Kamis, 27 Oktober 2011

Coming Home - One Shoot

S
enja kini berganti malam, hiruk pikuk kota tampak mulai renggang, disalah satu sudut kota, tampak seorang pria bersama seorang gadis kecil duduk disebuah warung kecil sambil meneguk secangkir kopi dan segelas teh hangat. Tampak letih dan lesu membungkus wajah mereka. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan membuat keduanya. Tak beberapa lama kemudian gadis kecil itu tertidur dipangkuan sang pria. Sang pria membelai halus rambut gadis kecilnya yang tertidur pulas bak malaikat. Polos dan tak berdosa. Sang pria menerawang keatas langit yang sudah berselimutkan hitam pekat sedikit bertabur diamond-diamond yang menerangi setiap jengkall hitam pekat. Kenapa kamu harus ikut terjebak dalam situasi ini nak…! Kamu tak bersalah… Daddy yang berdosa… seharusnya kamu tidak ikut terjebak dalam situasi seperti ini… Pria itu tampang membendung rasa bersalah dalam dirinya. Begitu dalam. Terlalu dalam. Kesalahan masa lalu yang merusak kehidupannya, rumah tangganya, keluarganya, bahkan seorang gadis kecil tak berdosa ini. Penyesalan tiadalah guna.

* * * *

‘Plak…..’ Sebuah tamparan mendarat mulus tepat dipipi Cakka.

“Aku gak nyangka Kka… kamu bisa berbuat begitu kepadaku… apa salahku Kka? Tega-teganya kamu… Hiks…” Kata Oik diakhiri dengan tangisan. Sedangkan Cakka hanya diam tak bergeming. tak menjawab. Hening adalah pilihannya untuk tidak memperkeruh suasana. Tapi tidak seperti itu, itu akan lebih memperburuk masalah.

“Sekarang, kamu pilih aku atau selingkuhanmu itu… ? Jawab sekarang Kka… Aku butuh jawabanmu…” Kata Oik airmatanya terus mengalir bak mata air yang tak pernah kering dengan sedikit isakan diujung tangis semakin memperjelas bahwa hatinya terluka. Sangat terluka.

“Namanya Acha…” Kata Cakka menyebut nama selingkuhannya dengan setengah tertunduk.

“Persetan dengan namanya aku tak peduli… Kamu tinggal memillih dia atau aku?...”

“Aku gak bisa milih Ik…”

“Gak bisa memilih? Kka… Kamu tahu yang aku rasakan? Sakit Kka… Sakit… 2 tahun jadi isteri kamu… inikah balasanmu Kka…” Oik semakin menjadi-jadi sedangkan Cakka memilih untuk diam kembali.

“Sekali lagi aku Tanya, Kamu pilih Aku atau selingkuhanmu itu? Jawab Kka… Kalau kamu gak bisa jawab berarti kamu memilih selingkuhanmu itu…” Amarah Oik semakin membuncah, meluap-luap bagaikan merapi yang sementara mengalami erupsi dan sebentar lagi akan meledak.

Cakka tetap teguh memilih diam.

Oik segera melangkahkan kakinya dari hadapan Cakka, masuk kedalam sebuah kamar. Lalu keluar dengan koper dan melemparkan koper itu tepat didepan Cakka.

“Pergilah… Silahkan nikmati hari indahmu bersama selingkuhanmu itu…” Kata-kata Oik bersifat menyindir.

Tak disangka Cakka segera mengambil koper dihadapannya itu, lalu beranjak dari hadapan Oik, secepat kilat dia membuka pintu. Sekejap mata dia hilang dibalik pintu. Benar-benar Cakka lebih memilih selingkuhannya dibandingkan dengan isterinya.

Oik menyandarkan tubuhnya didinding lalu jatuh perlahan kelantai. Sakitnya bukan main ketika mengetahui suaminya main hati dengan wanita lain. Tak pernah terbayangkan oleh Oik. Oik memang sudah mencium gelagat aneh dari suaminya semenjak 3 bulan lalu. Banyak gossip miring tentang suaminya itu yang hanya dia pendam seorang diri. Karena bagaimanapun dia harus percaya kepada suaminya dibanding gossip-gossip yang tak jelas diluaran sana. Kepercayaan itu hancur lebur bahkan puing-puing ataupun serpihan-serpihannya tak bersisa ketika Oik melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Oik yang baru saja selesai bekerja, bahkan sisa keringat lelah bekerja belum sempat ia seka. Ia menyempatkan diri untuk pergi kesebuah taman yang dia anggap bisa menenangkan jiwanya yang sedang galau, masalah dalam hidupnya bercampur-baur. 2 tahun membina rumah tangga bersama Cakka, mereka belum diberikan momongan. Belum lagi masalah dikantornya, dan ditambah gossip tentang Cakka membuat dia semakin membutuhkan ketenangan. Tapi apa yang dia dapati? Bukan ketenangan, tetapi sebaliknya. Kehancuran. Ketika melihat seorang pria sosok yang Ia kenali, itu Cakka bergandengan mesra dengan seorang wanita. Mereka menyusuri taman. Oik mengikutinya dari belakang. Mereka duduk dibawah sebuah pohon yang rindang. Sang wanita mendekap erat tubuh Cakka. Sebelum akhirnya sebuah adegan yang membuat Oik hancur sejadi-jadinya. Dan cukup membuktikan bahwa kabar yang ia dengar tentang Cakka bukan hanya isapan jempol semata, melainkan fakta yang nyata yang kini benar-benar ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Cakka mengecup manis dahi wanita itu sebelum akhirnya melumat dengan mesra bibir merah jambu milik wanita itu. Cukup lama. Sampai Oik tak tahan melihat pengkhianatan itu terjadi di depannya. Dan ia segera berlari meninggalkan Cakka.

Memori tentang hal itu membuat Oik semakin lemah dan tak berdaya bahkan sampai dirinya tergolek lemah dilantai.

* * * *

Sepeninggal Cakka yang lebih memilih Acha dibanding Oik. Oik terlihat frustasi tapi dia tetap melanjutkan tugasnya sebagai wanita karir seperti yang selama ini dia tekuni. Mungkin inilah yang membuat Cakka jenuh terhadapnya lebih mengutamakan pekerjaan diatas segala-galanya. workaholic. sehingga meski nafkah lahiriah rumah tangga mereka terpenuhi tapi tidak dengan batiniah. Begitulah Oik, dari dulu dirawat dan dibesarkan dikeluarga yang mengutamakan pekerjaan membuatnya sudah terbiasa dengan itu semua. Tapi mungkin tidak dengan Cakka, yang terlahir dikeluarga yang santai. Dalam rumah tangga mereka Oik sebagai pencari nafkah utama sedangkan Cakka nafkah sampingan dengan membuka sebuah distro. Itupun dengan modal Oik. Jadi bisa dibilang Cakka takkan ada apa-apanya tanpa Oik. Tapi hal itu tidak membuat Cakka keukeh mempertahankan Oik melainkan hal itulah yang mungkin membuat Cakka semakin menjauh.

Sedangkan Cakka, dia memilih untuk pulang kedaerah asalnya Yogyakarta dan hidup bersama-sama dengan Acha disana. Meski tanpa ikatan suami isteri karena takkan mungkin Cakka belum bercerai dengan Oik. Acha seorang wanita yang seusia dengan Cakka dan Oik, Dia belum pernah menikah dan Dia adalah masa lalu Cakka yang datang kembali, Pacar Cakka semasa SMP. Cinta Pertamanya.
Cakka membuat sebuah usaha baru dengan modal yang diberikan ayahnya. Cakka memilih usaha bengkel kecil-kecilan lagipula waktu SMK, Cakka mengambil jurusan teknik mesin. Cakka dan Acha hidup sederhana namun berkecukupan. Kebahagiaan mereka bertambah ketika tahu bahwa Acha sedang mengandung. Hal yang selama ini dinantikan Cakka, menjadi seorang ayah. Hal yang selama 2 tahun ia berumah tangga dengan Oik tak pernah terwujud.
9 bulan penantian, akhirnya Acha melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Clarissa Eka Putri Nuraga. Setelah Clarissa lahir, hidup Cakka dan Acha semakin berwarna, diwarnai dengan tangisan bayi, diwarnai dengan tertawa seorang anak, diwarnai dengan kenakalan anak kecil yang ingin mengetahui segala sesuatu.
Sampai suatu saat ketika Clarissa, berumur 5 tahun. Acha meninggal karena sebuah kecelakaan naas. Hidup Cakkapun berubah. Dia bingung dengan apa yang akan dia lakukan sepeninggal Acha. Apalagi usaha bengkelnya sedang mengalami kebangkrutan. Dengan mengikuti sarannya. Cakka kembali ke Jakarta. Bukan untuk kembali kepada Oik melainkan untuk mengadu nasib demi kelangsungan hidupnya dan juga putrinya.

* * * *

Oik terlihat sedang tergesa-gesa memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Hari ini dia akan mengadakan meeting dengan kliennya disalah satu restoran yang ada dipusat perbelanjaan itu. Wajahnya sudah tak seperti pertama kali Cakka meninggalkan dia. Ada rona yang sedikit membuatnya terlihat ceria. Tapi matanya tak bisa berbohong bahwa dia masih menyimpan luka. Cukup lama dia meeting dengan klien sebelum akhirnya berjabat tangan tanda telah ada kesepakatan diantara mereka berdua. Setelah itu Oik dengan tergesa-gesa keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Dia segera menaiki sebuah mobil yang didalamnya menunggu seorang pria dengan wajah oriental.

“Abis ini kita kemana Ik?...” Tanya Alvin –Pria itu–

“Balik ke kantor Vin… masih banyak pekerjaanku disana…”

“Oik… oik… sampai kapan sih kamu berhenti memikirkan soal pekerjaan?...”

Tak ada jawaban dari Oik. Ia terdiam sambil meneguk sebotol air mineral dengan sedotan.

Alvin menyalakan mobil pergi dari situ.

Alvin, adalah sosok lelaki yang sedang dekat dengan Oik 3 Tahun ini. Alvin pernah menyatakan Cinta kepada Oik. Tapi Oik tak menjawab. Ia menggantungkannya. Sama seperti hubungannya dengan Cakka saat ini. Gantung. Alvin seorang duda yang bercerai dengan isterinya 5 tahun lalu. Dia adalah rekan bisnis Oik. Makanya mereka sering intens bertemu. Diam-diam Oik mempunyai secuil rasa untuknya. Takkan berkembang karena luka yang disebabkan Cakka tempo hari. Dia takut menjalin hubungan dengan pria dan akan berakhir luka seperti Cakka. Dan dia butuh kepastian hubungannya dengan Cakka.

* * * *

Daddy, Clara kedinginan…” Kata Clara –Clarissa– gadis kecil Cakka. Cakka segera mengambilkan selimut dan menyelimuti gadis kecilnya itu. Mengecup keningnya lalu hendak beranjak dari situ. Namun…

Daddy, Clara kangen Mommy…” Ucap gadis kecil itu lirih.

Cakka membelai halus rambut gadis kecilnya itu lalu memeluknya bermaksud menenangkannya.

Mommy juga pasti kangen Clara… Makanya Clara jangan nakal yah…”

I Love you, Daddy…”

Love you too…

Pintu rumah Cakka diketuk. Cakka segera beranjak dari situ dan membukakan pintu. Ada seseorang membawakan undangan pernikahan. Diundangan itu tertulis nama

Y. B. Obiet Panggrahito
&
G. A. Thalita Pangemanan

Itu undangan pernikahan Obiet, sahabatnya semasa sekolah –SD sampai SMK–. Akhirnya sahabatnya yang satu ini menikah juga. Cakka tersenyum kecil namun sedikit heran. Bagaimana Obiet bisa tahu kalau dia tinggal disitu. Diakan baru 4 hari berada di Jakata dan baru 3 hari tinggal disebuah rumah petakan kecil itu bersama gadis kecilnya. Cakka membaca undangan tersebut. Ternyata hari pernikahannya besok, Cakka sangat ingin pergi tapi tidaklah mungkin dia meninggalkan gadis kecilnya itu seorang diri. Mungkin dia akan pergi dengan membawa Clara ke pesta sahabatnya itu.

* * * *

Oik melempar sembarangan tas kerjanya. Hari ini begitu lelah bagi dirinya. Tanpa mengganti baju, bahkan melepas sepatunya dia berbaring di masterbed miliknya. Semenjak kepergian Cakka, masterbed yang cukup besar itu hanya dihuni oleh dirinya seorang diri. Dia melihat sebuah undangan tergeletak diatas meja disamping masterbednya. Oik segera mengambil undangan tersebut lalu membacanya.

“Undangan Obiet? Dia akan menikah? wah aku harus pergi dong…” Kata Oik ketika selesai membaca undangan tersebut.

Setelah itu dia meletakan undangannya kembali dan menarik selimut lalu tertidur pulas.

* * * *

Sepasang pengantin terlihat bahagia diatas podium. Para undanganpun turut berbahagia dengan kebahagian pengantin. Oik baru tiba diacara pernikahan tersebut karena baru menyelesaikan tugas dan pekerjaannya. Oik mencari tempat duduk yang agak dekat dengan pintu masuk agar tidak mencolok kalau dirinya baru tiba. Dia duduk dengan seorang lelaki yang dia tidak lihat wajahnya karena sedang menunduk seperti mengambil sesuatu.

“Boleh saya duduk disini?...” Tanya Oik.

“Silahkan…” Kata pria itu masih dalam keadaan seperti tadi.

Oikpun memperbaiki letak tempat duduknya lalu fokus dengan acara pernikahan tersebut. Sang pria yang sedari tadi menunduk sepertinya telah berhasil menemukan apa yang dia cari. Dia segera duduk seperti sediakala. Oik menoleh kearah pria yang duduk berdampingan dengannya itu. Betapa kagetnya dia melihat seseorang yang ada dihadapannya itu. Luka lama tergores kembali. Luka lama yang dipendam terkuak lagi. Bagaikan disambar petir ketika Oik melihat lagi dia. Cakka.

“Oik…”

“Cakka…” Keduanya tampak kaget setengah mati. Takdir mempertemukan mereka kembali. Disini.

Hening sejenak.

“Hmm… Gimana kabarmu?...” Tanya Cakka mendahului perbincangan.

“Baik… kamu?...”

“Baik juga…”

Hening kembali. Oik heran dengan dirinya. Bukankah ia harusnya tidak mempedulikan Cakka, bukankan ia seharusnya marah terhadap Cakka. Tapi kenapa dia tak berdaya. Dia seakan terhipnotis kembali dengan pesona Cakka sebelum ia menyakitinya. Tak mampu berkutik.

“Bisnismu lancar…?”

“Lancar… kamu? Acha mana? kenapa tak datang…?” Tanya Oik meski sebenarnya hatinya teriris-iris.

“Acha… Meninggal Ik…” Oik kaget dengan berita yang dibawa Cakka.

“Turut berduka cita yah…” Kata Oik akhirnya.

Hening kembali. Lama. Ketika sang MC mengatakan bahwa saat itu adalah saat yang ditunggu-tunggu para jomblowan dan jomblowati karena sang pengantin akan melemparkan bunga.

“Kamu gak maju Ik?...” Canda Cakka

“Hah? Gak lah… kamu kali yang mau maju Kka…” Balas Oik.

“Eh ya Ik… Kamu ingat gak waktu pernikahan kita… Waktu acara lempar bunga pengantin… yang dapat kan Obiet…”

“Hahaha… iya ingat banget… Obietkan dulu culun yah… waktu dia yang dapat aku ketawa loh Kka…”

“Hahahaha… Iya… iya lucu mukanya Obiet polos banget… tapi terbukti juga kan dia akhirnya ke pelaminan juga Ik… walaupun 8 tahun kemudian…”

“Iya lucu juga… kamu juga ingat gak pas kamu ijab Kabul sampe keringat berlebihan… keringat kamu mengalir kayak air… Lucu”

“Kamu juga pas aku mau nyium tampang kamu bloon kayak badut…”

“Lagian mana ada pengantin ciumnya dibibir… biasanya di dahi tahu… Ini kamu beda sendiri…”

“Lha? gak apa-apakan aku gak mau pernikahanku yang biasa-biasa saja… aku mau yang beda… lagi pula kayak gak pernah dicium aku aja…”

“Lah bedalah Cakong… Ini dipublik…”

Kan anggap aja gak ada orang Ikong…”

“Gak bisa akunyaaaa…” Oik manja.

“Dibisain ajaaaa…” Cakka tak kalah.

Daddy..” Panggil Clara dan menyadarkan Cakka dan Oik akan apa yang mereka perbincangkan tadi. Keduanya seperti shock setengah mati setelah menyadari apa yang mereka perbincangkan tadi.

Kilas balik masa lalu mereka. Kisah manis ketika pernikahan mereka. Bahkan sempat memanggil nama panggilan kesayangan mereka –Cakong dan Ikong– sewaktu mereka masih pacaran dan mengecap manisnya awal pernikahan. Luka Oik seakan musnah ketika pembicaraan yang mengalir begitu saja tadi. Tapi luka itu kembali dalam sekejap dan bertambah dalamnya ketika seorang gadis mungil memanggil Cakka dengan sebutan Daddy yang artinya Ayah. Dengan ragu dan suara sedikit gemetar Oik bertanya.

“Putrimu?...”

Cakka mengangguk.

“Namanya Clarissa… Panggil saja Clara… Salam buat mommy Oik…” Kata Cakka menyuruh Clara menyalami Oik.

Oik menatap Clara. Gadis kecil ini begitu mirip dengan Acha. Bagaikan pinang dibelah dua. Apalagi bibir merah jambunya yang membuat luka itu terpatri kembali. Clara menyalami Oik. Lalu bertanya kepada Daddynya.

“Mommy?...” Gadis kecil itu terlihat heran.

Cakka tak bisa menjawab pertanyaan singkat yang ditanyakan putrinya itu. Karena kalimat tadi meluncur begitu saja keluar dari mulut Cakka. Tak ada maksud. Tapi hati berkata lain.

“Ehm… Cakka… aku duluan ada urusan dikantor…” Kata Oik cepat-cepat berlalu dari Cakka dan Clara untuk lebih dahulu naik ke podium menyalami pengantin sebelum akhirnya pulang dengan rasa galau semenjak pertemuannya dengan Cakka tadi.

* * * *

Oik pergi kerumah bundanya dengan hati yang kacau. Setibanya disana Ia segera menangis didalam pelukan sang Bunda. Sang Bunda heran dengan apa yang terjadi pada Oik. Dia hanya bisa menenangkan anaknya tersebut dengan pelukannya. Semoga anaknya bisa tenang dan bisa segera menceritakan masalah yang dihadapinya.
Setelah Oik sudah tenang sang Bundapun bertanya.

“Apa yang membuatmu menangis, anakku?”

“Cakka bunda…”

“Cakka?...” Bunda mengernyitkan keningnya.

“Iya bunda… tadi Oik ketemu Cakka dipesta pernikahannya Obiet, waktu bertemu dengannya kan seharusnya Oik marah kan bun… Seharusnya Oik gak mau ngomong sama dia kan bun… Tapi ini gak bun… kami malah mengobrol asyik tentang moment-moment konyol seputar pernikahan kami… Oik gak tahu kenapa bun bisa larut didalamnya bun… Oik gak tahu kenapa, luka Oik tiba-tiba menghilang gitu aja…”

“Acha?” Tanya Bunda.

“Sudah meninggal Bun…”

“Berarti itu awal yang bagus buat memperbaiki rumah tanggamu dengan Cakka… Bunda tahu kok jauh dilubuk hati Oik… Oik masih sayang sama Cakka… Oik masih mengharapkan Cakka kembali pulang… tapi tertutup oleh luka itu… dan luka itu akan menjadi benalu untuk hubungan kalian… Acha sudah tak ada… berarti tinggal luka itu…”

“Tapi bun… gak Cuma luka itu… Acha memang pergi tapi dia meninggalkan copy-annya…”

“Maksud kamu?”

“Anak… Cakka punya seorang putri dengan Acha…”

Bunda tersenyum.

“Itu anugerah…” Oik heran dengan kata-kata bundanya.

“Kamu dan Cakka sudah bertahun-tahun menikah… tapi belum dikaruniai anak… Lewat jalan ini kalian kan bisa merasakan jadi ayah dan ibu bukan?...”

“Tapi akan beda bun… Dia gak lahir dari rahim Oik…”

“Belajarlah menyayanginya… Sebelum Tuhan memberi apa yang kamu minta…”

“Itu sulit bunda…”

“Belajarlah… Kamu tak boleh bercerai dengan Cakka, kalian terikat janji dihadapan Tuhan… Meski ada pengkhianatan… Karena apa yang telah dipersatukan Tuhan tidak dapat dicerai beraikan oleh manusia…”

* * * *

Oik baru pulang dari tempat kerjanya. Ketika dia melewati sebuah taman kanak-kanak.  Dia melihat Clara berdiri didepan gerbang bersama seorang security , Oik segera menepikan mobilnya ketaman kanak-kanak tersebut lalu pergi menghampiri Clara.

“Clara…”

Clara menengok kearah Oik.

Mommy Oik…” Kata Clara.

Oik kaget dengan panggilan Clara terhadapnya. Tidak penting itu. Yang terpenting menanyakan kenapa jam seperti itu Clara masih berada disekolahnya.

“Pak kenapa Clara sudah jam segini belum pulang…”

“Iya bu… Dia biasa dijemput ayahnya… tapi tadi ayahnya telepon saya katanya dia belum bisa jemput Clara jadinya dititipkan dulu sama saya sampai ayahnya menjemputnya…”

“Yasudah pak… Biar saya yang bawa Clara pulang… bapak percaya sama saya… Saya kenal dengan Ayahnya,.. Clara juga kenal dengan saya…”

“Yasudah bu… nama ibu siapa? biar kalau ayahnya telpon saya bisa beritahu…”

“Bilang saja… Oik…”

Oikpun membawa Clara pulang kerumahnya. Didalam perjalanan pulang Clara menanyakan berbagai pertanyaan pada Oik.

Mommy Oik siapanya Daddy sih…?”

“hmm… hm…. Te..man…” Oik terlihat gugup.

“Tapi… tau gak… kata Daddy nih… Aku harus manggil Mommy Oik dengan panggilan Mommy soalnya kata Daddy… Mommy Oik bakal jadi Mommy buat Clara…”

Perkataan Clara membuat Oik kaget.  Benarkah Cakka berkata begitu? Tapi anak kecil biasanya polos, jujur dan apa adanya.

Sesuai petunjuk Clara, Oik membawa pulang Clara. Betapa terkejutnya Oik melihat tempat tinggal Cakka sekarang disebuah petakan kecil nan sempit. Clara mengajak Oik masuk kedalam. Didalam Cuma ada ruang sempit dan satu kamar tidur. Diruang sempit itu Oik melihat beberapa barang yang Ia kenali. Seperti jam weker pemberian Oik agar Cakka tak bangun kesiangan. Sepatu pemberian terakhir Oik kepadanya kala rumah tangga mereka sudah mulai terdengar kabar yang tak sedap. Ternyata Cakka masih menyimpannya.

Cukup lama Oik berada dirumah itu, kemudian Cakka datang dengan tergesa-gesa dan kaget mendapati Oik berada dirumahnya.

“Gak usah kaget aku hanya mengantar Clara… Tadi aku lewat taman kanak-kanaknya kulihat sudah sore dia belum pulang… jadi kuantar kemari… tak apa kan?”

“Makasih ya Ik… Maaf kamu datang ketempat kecil dan sempit seperti ini…”

“Tak apa…”

Padahal Oik ingin sekali berkata Kka, Daripada tinggal disini pintu rumahku selalu terbuka untukmu kembali pulang tapi dia takut.

“Yaudah aku pulang dulu…” Kata Oik beranjak.

Baru saja Oik melangkah satu kali. Cakka memegang tangannya. Kehangatan tangannya masih seperti dulu ketika memegang tangan Oik. Oik berbalik, matanya tepat bertautan dengan Cakka. Mata sendu milik Cakka ketenangannya masih terasa hingga sekarang.

“Sekali lagi makasih yah Ik…” Kata Cakka

“Iya sama-sama Kka… Aku pulang dulu…” Kata Oik sambil melepaskan tangannya yang berada digenggaman Cakka.

* * * *

Hari ini Alvin mengajak Oik kesebuah taman, dan ternyata taman itu lagi. Taman yang mempertemukan dia dengan Cakka. Taman yang menghancurkan hubungannya dengan Cakka pula. Kalau Oik tahu dia akan diajak Alvin kemari. Tentu saja dia dengan tegas akan menolak. Tapi sayangnya daritadi Alvin tak memberitahu kalau dia akan mengajak Oik ketempat ini. Oik dan Alvin hanya berjalan mengelilingi taman itu. Membeli es krim, harum manis dan lain-lain. Sebelum akhirnya Oik diajak Alvin untuk menepi dibawah pohon rindang karena matahari sudah berada tepat diatas kepala mereka. Oik agak takut dengan pohon itu. Trauma tentang apa yang dilihatnya 6 tahun lalu dibawah pohon itu. Memori itu membuat luka Oik membekas lagi.

“Kamu kenapa Oik?...” Tanya Alvin

“Hmm… Aku? Tak apa…”

“Bener?...”

Oik hanya membalasnya dengan mengangguk. Kemudian Alvin mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan didalamnya terdapat sebuah cincin berlian.

“Oik, would you marry me?” Tanya Alvin mantap.

Oik terdiam kaget. Alvin mengambil cincin itu dari dalam kotak tersebut dan hendak memasangkan dijari manis Oik.

* * * *

Rasa rindu terhadap Oik menyeruak dari dalam hati Cakka. Dia rindu disaat dirinya dan Oik merangkai kisah mereka mulai dari perkenalan disebuah taman pertemuan demi pertemuan yang terjadi sampai mereka resmi berpacaran dan memutuskan menikah masa-masa awal pernikahannya dengan Oik yang manis, sebelum akhirnya Acha datang dan merusaknya. Dia tak menyalakan Acha. Karena itu memang kebodohannya. Andai dia tak bertemu dengan Acha tentu semua akan bahagia. Pasti Acha masih ada sampai sekarang dan rumah tangganya dengan Oik pasti tak ada masalah. Namun, tetap saja dia bersyukur disisi lain dia mendapatkan seorang malaikat kecil, Clara.
Cakka berjalan menyusuri sebuah taman. Taman dimana tersimpan kenangan manis awal kisahnya dengan Oik. Ingin memutar kembali kisah mereka dulu. Dan kini Cakka sadar bahwa Oiklah yang ditakdirkan untuk bersama dirinya. Tetapi……
Cakka melihat seseorang seperti Oik dan seorang laki-laki entah siapa menepi dibawah pohon rindang. Semakin dekat semakin jelas bahwa itu memang Oik. Dirinya tak mau mengganggu. Makanya hanya memperhatikan keduanya sebelum Bom atom seperti meledak dalam dirinya ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut lelaki itu untuk Oik.

“Oik, would you marry me?

Oik tak berekspresi hanya diam. Sedangkan lelaki itu mencoba memasangkan cincinnya dijari manis Oik.

Sakit. Hati bagai diiris sembilu. Inikah yang Oik rasakan waktu itu. Inikah karma buat diriku? Ternyata karma selalu berlaku. Tuhan ampuni aku karena telah membuat seorang wanita menangis karenaku. Ternyata sakitnya seperti ini? Aku sebagai seorang pria tak sanggup menahannya. Apalagi seorang wanita seperti dia?

Cakka berlari keluar taman tak sanggup dia menahan rasa sakit karena hal itu. Karma.

* * * *

Cakka memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Oik, Dia mencari tempat tinggal yang baru. Dia juga memindahkan Clara bersekolah ditempat lain. Agar dia dan Oik tak berhubungan lagi. Dia malu terhadap Oik karena dirinya yang terlalu membuat wanita itu sakit. Lagipula Oik juga telah menemukan pria yang tepat untuk menjadi pendampingnya yang mungkin lebih setia dan lebih bertanggung jawab terhadap Oik, pikirnya.

Cakka mencoba peruntungannya membuka usaha baru yakni usaha warung makan gudeg. Dan ternyata usaha Cakka laris-manis, sehingga hanya dalam waktu 1 tahun dia dapat mengembangkan dari yang hanya warung makan menjadi restorant. Cakka mulai membuka lapangan pekerjaan. Jadi dia tak harus terjun langsung melainkan hanya mengawasi. Clara juga kini telah menginjakan kaki dibangku sekolah dasar, mereka tak hidup dipetakan lagi melainkan dapat membeli rumah baru meski belum bisa dikatakan mewah tetapi terlalu besar jika mereka hanya hidup berdua.

* * * *

Cakka mengawasi kerja anak buahnya, sekali-kali bertanya dengan kepuasan pelanggannya. Cakka melihat seorang wanita masuk kedalam restorant miliknya. Dia ingin menyapa langsung pelanggan itu.

“Permisi, mau pesan apa bu…?” Tanya Cakka ramah.

“Saya pesan gu….. Cakka…” Wanita itu terkejut melihat orang yang ada dihadapannya ini. Cakka.

“Oik…”

“Kamu yang punya restorant ini?”

“Iya…”

“Wow… hebat… kamu kemana aja sih selama ini Kka… Aku nyariin kamu…”

“Yah seperti yang kamu lihat sekarang… Aku menghilang karena ini semua… Kalau aku tak begitu mungkin aku tak bisa seperti ini…”

“Clara?...”

“Ke sekolah…”

Hening sejenak.

“Oh ya… mana suamimu… kamu gak ajak kemari?...”

“Suami… ah ngaco kamu… suami yang mana?”

“Ituloh, yang ngelamar kamu ditaman… udah nikah kan… wah congrats ya…”

“oh… Alvin… gak ah… gila, aku gak nikah sama siapa-siapa kok…. Cuma sama kamu… Kenapa? Jangan bilang alasan kamu menghilang karena itu?” tebak Oik

“Bisa dibilang ya…”

Hening lagi.

Oik menarik nafasnya panjang-panjang.

“Kka… sebenarnya aku udah mau bilang ini lamaaaa banget tapi sayangnya kamu menghilang… Kka, aku mau memperjelas status kita… Jujur saja, aku memang terluka dengan semua yang kamu buat kepadaku… Tapi aku sadar bahwa apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh dicerai beraikan manusia… Jadi pintu rumahku selalu terbuka untukmu kembali pulang… Selalu kutunggu setiap hari dan setiap waktu… Jadi jika kamu mau kapan saja bisa kembali pulang… tak Cuma kamu tapi bersama Clara juga… Karna putrimu, putriku juga… anakmu, anakku juga… Aku bakal berusaha menyayangi dia seperti kasih ibu kepada anak…”

Cakka tersenyum.

* * * *

Clara menyeret koper ketika baru turun dari mobil. Diikuti Cakka disampingnya.

Daddy… ini rumah siapa sih?”

“Rumah kita…”

“Rumah kita…”

“Yap… Ayo masuk…” Kata Cakka sambil mengulurkan tangan hendak menggandeng putri kecilnya itu.

Coming Home…” Ucap Cakka kemudian.

Terlihat Oik berdiri mengulum senyum dibibir pintu menyambut kedatangan Cakka dan Clara.

Yap. Mulai sekarang Oik harus bisa berusaha menyayangi Clara, mulai sekarang juga dia memutuskan untuk melupakan masa lalu yang suram dan membuka lembaran kehidupannya yang baru meski bersama seseorang yang lama. Tapi Oik yakin akan lebih baik dari sebelumya. Karena mengasihi dan mengampuni adalah bagian dari hidup, yang apabila kita melakukannya niscaya hidup kita akan bahagia di dunia dan di akhirat. J

4 komentar:

ima is amanda's mengatakan...

ceritanya bagus

Fhily Anastasya mengatakan...

makasih sudah baca dan comment...
seneng kalau kamu suka ;)

Anonim mengatakan...

Bagus banget ceritnya ;)

Fina Fanadicky mengatakan...

terharuu
.
hikss2

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...