluh delapan tahun gue belum nikah,” kata Cakka.
I know,” kata Alvin.
“Gue capek sama yang namanya cinta kalau ujung-ujungnya gue cuma merasa kayak banci seperti ini! Gue merasa kayak cewek-cewek lebay di sinetron yang sering Mama nonton tahu nggak! Gue nggak mau percaya sama yang namanya cinta lagi! Bullshit,” kata Cakka kemudian melempar rokoknya ke dalam asbak di atas meja dan beranjak dari situ.
Alvin menatap saudara kembarnya itu. Terkadang ia sendiri hopeless dengan saudara kembarnya itu. Seharusnya dia sadar kalau sifatnya yang membuat Shilla membatalkan pernikahan mereka dulu. Bukannya malah menyalahkan cinta seperti itu.
Cakka memutar pintu kamarnya. Sebelum ia benar-benar masuk ke dalam ia menatap Alvin kembali.
“Lo pulang aja deh, isteri dan anak lo kayaknya lebih membutuhkan lo. Gue nggak apa-apa lo nggak usah khawatir berlebihan kayak gitu. Dan makasih gara-gara sumpah lo waktu di Keong Mas waktu itu, gue benar-benar ditinggal Shilla, ik ben in orde(***),” kata Cakka kemudian masuk ke dalam dan membanting pintu kamar kencang-kencang.
Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya. Cakka masih ingat candaannya waktu itu? Asli, itu bukan sumpah. Itu hanya joke ceplas-ceplos darinya. Ia tidak bermaksud menyumpahi Cakka agar Shilla meninggalkannya.

***
(*) Sayang
(**) Apa?
(***) Aku baik-baik aja

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...