Rabu, 06 Juni 2012

Under the Marriage: 3. NEW GIRLFRIEND = NEW DISASTER + 4. HOPE = LESS


3. NEW GIRLFRIEND = NEW DISASTER

CAKKA baru saja turun dari panggung sebuah acara off air, sang manajer langsung mencegatnya di dekat tangga turun.
“Cakka! Kita perlu bicara,”
Cakka mengerenyit menatap manajernya itu, “Ada masalah?,”
“Yeaay...besar!,” jawabnya.
Okay, aku sudah selesai, kita bicara di mobil, bilang sama panitianya aku pulang duluan,” kata Cakka langsung memasukan gitarnya ke dalam sarung dan menyampirkan di bahunya. Beberapa orang security segera mengawalnya keluar bersama manajernya menuju SUV miliknya. Tadi mereka sempat berdesak-desakan karena ada beberapa fans Cakka yang hendak menerobos penjagaan, tapi untungnya mereka bisa tiba di mobil dengan selamat.
“Kemana Tuan?,” tanya Ujang, supirnya.
“Balik ke rumah dulu,” kata Cakka.
SUV itupun meninggalkan area acara off air tersebut.
“Masalah apa lagi sih?,” tanya Cakka.
“Kamu tidak jadian kan dengan Prilly?,”
“Ck...kenapa memangnya?,”
“Kamu kenapa pasang fotonya jadi DP ВВМ kamu? Sudah tahu nenek lampir itu masih ada di kontak kamu, masih aja cari masalah dengannya?,”
“Oh itu? Terserah diriku dong mau pasang foto siapa saja gitu, pajang foto kamu juga kalau aku mau, pajang foto Ujang juga, terserah dong,”
“Tapi kamu tahu tidak kalau Shilla, menggosipkan kamu punya pacar baru si bule itu, aku yakin deh kita pulang ini wartawan antri di depan rumah,”
“Hah? Kapan dia bilang begitu?,”
Sixteen minutes ago...biasa di twitter-nya, kamu tahu tidak, kamu sekarang jadi selebriti yang penuh sensasi, orang-orang sekarang menilai kalau kamu sengaja begini untuk mendongkrak karir kamu,”
“Tapi kenyataannya tidak seperti itu Bram...,”
“Iya, tapi publik menilai lain, sepertinya dia memang sengaja ingin merusak image kamu di mata umum, karena merasa telah tersakiti olehmu,”
Cakka menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Dia bingung sekali dengan cara pemikiran Shilla. Sebenarnya, dia juga masih ada rasa dengan Shilla saat mengakhiri hubungannya. Tapi, belakangan ini dia ilfeel sendiri melihat beberapa bacotan Shilla di twitter. Seakan-akan dia adalah orang yang paling tersakiti di dunia ini.
Okay, kalau dia mau aku punya pacar baru, aku tembak Prilly sebentar malam, kosongkan schedule untuk sebentar malam, booking restoran, siapkan semuanya,” kata Cakka kepada Bram.
Wajah Bram terlihat begitu cepat berpindah-pindah ekspresi, pertama mengerutkan keningnya, kemudian membuka mulutnya, lalu membentuk mulutnya seperti hendak mengatakan “Hah?!”, matanya melotot besar sebelum akhirnya menelan ludahnya dan berkata dengan wajah bengong.
“Kamu...yakin?,”
“Itu kan yang dia mau? Gosip supaya jadi nyata? Sebenarnya aku sudah capek Bram dari dulu, yang dia buat gosip Nadya vs Nadya dulu saat kita masih jadian, yang dia gembar-gemborin aku ke Yogyakarta bersama Nadya Almira, kemudian dia bilang aku dekat sama Nadya anaknya partner kerja Daddy, padahal semua itu tidak benar, kalau dia mau kali ini semua yang dia katakan benar, okay aku akan ikuti permainannya,” kata Cakka berapi-api.
“Kamu tidak minta pendapat Daddy-mu? Gimana kalau Daddy-mu tidak setuju kamu sama Prilly itu? Dan bakal menyerangnya sama seperti Shilla dulu?,”
“Yah backstreet lagi dong cyin,”
“Kamu senang banget backstreet gitu...kamu tahu tidak kalau kamu itu sedang mencari bencana?,”
Cakka tidak mau menanggapi perkataan Bram kali ini. Dia membiarkan Bram berceloteh sendiri selama perjalanan menuju rumahnya.
Benar saja, ketika tiba di rumahnya sudah banyak orang dengan kamera dan alat perekamnya bertengger di depan gerbang rumah Cakka. Cakka mengeram kesal. Lama-lama dia bosan dengan keadaan ini. Bisa tidak sih hidupnya tenang seperti dulu tanpa ada gangguan infotaiment yang haus akan gosip tentang dirinya? Dia bisa saja menerima infotaiment di rumahnya karena bagaimanapun tanpa pers seorang artis itu nothing. Tapi bisa tidak yang mereka liput kegiatan Cakka di studionya atau usaha untuk merampungkan albumnya dari pada menanyakan gosip yang tidak jelas yang diciptakan oleh virus Jakarta coret –kata Daddy-nya– itu merugikannya. Kadang Cakka sering tertawa kala Daddy-nya itu menyebut Shilla dengan virus Jakarta coret, itu di karenakan dulu waktu Cakka belum menetap di Jakarta dan masih merintis karir bolak-balik Yogyakarta-Jakarta, Cakka sering ke Jakarta sendiri tanpa ada jadwal apapun di sana hanya untuk bertemu dengan Shilla, padahal waktu itu mereka belum punya hubungan khusus, hanya sahabatnya saja, tidak lebih. Makanya Daddy-nya menyebut Shilla dengan virus Jakarta coret sampai saat ini. Perasaan dulu Shilla tak sebawel sekarang. Dulu, sebelum Cakka berpacaran dengannya, waktu mereka masih berstatus sahabatan, Shilla seseorang yang enak diajak ngobrol, suka mendengarkan curhat, dan nyambung kalau mengeluarkan opini-opini, entah kenapa belakangan ini berubah. Berubah menjadi sangat menjengkelkan dan mengacaukan hidupnya belakangan ini! Huh!

***

Jam sudah menunjukan pukul 19.00, saatnya Cakka menjalankan rencana dadakan yang disusun olehnya di mobil saat perjalanan pulang. Jadwal telah dia kosongkan, restoran telah dipesan, tadi juga dia telah menghubungi Prilly dan menyuruhnya untuk pergi ke restoran yang telah dipesannya itu. Katanya dia akan mengajarkan Prilly di sana. Soalnya, di rumahnya sedang tidak aman, wartawan bolak-balik ke rumahnya. Awalnya Prilly menolak dan menyuruh menundanya. Tapi Cakka bersikeras dan Prilly pun menyetujuinya.
SUV Cakka segera melaju menyusuri jalan ibukota, kali ini dia pergi sendiri tanpa Bram dan juga tanpa Ujang. SUV itu berhenti di sebuah restoran yang cukup mewah. Restorannya tampak sepi, ya memang seharusnya sepi karena Cakka sudah mem-booking-nya. Cakka segera turun dari SUVnya menyampirkan jasnya di bahu. Lalu memasuki area restoran itu. Restorannya semi-outdoor, salah satu pegawai disitu menyapanya.
“Selamat malam,”
“Malam...teman saya sudah datang?,” tanya Cakka.
“Sepertinya belum, silahkan sesuai dengan pesanan meja di tepi swimming pool telah disediakan, anda boleh menunggu disana,”
Okay, kalau teman saya datang silahkan arahkan kesana yah?,” kata Cakka sebelum melangkah menuju sebuah meja yang telah di hias sedemikian rupa. Meja tersebut berada tepat di samping area swimming pool. Cakka duduk di situ sambil memainkan iPadnya.
Dari luar Prilly dengan side whirl dress turun dari M3-nya dan segera memasuki area restoran tersebut. Dia agak sedikit kaget karena setahu dia restoran ini selalu ramai, tumben malam ini sepi. Seorang pegawai yang tadi menyapa Cakka, kini menyapa Prilly juga. Dia segera mengantar Prilly menemui Cakka yang sedang menunggu di dalam.
“Hai,” sapanya lalu duduk di hadapan Cakka.
Cakka tersenyum sebelum membalas sapaannya, “Hai,”
Prilly memandang sekelilingnya, sepertinya ada hawa aneh bin ajaib di sekitarnya. Karena “agak” sedikit kurang connect dengan keadaan di sekitarnya, dia pun membuka suara bertanya pada Cakka.
“Kka...aku kok dari tadi tidak melihat satu orangpun di sekitar sini? Padahal restoran di sini biasanya ramai,”
Cakka mengangkat kedua bahunya, “Kali aja mereka memberi kita kebebasan buat berdua disini,”
“Hm, trus kamu kenapa tidak bawa gitar? Atau kamu lupa di mobil?,” tanya Prilly sambil celingak-celinguk mencari keberadaan gitar Cakka yang tak kunjung dilihatnya sejak tadi. Cakka juga tampak lebih “wah” penampilannya dengan jas.
“Aku bawa banyaaaakk kok...,” kata Cakka.
“Mana?,” Prilly mengerenyit.
See,” kata Cakka menepuk tangannya. Tiga orang yang membawa gitar menghampiri mereka. Seseorang dari mereka memberikan Cakka gitar hitam yang biasa di pakainya ketika tampil di depan publik. Cakka segera mengambilnya dan mulai memetiknya, ketiga orang yang datang juga ikut memetik gitarnya.
Jamie... Jamie...
You're the love
Because you're a wind
In the name of love
It's a walk to remember

Jamie... Jamie...
You're the light in the dark
Because you're the sunshine
In the name of love
It's always be an unforgettable

Jamie... Jamie...
I'm your Landon...
Please, Look at me...
If I'm Landon...
Will you be my Jamie?

Prilly kaget mendapati akhir dari lirik lagu ciptaan Cakka yang terinspirasi dari novelnya Nicholas Sparks A Walk To Remember, seseorang dari tiga pemain gitar itu memberikan bunga tulip untuknya. Dia hanya bisa menganga belum bisa menyerap semua ini di dalam otaknya.
Cakka mengangkat setengah alisnya, “I'm waiting for your answer, choose one...me or tulip? If you accept the tulip it means you reject me, if you leave the tulip and hug me, it means you allow me as your Landon?,”
Perlu beberapa menit Prilly untuk menyerap semua yang terjadi sebelum dia menyadari bahwa ada seorang lelaki di hadapannya yang sedang menginginkannya menjadi “Jamie”-nya?
“Cakka...ini?,”
“Ssshh... Tak usah bertanya lagi, hanya ada dua pilihan saat ini,”
“Tapi kan kita baru kenal,”
Cakka tersenyum, “jawab saja, I'm waiting,”
Prilly menatap secara berganti-gantian antara bunga tulip itu dengan Cakka, sesekali menggigit bibirnya, sesekali juga matanya menyipit, keningnya berkerut. Tak lama kemudian dia bangkit dari kursinya, dengan cepat menyambar tulip yang ada di tangan seseorang yang memegang gitar tersebut...
Dia mengambilnya...
Tapi langkahnya dilanjutkan kembali mendekat ke arah Cakka dan segera memeluknya.
Jadi... Sekarang Cakka yang kebingungan, dia menolak atau menerima Cakka?
“Bunga tulip ini cantik, kan kasihan kalau dibiarkan begitu saja, biar aku yang merawatnya yah di rumahku, thanks,”
“Jadi kau?,” Cakka mengerenyit bingung.
I hug you, It means?,”
Cakka kemudian tersenyum dan mengangguk mengerti.
“Ehem...ehem maaf mengganggu, makanannya sudah siap dihidangkan,” kata waitress memecah keromantisan malam itu.

***

“Kamu sudah jadian?,” Bram membuka mulutnya besar-besar menganga menatap Cakka yang baru menyampaikan berita paling mencengangkan seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia.
“Yap,”
Bram cuma bisa menggeleng-geleng, dia tak tahu lagi masalah apa yang akan dihadapi Cakka setelah mempunyai pacar baru seperti saat ini.
“Aku tidak tanggung jawab ya Kka, kalau nanti Shilla mencak-mencak di twitter lagi, atau Daddy-mu tahu tentang hal ini,”
“Aku juga tidak menyuruhmu bertanggung jawab dengan keputusanku ini, apa yang aku putuskan tetap aku pertanggung jawabkan,”
“Oh ya?! Trus bagaimana dengan Shilla, orang telah mengecap kamu yang tidak-tidak kamu belum bisa juga bertanggung jawab ngomong ke publik kalau semua itu tidak benar,”
“Lho?! Kalau soal itu apa yang harus ku pertanggung jawabkan? Bukan aku yang nge-tweet bukan aku yang menyimpulkan, kenapa aku yang harus bertanggung jawab?,”
“Setidaknya klarifikasi,”
“Ah,” Cakka hanya mendesah tak menghiraukan, dia malah memetik-metik gitarnya.
New girlfriend, it means new disaster for you,”

***

@PrillVers: Thanks for tonight :* beautiful night ever! Landon :) hehehe

@JBiooww: @PrillVers ecieee siapa tuh Landon? :O trus yang itu gimana? :O

@PrillVers: @JBiooww ada deh :p lo kepo bgt sih!

@JBiooww: @PrillVers  ввм yah :p

@PrillVers: @JBiooww ga mau lo kan ember :p

@JBiooww: @PrillVers janji deh gue gak ngember -_-v

***

@laddyshilla: duh :x kok pengen nyilet yah nyesek *srot*

@ladyshilla: kok perasaan gue gak enak banget yah dari tadi.

@ladyshilla: Mantan adalah jodoh yang tertunda :x *noofense

@ladyshilla: gue akan setia buat nunggu lo disini :') sampe kapanpun!

@ladyshilla: #maafgabisamoveone

@ladyshilla: duh pengen deh nimpukin batu ini di kepala lo! Supaya lo tau seberapa sakit jadi gue yg tiap hari kgn sama lo!

@ladyshilla: andai waktu bisa diputar kembali gue milih gamau kenal lo kalau tau2nya diginiin!

@ladyshilla: etdah mulai lagi itu dua orang ._.

@ladyshilla: cieeeee...cieeeee...cieeee

@ladyshilla: kangen bebek gue! Lalalalala~

Lihatlah betapa random-nya tweets Shilla.

***

@cakkasan: :* :) ({})

@JBiooww: #kode -» RT @cakkasan: :* :) ({})

@cakkasan: @JBiooww apa sih kode2 -_-

@JBiooww: @cakkasan gpp :) yg ptg besok jgn lupa #kodelagi

@cakkasan: @JBiooww lupa apa?

@JBiooww: @cakkasan mau gue frontalin? OH OKE!!!

@cakkasan: @JBiooww jangan! Kamu janji bkn sama aku loh tadi...

@JBiooww: @cakkasan iya deh tapi jadi kan? :)

@cakkasan: @JBiooww iya deh iya...

@JBiooww: @cakkasan sip (y)... Asek :p

***

@ladyshilla: yakin deh gue ada yg aneh :O selidikin ah~

***

4. HOPE = LESS

OIK berjalan menyusuri jalanan desa membawa rantangan. Mengantarkannya pada pelanggan-pelanggan masakan ibunya. Masakan Ibunya Oik memang terkenal di Desa Asri paling top markotop. Selesai dari situ, seperti biasa dia ke ladang. Kali ini, dia yakin tidak akan terlambat. Oik sengaja berangkat pagi-pagi benar. Itu juga dikarenakan ban sepedanya kempes, jadi dia harus meninggalkan sepeda kesayangannya itu dan berjalan kaki.
Kringgg...kringgg suara sebuah sepeda dari belakang Oik. Oik menoleh kearah belakang. Mendapati sebuah sepeda federal berwarna merah putih di belakang Oik, dengan seorang lelaki seumuran Oik di atas sepeda tersebut.
“Eh, Randy, selamat pagi,”
“Pagi Oik, mau ke ladangnya Ayah sama Ibu yah? Sini biar aku yang antarkan,”
“Ah, ndak usah Ran, takut kamu repot, aku bisa jalan kaki,”
“Nanti kamu kelelahan,”
“Sudah biasa,”
“Ayolah Oik, nanti tak bilangin sama Ayah dan Ibu kemarin kamu datang terlambat,”
“Da...dari mana kamu tahu?,”
“Ndak penting, yang penting kamu naik atau nanti tak laporin hayo...,”
Oik terpaksa mengangguk dan naik di belakang sepeda Randy.
“Pegangaaaaaan,” kata Randy lalu mulai mengayuh sepedanya.
Randy adalah anak dari pemilik sawah yang Oik dan Nova jaga. Sebenarnya, dari masa SMA, Randy sudah berulang kali menyatakan cintanya pada Oik. Tapi selalu ditolak Oik, dengan alasan dia masih sekolah dan belum mau pacaran. Setelah lulus SMA-pun Randy tetap saja ditolak Oik dengan alasa belum siap menjalani suatu hubungan khusus dengan lelaki manapun. Dan Randy tetap bertekad menunggu sampai Oik benar-benar siap.
Tiba di ladang, Nova belum datang dan jam juga masih menunjukan pukul 06.15, biasanya mereka datang jam 06.30. Setelah memarkir sepedanya, Randy menuju pondok kecil di situ menemani Oik sampai Nova datang.
Hening. Semilir angin berhembus membawa ke sejukan. Embun pagi pun kelihatan segar. Mentari pagi menampakan keceriaan.
“Oik,”
“Iya,”
“Kamu...ehm...kamu sudah siap belum?,”
“Siap apa?,” tanya Oik dengan wajahnya yang polos.
“Yah, yang aku tanya tempo dulu sampai sekarang pun aku akan tetap menanyakannya sampai kau siap,”
“Jangan terlalu banyak berharap dariku Ran, banyak yang suka kamu,”
“Tapi aku ndak suka mereka Oik, aku sukanya sama kamu, aku akan tunggu kamu sampai kapanpun, Oke kalau kamu belum siap sekarang,”
“Aku cuma ndak mau jadi pemberi harapan palsu,” Kalimat itu yang Oik ucapkan sebelum Nova datang merusak suasana.
“Weeeei! Pagi-pagi sudah pacaran,”
“Weh Nov, aku ndak pacaran,”
“Hahahaha, iya aku kan becanda tadi,”
“Ehm, Ik, Nov, aku pulang dulu yah, aku ndak bisa temani kalian lama-lama, soalnya tadi Ayah menyuruh aku memanggil Ibu yang dari pagi sekali di rumahnya Mpok Uti, aku kelupaan...hehehe, da Oik, da Nova,” katanya segera mengambil langkah bergegas menuju sepedanya. Mati! Gara-gara mengantar Oik tadi dia lupa kalau Ayahnya yang marah-marah karena pagi-pagi sekali sudah ditinggal isterinya. Bisa-bisa dia dicincang sampai di rumahnya. Tapi, tak apalah, demi Oik.
Oik dan Nova menatap kepergian Randy.
“Oik, kasihan lho dia, menunggumu dari SMA,”
“Aku ndak pernah suruh dia menunggu,”
“Ya...tapi kamu kenapa ndak coba buka hati kamu buat dia?,”
“Aku ndak bisa,”
“Ndak? Belum Ik, tapi suatu hari,”
“Ya...semoga saja,”

***

Oik baru tiba di rumah ketika melihat Ibunya sedang membaca sebuah kertas yang baru saja diberikan Oktav kepada Ibunya. Ibu terlihat serius menjelajahi kalimat demi kalimat yang ada di atas kertas tersebut.
Oik mendekati Ibunya dan Oktav.
“Apa itu Bu?,”
“Ini nak, tunggakan uang sekolah dan uang ujian Oktav, gurunya ngasih surat panggilan,”
“Berapa bulan Bu? Oik punya tabungan dari hasil menjaga ladang, mungkin bisa menutupinya,”
“Lima bulan nak, ah...sepertinya itu ndak cukup,”
“Ibu harus datang besok, soalnya kalau Ibu ndak datang kata kepsek Oktav bakal dicoret dari siswa ujian,” kata Oktav.
“Bayar seberapa yang ada dulu lah Bu, nanti Oik ikut menghadap kepseknya Oktav,” kata Oik, “bentar ya Bu, Oik ambil uangnya,” katanya segera berlari ke dalam dan mengambil sebuah celengan bebek-bebekan, mencampakkannya ke lantai dan uangpun berserakan. Mereka bertiga mencoba mengumpulkan uang-uang itu lalu menghitungnya.
“Ini hanya cukup untuk tiga bulan,” kata Ibunya.
“Ya sudah yang penting beban Ibu berkurang,” kata Oik.
“Ik...,”
“Ya Bu?,”
“Ibu harap kamu bersungguh-sungguh dengan apa yang kamu katakan tempo hari,”
Oik mengerenyit, “tentang apa Bu?,”
“Tentang kamu mau ikut Ujang kalau ada lowongan,”
Oik terhenti. Kemudian menatap Ibunya. Melihat sebuah gurat 'keputusasaan' di mata Ibunya itu.
Mungkin sudah saatnya dia membahagiakan kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Jika itu merupakan suatu jalan keluar kenapa tidak dia mencobanya?

***

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...