Jumat, 10 Februari 2012

Something Like Fate (One Shoot)

Something Like Fate
“Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu.” – Autumn in paris

A
ku menutup sebuah novel indonesia Autumn in Paris yang baru selesai ku baca, seulas senyum terkembang dibibirku, tiba-tiba mataku terasa hangat, dan tanpa sadar sebuah cairan bening mengalir dipipiku. Bukan, ini bukan karena jalan ceritanya itu, melainkan kutipan kata-kata di epilog novel itu. Pembicaraan melalui e-mail antara Fujisawa Tatsuya dan Sebastien Giraudeau. Kata-kata itu sangat menyentuh hatiku, membuat aku harus kembali memutar memori belakang otakku, mengenang sebuah kisah yang sampai saat ini masih terekam jelas diotakku meski telah 3 tahun berlalu.

***

Cakka Kawekas Nuraga, 22 tahun, lumpuh, amnesia. Aku berjalan melangkahkan kakiku menyusuri koridor rumah sakit baru tempatku bekerja, ini pengalaman pertamaku menjadi seorang perawat setelah lulus dari akademi perawatan. Aku harap ini menjadi hari pertama yang menyenangkan. Ah, tadi aku baru saja membaca sebuah kertas yang ada ditanganku, itu data singkat pasien yang akan aku rawat. Sebelumnya, aku sudah berbincang-bincang dengan kepala rumah sakit ini. Dia menceritakan tentang pasien yang akan aku rawat itu. Dia korban kecelakaan mobil sebulan yang lalu. Mobil yang ditumpanginya bersama kedua orang tuanya di tabrak oleh sebuah truk. Akibatnya kedua orang tuanya meninggal, hanya dia yang selamat. Tapi, akibatnya dia hilang ingatan dan lumpuh. Parahnya lagi, dia adalah satu-satunya pewaris tunggal harta kekayaan milik orang tuanya. Jadinya, dia diminta pihak keluarganya untuk dirawat di rumah sakit ini sampai dia benar-benar sembuh dan bisa menjadi ahli waris. Nasib lelaki yang akan kurawat ini benar-benar seperti di sinetron-sinetron, mudah-mudahan saja tak ada peran antagonis seperti pihak keluarga yang dengan sengaja membiarkan dia dirawat disini agar bisa menikmati harta kekayaannya. Lagi-lagi aku mulai berfantasi dengan pikiranku sendiri, sampai sebuah suara mengagetkanku.

“Oik, kau tak apa? Apa kamu nervous?,” Tanya Sivia, seorang teman perawat yang baru kukenal beberapa menit yang lalu. Dia yang akan mengantarkanku ke tempat Cakka, pasienku itu.
Aku menggeleng ragu, Sivia tampak memperhatikan wajahku.

“Santai saja, akupun begitu saat pertama kali menghadapi pasien,” Katanya dengan senyum, sambil mengusap punggungku.

Aku mengangguk membalas senyumannya. Selain berfantasi, sebenarnya kalau boleh jujur aku benar-benar nervous menghadapi pasien pertamaku. Kami terus melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit, sampai kami tiba di depan pintu sebuah kamar VIP. Sivia berhenti, aku juga ikut berhenti. Dia membalikan badannya kearahku.

“Kau siap?,” Tanyanya.

Aku menghela nafas panjang, mencoba merelaksasi pikiranku dengan mata terpejam selama beberapa detik kemudian mengangguk.

“Ya, aku siap,” Kataku tegas.

“Baiklah, ini kamarnya, masuklah… kau bisa masuk sendiri kan? Aku masih punya tugas lain, ini daftar tugasmu selama kau jadi perawatnya,” Kata Sivia sambil menyerahkan sebuah map kepadaku. Aku segera mengambilnya.

“Iya, terima kasih,”

“Sama-sama, selamat bertugas,” Katanya menepuk pundakku kemudian berlalu dari hadapanku.

Aku menatap pintu kamar VIP rumah sakit ini, yang ada dihadapanku saat ini. Pintu kayu, catnya berwarna coklat dengan gagang pintu berwarna gold seakan menantangku untuk masuk kedalam. Perlahan akupun memutar gagang pintunya, menggeser, setelah punya sedikit ruang untuk tubuhku menyusup kedalam aku segera membuang langkahku dan menggerakkan tubuhku untuk menyusup melalui ruang kecil itu. Setelah tubuhku berada didalam kamar, aku dengan segera menutup pintunya kembali.
Ku lepaskan pandanganku menyusuri ruang tempat aku berdiri saat ini. Ini tidak terlihat seperti kamar rumah sakit, jika saja ruangan ini tanpa ‘bau khas rumah sakit’ dan ranjang tempat tidur pasien diganti dengan masterbed pasti terlihat seperti suite room hotel-hotel berbintang lima. Akupun melangkah mendekati ranjang, diatas terbaring seorang pria dengan pakaian khas pasien rumah sakit ini. Langkahku semakin dekat dengan ranjang tempat tidur pasienku itu. Ketika tepat berada disamping ranjang, ku tatap wajahnya lekat dan akupun terpekik. Oh My God!! Wajahnya tampak seperti dewa yunani. Alisnya yang membentuk sempurna, kelopak matanya tertutup dengan garis mata yang kentara, hidungnya yang mancung, bibirnya yang berbentuk dan membelah dibagian bawah, wajahnya oval agak berisi. Aku menggigit bibirku, tampang lelaki ini sangat menggoda iman. Ah, jangan sampai aku seperti tokoh Novi dalam novel here, after yang akhirnya jatuh cinta pada pasien gilanya dengan ending kisah yang tragis dimana pasiennya itu malah mati dan membunuh kepala rumah sakit tempatnya bekerja.

“Oke, Oik… berhenti berfantasi lagi, positive thinking please! Kamu disini untuk kerja, jangan selalu membayangkan adegan novel yang sering kamu baca… hupfh,” Aku berbisik pelan seolah menyugesti diriku sendiri mengendalikan detak jantungku yang entah kenapa berdebar kencang. Akupun segera membaca daftar tugas yang harus ku kerjakan selama menjadi perawat lelaki ini.

Sedikit tentang diriku, Namaku Oik Cahya Ramadlani cukup panggil aku Oik. Aku baru saja lulus dari akademi perawatan, dan tugas pertamaku menjadi perawat seorang lelaki bernama Cakka. Karena tugas pertama, jadi aku memang hanya merawat satu pasien dulu. Aku seorang booklovers terutama novel-novel romance. Aku suka karya-karya satra lama seperti Jane Austen (Pride and Prejudice), William Shakespeare (Romeo and Juliet), Vladimir Nabokov (Lolita) tapi, tetap juga suka dengan karya-karya sastra modern seperti Nicholas Sparks (The Notebook), Stephanie Meyer (Twilight all series) dan masih banyak lagi novel-novel luar yang kusukai. Di indonesia banyak karya juga yang kusukai, banyak meremehkan tulisan penulis-penulis dalam negeri karena ‘katanya’ tidak bermutu. Tapi menurut aku, banyak tulisan anak-anak bangsa tak kalah bagusnya. Yah, memang ada sebagian yang tidak memenuhi standar. Dan faktanya yang meremehkan tulisan-tulisan anak-anak bangsa itu orang indonesia sendiri, tapi tak dapat dipungkiri juga kan mereka ingin menjadi penulis juga. Bukankah karya kalian juga akan menjadi karya anak bangsa?
Aku melihat daftar kerjaanku selama aku menjadi perawatnya. Begitu banyak, mulai dari membawa sarapan untuknya, memastikan dia minum obat teratur, membawanya untuk terapi, memastikan dia beristirahat dengan cukup, menemaninya selama yang dia mau, dan lain sebagainya. Yak, pekerjaan pertama yang sepertinya akan membuat aku  menghabiskan waktu bersama lelaki ini. Hupfh.

Lelaki ini, sedikit melakukan gerakan. Kemudian terdengar desahan, tak lama kemudian sepasang kelopak mata itu terbuka, mata berbentuk almond dan berwarna kelabu itu menatapku dengan tatapan aneh. Aku mengerti  tatapannya segera memperkenalkan diri.

“Selamat siang, aku Oik… perawat kamu yang baru,” Ucapku.

Matanya memandangiku dari ujung kepala sampai keujung kaki. Kemudian bergumam acuh tak acuh. “Oh,”

Okay Cakka, this is my first job, please be nice, dan jam sudah menunjukan pukul dua belas siang, saatnya makan siang,

“Dari mana kau tahu namaku Cakka?,” Tanyanya dengan mengangkat alis sebelahnya.

“Dari data pasien namamu Cakka Kawekas Nuraga,” Jawabku.

“Aku heran kenapa orang-orang tahu namaku Cakka, padahal aku saja tidak tahu siapa namaku, ckck,” Dia menggeleng frustasi.

“Tak penting, yang penting menjaga kesehatanmu dulu sekarang, waktunya makan siang, kamu harus makan karena sebentar lagi minum obat, aku mau menghubungi bagian kitchen rumah sakit kenapa belum membawakanmu makanan padahal ini sudah saatnya makan siang,” Kataku sambil melangkah sebuah meja kecil, diatasnya terdapat sebuah telepon, Aku segera mengangkat gagang telepon tersebut. Namun, sebelum aku memencet tombol telepon tersebut…

“Tak perlu, aku tak biasa makan makanan kitchen rumah sakit ini, tak ada yang enak, aku biasa makan diluar atau tidak dibawakan makanan dari luar,” Katanya.

Aku mengernyitkan dahi lalu menatap Cakka sambil menutup kembali gagang telepon, mana bisa pasien dengan seenaknya makan diluar? Peraturan dari mana itu? Bagaimana kalau diluar sana makanannya tidak higienis? Itu tanggung jawab dokter dan perawat yang merawat pasien itu bukan?

“Mana bi-----,” Sebelum aku melanjutkan kata-kataku telepon berdering. Akupun mengangkat gagang telepon dan mendengar suara kepala rumah sakit diujung sana.

“...Oik, tadi aku lupa memberitahu kamu…,”

“...Soal apa bu?...,”

“…Soal Cakka, gini kalau kamu mau bawa dia makan jangan makanan dari kitchen rumah sakit, dia tak akan suka, kamu tanya sama dia aja, dia mau makan diluar atau mau kamu yang belikan makanan…,”

“…Lho? Kok bisa gitu bu? Bukannya pasien harus makan makanan yang disediakan rumah sakit ? takutnya kalau diluar malah membahayakan pasien,”

“…Kalau Cakka tidak apa-apa Oik, lagi pula restoran yang kamu dan Cakka akan pergi ataupun yang kamu pergi untuk membeli makanan buat Cakka itu restoran milik keluarga Cakka jadi terjamin buat Cakka, Coba deh Oik kamu tanyakan dia mau makan diluar atau kamu belikan makanannya, supaya ibu bisa siap-siap menghubungi sopir pribadinya…,”

“…Baik bu, tunggu sebentar…,”

Aku menutup gagang telepon bagian bawah dengan tanganku, supaya suaraku tak menggema ditelinga kepala rumah sakit.

“Cakka, kamu mau makan siang diluar atau mau aku bawakan kemari?,” Tanyaku.

“Diluar aja, sudah lama aku tidak keluar dari kamar ini,” Katanya dengan pandangan mata lurus tanpa menoleh kearahku.

Akupun dengan segera membuka kembali gagang bagian bawah.

“…Bu, kata Cakka dia mau makan diluar…,”

“…Kalau begitu, kamu dan Cakka siap-siap, aku telepon supirnya dulu…,”

“…Baik bu…,” Telepon pun berakhir.

Akupun segera melangkahkan kakiku mengambil kursi roda yang tak jauh dari situ kemudian mendorongnya mendekat ke ranjang Cakka.

“Ayo siap-siap,” Kataku mengulurkan tanganku, dia menyambutnya lalu mengangkat kepala dan badannya, seketika dia dalam posisi duduk, namun kakinya tak dapat digerakan. Aku segera memegang kedua kakinya, mengangkat untuk menggerakannya keluar dari ranjang. Kakinya kini terjuntai kebawah. Aku segera memapahnya, tangan kanannya kuambil melingkari pundak dan leherku. Aku berusaha sekuat tenaga memindahkan Cakka dari ranjang ke kursi roda. Hampir berhasil, kini Cakka tinggal menjatuhkan bokongnya ketempat duduk kursi roda. Kedua tangannya kini melingkari leherku berusaha bertumpu pada leherku. Tapi, Cakka cukup berat sehingga akupun hampir terikut dengannya, hidungku dengan hidungnya terasa bersentuhan. Oh My God!! Dari posisi ini wajah Cakka yang seperti Dewa Yunani tampak jelas sekali dipandangan mataku. Aroma tubuhnya, Calvin Klein Euphoria tercium jelas membuat bulu kudukku merinding dalam posisi seperti ini. Akhirnya, Cakka bisa duduk sempurna dan membuatku bernapas lega, untuk tidak larut dalam pesonanya.

Thanks,” Ucapnya.

That’s my job,” Kataku berusaha biasa saja dihadapan Cakka.

“Apapun. By the way, boleh minta tolong ambilkan baju dan celanaku di lemari?,”

Akupun melirik sebuah lemari  yang ada disudut ruangan tersebut, dengan segera melangkahkan kakiku menuju lemari dan membukanya. Banyak sekali pakaian disini, pakaian lelaki tentu saja dan hampir semua ber-merk Calvin Klein. Wow, Cakka suka mengoleksi Calvin Klein? Dari parfum sampai pakaianpun semua Calvin Klein. Aku mengambil sebuah kaos berwarna kelabu sama seperti warna matanya Cakka dan sebuah celana kain yang agak gombrang 3/4 berwarna hitam, awalnya aku ingin mengambil skinny jeans tapi aku ingat dengan kondisi Cakka yang tidak memungkin jadi aku mengambil yang lain. Dengan segera aku menyerahkan pakaian itu kepada Cakka. Lalu berdiri agak jauh dari Cakka. Aku melihat Cakka satu per satu melepaskan kancingnya, namun dia terhenti ketika menyadari….

“Kenapa kamu masih berdiri di situ? Mau lihat aku ganti baju yah?,” Katanya dengan senyum diujung bibirnya dan alisnya yang diangkat setengah.

Aku terpekik mengutuki diriku sendiri, bodoh…bodoh…bodoh, kenapa aku tidak langsung keluar tadi? Malah dengan tololnya berdiri mematung ketika Cakka melepaskan kancingnya satu per satu.

“Eh… itu… hmm… anu, kau tak butuh bantuan?,” Tanyaku.

“Oh, kau ingin membantuku berganti pakaian?,” Katanya masih dengan ekspresi yang sama.

Ah… aku bodoh lagi kan? Salah bicara. Hupfh. Aku segera meralat perkataanku.

“Eh… itu, bukan begitu, maksudku kau bisa sendiri? Apa perlu aku panggilkan orang untukmu berganti pakaian?,”

“Owh, tak perlu, aku bisa sendiri thanks,” Katanya wajahnya berubah acuh tak acuh lagi.

Aku kemudian cepat-cepat membuka pintu dan keluar sebelum aku salah bicara lagi.

***

Aku mendorong kursi roda Cakka menyusuri koridor rumah sakit. Tadi aku mendapat telepon dari kepala rumah sakit kalau mobil yang akan mengantar kami telah siap dan menunggu didepan rumah sakit. Sekitar beberapa menit kemudian, aku dan Cakka tiba didepan rumah sakit. Kualihkan pandanganku mencari mobil yang akan mengantarkan kami itu. Tiba-tiba, sebuah Toyota Crown berhenti didepan kami, kacanya diturunkan sehingga terbuka. Seorang lelaki paruh baya berada dikemudi mobil tersebut.

“Sus, bawa naik tuan muda,” Katanya.

Barulah aku sadar kalau ini adalah mobil Cakka. Aku terpekik lagi, Toyota Crown? Bukankah ini mobil-mobil milik pejabat negeri? Aku jadi ingat novel here, after lagi pada kisah Ridzal yang rela membelikan selingkuhannya Diana mobil ini. Owh.
Supir itu turun dan kemudian membantuku membopong Cakka masuk kedalam mobil. Dia duduk didepan sementara aku dibelakang. Supirnya Cakka melipat kursi roda milik Cakka dan memasukannya kedalam bagasi. Tak beberapa saat kemudian mobil yang kami tumpangi ini melaju menyusuri jalan ibukota. Aku tak tahu tujuan kami ini, hanya mengikuti saja.

“Pak, tolong pinggirkan sebentar mobilnya, kita pergi kesana sebentar,” Kata Cakka sambil menunjuk sebuah butik pakaian ‘ladies only’.

Supir itu keningnya berkerut, seakan heran kenapa Cakka memintanya untuk singgah ditempat seperti itu, tapi ia tak mampu mengelak permintaan tuannya itu. Akupun bingung untuk apa kita singgah ditempat ini? Apa Cakka ingin bertemu dengan pacarnya yah direstoran dan ingin membelikan hadiah untuk pacarnya? Namun, untuk sesaat aku berpikir lagi ternyata aku juga amnesia, aku lupa kalau Cakka amnesia mana ada yang dia ingat. Hupfh.
Kamipun tiba di butik yang ditunjuk Cakka. Supir itu segera turun dan membukakan pintu untuk Cakka, namun…

“Aku tak usah turun, bapak saja dengan suster yang turun,” Katanya membuatku heran, dan dia masih melanjutkan kata-katanya. “Oik… hm, tak apa kan manggil kamu dengan nama tidak usah pakai embel-embel suster?”

“Iya, tak apa-apa kok… hm, by the way untuk apa aku juga turun?”

“Ganti baju kamu, tak enak melihat kamu masih berpakaian perawat diluar rumah sakit,” Katanya.

Aku kaget. Apa maksud Cakka? Mengganti pakaian kerjaku dengan membeli pakaian yang baru di butik ini? Ini sudah gila!

“Tapi, Cakk---,” Kata-kataku terhenti.

“Tak ada alasan,” Katanya dengan tatapan nanar terlihat dari kaca spion yang terletak dibagian middle depan mobil. Aku menelan ludah dan meng-iya-kan kata-kata Cakka lalu segera turun mengikuti supir Cakka.

Didalam banyak sekali pakaian-pakaian wanita dengan badget yang tidak sedikit tentunya harga-harga disini sangat mahal. Aku enggan membeli disini, terlalu mahal. Tapi, pak supir memintaku untuk menuruti kemauan Cakka. Akhirnya akupun mengambil sebuah kemeja katun baby blue kulihat brand diatas keraknya Giordano, kuharap ini tak semahal yang lain. Lalu mengambil skinny jeans berwarna tan. Tak berlama-lama aku segera meluncur ke kasir, disana pak supir telah menunggu. Setelah membayar –dibayar oleh supir Cakka–, aku segera menuju kamar ganti kemudian menggantinya lalu bergegas keluar dan kembali ke mobil. Mobilpun melaju meninggalkan butik itu.
Hupfh, ternyata pasienku ini tak hanya lumpuh dan amnesia ternyata dia juga gila! Ya Tuhan, semoga aku tahan menghadapi pasienku yang satu ini.

***

‘C~Restofoods’ itu yang kubaca digerbang sebelum masuk kedalam restoran ini. Restoran dengan arsitektur ke-Indonesia-an. Dengan ornamen-ornamen khas Yogyakarta, dan kain batik sebagai gordeng tiap jendela  restoran serta tumbuhan tropis yang tumbuh dipekarangan restoran. Namun, nuansa modern nan klasik juga kental didalamnya dengan adanya dua pencakar langit berdiri kokoh dibagian depan restoran dan pintu gerbang yang terbuka lebar bak kerajaan-kerajaan dieropa. Aku turun dari mobil, pak supir mengambil kursi roda Cakka yang berada dibagasi kemudian meletakannya dibagian depan mobil tempat Cakka turun. Aku segera membuka pintu mobil, pak supir membantuku menurunkan Cakka dari mobil. Ini tak sesulit tadi, jadi Cakka dengan cepat sudah berada diatas kursi roda. Kudorong kursi roda memasuki restoran itu. Kami disambut baik oleh pelayan-pelayan di restoran itu, ya mungkin karena Cakka pemilik restoran itu. Tiba disitu kami segera duduk dan pelayan langsung membawakan makanan tanpa kami pesan, sepertinya mereka sudah tahu dengan selera Cakka. Kamipun mulai makan siang.

“Cakka,” Seseorang mendekat kearah meja kami yang sedang makan.

Cakka menoleh, akupun menoleh kearah sumber suara tersebut, pria kira-kira berumur 40-an berdiri mengenakan kemeja blue pale dan setelan jas berwarna grey.

“Pak Dharma,” Ucap pak supir.

Cakka malah acuh tak acuh menanggapi pria itu. Aku menatap kearah supir Cakka seolah meminta penjelasan siapa-pria-ini?

“Oh ya, pak Dharma, kenalkan ini perawat Cakka, suster ini pamannya Cakka yang mengelolah restoran ini untuk sementara waktu,” Katanya memperkenalkan kepadaku. Aku menyalami tangan pak Dharma yang tampak heran melihatku, perawat tapi tak memakai baju kerjaku.

“Hm, maaf ya pak, saya pakaiannya kurang sopan yah? Soalnya tadi Cakka suruh saya ganti baju jangan pakai baju perawat,” Kataku menjelaskan.

“Iya pak, tuan muda yang menyuruh,” Sambung pak Supir.

“Kalau aku yang menyuruh memang kenapa?,” Tanya Cakka sambil berhenti mengunyah.

“Oh tak apa Cakka, om cuma heran saja, kalau kamu yang suruh ya tak apa, it’s okay, sus tolong jaga ponakan saya dengan baik sampai dia sembuh yah,” Katanya.

“Baik pak,” Jawabku.

***

Tap… tap… tap langkah kakiku terdengar menggema dikoridor rumah sakit. Aku harus bergegas menemui kepala rumah sakit yang dia memanggilku. Setelah membawa Cakka makan siang, memberinya obat dan mengajaknya tidur siang walaupun sangat sulit tapi akhirnya Cakka mau juga tidur dan sekarang sedang tertidur pulas. Sehingga, Aku bisa dengan leluasa pergi keruangan kepala rumah sakit. Aku tiba diruangan kepala rumah sakit, akupun memutar gagang pintunya sehingga pintu itu terbuka. Kemudian,  masuk kedalam. Didalam terlihat kepala rumah sakit sedang berada di mejanya dengan kacamata sambil membaca-baca sesuatu yang ada didalamnya. Dia terkaget dengan keberadaanku didalam ruangannya, barulah Aku menyadari kalau tadi aku tidak mengetuk pintunya. Aku lagi-lagi mengutuki diriku sendiri karena kebodohanku.

“Selamat sore bu… maaf tadi saya tidak ketuk pintu, maaf saya lancang,” Kataku sambil menundukan kepala, merasa bersalah.

Kepala rumah sakit tersenyum, dan berkata. “Ya sudah, tak apa lain kali jangan ulangi yah,”

“Iya bu, saya janji tidak akan mengulanginya lagi,”

“Baiklah silahkan duduk ada yang ingin aku bicarakan sama kamu tentang Cakka, apalagi sekarang kau telah bertemu dengannya,”

Akupun duduk didepan meja kepala rumah sakit dan siap mendengarkan apapun yang dikatakan kepala rumah sakit tentang Cakka.

“Pasti kau bertanya-tanya kenapa Cakka tidak dirawat di rumahnya saja? Kenapa Cakka tidak dirawat dirumahnya padahal lebih muda untuk mengingat masa lalunya disana,”

“Iya bu, memangnya kenapa?,”

“Jadi begini, Cakka itu setelah kecelakaan, pernah dibawa pulang kerumahnya, tapi disana tiap kali ditempat-tempat yang sepertinya punya kenangan dia malah sering kesakitan dibagian kepalanya sampai membuatnya pingsan, keluarganya yang lain khawatir, makanya dia dibawa kerumah sakit dulu, sampai dia siap untuk mengingat masa lalunya, dan sepertinya menurut perkembangan, Cakka sudah cukup siap untuk itu, kamu dapat pekerjaan ekstra lagi Ik,”

“Kerja ekstra?,”

“Iya Ik, nanti kamu harus membawa Cakka ketempat-tempat yang menurut keluarganya mungkin punya kenangan tersendiri, ini daftarnya,” Kata kepala rumah sakit sambil memberikanku secarik kertas. Aku mengambilnya dan membaca tulisan yang ada didalamnya, “Kamu bisa selipkan ini didaftar kegiatan?,”

“Baik bu, akan saya coba,”

“Oh ya Ik, usahakan mulai besok,”

“Baik bu,”

***

Aku dan Cakka sementara dalam perjalanan pulang setelah makan siang. Cakka lagi-lagi ingin makan diluar. Aku kemudian teringat akan sesuatu, pembicaraanku dengan kepala rumah sakit. Aku mengeluarkan secarik kertas didalam saku, kemudian membuka lipatan-lipatan kertas itu. Dan membaca sebuah tulisan dibaris pertama…
Cappucinno Café
Membaca itu,  Aku segera menyuruh pak supir menuju tempat itu. Cappucinno café. Tiba disana, sepertinya tidak memungkinkan keadaannya untuk kami turun. Aku membaca kembali tulisan yang ada dikertas itu, pada baris selanjutnya.
Taman Anggrek Buttersky
Tak berlama-lama aku segera menyuruh pak supir menuju tempat yang kusebutkan tadi. Mobil kamipun melaju menuju taman anggrek buttersky. Cakka tak banyak bertanya, sepertinya dia juga ingin berjalan-jalan, bayangkan saja Cakka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Tiba di taman anggrek, aku segera turun dengan bantuan pak supir, kami membantu Cakka turun. Setelah Cakka berada diatas kursi roda, aku dan Cakka masuk kedalam, sedangkan pak supir menunggu diluar.
Aku mendorong kursi roda Cakka, suasana dikanan dan kiri nampak begitu indah, dikelilingi dengan berbagai jenis anggrek. Ada anggrek kirana, anggrek permata, anggrek kipas, anggrek meteor, anggrek bintang dan masih banyak lagi. Aku memang suka dengan bunga anggrek tapi aku tidak terlalu kenal begitu banyak jenis-jenisnya. Aku sangat menikmati pemandangan disekitarku, Cakka juga terlihat menikmati. Namun kemudian dia terhenti, dia memandang kearah bunga anggrek yang lidah bunganya berwarna hitam dengan dikelilingi oleh kelopak bunga berwarna hijau pekat dan membuat bunga itu nampak eksotik.

Black orchid, Coelogyne Pandurata,” Kata Cakka seperti menguluarkan mantra, aku mengernyitkan dahi mendengar perkataan Cakka. Bingung, “Iya, nama anggrek ini black orchid  kalau dalam bahasa inggris, kalau dalam bahasa ilmiahnya coelogyne pandurata,” Jelas Cakka akhirnya.

Aku hanya bisa mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan Cakka. Sepertinya bunga ini begitu berkesan buat Cakka, sampai walaupun amnesia dia mengenal nama bunga ini.
Cukup lama kami berputar-putar ditaman anggrek ini, melihat berbagai macam anggrek yang menawan. Kamipun puas dan hendak pulang ke rumah sakit. Aku bisa melihat dari mata kelabu milik Cakka, kalau dia menyimpan sebuah kejanggalan, mungkin saja dia akan ketempat ini lagi nantinya?

***

Hari ini, adalah jadwal full Cakka untuk terapi berjalan. Jadi hari ini juga aku sudah mencegah Cakka untuk tak bisa keluar kemanapun. Aku juga sudah menyuruh pak supir membelikan makan pagi, siang, dan malam untuk Cakka dari restorannya. Pagi-pagi aku sudah membangunkan Cakka dan mendorong kursi rodanya menuju ruang terapi. Disana sudah ada seorang dokter dan seorang perawat, aku tahu perawat ini namanya, Ify. Dia yang menjadi perawat Cakka sebelum aku, namun entah kenapa dia berhenti merawat Cakka sehingga digantikan denganku. Dokter itu memberikan pengarahan untukku, bagaimana cara supaya terapinya berjalan lancar sehingga pasien cepat sembuh, dan lain sebagainya. Setelah cukup, dokter itu menyuruhku mempraktekannya dibantu oleh Ify. Akupun menuntun Cakka menuju sebuah track yang dibuat khusus untuk melatih pasien yang lumpuh, di track itu ada besi yang melintang tempat tumpuan. Aku dan Ifypun mulai melatih Cakka, selama beberapa jam sebelum akhirnya kami beristirahat dan akan kembali melanjutkan setelahnya.

Sudah beberapa minggu ini, Cakka mengikuti terapi. Dan sudah beberapa hari ini aku melatih Cakka sendiri tanpa bantuan dokter dan Ify. Kata dokter saatnya aku harus mempraktekan sendiri, dan mereka rasa sudah cukup ilmu yang mereka berikan untukku. Sesungguhnya ini sangat sulit, tapi demi profesionalitas pekerjaan aku harus melatih Cakka dengan maksimal. Cakka harus sembuh! Harus! Aku harus berhasil merawat pasienku yang pertama ini dengan baik. Apalagi melihat perkembangan yang cukup signifikan dari Cakka. Sekarang dia sudah bisa berdiri sendiri diatas besi yang melintang itu tanpa bantuanku dan sudah bisa menggerakan kakinya walau baru tiga-empat langkah.
Aku sedang mengawasi Cakka yang sedang mencoba berjalan lebih dari tiga-empat langkah. Dia terlihat berusaha sangat keras untuk itu.

“Oik, aku… mau … cepat … sembuh,” Ucap Cakka, kata-katanya terbata-bata, dia mencoba mengeluarkan energinya.

“Sudah Cakka, jangan bicara dulu nanti kamu---,” Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku. Aku melihat Cakka oleng. Dengan cepat aku menahan tubuh Cakka agar tidak jatuh kelantai. Namun sialnya, tubuh Cakka lebih berat dari padaku. Aku hilang keseimbangan juga dan ikut oleng bersama Cakka.
Bruuuuk…terdengar bunyi yang lumayan kuat ketika kami jatuh kelantai. Hm, bukan kami sih, tapi Cakka. Karena aku jatuh tepat diatas Cakka. Mata almond kelabu milik Cakka kini nampak semakin jelas. Deg--, Calvin klein euphoria tercium sangat jelas. Dadaku tiba-tiba sesak pada posisi seperti ini. Cakka terlihat mulai medekatkan kepalanya kearahku, mataku melotot tajam, namun entah kenapa aku tidak mau bergerak dari posisi ini sedikitpun.
2 sentimeter lagi…
You’ll be the prince and I’ll be the princess, It’s a love story baby just say yes
Ringtone handphoneku terdengar menggema, membuat kesadaranku pulih. Aku segera merogoh handphoneku dari dalam saku. Ternyata dari Sivia, aku segera menekan tombol hijau dihandphoneku itu.

“...Hallo, ada apa vi?...,”

“...Ik, tadi aku ketemu kepala rumah sakit, katanya supirnya Cakka sudah menunggu, saatnya makan siang, bu kepala suruh aku nelpon kamu…,”

Aku segera melihat jam tanganku. 12.00. Benar, saatnya Cakka makan siang.

“…Baiklah vi, aku akan segera membawa Cakka makan siang…,”

“…Eh, satu lagi Ik…,”

“…Apa?...,”

“…Kasihan Cakka, kamu berat tahu, betah amat sih diatas Cakka kayak gitu, Oh ya sori yang tadi aku ganggu kalian, kalau tidak kan kalian udah…… hihihihi, bye Oik…,”

Sivia segera memutuskan sambungannya. Sivia ada dimana sih? Kok dia bisa melihat adegan tadi? Aku segera mengedarkan pandanganku kesekeliling ruangan terapi ini. Tapi, tak ada Sivia. Aku sadar perkataan Sivia tadi, aku masih berada diatas Cakka. Huaaaa. Aku bergegas berdiri dan membantu Cakka berdiri juga. Menuntunnya ke kursi roda kemudian membawanya keluar dari ruangan itu dengan jantungku yang berdebar tak karuan.

***

Sudah tiga bulan berlalu. Akhirnya, Cakka sudah bisa berjalan kembali meski belum sempurna, dan masih agak pelan. Itu membuatku senang, akhirnya pasien pertamaku ini bisa berjalan lagi. Namun kemudian aku menyadari lagi, masih ada satu hal lagi selain ini yaitu mengembalikan ingatan Cakka. Aku sudah membawa Cakka ketempat-tempat yang ada didalam daftar yang diberikan kepala rumah sakit tempo hari. Memang setiap kali pulang dari tempat-tempat yang ada didaftar itu, Cakka terlihat seperti membawa pulang sesuatu dari tempat-tempat itu. Mungkinkah potongan-potongan ingatannya?.
Malam telah tiba, Aku dan Cakka segera kembali kekamar. Setelah seharian ini Cakka memintaku menemaninya berjalan keliling area rumah sakit. Kata Cakka sekalian melatih otot-otot kakinya agar kuat dan dia bisa berjalan dengan sempurna. Sungguh melelahkan mengitari area rumah sakit yang hampir mencapai 1 hektar ini. Hupfh.
Tiba dikamar, seperti malam-malam sebelumnya, aku membacakan Cakka sebuah novel. Ini terjadi dua bulan lalu ketika Cakka mengetahui kegemaranku yang suka membaca novel, Cakka jadi menyuruhku membacakan novel sebelum dia tidur bak seorang ibu yang mendongeng kepada anaknya. Aku segera mengambil novel yang tergeletak diatas kursi, sedangkan Cakka sudah bersiap-siap ditempat tidurnya. Dia terlihat excited mendengarkan kelanjutan kisah Noah Calhoun dan Allison Nelson, yeah one of my favorite books The Notebook by Nicholas Sparks.

“Kemarin sudah sampai dimana Kka?,” Tanyaku ingin mengetes seberapa ingatkah Cakka dengan kisah dalam novel ini.

“Sudah sampai di surat-surat Noah yang tak dibalas Allie, dan Noah memutuskan untuk berhenti menulis surat kepada Allie,”

Ternyata Cakka masih mengingatnya itu pertanda baik bukan dengan ingatannya?, “Oh, oke… kamu mau dengar kelanjutan kisahnya?,”

“Tentu saja, aku sangat penasaran dengan kisah cinta Noah dan Allie,”

Akupun segera membuka novel tersebut dan mulai membaca ditempat yang kubatasi dengan pembatas. Setelah lumayan lama membaca, mataku sudah mulai berat, bahkan novel yang kubaca ini pronounciationnya sudah tidak jelas lagi sepertinya –maklum novel ini memakai bahasa inggris.

“Ngantuk ya?,” Tanya Cakka.

Aku mengangguk sambil membuka mulutku lebar-lebar –menguap. Aku segera menelungkupkan kepalaku ditempat tidur Cakka, sementara posisiku masih duduk disebuah kursi disamping tempat tidur Cakka. Sungguh, mataku sudah tidak berkompromi lagi.

“Ya sudah tidur saja, besok baru kita lanjutkan.” Kata Cakka, kemudian aku merasakan sebuah sentuhan dikepalaku, sepertinya Cakka sedang membelai kepalaku. Dan ini terasa sangat nyaman, “Aku nyanyikan sebuah lagu yah biar kamu bisa tidur nyenyak,”

I'll be seeing you 
In every lovely summer's day; 
In every thing that's light and gay. 
I'll always think of you that way
.

I'll find you 
In the morning sun 
And when the night is new. 
I'll be looking at the moon, 
But I'll be seeing you
.

Sayup-sayup terdengar sebuah penggalan lagu mengalun.

***

Aku terbangun dari tidurku, sepertinya kesadaranku masih belum pulih sepenuhnya. Mataku masih terasa kabur, akupun mengedip-ngedipkan mataku. Rasa kantuk masih belum sepenuhnya pergi dariku. Aku mengedarkan pandanganku kearah jam dinding ternyata masih menunjukan pukul 05.00. Masih pagi ternyata, aku sebenarnya berniat untuk tidur lagi. Tapi… sepertinya ada yang ganjal. Apa yah? Aku mengedarkan pandanganku lagi. Melihat sebuah selimut menutupi tubuhku. Kemudian menghempaskan pandangan kesekitarku, kamar ini terasa tidak asing… ini seperti kamar… CAKKA. Aku segera berbalik kearah kiri. Kudapati, seorang lelaki yang tidur disampingku artinya aku tidur seranjang dengan lelaki ini, yang tak lain dan tak bukan adalah Cakka. Aku panik, apa yang kulakukan bersama Cakka semalam? Sampai bisa tidur seranjang seperti ini? Kuputar kepalaku, seingatku, aku hanya membacakan novel, setelah itu aku mengantuk dan tertidur tapi menelungkup disamping tempat tidurnya Cakka bukan diatas tempat tidur Cakka seperti ini. Aku segera menenangkan pikiranku, semoga bukan berita buruk dibalik selimut ini. Perlahan aku melihat kebalik selimut, untuk mengetahui apa yang terjadi dibalik selimut ini!
Hupfh, aku menarik nafas lega, untungnya bukan berita buruk. Aku masih berpakaian lengkap. Oke, mungkin aku terlalu banyak membaca novel metropop yang kebanyakan menampilkan hal-hal seperti ini. Pengaruh baby proposal yang baru kubaca kemarin pagi sebelum membawa Cakka makan pagi. Aku segera merubah  posisiku menjadi duduk namun masih tetap diatas tempat tidur Cakka. Cakka terlihat melakukan gerakan sebelum menoleh kearahku. Aku menatapnya seakan meminta penjelasan mengapa aku bisa berada diatas tempat tidurnya seperti ini?

“Tadi malam tuh kamu ketiduran disitu, aku takut pas bangun nanti badan kamu sakit, apalagi tidur dengan posisi seperti itu, makanya aku memindahkan kamu ke tempat tidurku, awalnya aku saja yang tidur disofa, namun mataku sudah berat juga, jadinya aku tidur aja disini… dan tenang aja, aku tak melakukan apa-apa sama kamu,” Kata Cakka seakan membaca pikiranku.

“Kamu? Mengangkat aku dari kursi kesini?,” Tanyaku seolah tak percaya, pasalnya kaki Cakka belum kuat betul.

“Iya, sudah tak usah khawatir, kakiku sudah kuat kok, nih liat aja,” Kata Cakka sambil menggerak-gerakan kakinya.

Akupun tersenyum dan mengangguk.

***

Aku membasuh wajahku diwastafel. Wajahku tampak sangat kusut ketika aku memandangi cermin yang ada dihadapanku. Cakka sedang keluar, katanya dia ingin berjalan-jalan sebentar tanpa ada aku dan tanpa ada yang mengawalinya. Aku awalnya tak memberinya izin, namun setelah kupikir-pikir siapa tahu dengan memberi Cakka ruang bebas sedikit padanya perlahan dia mungkin bisa mengumpulkan memori-memorinya kembali. Aku berbicara maksud Cakka kepada kepala rumah sakit, dan dia menyetujuinya. Well, karena kepala rumah sakit sudah memberinya izin, untuk apa aku harus menahannya?
Namun bukan itu masalahnya sekarang! Aku mulai merasa seperti Novi dalam novel here, after. Aku mencintai Cakka? Oh tidak! Ini hal bodoh, tapi kenapa bisa? Aku menutup mataku, flashback kejadian aku dari pertama kali melihat sosok dewa yunani yang terperangkap dalam sangkar emas, namun tak bisa melakukan apa-apa itu telah membuatnya terbuai dengan pesonanya. Ah! Aku mengatur nafasku. Kembali membasuh wajahku dengan air yang mengalir dari wastafel. Kuharap bayangan Cakka hilang dari pikiranku, namun entah kenapa bayangannya malah semakin pekat.

Sudah hampir 2 jam Cakka belum kembali, aku khawatir terjadi apa-apa pada Cakka, aku ingin segera menyusulnya. Namun, kuurungkan, aku harus percaya pada Cakka kalau dia bisa menjaga dirinya. Lagipula dia bukan seorang anak kecil yang harus dijaga dan diawasi selama 24 jam penuh kan?.
Creek….
Suara gagang pintu diputar, kualihkan pandanganku. Cakka masuk kedalam, hupfh, akhirnya dia datang juga. Tunggu-tunggu, dia terlihat begitu girang, senyumnya melengkung, mata kelabunya berbinar seperti baru selesai menang lotre. Dia segera menuju kearahku dan segera memelukku kencang sampai aku susah bernafas. Ada apa ini? Dia segera duduk disampingku, masihku lihat binar matanya.

“Ik, aku senang banget hari ini,” Katanya dengan semangat.

Aku mengernyitkan dahi seakan bertanya penyebab kesenangannya itu. Aku yakin Cakka bisa membaca ekspresiku.

“Aku tadi bertemu dengan seorang putri cantik tadi Ik,” Kata Cakka.

Deg---, jantungku. Sebuah rasa sakit dari dalam menghampiriku mendengar kata-kata Cakka.

“Tadi, waktu aku balik lagi ke taman anggrek buttersky, aku ketemu dia lagi melihat-lihat black orchid. Dia tahu banyak tentang bunga kesukaanku itu ternyata,” Kata Cakka dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya.

Aku berpura-pura ikut senang dan tersenyum, namun senyumanku terasa tawar.

***

“Acha,”

“Oik,”

Seorang gadis seumuranku, dia tampak modis dengan sweater berwarna baby pink, black skinny jeans, wedges devict blue denim dan dengan sebuah syal berwarna senada dengan sepatunya. Dia tersenyum padaku sejak tadi memperkenalkan namanya. Acha. Dia gadis yang dikatakan Cakka sebagai putri cantik. Hari ini Cakka mengajakku untuk berkenalan dan menemui Acha saat makan malam. Awalnya, aku tak mau ikut, namun karena bujukan Cakka, akupun luluh dan mengikuti kemauannya. Walaupun aku tahu ini akan menyakitiku. Pertemuan ini terjadi di cappuccino café, tempat pertama yang tak jadi kukunjungi dengan Cakka tempo hari, padahal café ini berada di list pertama. Kamipun makan malam di cappuccino café. Aku belum pernah melihat Cakka sebahagia ini berbicara dengan seseorang yang baru saja dia kenal.

Tadi malam cukup melelahkan, aku dan Cakka pulang jam 12 malam dari cappuccino café, Cakka terlihat begitu enjoy berbincang dengan Acha, mereka nampaknya lupa waktu, sampai aku seperti dijadikan obat nyamuk saja. Cakka terlihat masih kelelahan, makanya aku tak tega untuk membangunkannya pagi-pagi. Kuputuskan untuk membiarkan dia beristirahat, sedangkan aku ingin menemui Sivia. Namun, ditengah jalan tanganku ditarik oleh seseorang. Aku menoleh kearah orang yang menarikku itu.

“Acha,” Pekikku.

“Boleh kita bicara sebentar?,”

Aku memperhatikan dikanan dan kiri semua tampak sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Akupun mengangguk. Acha menarikku kesebuah bangku ditaman rumah sakit tak jauh dari situ. Kamipun duduk disitu.

“Oik, karena kamu perawat Cakka, I will tell you something about me and Cakka,” Kata Acha membuatku memalingkan wajahku kearahnya dan siap mendengarkan apa yang akan diceritakannya. Acha menarik nafasnya, “Cakka itu calon tunanganku, Cakka kecelakaan tepat seminggu sebelum kami bertunangan, sehingga semuanya gagal karena Cakka lumpuh dan amnesia,”

Aku kaget mendengar penuturan Acha ini, hatiku seperti ditusuk-tusuk seribu jarum, ketika mengetahui Cakka mempunya seorang calon tunangan. Tapi kenapa dia baru muncul sekarang? Kenapa disaat aku telah melewati hariku bersama Cakka dia baru hadir? Kenapa disaat aku sudah terlanjur memakai hati dia baru kelihatan?. Aku berusaha mencoba bertanya pada Acha tentang hal yang sedari tadi ada dipikiranku, “Trus kenapa kamu baru muncul? Kemana kamu saat Cakka membutuhkanmu?,”

“Aku sudah pernah menemui Cakka selama ini, ketika beberapa hari setelah kecelakaannya, namun hasilnya Cakka malah kesakitan dan pingsan ketika melihatku, setelah itu, aku dilarang menemui Cakka, katanya untuk menenangkan pikirannya sampai dia siap kembali dengan memori-memori lamanya,” Jelas Acha, dia kembali menghela nafas, “Sekarang setelah Cakka dapat berjalan, dan itu tak lepas dari usahamu, aku muncul kembali merasa Cakka sudah mulai siap menerimaku dalam memorinya, sekalian mau mengucapkan terima kasih sama kamu,” Kata Acha kemudian.

Never mind, That’s my job,” Aku berusaha biasa saja menghadapi keadaan seperti ini.

“Tapi, aku mohon, rahasiakan ini dulu dari Cakka, aku tak mau memaksakan dia untuk ingat sepenuhnya tentangku, tapi aku juga minta tolong sama kamu untuk tetap berusaha mengingatkan dia tentang kisah kita,”

***

Kemarin adalah hari terakhir aku membacakan novel The Notebook pada Cakka, kisah itu berakhir menyedihkan. Tapi perjuangan cinta tokoh-tokohnya luar biasa, membuat yang membacanya akan percaya dengan keajaiban cinta. Aku tidak akan bosan pernah membaca novel itu walau sudah berulang kali. Cakka memintaku membacakan sebuah novel lagi. Aku membuka tasku, didalamnya ada sebuah novel karya Susane Colasanti judulnya ‘Something like fate’. Aku hendak mengambilnya tapi tanganku tertahan mengingat perkataan Acha. aku juga minta tolong sama kamu untuk tetap berusaha mengingatkan dia tentang kisah kita. Sebuah ide terlintas dipikiranku mengambil buku tersebut kemudian membukanya.

Something like fate,” Kata Cakka membaca judul novel cover depan.

“Yeah,” Ucapku singkat.

Aku mulai membaca. Sebenarnya bukan membaca, aku mulai bercerita tentang semua yang diceritakan Acha tadi siang. Tadi siang, Acha sempat menceritakan beberapa kisahnya dengan Cakka, tentang bunga anggrek kesukaan Cakka black orchid tentang pertemuan mereka pertama kalinya. Tentang kisah mereka, dan membuatku menitikan airmataku, sesuatu dari dalam diriku berontak menolak menceritakan kisah itu. Tapi, sebagai seorang perawat aku harus bekerja secara profesional, merawat pasienku hingga sembuh, bukannya membuatnya semakin bertambah parah.

Hampir tiap malam kuceritakan ‘something like fate’ yang kukarang sendiri berdasarkan cerita Acha. Sosok Cakka ternyata romantis yah, aku sangat iri pada Acha mendapat perlakuan seperti yang Cakka lakukan padanya. Andai saja itu aku… Oke, aku mulai lagi dengan imajinasiku.
Sama seperti halnya waktu aku membacakannya The Notebook, Cakka juga begitu antusias mendengarkan cerita yang satu ini, namun nampaknya dia merasa seperti benar-benar masuk kedalam ceritanya.

Malam ini, Aku kembali membaca novel untuknya, namun Cakka memintaku untuk tidak pulang, dia ingin aku menemaninya sampai besok pagi. Aku menyetujuinya asalkan aku tidak kembali seranjang dengannya. Dia juga menyetujui persyaratanku. Karena lebih baik aku tidur menelungkup disamping Cakka, asalkan tidak mengulang untuk hal itu. Bukannya parno dengan novel-novel yang kubaca tapi… aku takut membuat perasaanku pada Cakka bertambah dalam. Aku tak tahu bagaimana aku jika suatu saat, sesuatu yang kutakutkan itu terjadi.

***

Aku terbangun dari tidurku, kali ini jam sudah menunjukan pukul 07.00, aku tertidur dengan posisi menelungkup disamping tempat tidur Cakka. Aku segera melangkahkan kakiku membuka gordeng kamarnya Cakka. Sinar matahari sudah masuk kedalam kamar ini. Saatnya Cakka untuk mandi dan makan pagi, semoga hari ini dia tidak terlambat lagi minum obat. Akupun membangunkannya, Cakka menampakkan gerakannya tapi…

“Siapa kamu?,” Tanya Cakka kaget melihatku seperti orang asing kemudian melanjutkan, “Dimana aku sekarang?,”

Oh Tuhan, cobaan apalagi ini? Kenapa Cakka malah tidak mengenaliku? Apa Cakka amnesia diatas amnesia?.

“Aku, perawat … yang merawat kamu dirumah sakit ini,” Kataku.

“Loh? Emangnya aku kenapa? Trus mana Acha? Tanggal berapa ini?,” Tanyanya terlihat panik sambil mengambil sebuah kalender yang tergeletak diatas meja dekat tempat tidur Cakka. Matanya melotot dan membulat, “Apaaaaa???! Seharusnya enam bulan lalu aku sudah bertunangan dengan Acha, dimana Acha sekarang?,”

Aku jadi bingung harus memulai dari mana menjawabnya. Sesuatu yang kusadari, ingatan Cakka sudah kembali. `Mungkinkah setelah ingatannya kembali, dia tidak akan mengingat kisah selama dia amnesia?

“Hei suster, aku bertanya padamu?,” Kata Cakka membuatku kembali ke alam nyata.

“Eh, hm kamu sakit jadi kamu dirawat disini,” Jawabku seadanya.

Cakka segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia melangkahkan kakinya menuju lemari dan tanpa mempedulikanku dia langsung membuka kemeja rumah sakit yang dipakainya, dadanya yang bidang membuatku hanya bisa menelan ludah . Dia segera menggantinya dengan T-shirt berwarna indigo, kemudian dia hendak menurunkan celananya.

Aku terpekik, “Eh, Cakka, jangan… aku… aku keluar dulu,” Kataku panik dan segera melangkahkan kakiku keluar dari ruangan itu. Jantungku sudah tak karuan, walaupun aku tahu pasti Cakka mengenakan boxer, tapi situasinya beda. Dia pribadi Cakka yang sebenarnya, bukan pribadi Cakka selama dia amnesia.
Kulangkahkan kakiku menuju ruangan kepala rumah sakit mengabarkan berita baik –mungkin buruk untukku– padanya. Mendengar ceritaku kapala rumah sakit segera menelepon keluarga Cakka.
Tak beberapa lama setelah kepala rumah sakit itu menelepon, muncul beberapa orang, itu sepertinya keluarga Cakka. Ada 4 orang, dan hanya Om Dharma yang kukenali, mungkin yang ada disamping Om Dharma itu isterinya. Kamipun berjalan menuju kamar Cakka dan menemukan Cakka sedang mengemas pakaiannya.

“Cakka, sudah tak usah dikemas, biarkan barang-barangmu disini, kamar ini tetap milikmu,” Kata Om Dharma.

Cakka meninggalkan apa yang dia kerjakan tadi kemudian mendekat ke arah Om Dharma.

“Om, apa sih yang terjadi sama Cakka? Trus ayah sama bunda mana? Acha?,” Tanya Cakka kepada Om Dharma.

“Kamu tenang dulu, kita pulang nanti om jelaskan dirumah,” Kata Om Dharma menenangkan Cakka, “Ayo,” Om Dharma segera merangkul Cakka dan berjalan keluar dari ruangan. Kami semuapun mengekor.
Tiba didepan pintu,
“Cakka…,” Suara teriakan seorang gadis, kami semua menoleh dan mendapati Acha. Dia segera berlari memeluk Cakka dan Cakkapun membalas pelukannya, mengecup keningnya…
Sreeeeet ---, hatiku seperti diiris melihat adegan dihadapanku ini.

“Aku kangen kamu,” Rengek Acha manja masih dalam pelukan Cakka.

“Aku juga kangen,”

Ini sudah membuat remuk jantungku. Aku menahan agar cairan bening tak mengalir dari pipiku.

“Ya sudah, syukurlah Cakka sudah mengingat semuanya lagi, ayo kita pulang,” Kata om yang satunya.

Sebelum pulang Om Dharma mendekat kearahku. “Makasih ya suster, suda merawat dan menjaga Cakka selama ini,”

“Sama-sama pak,” Jawabku.

Acha juga mendekat kearahku dan dia segera memelukku erat.

Thanks ya Ik, berkat kamu Cakka kembali lagi,”

Aku tersenyum kecut, Om Dharma sepertinya membisikan sesuatu pada Cakka, kemudian Cakka berjalan kearahku dan Acha.

“Terima kasih suster, walaupun aku tak tahu apa yang terjadi selama aku disini, tapi terima kasih untuk semuanya,” Kata Cakka, mata kelabunya yang sayu nampak teduh, menatap kearahku.
Cakka memanggilku suster? Jujur saja aku lebih nyaman apabila Cakka memanggilku dengan namaku bukan dengan panggilan suster seperti ini. Terasa asing.

“Iya, sama-sama… Cakka,” Kataku.

Mereka semua berlalu dari hadapanku yang hanya bisa terpatung menghadapi kenyataan ini.

***

Pasien pertamaku berhasil kurawat sampai dia sembuh, walaupun dengan ending sungguh mengenaskan untukku. Ini jadi terasa klise, jatuh cinta denga seorang pasien? Oh no! aku pikir cuma ada difiksi yang kubaca.
Cakka sudah bahagia, aku harus melanjutkan tugasku sebagai perawat, tapi sangat tidak bisa kalau dirumah sakit ini, kenanganku sangat banyak dengan Cakka. Akupun membuat permohonan pindah tugas, tapi belum ada jawaban sampai sekarang, aku ingin pergi sejauh mungkin dari sini. Meninggalkan segala sesuatu tentang Cakka.
Dan sementara menunggu persetujuan permohonan pindah tugasku, aku ditugaskan untuk merawat seorang anak lelaki kecil yang terkena penyakit leukimia. Membacakan dongeng untuknya tiap malam, mengingatkanku pada Cakka, dimana aku membacakan novel untuknya. Miris. Mungkin aku sebenarnya akan lebih sulit merawat anak kecil ini. Tapi, ternyata lebih sulit merawat Cakka, karena aku terlanjur bermain dengan perasaanku.

Sebuah undangan manis berwarna merah jambu tergeletak didepan pintu tumahku, ketika aku baru saja menyelesaikan tugas-tugasku untuk hari ini. Aku mengambilnya ingin mengetahui isi dalam undangan ini. Walaupun aku sudah tahu apa isinya, tapi aku berusaha tersenyum namun nyatanya tak bisa.
Ya, itu undangan pertunangan Cakka dan Acha. Aku harus mengelus dadaku untuk menguatkan diriku sendiri. Tak beberapa lama kemudian, handphoneku berdering. Sivia. Aku segera mengangkatnya.

“…Hallo vi…,”

“…Ik, udah dapet---…,”

“…Undangannya? Udah kok vi…,”

“…Kamu tak apa-apa kan Ik?...,”

Memang, hanya Sivia yang selama ini tahu tentang perasaanku pada Cakka.

“…Tak apa Vi…,”

“…Kamu mau pergi kesana?...,”

Aku tersenyum, walaupun aku tahu Sivia tak akan melihatnya, “…Pasti, selama dia bahagia, aku juga bahagia…,”

“…Sesederhana itu?...,”

“…Ya, tentu saja… sederhana…,”

***

Kini sudah 3 tahun berlalu semenjak saat itu. Aku memang datang ke pertunangannya Cakka dan Acha. Saat itu Cakka masih memanggilku dengan sebutan suster. Dia terlihat lepas, gelak tawanya juga terlihat bebas.
Jadi kuputuskan untuk benar-benar menghilang dari kehidupan Cakka. Permohonan pindah tugasku disetujui dan aku pindah ke rumah sakit dikawasan pinggiran kota. Sampai 5 bulan kemarin, aku kembali lagi ke Ibukota. Rasa itu akan selalu ada dihati. Aku memang berusaha membuang jauh Cakka, tapi terkadang aku masih berpikir tentang bagaimana Cakka sekarang? Mungkinkah dia telah menikah dengan Acha? Atau mungkin mereka sudah mempunyai anak-anak yang lucu-lucu? Entahlah, tapi setahuku Cakka bahagia disana.

“Oik… sudah banyak yang menunggumu, saatnya pers conference,” Kata editor novelku.
Akupun mengangguk. Menghapus sisa-sisa cairan bening yang telah mengering. Kemudian mengikuti langkahnya keluar dari tempat itu.

Something Like Fate. Itu judul novel yang kutulis. Cerita yang kuceritakan pada Cakka, kuputuskan untuk membukukannya. Luckily, diterima oleh penerbit dan langsung dijadikan novel. Dan entah keberuntungan apa yang ada padaku. Novelku menjadi best seller sampai berulang kali dicetak. Itu membuatku sibuk dan akhirnya harus mengambil keputusan. Memilih satu dari dua. Tetap menjadi perawat atau menjadi penulis? Karena kecintaanku pada sastra sejak dulu, aku memutuskan untuk menjadi penulis, dan itu terjadi 5 bulan lalu, artinya aku harus pindah kembali ke Ibukota.

Aku sangat kelelahan setelah pers confference dan memutuskan untuk bersantai sejenak disebuah café tak jauh dari tempat diadakannya pers confference tadi. Akupun melangkahkan kaki kearah pantry café.

“Mas, avocado juicenya satu,” Ucapku berbarengan dengan seorang lelaki. Aku menengok kesamping. Lelaki dengan pakaian casual, sweater v-neck, dengan kemeja didalamnya, serta celana skinny jeans berada disampingku. Dia juga menatap kearahku betapa kagetnya aku melihat mata almond kelabu dengan tatapan teduh itu lagi. Cakka. Mataku terbelalak kaget. Kenapa bisa bertemu dengan Cakka ditempat seperti ini?

“Oik… ini benarkan kamu Oik?,” Tanya Cakka. Sepertinya dia juga sama kagetnya denganku. Wait… wait Cakka mengenaliku? Bukan dengan panggilan suster?

“Oh, thanks God, aku mencari kamu kemana-mana,” Katanya yang membuatku semakin bingung.

“Kamu mengenaliku?,”

“Ya iyalah, siapa yang tidak mengenali Oik Cahya Ramadlani, seorang penulis novel yang lagi booming dan best seller,” Kata Cakka.

Aku mengutuki diriku sendiri yang sudah terlanjur GR. Ternyata Cakka mengenalku hanya sebatas itu?.

“Oh…,” Jawabku datar mengambil avocado juice yang diberikan pelayan café dan hendak melangkah…

“Dan juga suster yang merawatku, membacakan novel yang sama dengan novel best seller ini bahkan sebelum novel ini diterbitkan,” Katanya mengedipkan sebelah matanya, sambil mengangkat sebuah novel, itu novelku. “Suatu kehormatan menjadi orang pertama yang mengetahui kisah didalam novel ini,” Kata Cakka membuatku tidak jadi melangkah pergi. What? Cakka? Oh Tuhan kenapa begini?, “Boleh bicara sebentar?,” Lanjut Cakka.

Aku mengangguk, kami melangkah kesebuah meja yang tak jauh dari situ lalu duduk berhadapan.

“Kau… ingat?...,” Tanyaku gantung.

“Yeah, banyak yang kuingat, saat diruang terapi bahkan ekspresimu saat kaget bangun seranjang denganku,”

“Tapi bagaimana?,” Tanyaku gantung lagi.

“Ini terjadi 5 bulan lalu,” Cakka terlihat menarik nafas sebelum melanjutkan, “Aku sedang mengantar Shilla membeli novel yang katanya bagus, sebuah novel best seller dan ternyata itu novelmu, iseng-iseng kubaca. Kepalaku seperti memutar kembali adegan didalam novel ini, semakin cepat sampai aku tak sadarkan diri, setelah itu hal pertama yang kuingat adalah kau. Kata dokter ternyata aku belum pulih sepenuhnya dulu. Masih ada memori yang terhapus yaitu bersamamu, dan sekarang aku dinyatakan benar-benar pulih,” Kata Cakka.

“Tapi, Cakk---,”

“Kamu masih ragu? Ayo,” Cakka menarikku menuju Toyota Crown miliknya. Masuk kedalam dan melaju ke… Rumah sakit tempat aku dan Cakka pertama kali bertemu. Cakka membawaku kekamar VIP tempatnya dirawat dulu. Membawa ke banyak tempat yang mempunyai banyak kenangan tentang kami terutama diruang terapi. Mengelilingi kembali hampir 1 hektar luasnya. Bertemu Sivia lagi, ah sudah hampir 3 tahun juga aku tidak bertemu dengan Sivia. Bernostalgia. Setelah itu, aku dan Cakka pergi ketaman rumah sakit dan duduk disana.

“Kabarmu dan Acha bagaimana?,” Tanyaku hati-hati.

“Acha? Dia lebih memilih lelaki lain dari padaku,”

Aku mengernyitkan dahi, “Kok bisa?,” Tanyaku.

“Sudahlah, tak usah membahas soal itu,” Katanya kelihatannya dia begitu sensitif dengan hal ini, “Hm, yang aku sesalkan kenapa kamu baru muncul sekarang?,” Aku masih tidak mengerti apa yang Cakka bicarakan, dia melanjutkan, “Kemana kamu saat aku mencari cinta, kenapa kamu tak muncul juga saat itu,” Sungguh aku tidak mengerti dengan perkataan Cakka. Masih sulit dicerna oleh otakku saat ini, “Dan kenapa juga aku harus menyadari perasaan ini, setelah kupilih dia,” Oke Cakka sepertinya semakin ngawur. Dia kemudian memberikanku sebuah undangan berwarna broken white, menghela nafasnya, “kau pasti bingung. Ini mungkin bisa menjelaskanmu,”

Aku mengambil undangan itu, perasaanku sudah tidak enak semenjak melihat undangan itu, yap benar.

Cakka Kawekas Nuraga
&
Ashilla Zahrantiara
Undangan pernikahan Cakka dengan seseorang yang bernama Ashilla Zahrantiara, aku tersenyu miris.

“Ku tunggu kedatanganmu,”

***

Hari ini tepat hari pernikahan Cakka, aku melihat undangan itu tergeletak diatas meja ruang tamuku. Aku sungguh tak berniat datang, sudah cukup berpura-pura bahagia melihat Cakka dan Acha waktu itu. Aku tidak mau semakin terjebak dalam perasaanku pada Cakka.
Sehingga aku hanya berbaring ditempat tidurku sambil membaca novel sekaligus mendengarkan musik, dan sialnya kenapa lagu yang terputar adalah lagunya Taylor Swift, Speak now sih? Oh God!
You’ll be the prince and I’ll be the princess, It’s a love story baby just say yes
Suara ringtone ponselku berdering. Sivia. Aku segera mengangkatnya. Dia langsung berkata-kata tanpa memberi salam.

“…Ik, gawat…gawat…,”

“…Gawat apanya vi?...,”

“…Gawat, Cakka membatalkan pernikahannya, trus dia pergi begitu saja, sepertinya dia mau menemuimu, tapi di tengah jalan dia kecelakaan, dan kata dokter, Cakka amnesia lagi…,” Kata Sivia.

Aku sangat kaget sekali mendengar penuturan Sivia itu.

“…Vi, jangan main-main…,”

“…Beneran Ik, aku tidak main-main, kalau kamu tak percaya datang saja kerumah sakit sekarang Cakka lagi disini…,”

Tanpa banyak bicara aku segera memutuskan sambungan dan mengambil tasku, segera mencari taksi menuju rumah sakit.

Tap…tap…tap… langkah kakiku terdengar menggema disepanjang koridor rumah sakit. Aku tergesa-gesa. Tiba-tiba, seorang perawat dan sepertinya dia perawat yang menyambutku ketika aku baru akan bekerja disini.

“Saudara Oik?,” Tanyanya persis seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Hei, tidakkah kau mengenaliku. Aku mengangguk. “Anda ditunggu kepala rumah sakit di ruangannya,” Lho? Kenapa DeJaVu begini sih? Aku yang bingung hanya mengikuti perawat ini dari belakangnya.

Tiba diruangan kepala rumah sakit, Bu kepala rumah sakit menyambutku sama persis seperti pertama kalinya aku akan bertugas. Memberi tahuku tentang Cakka, pasien yang akan kurawat. Dan pengarahan-pengarahan lainnya. Setelah itu memanggil Sivia dan menyuruh mengantarkanku ke kamar Cakka. Aku segera memandang kearah kalender. Tanggal yang sama dengan saat aku pertama kali masuk kerja. Kenapa aku mulai kembali ke masa lampau seperti ini?
Aku dan Sivia berkenalan dan Sivia mengantarkanku menemui Cakka, terjadi pula percakapan yang sama persis dengan saat itu. Tentang kegugupanku. Hupfh. Setelah tiba didepan kamar VIP Cakka, aku menatap pintu yang seakan berdiri didepanku sama persis. Ah… benarkah waktu ini diputar kembali? Kenapa bisa? Ini bukan novel 7 hari menembus waktu karya Charon kan? Waduh.
Akupun memutar gagang pintu dan masuk kedalam. Kulihat dewa yunani itu tertidur tepat seperti saat itu. Aku mendekat kearah tempat tidur Cakka, Cakka tertidur nyenyak mengenakan pakaian rumah sakit. Eh, tunggu, ada yang berbeda, sebuah novel tergeletak diatas perut Cakka. Itu the notebook. Perasaan waktu itu tak ada novel diatas Cakka. Aku mengambilnya, membukanya sambil duduk diujung samping tempat tidur Cakka. Ada halaman-halaman yang dilipat dan ditandai dengan spidol berwarna pink.

“I am nothing special, of this I am sure. I am a common man with common thoughts and I’ve led a common life. There are no monuments dedicated to me and my name will soon be forgotten, but I’ve loved another with all my heart and soul, and to me, this has always been enough.”

“So it’s not gonna be easy. It’s going to be really hard; we’re gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, everyday. You and me… everyday.”

“I love you. I am who I am because of you. You are every reason, every hope, and every dream I’ve ever had, and no matter what happens to us in the future, everyday we are together is the greatest day of my life. I will always be yours.”

Diakhir buku tersebut tersebut ada secarik kertas yang terselip. Aku mengambilnya dan membaca isi kertas tersebut.

Aku memang bukan Nicholas Sparks, sang maestro romance, yang bisa mengolah alur cerita biasa menjadi luar biasa, aku bukan Noah, karakter sweet yang diciptakannya, aku juga tak pandai merangkai kata seperti kata-kata yang tadi kugaris bawahi.
Tapi, jika aku bisa meminjam kutipan-kutipan itu, aku ingin sampaikan kutipan-kutipan itu padamu, mewakili perasaanku yang paling dalam.
Oik, jika orang-orang melambangkan kasih sayang itu dengan valentine….

Kata-katanya tergantung, aku membalik secarik kertas tersebut ada sebuah tulisan yang lebih besar dari yang lainnya.

Would you be my valentine?
Dibawahnya ada pula tulisan:
I promise, you always be my valentine until the rest of my life.

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, wanginya kukenali. Mendekatkan bibirnya kearah telingaku dan berbisik, “I’m waiting for your answer,”

Bunga sakura sepertinya berterbangan disekitarku. Aku tak percaya dengan semua ini. Mungkinkah ini mimpi???!!!

***

Aku bergerak diatas sebuah danau, memandang sekitarku dengan rasa kagum. Black orchid dimana-mana. Indah dan eksotik sekali. Aku sedang berada diatas sebuah perahu, bersama seseorang, ya dia Cakka. Ternyata hari itu bukan mimpi, buktinya Cakka masih disini bersamaku dan kini dia berstatus suamiku. Kami menikah baru saja kemarin, dan sekarang kami sedang berbulan madu di pulau kalimantan, kesebuah tempat yang banyak ditumbuhi black orchid. Cakka mendayung perahunya. Sesuatu yang ingin kutanyakan sejak dulu…

“Kka, kamu masih ingat tidak saat kamu menyanyikanku lagu sewaktu aku ketiduran selesai membacakanmu novel?,”

“Pasti,”

“Itu kan yang kamu nyanyikan untukku lagu I’ll be seeing you, soundtrack the notebook movie, kok kamu bisa tahu?,”

“Aku pernah menontonnya, ternyata membaca bukunya lebih seru daripada menonton filmnya, apalagi kalau dibacakan oleh susterku sayang,” Kata Cakka menggodaku. Aku memanyunkan bibirku, Cakka mencubit hidungku.

“Jelek tahu kalau begitu,”

“Biarin,” Aku makin ngambek.

“Sekarang, aku yang ingin bertanya, kenapa novelmu endingnya gantung?, banyak orang penasaran,”

“Karena kisahnya belum berakhir,”

“Sekarang juga belum berakhir?,” Tanyanya menaikan setengah alisnya.

“Akhirnya berada ditangamu,” Kataku, aku berhenti sejenak, “Karena kamu yang membuatku menulis kisah itu,” Lanjutku.

Cakka nampak berpikir, kemudian, “Bolehkan seperti ini?,” Tanyanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, memiringkan dan menyentuh bibirku dengan bibirnya, aku merasakan kelembutan dan kehangatan kemudian hanyut didalamnya. Perahu kami terdiam ditengah danau, black orchid bagaikan autumn bertebaran dimana-mana. Wangi black orchid yang khas tercium jelas. Jika ini akhir… indah bukan?
….
….
Tapi ditengah keasyikan kami, perahu hilang keseimbangan dan oleng…
Byuuuuurrrrr…

Aku dan Cakka jatuh setelah bertaut selama beberapa menit. Kami basah total, tak ada satupun yang kering. Kami tertawa bersama sambil bermain air saling percik-percik. Tiba-tiba ketika masih didalam danau –kebetulan danaunya tidak terlalu dalam– Cakka menarikku mendekat kearahnya, meringkuk kedalam pelukannya, wangi tubuhnya bersama wangi black orchid berpadu.

I love you,” Bisiknya.

I love you too,” balasku.

Cakka mengangkatku, walaupun kami masih didalam air. Sehingga aku menjadi lebih tinggi dari kepalanya, kutatap lekat matanya. Akhirnya, aku bisa menemukan serpihan bagian ending novelku. Kupegang kepala Cakka dengan kedua telapak tanganku. Kudekatkan wajahku dengan wajahnya menautkan bibirku dengan bibirnya dan mulai menjalani ritual cinta bersamanya, seseorang yang menjadi takdirku.

Something like fate: End

6 komentar:

Annisa Dirga :) mengatakan...

KEREN KAKAK.. Aaaaaaa..
Buat lagi buat lagii....

FhiL^^ mengatakan...

Makasih Annisa :3

iya :) kangen juga buat cerita yang kayak gini (?) *loh

brb, baca buku buat nyari inspirasi ._.v

Pratiwi Islamadina mengatakan...

Keren Kak..!!:)

putri adelia mengatakan...

Kyaa kereennn salut sama kakak :'D

sieta az -zahra mengatakan...

good ceritanya,,,

Velmadiska Difa mengatakan...

Keren kak,udah berulang kali baca..tpi nggak bosen bosen

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...