Rabu, 05 Desember 2012

Sad Beautiful Tragic―Prolog



Sad Beautiful Tragic

Prolog

SEBUAH cafe di sudut kota Jakarta tampak sepi. Hanya seorang gadis yang duduk menyeruput lemon tea di sudut ruangan. Dia tampak bergulat dengan pikirannya sendiri. Sudah beberapa tahun ini hidupnya seakan berubah. Semenjak trauma itu. Dia seakan berubah 180 derajat dari dirinya yang sebenarnya. Ini bukan dia. Tapi, untuk kembali menjadi dirinya yang sebenarnya dia rasa itu tidak mungkin. Sudah cukup dirinya di sakiti. Sudah cukup dirinya dipermainkan. Saatnya menjadi pemain bukan?
Dia terus menyeruput lemon tea-nya sampai tak bersisa. Setelah itu dia mengatur letak rambutnya dan membuka laptopnya. Kebetulan di cafe tersebut menyediakan layanan wifi gratis. Dia lebih baik memanfaatkannya, sambil memanggil seorang waitress dan memesan gelas kedua lemon tea-nya. Dia lalu sibuk dengan laptopnya.
Seorang gadis berambut panjang yang di gerai masuk ke dalam cafe tersebut bersama dengan seorang lelaki. Mereka duduk beberapa bangku dari gadis yang sedang sibuk dengan laptopnya. Gadis itu berhenti sejenak melihat kedua orang yang baru masuk tersebut. Matanya menyipit tertuju pada gadis berambut panjang yang baru saja masuk itu. Ah! Wajah gadis itu familiar. Dia berhenti sejenak memperhatikan kedua orang itu.
Kedua orang itu tampak sibuk memilah-milah makanan di daftar menu. Sebelum seorang waiter datang menghampiri mereka. Setelah memesan makanan pada waiter tersebut. Mereka terlihat saling bercanda. Diselingi tawa dan lelucon. Sang lelaki memperbaiki letak rambut sang gadis. Sebelum merangkulnya di pinggang. Pesanan mereka akhirnya datang. Dua gelas avocado juice dan satu piring cheese cake serta satu piring brownies. Mereka pun akhirnya makan.
Di tengah acara makan mereka tiba-tiba sang lelaki menerima telepon. Dan dengan segera pamitan pada sang gadis. Mengecup dahinya sebelum pergi meninggalkan sang gadis sendirian. Sang gadis melanjutkan acara makannya sendiri.
Gadis yang sedari tadi memperhatikan mereka sudah menghabiskan gelas kedua lemon tea-nya. Sebelum akhirnya dia memasukan laptopnya kembali ke dalam tas dan memutuskan mendekati gadis berambut panjang itu. Dia penasaran. Dia melangkahkan kakinya ke meja gadis berambut panjang itu. Saat tepat di samping gadis itu, gadis itu memekik kaget. Ah, benarkah yang ada di hadapannya ini...
“Rishaaaaa...,” pekiknya.
Gadis yang dipanggil Risha itu berbalik memandangnya. Dia menyipitkan matanya seolah mencoba menganalisis memorinya. Kemudian gadis itu terlihat sama-sama antusiasnya.
“Ya ampun Bellaaaaa,” teriaknya sambil berdiri dan memeluk gadis yang bernama Bella itu.
Mereka terlihat senang sekali. Lama mereka berpelukan erat sebelum saling melepaskan.
“Nggak nyangka banget kita ketemu di sini... Wow... kapan kamu balik kemari?,” tanya Bella.
“Iya nggak nyangka juga, baru beberapa bulan yang lalu, lama nggak dengar kabar dari kamu aku kangen tahu,” kata Risha.
Mereka pun duduk di meja itu. Sambil terus berbagi cerita.
“Kamu kenapa lost contact gitu sih? Nggak pernah ngabarin aku,” kata Bella.
“Sori Bell, bukannya aku nggak mau ngabarin kamu, hanya saja beberapa hari setelah tiba di Yogyakarta ponselku dijambret orang, semua kontakku otomatis hilang dan aku nggak hafal nomor kamu... kamu kan tahu aku paling susah ngafalin nomor ponsel orang,” jelas Risha.
“Oh gitu ya, padahal aku sudah berpikir kamu jahat banget nggak ingat sahabat lama, mentang-mentang sudah banyak teman-teman baru di sana,” kata Bella.
“Nggak kok Bell, nggak mungkin aku lupain kamu, kamu kan sahabat terbaikku,” kata Risha sambil menggenggam tangan Bella.
Bella tersenyum ke arah Risha, “aku tahu kok... aku kangen banget tahu sama kamu,” kata Bella membuka kedua tangannya dan mereka sekali lagi berpelukan, “oh ya Rish, tadi itu siapa? Kok dia pergi sih ninggalin kamu?,” tanya Bella.
Risha tampak acuh tak acuh sambil menyeruput avocado juice-nya menjawab, “itu... dia Christo,” kata Risha.
“Christo? Pacar kamu?,” tanya Bella mengernyit.
“Bukan,” Risha segera menampik perkataan Bella, “haha... dia hanya seorang anak kecil yang perlu diajarkan cara bercinta,” kata Risha.
Bella melotot mendengar perkataan Risha. Seperti inikah Risha sekarang?
“Eit... jangan pikiran negatif dulu ya, bercinta bukan dengan tanda petik ya,” kata Risha.
Bella tertawa sejenak, “ckckck... Risha... Risha, jadi dia bukan pacarmu? Aku kira pacarmu,”
“Bukan... pacar orang mah dia,” kata Risha dengan santai.
Bella jadi agak kurang paham. Tapi lama-lama dia mengerti Risha sementara berada di posisi mana. Astaga. Risha berubah. Sama seperti dirinya. Tidak berbeda jauh. Apa karena trauma mereka yang sama?
“Kamu sendiri pacar kamu mana?,” tanya Risha kemudian.
“Ada kok... tapi jauh... long distance,” jawab Bella datar.
Risha memandang Bella dengan tatapan menyelidik, “yakin kamu bisa long distance? Kamu sayang sama dia?,” tanya Risha.
Ah! Risha tahu kalau Bella tidak bersungguh-sungguh sayang pada pacarnya itu. Tidak mungkin jawabannya sedatar itu.
“Jujur nih... nggak... aku kan sekarang PHP hahaha,” kata Bella diakhiri tawa khasnya.
Kedua sahabat itu tertawa bersama. Ternyata keduanya sama-sama berubah. Memang kehangatan persahabatan mereka tidak berubah. Tapi cara menyikapi kehidupan mereka berubah total.
“Apa mungkin karena kita sama-sama gagal move on?,” tanya Risha.
“Gagal move on? Berarti kamu belum bisa melupakan Dilan ya Rish?,” tebak Bella.
Risha menghela napasnya panjang. Rasa sesak di dalam hati ketika mendengar nama tersebut. Luka itu kembali lagi. Risha berusaha untuk tegar. C’mon Rish kamu wanita tangguh. Risha menyugesti dirinya dalam hati.
“Sama seperti kamu belum bisa melupakan Justian bukan?,”
Bella tercekat. Kenapa Risha mengingatkannya lagi sih? Nama yang ingin dilupakannya. Nama yang selalu ingin dia buang jauh-jauh dari kehidupannya. Nama atas segala trauma itu.
Bagian dari masa lalu mereka yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kehidupan mereka. Entah apa maksud takdir mempertemukan kedua sahabat lama itu kembali di sini. Semoga bukan untuk sama-sama disakiti lagi.

***


0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...