Rabu, 06 Juni 2012

Under the Marriage: 5. DADDY + PRILLY = IMPOSSIBLE REQUEST + 6. UJANG + JAKARTA = IMPOSSIBLE LIFE


5. DADDY + PRILLY = IMPOSSIBLE REQUEST

RUANGAN terasa adem dengan petikan gitar Cakka. Dia mencoba membuat sebuah lagu untuk album terbarunya yang sedang dia garap. Kalau membuat sebuah lagu, biasanya Cakka membuat menyusun not balok dulu baru menyusun kata demi kata. Setelah sekitar 2 jam lebih Cakka berada di ruangan itu, dia keluar karena stuck in the moment. The inspiration doesn't come. Dia sudah selesai membuat nada lagunya tersisa kata-kata yang bagus untuk lagu tersebut.
Cakka memang sudah memikirkan judul lagu tersebut. Tapi untuk memilih kata-kata yang tepat sepertinya dia belum mendapatkannya. Backstreet. Yah, itu judulnya. Agak gimana yah? Cakka juga tidak pernah merencanakan membuat lagu dengan tema tersebut, tapi judul itu secara spontan terlintas di kepala Cakka. Bahkan Cakka seperti curhat di dalam lagu tersebut.
Entah kenapa dalam hubungan percintaan Cakka selama hidupnya selalu di hiasi dengan kata backstreet. Jujur memang, Cakka baru 2 kali dengan ini menjalin hubungan dengan perempuan. Shilla pacar pertamanya, dan yah backstreet menjadi pilihan. Sedangkan kali ini, awalnya memang Cakka merencanakan untuk backstreet tapi...setelah dipikir-pikir dia kan ingin mewujudkan perkataan Shilla, semakin ditunjukan bukannya semakin baik yah? Kalau soal Daddy-nya, dia yakin bisa mengurusnya. Daddy-nya kan tahu Cakka sudah dewasa dan seharusnya diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Tapi, malah Prilly yang meminta Cakka untuk sementara waktu jangan mengumbar hubungan mereka di depan publik, karena dia tidak mau di cap sebagai cewek perebut pacar orang, apalagi Cakka dan Shilla belum lama putus. Ditambah lagi, Shilla yang masih menyayangi Cakka. Dia cuma tidak enak dengan Shilla. Jadi untuk sementara biar Cakka, Prilly, Bram dan Bio saja yang tahu lebih dulu.
ВВМ alerts Cakka berbunyi. Cakka segera merogoh BBnya dari dalam saku dan melihat ВВМ yang masuk.
Prilly L: Buka twitter deh :(
Cakka Nuraga: Kenapa hunny?
Prilly L: kayaknya ex kamu curiga deh sama kita... :x
Cakka Nuraga: ih-_- kenapa lagi sih dia?
Prilly L: Buka twitter aja deh :( aku lagi dibully sama fans-fansnya. Gimana nih?
Cakka Nuraga: Apa?!!! Okay I'm on the way.

Cakka segera membuka applikasi twitter for blackberry miliknya untuk mengetahui apa yang terjadi di twitter.

@ladyshilla: Oh! Gue tahu skrg! Ada yg baru jadian!

@ladyshilla: slmt ya :') semoga dia sabar kayak aku ke kamu, semoga dia lebih baik dari aku. Yang lebih SETIA dari aku!

@ladyshilla: cieeeee, dulu gue dipanggil bebek sekarang dia Jamie :O

@ladyshilla: jadi gue lo anggap binatang gitu?

@ladyshilla: mana janji manis lo? “Aku gak akan punya cewek lain selain kamu” 

@ladyshilla: atau ini? “Aku mau selamanya sama kamu”

@ladyshilla: laki-laki kayak lo bullshit!

@ladyshilla: duhduhduh...cewe yang ngambil sisa orang aja bangga! Gatau malu banget!

@ladyshilla: cieeee cewek pelarian! HAHA~ perebut pacar org! Kurang murah apa lo!

Cakka jadi naik darah melihat tweets Shilla. Bagaimana dia menyimpulkan sih kalau Prilly dan dirinya punya hubungan? Cakka tidak pernah mengumbar status di ВВМnya kayak dulu noraknya dia shilla atau ashilla, dia bahkan tak pernah menulis seperti begitu diganti nama Prilly. Bio dan Bram sudah mengunci mulut rapat-rapat. Trus apa penyebabnya?
Cakka segera membuka twitter Prilly. Sepertinya di sana Cakka bisa menemukan jawabannya.
@PrillVers: I'm very lucky to have you in my life :)

@PrillVers: Landon <3 Jamie

@PrillVers: iya :) tapi versi beda hehe RT @KerenaVea: A walk to remember :))

@PrillVers: makasih ({}) RT @Ithe_Grithe: Cie Prill ada yg bru nih knalin dong, langgeng deh sama Landon itu hehe ;)

Dengan cepat Cakka menekan search pada aplikasi twitter for blackberry-nya itu lalu mengetikan nama @PrillVers untuk melihat mentions yang masuk padanya.

@Aynaaw_ShilFers: @PrillVers hai cewek perebut pacar orang! Hahaha~

@ShillaFeversss: @PrillVers sadar gak sih lo cewek! Lo itu gak lebih baik dari Shilla!

@MyPrincessShil: @PrillVers sama @cakkasan langgeng yah! Sama kebulshittan HAHAHA~

@OurAshilla: @PrillVers tampang kayak lo gak cocok saingan sama Shilla, bagai langit dengan bumi!

@harukazeku: Mending Bebek <3 Kodok RT @PrillVers: Landon <3 Jamie

@AshillAwesome: @ladyshilla vs @PrillVers ? Duh cowok, mata lo buta deh! Udah bgs punya pacar cantik diputusin buat gembel!

Cakka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan sikap Shilla bahkan sekarangpun fans-fansnya ikut campur dalam urusan pribadi mereka. Bukannya mereka sebagai selebritis harusnya diberi 'sedikit' ruang privacy? Sedikit saja. Hanya itu yang dia minta. Tapi sepertinya itu adalah sesuatu hal yang mustahil, tak mungkin dan tak akan pernah bisa. Cakka segera memijit keypad blackberry miliknya mengetikan sebuah kalimat.

@cakkasan: do u know? Dgn skpmu yg seperti itu membuatku bahagia telah melepasmu :) so I can found a new!

Sepertinya kalimat yang barusan Cakka ketik itu membuat kontroversial lagi. Banyak yang me-retweet ataupun reply terhadap tweet Cakka yang satu itu.

@cakkasan: Can I get my privacy please?

***

Sebulan Cakka menjalani hubungan backstreet dengan Prilly. Sebulan sudah dia dipenuhi oleh pertanyaan dari para infotaiment tentang gosip---atau sudah menjadi fakta---yang diciptakan Shilla. Tapi, baik dirinya maupun Prilly, sudah sepakat untuk mengunci mulut mereka. Tawaran sinetron striping untuk Cakka menumpuk di meja Bram, tapi mereka sepakat untuk menolak semuanya. Dari awal karir Cakka, dia sudah berjanji akan fokus pada seni musik dan tidak akan pernah bertukar dengan seni peran. Semua memang seni, tapi sejak kecil di dalam diri Cakka, musik itu sudah menjadi darah daging. Jadi, dia tak mau hanya karena 'sebuah gosip' menjadi sebuah stepping stone untuknya berpaling kepada seni peran. Cakka tidak mau jadi selebritis yang 'aji mumpung' atau semacamnya, dia mau pure bekerja di dalam bidang entertaiment berdasarkan hatinya sendiri.
Daddy Cakka sudah mulai curiga dengan segala gosip yang menerpa Cakka. Dia sudah mulai curiga dengan tingkah laku anaknya yang 'keluar tanpa Bram' dan tengah malam menghilang dari studio latihannya, seperti pada jamannya dulu saat diam-diam berpacaran dengan virus Jakarta coret itu. Daddy-nya jadi takut kalau jangan-jangan gosip yang dibuat oleh virus Jakarta coret itu memang benar-benar terjadi. Atau bisa dikatakan bukan gosip belaka. Daddy Cakka pun segera memanggil anaknya itu bersama Bram menghadapnya di studio musik.
“Daddy mau tanya Cakka! Kamu tidak pacaran dengan orang yang bernama Prilly itu kan?,”
“Kenapa tiba-tiba Daddy tanya seperti itu?,”
“Tidak akan ada asap kalau tidak ada api!,” kata Daddy-nya sok sastrawan.
“Apinya Shilla Daddy, dia kan yang membuat gosipnya,”
“Maksud Daddy bukan begitu, asapnya itu gosip yang diciptakan Shilla, apinya kamu!,”
“Kok aku?,”
“Siapa tahu kamu memang sedang ada something,” selidik Daddy Cakka.
“Aku malas bahas ini semua Ddy, aku capek dengan semua gosip ini,” kata Cakka sambil duduk di sofa yang terletak di sudut studio.
“Oh?! Kamu capek juga toh? Daddy kira kamu enjoy dengan semua gosip ini, makanya kamu sampai sekarang belum bertindak sesuatu, Daddy kira kamu memang rela kehilangan fans-fans kamu,”
“Tidak begitu juga Ddy, Cakka capek juga, tapi apa yang harus Cakka lakukan?,”
Daddy-nya tampak berpikir. Sebenarnya Daddy-nya sudah memikirkan ini dari awal. Sudah sejak lama. Hanya saja, dia menunggu. Jika dalam sebulan gosip Cakka dan semua embel-embelnya belum hilang, maka dia harus menggunakan cara alternatif ini.
“Kamu cepat-cepat melamar seseorang!,”
“APA?!,” Cakka seperti disengat listrik voltasi tinggi mendengar perkataan Daddy-nya itu.
“Iya, kenapa tidak, bila perlu kamu menikah, tapi dengan wanita pilihan Daddy!,”
“Oh Daddy please it's impossible request, bagaimana bisa aku menikah diusia muda seperti ini? Dan apalagi dengan...oh Ddy! This crazy!,”
Why not? Banyak kok orang-orang yang menikah muda zaman sekarang ini! Dan kamu tenang saja ini cuma untuk membungkam mulut virus Jakarta coret itu! Kamu tidak mau kan dibebani dengan celotehannya itu, minimal kalau kamu sudah menikah orang akan berbalik memandang miring virus Jakarta coret karena masih mengharapkan suami orang, dunia akan terputar, kau tahu Cakka, dia sudah bermain politik kotor, kita juga harus sedikit taktik mengalahkannya,” kata Daddy-nya menjelaskan, “Ujaaaaaanggg,” panggil Daddy Cakka selanjutnya.
Beberapa panggilan sebelum Ujang masuk ke dalam studio Cakka. Dan dalam situasi ini, Cakka semakin bingung, untuk apa Daddy-nya itu memanggil Ujang?
“Jadi Daddy-ku yang anti politik kotor sekarang mau bermain licik juga,”
“Terkadang hidup itu adalah sebuah kompetisi, dimana kita harus mengerahkan seluruh tenaga kita untuk tetap hidup, dengan cara apapun, termasuk politik kotor untuk saat-saat yang mendesak seperti ini, nah Ujang, besok kamu pulang kan, Tuan boleh minta tolong sesuatu sama kamu?,”
“Apa itu Tuan?,” tanya Ujang.
“Kamu tolong carikan gadis yang cantik, baik, lugu dan polos di kampung kamu trus kamu bawa ke Jakarta, ongkosnya saya yang tanggung semua, segala kebutuhan gadis itu sebelum ke Jakarta pun saya yang tanggung,”
“Maaf Tuan, tapi kalau boleh tahu untuk apa yah Tuan gadis itu?,”
“Untuk menjadi isterinya Cakka,”
“APAAA?!,” Cakka, Ujang dan Bram yang sedari tadi diam berteriak terpekik mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Daddy-nya Cakka.
“Iya, kenapa? Ada masalah? Daddy rasa tidak kan? Kamu butuh seseorang yang sama sekali tidak terkenal untuk menetralisir semuanya ini, supaya virus Jakarta coret tidak berbuat macam-macam bukan? Dan kamu tidak dianggap mencari popularitas karena menikah dengan selebritis yang sedang naik daun atau mungkin menikah karena dijodohkan orang tua, otomatis mereka tidak akan pernah berpikir orang tua menjodohkanmu dengan gadis kampung yang lugu nan polos, iya kan? Itu cara yang paling aman!,”
“Tapi Ddy...,”
“Tidak ada tapi-tapian, ini cara paling ampuh dan aman yang Daddy ambil karena kamu tidak mau mengambil langkah apapun!,” kata Daddy Cakka dan untuk hal ini Cakka kehabisan kata-kata, “Ujang! Kamu ikuti saja perintah saya, tapi kamu jangan bilang dulu kalau sampai di sini dia akan mendapat pekerjaan besar itu, karang saja alibi yang masuk akal agar gadis itu mau untuk datang ke Jakarta, mengerti?!,”
“Mengerti Tuan,”
“Baik sekarang kamu boleh keluar, dan bersiap-siap untuk berangkat besok,” kata Daddy Cakka.
Ujang segera keluar dari studio Cakka.
Impossible request! Woaaah.

***

Cakka uring-uringan sejak tadi. Ujang pulang hari ini, dan seminggu lagi dia akan kembali membawa calon isterinya. Ini gila! Dia punya pacar tapi akan punya calon isteri dan calon isteri itu bukan pacarnya? Oh! It's gong crazy!
Ditambah lagi, sejak 2 hari ini, Prilly tidak memberikan kabar sama sekali. Baik lewat sms maupun ввм, teleponpun tidak pernah.
Cakka segera mengambil jaket yang tersampir di sandaran sofa kamarnya. Memakainya, lalu berjalan menuju garasi mobil dan mengambil CRV yang terparkir bebas di garasi. Cakka sengaja tidak menggunakan SUV atau X5 miliknya. Orang-orang bakalan tahu kalau itu mobil Cakka. Maka dari itu, dia mengambil CRV yang lumayan jarang dipakai. Tujuannya adalah menemui Prilly, di rumahnya. Cakka khawatir, jangan-jangan Prilly marah kepadanya atau Shilla mengancam dia supaya tidak berhubungan lagi dengan Cakka.
Dipacunya CRV itu menuju rumah Prilly. CRV itu berhenti disebuah rumah yang didesain minimalis namun tidak meninggalkan kesan modern. Cakka segera turun dan mengetuk daun pintu rumah itu.
Seorang wanita paruh baya, yang adalah pembantu Prilly keluar menemui Cakka.
“Bi, Prilly ada?,”
“Aduh, mulai dari mana yah, Bibi bingung Den,”
“Heh? Bingung? Memangnya Prilly kemana?,” Cakka jadi bingung dengan pernyataan membingungkan dari pembantu Prilly.
“Iya Den, hm, Nona Prill lagi di rumah sakit Den, sudah dua hari ini,”
“Apa?! Prilly di rumah sakit? Dia kenapa tidak bilang-bilang saya?,”
“Mana saya tahu Den, Non Prill tiba-tiba aja gitu di rumah sakit, dua hari lalu dia pulang dalam keadaan pincang, Bibi tanya katanya tidak apa-apa cuma tadi kecelakaan kecil pas syuting, trus tidak lama setelah itu ada seorang gadis datang, itu loh yang dia nyanyi lagu yang kayak gini ken stop tingking abot, stop toking abot yu, yang kayak gitu, siapa sih namanya... A..itu, As...sule,”
“Ashilla maksud Bibi?,”
“Iya Den, itu, dia datang trus marah-marah tidak jelas gitu sama Non Prill, trus dia tampar Non Prill, nah setelah di tampar Non Prill pingsan, mimisan, eh yang Asule, Asule itu kabur, nah itu penyebab Non Prill di rumah sakit,”
“Sial si Shilla! Prilly di rumah sakit mana Bi?,”
“Rumah sakit Medisacrify,” kata Bibi itu.
Tak buang-buang lama, Cakka kembali ke CRV-nya dan memacu menuju rumah sakit yang disebutkan sang Bibi.

***

Langkah kaki Cakka terdengar menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Prilly dirawat di salah satu ruangan VVIP di rumah sakit tersebut. Cakka menuju kamar tempat Prilly dan mendapati Prilly terbaring di atas ranjang sambil menonton. Cakka segera mendekatinya dan memeluknya lalu mengecup ubun-ubun kepalanya.
“Ya Tuhan Prill, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu tak memberiku kabar kalau kamu di rumah sakit?,” kata Cakka melepaskan pelukannya lalu duduk di samping ranjang Prilly.
“Aku tidak mau melihatmu khawatir,”
“Begini lebih membuatku khawatir, Sial si Shilla! Ini sudah gila! Dia sudah pakai cara kekerasan, aku harus bertindak,”
“Kamu mau apain dia?,”
“Aku mau nyamperin dia, buat perhitungan!,”
“Jangan! Itu akan menambah masalah,”
“Tapi dia sudah keterlaluan Prill, dia sudah pakai fisik!,”
“Sudahlah, aku pingsan bukan gara-gara dia, cuma karena aku capek seharian tapping acara masak terbaruku sampai tujuh episode sekaligus,”
“Tapi dia menamparmu, itu adu fisik namanya,”
Prilly berdiri dari posisinya. Kali ini dia memeluk Cakka dan menangis di pundak Cakka, ”Kka, kita sampai sini saja yah? Kita putus ya,”
“Kenapa bilang begitu? Kenapa? Kita baru satu bulan kenapa kamu minta putus? Apa gara-gara Shilla nyakitin kamu, maafin aku,”
Prilly menggeleng, “bukan, aku cuma merasa tidak pantas untukmu, kamu butuh mencari seseorang yang tidak membuatmu dalam zona merah,”
“Akulah yang membuatmu berada di zona merah,”
“Bram cerita sama aku semuanya Kka,”
“Bram? Dia tahu kamu sakit? Kenapa dia tidak memberi tahuku?,”
Sekali lagi Prilly menggeleng, “tidak, lewat ввм dia langsung memberi tahu tentang rencana Daddy kamu Kka, dan aku rasa Daddy kamu benar, please Kka, try to find someone new yang memang betul-betul pantas untukmu, dan itu bukan aku,”
“Tapi, Prill...aku masih sayang sama kamu,”
“Aku juga, tapi pikirkan kata Daddy-mu, aku setuju, tinggal kamu, dan aku mohon ikutilah, demi aku,”
Cakka melepaskan pelukan Prilly, “I will, tapi aku mau hubungan ini tetap berlanjut maaf kalau aku egois,” kata Cakka.
Prilly terdiam sejenak. Berpikir. Sebelum tersenyum dan mengangguk bersamaan dengan bulir air mata yang mengalir di pipinya. Kali ini Cakka merengkuhnya, menyandarkan dagunya di atas kepala Prilly.
One more impossible request. 
Maafkan aku... Aku tak bisa memilih...

***

6. UJANG + JAKARTA = IMPOSSIBLE LIFE

MATA Oik menyapu seluruh sudut pandang Desa Asri, dari atas sebuah bukit. Dia mengambil teropong kecil yang tergantung di lehernya dan meletakannya di depan kedua matanya. Benar-benar indah desanya itu. Namun tiba-tiba matanya terhenti pada sosok seorang gadis bersama seorang lelaki. Gadis itu sangat dikenalinya tentu saja, karena sosok gadis itu adalah Nova. Namun lelaki yang bersama Nova itu siapa yah? Oik berpikir-pikir dengan wajah familiar itu. Semakin lama dia berpikir. Akhirnya dia menyadari kalau itu...
“UJANG?!,” Oik terpekik.
Dia segera turun dari atas bukit itu dan berlari menuju ke arah Nova dan Ujang.
“Oiiiiikkkkk,” teriak Nova.
“Nova, Ujang ya?,”
“Wah, Iya, kamu masih kenal aku toh Ik, kirain sudah lupa,” kata Ujang.
“Ya ndak mungkinlah aku lupa, wong kita teman main,” kata Oik.
“Iya Ik, Ujang ini baru tiba, trus dia minta aku temani dia jalan-jalan,” kata Nova antusias.
“Kalau Oik ikut temani boleh ndak?,” tanya Oik.
“Oh, boleh banget Ik, boleh banget,” kata Ujang.
Mereka bertigapun berjalan berkeliling Desa. Banyak orang-orang yang menyalami Ujang karena kesuksesannya di kota. Walaupun Ujang hanya jadi sopir di Jakarta, tapi Ujang adalah orang terkaya di Desa Asri. Ujang punya banyak tanah yang dia beli hasil dari dia bekerja di kota. Ujang punya rumah dan juga punya banyak sepeda yang dijadikan rental sepeda di Desa itu. Jadilah orang-orang segan terhadap Ujang.
Menemani Ujang seperti begini, seperti membayangkan Oik berada di samping selebritis yang dipuja-puja banyak orang sehingga banyak yang mengerumuninya. Kalau Ujang datang bisa sebegini ramenya, dia tak bisa membayangkan kalau selebritis tiba-tiba mendarat di kampungnya ini. Pasti tidak cuma warga kampung saja, orang-orang di luar kampung pasti akan meramaikan kampungnya itu.
Hm, tapi Oik juga berpikir, yang punya televisi di kampung ini hanya bisa dihitung dengan jari. Jadi kemungkinan untuk tahu selebritis-selebritis hanya sedikit saja. Oik termasuk juga dalam jajaran orang yang tidak tahu selebritis-selebritis saat ini. Masa bodoh juga sih! Dan kenapa tadi juga dia sempat kepikiran tentang selebritis? Aneh!

***

Sebelum Oik masuk ke dalam rumahnya, Ibunya telah menunggunya di teras kecil rumahnya.
“Selamat malam Bu,”
“Selamat malam, dari mana saja kamu Nak jam segini baru pulang? Padahal hari ini hari minggu dan kamu tidak menjaga ladang,”
“Tadi Oik sama Nova, habis mengantar Ujang jalan-jalan keliling kampung,” kata Oik.
“Apa Ujang sudah tiba?,” tanya Ibunya Oik antusias.
“Sudah Bu,”
Tiba-tiba Ibunya Oik menarik tangannya dengan semangat, Oik kebingungan, “lho? Oik mau dibawa kemana toh Bu?,”
“Kita ke rumahnya Ujang, buat menanyakan lowongan kamu,” kata Ibunya Oik.
“Tapi Bu...ini sudah malam,”
“Tidak apa-apa, pasti Ujang maklum,” kata Ibunya Oik.
Merekapun berjalan kaki ke rumah Ujang. Setibanya di rumah Ujang mereka berdua disambut baik oleh Ujang. Mereka masuk ke dalam rumah Ujang dan duduk di sofa ruang tamu.
“Gini loh Nak Ujang, maksud kedatangan Ibu dan Oik kemari untuk menanyakan apakah di Jakarta, lebih tepatnya di tempat kamu bekerja ada lowongan untuk Oik?,” tanya Ibunya Oik.
“Oik mau ikut ke Jakarta?,”
“Iya Nak Ujang, mau juga seperti Nak Ujang yang sukses, itung-itung Oik membantu Ibu dan Bapak membiayai adik-adiknya sekolah,”
“Tapi...,” kata-kata Ujang terhenti kala dia ingat sesuatu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Oik. Menatap gadis itu dari ujung kepala ke ujung kaki, kemudian tersenyum, “sepertinya ada Bu, suruh Oik siap-siap, seminggu lagi dia berangkat bersama saya ke Jakarta, semua saya yang tanggung,” kata Ujang.
“Yang benar Nak Ujang?,” tanya Ibunya Oik terlalu antusias.
Ujang mengangguk.
“Aduh Nak Ujang terima kasih, sekali lagi terima kasih, Nak Ujang atas bantuannya,”
Mungkinkah setelah seminggu kedepan lagi aku bisa menjalani hidup keluar dari Desa ini?

***

“Oik, aku dengar kamu mau ke Jakarta ikut Ujang besok?,” tanya Randy turun dari sepedanya lalu menyejajarkan langkahnya dengan langkah Oik sambil mendorong sepeda.
Kala itu, Oik sedang akan membawa rantangan terakhirnya untuk keluarga Pak Jamal.
“Iya,” jawab Oik singkat sebelum tiba di depan rumahnya Pak Jamal.
Oik masuk ke dalam sementara Randy menunggu di luar. Setelah mengantar rantangan tersebut, tak beberapa lama kemudian Oik keluar dari rumah Pak Jamal.
“Naik,” kata Randy yang sudah naik ke atas sepeda dan menyuruh Oik membonceng di belakangnya.
Oik mengerenyit dan dengan hati-hati naik ke atas sepeda Randy.
Randy segera mengayuh sepedanya menyusuri jalanan Desa. Saat hendak mendekati ladang, Randy bukannya berhenti malah memacu sepedanya lebih kencang melewati ladang.
“Randyyyyy...aku mau dibawa kemana toh? Ladangnya sudah lewat, ini hari terakhirku bekerja, aku ndak mau melewatkannya,”
“Dan hari ini pun hari terakhir aku sama kamu, aku juga ndak mau melewatkannya,” kata Randy.
Oik terdiam. Dia tak tahu lagi harus membalas Randy dengan perkataan apa. Dia pun hanya mengikuti kemanapun Randy membawanya.
Mereka berhenti di sebuah sungai yang airnya jernih. Di sana terdengar sangat tenang. Oik turun dari situ dan duduk di sebuah batu besar di tepi sungai tersebut. Randy segera memarkir sepedanya dan duduk tepat di samping Oik. Mereka terdiam lama sebelum Randy memecah keheningan dengan senandungnya.

Sumpah tak ada lagi
Kesempatanku untuk bisa bersamamu
Kini ku tahu bagaimana cara ku
Untuk dapat trus denganmu

Oik hanya bisa menikmatinya. Ternyata suara Randy merdu juga. Oik pun menutup matanya. Sesaat ketika senandung Randy berhenti, Oik kembali membuka matanya.
“Ik, bahkan di saat-saat terakhir kamu seperti ini, kamu juga belum bisa membuka hati kamu buat aku?,”
“Aku ndak bisa Ran,”
“Ya sudah ndak usah dipaksakan, tapi kamu mau kan menemani aku satu hari ini di sini sebelum kamu pergi besok,”
Oik mengangguk tanpa suara. Randy menyunggingkan senyum tipis. Senyum miris.
Dia pun kembali menyenandungkan lagu yang tadi dinyanyikannya.

Bawalah pergi cintaku
Pada ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta

Di sini ku pun begitu
Terus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan
Kita nanti

Waktu terus berjalan. Oik dan Randy hanya menghabiskan waktu berdua tanpa seucap katapun kecuali senandung, kadang Randy, kadang Oik secara bergantian, itu saja. Namun waktu berjalan cepat.
Sore hari pun tiba, mereka telah lelah, pita suara mereka jadi terasa sakit, mereka mungkin telah mengalahkan penyanyi.
Randy melingkarkan tangannya di pundak Oik. Jujur saja dia merasa risih.
“Ik, kamu benar-benar ndak mau memberi aku kesempatan buat menyusup masuk ke hatimu, tapi...aku mohon, jangan halangi aku untuk melakukan yang satu ini, tanda perpisahan,” kata Randy kemudian melepaskan rangkulannya. Lalu menatap Oik dalam.
Oik jadi semakin takut, apalagi dengan kata-kata Randy tadi. Randy mendekat. Oik berontak hendak melarikan diri. Beberapa sentimeter lagi...
...
“TEMAN... TEMAN... KITA MANDI DI SINI... AIRNYA BERSIIIIIHHHH,” teriak suara cempreng anak lelaki membuat Oik menarik diri jauh sebelum Randy bisa mencapainya.
Dan Randy pun ikut menarik diri. Tidak jadi melakukan yang tadi ada dipikirannya.
“Mbak Oik di sini toh, dari tadi Oktav cariin, di cari Ibu, Mbak, katanya Mbak harus siap-siap sekarang,” kata Oktav yang tiba-tiba muncul.
“Ran, aku...aku harus siap-siap sekarang...aku...aku pergi dulu, dada...sampai ketemu lain waktu,” kata Oik segera berlalu dari hadapan Randy bersama Oktav.

***

“Ayah, Ibu, Oik pamit dulu,” kata Oik menyalami Ibu dan Ayahnya.
“Iya, doa kami selalu menyertaimu, jaga diri baik-baik yah di Jakarta,” kata Ayahnya Oik.
“Iya pasti, Oktav, Angel, titip Ayah dan Ibu, harus jadi anak yang rajin dan dengar-dengaran,”
“Iya Mbak Oik,” kata Oktav.
Tak lama kemudian, Ujang datang menjemput Oik. Dan mereka pun pergi dari Desa Asri.
Perjalanan dari Desa Asri hanya di tempuh dengan naik delman untuk mencapai terminal untuk naik Bus yang akan membawa mereka ke kota Salatiga. Dari Salatiga mereka baru berangkat lewat jalur udara.
Perjalanan dari Desa Asri ke terminal di butuhkan waktu 1 jam lebih. Dari terminal ke Salatiga sekitar 45 menit. Sampai di kota Salatiga, Ujang mengajak Oik ke sebuah Toko pakaian wanita dengan brand Zalora. Dan sepertinya mahal dan tidak cocok untuk Oik yang kampungan. Oik awalnya menolak karena alasan itu. Tapi, Ujang membujuknya untuk beli pakaiannya di sana. Ujang konsultasi dengan salah satu pegawai toko itu untuk pakaian-pakaian, sepatu, aksesoris dan lain sebagainya yang tepat untuk Oik.
Setelah itu barulah mereka menuju Bandara dan berangkat menuju Jakarta.
Selama perjalanannya menuju Jakarta, Oik berpikir, mungkinkah dia bisa menjalani kehidupan dengan nyaman disana? Sama seperti kehidupan di Desanya?

***

1 komentar:

Pratiwi Islamadina mengatakan...

Mau Lanjutannya dong,hehe..:D

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...