Minggu, 04 Maret 2012

Come In With the Rain [One Shoot]

Come In With the Rain
Hujan adalah jawabannya…

(Sequel of Gone With the Wind)


Dia berada dibalik hujan tanpa kuketahui. Dia datang bersama hujan tanpa kusadari. Dia meringkuk dibalik hujan tapi kuabaikan. Dia adalah gerimis yang menenangkan. Dia adalah rinai yang menyejukan. Namun, dia bukan hujan pembawa banjir. Bukanpula hujan pembawa bencana. Dia cukup menjadi rahasia yang terpendam selama bertahun-tahun. Dia cukup membuatku selalu menanti saat-saat datangnya hujan.
Ya, dia Rain. Rain yang tanpa kusadari selalu mengatakan, hujan adalah jawabannya.

***
Prolog

Kala kau termenung dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada didekatmu…
Kala kau tertawa dibawah hujan…
Percayalah aku selalu ada disampingmu…

Tersenyumlah, karena satu senyumanmu.
Adalah surgaku…

-Rain-

Tik… tik… tik… Rintik hujan mulai membasahi sebuah benda berwarna putih yang tertoreh bercak hitam. Gadis kecil yang menikmati kata demi kata untaian puisi yang dibuat oleh seseorang bernama ‘Rain’ itu, menyadari hujan kembali menyapanya. Dilipatnya kertas itu, kemudian mencari tempat perteduhan. Tak jauh dari situ ada sebuah pondok kecil seolah memanggilnya untuk bernaung dibawahnya. Dengan langkah seribu dia menuju pondok kecil itu. Setelah tiba disitu, dia segera duduk dibawahnya.
Lipatan kertas itu kembali dibukanya, namun sayangnya angin datang menerbangkan kertas itu. Terbang menjauh dari tangan gadis kecil yang memegangnya. Gadis itu, hanya menatap pasrah kertas tanpa bisa berbuat banyak. Kertas putih itu terbawa angin dan jatuh tepat dibawah kaki seorang lelaki kecil yang umurnya seumuran dengan gadis kecil itu. Diambilnya, kertas itu kemudian dia mengambil langkah menuju kepondok kecil tempat gadis itu bernaung.
Mata teduhnya menatap gadis kecil itu dan menyerahkan kertas putih itu kepadanya.
“Terima kasih,” Ucap gadis kecil itu dengan matanya yang berbinar dan senyumnya yang polos.
“Sama-sama,” Kata lelaki kecil itu sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah lipatan kertas yang mirip dengan tadi. Menyerahkan lipatan kertas itu pada sang gadis kecil, “Bukalah setelah kau tiba dirumah,” Lanjutnya.
Sang gadis kecil itu menatapnya dan mengangguk.
“Kak, ayo sini,” Panggil anak lelaki itu bersama hujan yang mulai mereda kepada lelaki kecil yang usianya lebih tua setahun dari mereka. Lelaki itu berdiri tak jauh dari mereka tersenyum lalu berlari dengan riang kearah mereka berdua.

***

Sayup-sayup rinai hujan, tiba-tiba berubah jadi deru bulir hujan. Membasahi seluruh kota Jakarta, termasuk sebuah warung kecil. Didepannya ada sebuah spanduk kecil yang diatasnya tertulis Warung Naskun Rain. Warung itu nampak lengah, tak banyak orang disana, tapi cukup membuat sang pemilik warung itu nampak sibuk melayani pelanggannya. Maklum, dia hanya seorang diri mengelolah warung itu. Warung itu khusus menjual salah satu makanan khas nusantara, nasi kuning. Dari balik hujan muncul seorang lelaki dengan kamera tergantung dileher, berteduh diteras warung itu. Memperhatikan tetes hujan yang mengalir. Kadang-kadang membidik hujan itu. Gadis pemilik warung makan yang telah selesai melayani para tamu menghampiri lelaki itu.
“Permisi mas, ada yang bisa dibantu?,” Sapa sang gadis.
“Oh, tidak… tak apa-apa, cuma numpang berteduh disini,” Jawab lelaki itu.
“Mau makan mungkin mas? Nasi kuning disini enak loh,” Tawar sang gadis.
“Hm, tak usah aku baru selesai makan tadi,”
“Kalau begitu bagaimana dengan minum?,”
Lelaki itu nampak berpikir, “Boleh deh, ada teh hangat?,”
“Ada, mas masuk dulu lah, diluar nanti basah,” Kata gadis itu.
Sang gadis masuk terlebih dahulu, sedangkan lelaki itu mengekor dari belakang dan duduk disalah satu meja. Gadis itu masuk kedalam dapur, kemudian keluar dengan secangkir teh hangat dan memberikannya pada lelaki itu. Ketika dia hendak beranjak…
“Boleh kah kamu menemaniku disini?,” Tahan lelaki itu.
Gadis itu memandang sekelilingnya, melihat pelanggannya yang sedang asik menikmati kenikmatan yang diberikan nasi kuning miliknya. Seolah sedang tenggelam dalam dunianya masing-masing. Gadis itupun mengangguk lalu duduk dihadapan lelaki itu. Lelaki itu menyesap teh hangat, sejenak mereka terdiam sebelum sang lelaki membuka pembicaraan.
“Sudah lama kamu berjualan nasi kuning disini?,”
“Lumayanlah mas, sudah semenjak lulus SMA,”
“Wow,” Lelaki itu nampak kaget dan kagum, “Hebat, kamu sudah bisa menghidupi dirimu sendiri dari SMA?,”
“Yah, begitulah hidup kadang ada pasang, kadang ada surut, tapi kita jangan selalu surut, tapi jangan juga selalu pasang harus seimbang, dimasa surut kita harus berjuang melawannya, dan ini salah satu perjuanganku,”
“Memang hidup ini keras, kita tak bisa tinggal diam dan menunggu keajaiban,”
“Mas sendiri? Fotografer?,”
“Bukan, aku live traveler lebih suka dibilang seperti itu, untuk satu tujuan menemukan yang aku cari,”
“Memangnya mas sedang mencari apa?,”
My destiny,”Jawabnya.

***

Sepasang mata binar memandang kotak kecil berwarna coklat dan nampaknya kotak itu sudah lumayan lama. Membukanya perlahan. Kotak yang berisi banyak sekali kenangan masa lalu. Kotak yang berisi tentang sebuah nama dibalik puisi yang tertoreh dalam lipatan-lipatan kertas. Dibukanya salah satu lipatan kertas yang ada didalamnya. Membaca untaian indah kata-kata, rangkaian manis larik-larik, menjadi bait-bait yang sangat luar biasa untuknya.
Untukmu Sivia Amandira,
Aku memang bukan pujangga.
Yang mampu menorehkan kisah bermakna,
Yang bisa melukiskan bagaimana indahnya cinta,
Tapi satu yang aku tahu,
Satu inginku akan kisahku,
Cinta itu kamu,
Pengagummu,
-Rain-
Puisi terakhir yang diberikan Rain, sebelum semuanya berantakan. Sebelum surut menjemputnya dari waktu ke waktu. Sebenarnya, dia sudah mengira siapa itu Rain. Sebenarnya, dia sudah menduga lelaki kecil yang memberikan puisi terakhir untuknya itu Rain. Disaat dia baru tahu akan sosok Rain, seakan takdir tak pernah mau mempertemukannya dengan Rain, seakan takdir menjauh darinya dan Rain. Dia harus menjauh dari Rain bukan karena keinginannya. Padahal sejak dulu dia mencari Rain, yang dia yakini sebagai cinta pertamanya. Tapi apa? Disaat dia menemukan, orangtuanya bangkrut, mereka jatuh miskin dan harus menelan pil pahit, kalau kini tak ada Rain lagi yang mengisi harinya dengan sejuta puisi.
Ya… Lelaki kecil bermata teduh itu… Rain.

***

Hari ini hujan mengguyur lagi membasahi bumi. Entah mengapa belakangan ini sering hujan. Sivia dengan belanjaannya kehujanan. Kebetulan rumahnya dengan pasar hanya berjarak beberapa meter, jadi dia biasa menempuhnya hanya dengan berjalan kaki. Sialnya, belum tiba di rumahnya hujan sudah menyapanya membuat dia harus segera mencari tempat perteduhan.
Sebuah halte berdiri kokoh dihadapannya. Segera dia mengambil langkah seribu menuju halte itu. Tiba di halte itu, jaket yang dikenakannya sudah basah. Segera dibukanya jaketnya lalu duduk dihalte itu sembari menunggu hujan berhenti.
Dibalik hujan, muncul sosok lelaki yang menuju halte itu, dia nampak basah, ransel yang dikenakannya juga. Dia segera melepas ranselnya dan meletakannya ditempat duduk halte itu. Sivia menatap lelaki disampingnya. Bukannya itu…
“Eh, mas… kita ketemu lagi,” Sapa Sivia.
“Aha, iya kebetulan yang sangat kebetulan,” Kata lelaki itu sambil duduk disamping Sivia, “Kamu dari mana?,”
“Dari pasar mas, belanja buat bahan-bahan buka warung besok, mas sendiri?,”
“Biasa live traveler,” Ucapnya sambil membuka ransel lalu mengeluarkan kameranya.
Finding your destiny?,”
Always,” Jawabnya sambil kameranya membidik seorang tukang becak yang mengemudikan becaknya ditengah deru hujan, “Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan. Hm, memangnya kamu tidak punya keluarga yang membantumu di warungmu itu? Kulihat kamu sendirian melayani pelanggan,” Lanjutnya.
“Aku tak punya keluarga lagi, aku anak semata wayang dan orang tuaku meninggal setelah aku lulus SMA,”
“Oh, I’m sorry to hear that,”
“Tak apa, kau sendiri keluargamu?,”
“Mereka, tak akan peduli denganku, kecuali saat aku berada dikantorku, lainnya? Jangan harap,”
Sivia mengerenyitkan dahinya, tanda kurang paham, tapi dia tak ingin berlama-lama memusingkannya, “Kau tak punya kakak atau adik?,”
“Aku punya adik, tapi dia sudah melangkahiku,”
“Melangkahimu?,”
“Yah, begitulah, maksudku dia sudah menikah,”
“Oh ya I see, kamu sendiri kenapa belum menikah?,”
Waiting my destiny,”

***

Seorang lelaki dengan panik dan terburu-buru turun dari mobilnya, segera menjejaki tanah menuju sebuah warung, Warung Naskun Rain. Sivia baru saja ingin menutup warung nasi kuning miliknya itu. Mumpung kali ini tidak hujan dia bisa pulang ke rumahnya tanpa perlu basah-basahan. Angin malam terasa lebih kencang dari biasanya, sehingga Sivia agak kesulitan menutup gordengnya yang tertiup angin. Ketika seorang lelaki menyapanya.
“Selamat malam mbak? Masih buka?,”
“Wah mas kebetulan sudah tutup?,” Kata Sivia masih memperbaiki posisi gordengnya.
“Masih ada nasi kuning tidak mbak?,” Tanya lelaki itu lagi.
Gordengnya sudah bisa berkompromi, dia sebenarnya kesal pada pria ini, bukannya dia sudah bilang kalau warungnya telah tutup? Dia segera berbalik badan, seorang lelaki dengan kemeja berwarna dark blue, dan celana berwarna dark brown berdiri dihadapannya. Tampangnya agak berantakan, rambutnya dan dasinya tidak beraturan. Sepertinya, dia baru saja pulang dari kantornya.
Please mbak, saya sudah berkeliling, jam segini tak ada yang menjual nasi kuning, saya sangat membutuhkannya,” Kata Pria itu.
“Kamu butuh berapa porsi? Aku cuma punya seporsi, dan sebenarnya itu buat sahabatku, tapi ya sudahlah sepertinya kamu terlihat lebih membutuhkannya,” Kata Sivia.
“Ya sudah itu saja, terima kasih ya mbak,” Lelaki itu tampak senang dan lega.
Sivia segera melangkah masuk, dan kembali dengan sebungkus nasi kuning, segera diserahkannya pada pria itu. Pria itu mengambilnya dan hendak membayar. Saat Sivia hendak mengambil bayarannya, terjadi kontak mata antara keduanya.
Matanya… Mata teduh itu…
Sivia nampak terpaku, lelaki itu mencoba membuat Sivia kembali ke bumi. Sivia akhirnya sadar.
“Eh maaf,” Kata Sivia.
“Iya tak apa, by the way terima kasih kau sangat membantu,” Katanya sambil melangkah pergi.
Angin perlahan membelai kulit Sivia. Sesaat setelah kesadarannya tentang mata teduh itu… Rain.

***

Siang yang awalnya matahai menyengat dengan sempurnanya, tiba-tiba mendung, ketika dua orang gadis sedang menyusuri Ibu kota. Seorang gadis bertubuh semampai dengan rambut gelombang, tampak membawa sebuah map sedangkan seorangnya lagi gadis dengan mata berbinar itu membawa sebotol air mineral.
“Shill, kita kemana lagi, sudah dari tadi aku menemanimu melamar pekerjaan tapi, tak satupun yang berhasil, cuaca sudah mulai mendung,” Kata Sivia.
“Sabar Via, tinggal satu lagi di Eka Negara Group, doain aja semoga diterima,” Kata gadis yang dipanggil Shill itu.
Namanya Shilla. Dia sahabat Sivia semenjak dia bangkrut. Shilla anak yang sebatang kara, dia tak tahu orang tuanya. Ketika kecil, dia memang sudah berada di panti asuhan. Cita-citanya menjadi wanita karir, dan menurutnya, langkah pertama untuk itu semua bekerja di perusahaan yang notabene perusahaan bonafit. Hari ini Sivia menemaninya mencari pekerjaan. Namun nampaknya, dewi fortuna belum berpihak. Setelah tadi gagal, kali ini gerimis mulai menyapa ketika mereka hendak menuju kantor yang dimaksud Shilla. Dan ketika mereka tiba di perusahaan yang dimaksud Shilla, mereka telah basah. Sangat tidak mungkin menemui calon atasan dengan keadaan yang seperti ini? Sehingga mereka numpang berteduh di teras perusahaan.
Sebuah mobil berhenti tepat didepan teras perusahaan, dari dalam mobil turun seseorang dengan pakaian rapi. Segera berlari memasuki teras, sebelumnya melempar kunci mobilnya pada satpam, menyuruhnya memarkirkan mobilnya.
“Sial,” Umpat lelaki itu memperbaiki letak dasinya dan membuka jasnya yang basah kena hujan tadi. Sivia memperhatikan lelaki itu. Ketika menyadari keberadaan Shilla dan Sivia tepat disampingnya dia segera menyapa.
“Kalian pegawai dikantor ini juga yah? Maaf soalnya aku tak hafal dengan wajah-wajah pegawaiku,” Katanya belum memperhatikan Sivia.
“Mas… ingat aku?,” Tanya Sivia.
“Oh, iya, kamu… kamu kok bisa disini?,” Tanyanya.
“Lagi mengantar sahabatku ini melamar pekerjaan, sudah dari tadi tapi gagal,” Kata Sivia.
“Ini sahabatmu? Mau bekerja?,” Tanyanya lagi.
“Iya mas,”
“Ya sudah, mana job application[1] dan CVnya? Sekarang juga kamu diterima di perusahaan ini,” Katanya sambil mengulurkan tangannya meminta job application dan curriculum vitae [2].
Shilla dan Sivia tampak tercengang. Kemudian dengan hati-hati menyerahkannya kepada lelaki itu.
“Ashilla Cloudyana, oke sejak saat ini kamu resmi bekerja disini,”
Setelahnya, keduanya melonjak kegirangan.

***

Kringgg… kringgg… bunyi sepeda Sivia memecah keheningan pagi. Sepeda yang baru dibelinya kemarin, menjejaki tanah. Ini tugas pertamanya bersama sepeda barunya itu mengantarkan orderan keluar. Pengalaman baru baginya. Kemarin, lewat Shilla, adik atasannya itu memesan nasi kuning, tentu saja setelah promosi yang dilakukan Shilla akan kelezatan nasi kuning buatan Sivia. Katanya, isteri adik atasannya itu sedang mengandung dan mengidam nasi kuning. Jadi, Sivia mendapat pekerjaan tambahan mengantar nasi kuningnya ke kantor adik atasannya Shilla.
Sepeda Sivia menuju sebuah gedung yang menjulang tinggi. Sebelumnya, dia berhenti sejenak, melihat secarik kertas yang diberikan Shilla kemarin untuk memastikannya. Dwi Negara Coorporation. Setelah dia yakin, tidak salah alamat. Dia memarkir sepedanya, dan hendak masuk menemui adik atasannya Shilla. Sivia segera menemui satpam lalu, dan diapun segera diarahkan menuju ruangan pemilik perusahaan itu. Setelah masuk kedalam, seorang lelaki dengan pakaian rapi setelan jas berwarna hitam duduk menyambutnya. Ternyata dia lelaki kemarin yang membeli nasi kuning malam-malam di warungnya.
Dia menatap Sivia, lagi-lagi mata teduhnya mengingatkannya pada… Rain.
Cepat-cepat Sivia memberikan bungkusan nasi kuning itu padanya.
“Ini pak, nasi kuningnya,” Kata Sivia.
“Jangan panggil pak, aku merasa sangat tua bila dipanggil seperti itu, sepertinya kita seumuran,” Katanya.
“Kalau begitu, aku manggilnya apa dong?,”
“Kamu manggilnya---,” Belum sempat lelaki itu melanjutkan kalimatnya, seorang wanita dengan perut yang buncit masuk.
“Cakkaaa… nasi kuningnya mana?,” Tagihnya segera mendekat kearah lelaki yang dipanggil ‘Cakka’ itu. Lelaki itu mengangkat bungkusan nasi kuning. Senyum terkembang dibibir wanita itu, sebelum akhirnya mendekatkan menempelkan bibirnya kearah bibir lelaki itu dan melakukan fast kiss di depan Sivia. Mereka seakan tidak mempedulikan Sivia yang pipinya sudah memerah melihat adegan itu.
Lelaki itu segera menyodorkan bungkusan nasi kuning kearah wanita itu. Dia nampak girang menerimanya.
“Makasih sayang,”
“Sama-sama Oik sayang,” Katanya mengacak rambut wanita itu.
Wanita itu memeluk lelakinya, lalu sekali lagi mereka melakukan fast kiss. Setelahnya, wanita itu melangkah keluar dari ruangan.
Tadi, Sivia sempat mendengar nama ‘Cakka’. Cakka… Cakka… Cakka… Memori belakangnya dengan segera memutar. Nama itu? Bukannya. Sivia terpekik kaget dalam hatinya ketika menyadari sesuatu. Cakka itu bukannya … Rain?
“Maaf, hm, namamu Cakka?,” Tanya Sivia yang sebenarnya masih shock.
“Iya, ah kalimatku tadi belum selesai, maksudku, panggil saja Cakka,” Katanya.
“Aku… aku… Sivia,” Katanya.
“Sivia?,” Lelaki itu mengerenyitkan dahinya, “Ya ampun… kau Sivia, yang kecil itu dulu kan?,” Lanjut lelaki itu.
“I… Iya… aku pikir kamu sudah lupa,”
“Mana mungkin aku lupa, kamu kemana saja setelah hari itu?,”
“Aku, pindah rumah, oh ya tadi itu…,” Sivia menelan ludahnya sebelum melanjutkan kalimatnya, “Isterimu?,”
“Ya itu Oik, isteriku,” Jawabnya.
Sebuah guncangan dari dalam Sivia. Mendengar sang Rain sudah menikah?

***

Langit berwarna kelabu, mendung. Seakan sama dengan keadaan hati seorang gadis yang juga sedang mendung. Dia duduk melamun menatap langit yang kelabu bersama sahabatnya Shilla, ketika mereka sedang duduk didepan teras rumah Shilla.
“Shill, kau tahu kan tentang Rain yang kuceritakan dahulu?,”
“Ya, aku tahu… pengagum rahasiamu itu kan? Yang mengirimkanmu puisi-puisi lebay itu kan?,”
“Itu sama sekali tidak lebay! Dasar kau tak cinta bahasa Indonesia jadi tak menikmatinya!,”
Whateverlah. Yang pasti dia kan?,”
“Iya… tadi aku bertemu dengannya,”
Wajah Shilla berubah antusias mendengar penuturan sahabatnya itu.
“Trus… trus…?,” Shilla penasaran.
“Yah, gitu deh, dia sudah menikah Shilla,” Wajah Sivia berubah sedih sedangkan Shilla nampak kaget.
“Masa sih?,”
Sivia mengangguk, “Rain itu… adiknya atasan kamu,”
Mendengar itu Shilla makin kaget, “Apa?! Rain… Cakka? Masa? Aku ragu loh, kamu salah kali, mana mungkin Rain itu… Cakka,”
“Entahlah, itu perkiraanku…,”

***

Malam semakin larut, dunia semakin sunyi, semua kembali ketempat peristirahatan mereka, dan mulai masuk kealam mimpi. Kala langkah kaki seorang gadis dengan kotak hitam ditangannya tak terhenti. Dia mengarah kesebuah sungai kecil tak jauh dari situ. Langkah kakinya pasti. Dia ingin menghapus segala cerita tentang Rain. Dia bertekad menenggelamkan kotak yang berisi puisi itu. Yang lalu biarlah berlalu, toh Rain tak akan kembali lagi. Biarlah Rain menjadi sosok misterius yang menarik perhatian bahkan cintanya, tanpa dia tahu wujudnya.
Setelah tiba di sungai kecil itu, dia segera berjongkok dan membuka kotak kecil itu. Ini mungkin akan menjadi saat terakhir dia melihat tulisan indah untuknya itu. Setelah itu, dia memasukan kembali dan hendak menenggelamkannya…
Langit boleh saja kelabu,
Malam boleh saja menyapa,
Tapi kamu tak boleh ikut sendu,
Melainkan bernyanyilah sesuai irama,

Gunda dan bimbang boleh dihati,
Tapi jangan berkepanjangan,
Karena esok masih menanti,
Tersenyumlah karena itu melegakan,
Sebuah suara. Suara lelaki mengucapkan puisi tanpa intonasi, bersama rinai hujan yang mulai menyapanya. Sivia segera memalingkan wajahnya, kearah sumber suara itu. Ternyata lelaki itu… lelaki yang secara kebetulan bertemu dengan Sivia, lelaki yang bertukar cerita dengan Sivia tanpa mengetahui nama masing-masing, lelaki itu… atasannya Shilla.
“Malam-malam kok kamu berada ditempat ini?,” Tanyanya sambil ikut berjongkok disamping Sivia. Sivia segera menyembunyikan kotak itu dibelakangnya.
“Aku… eh… tak apa-apa kok, hanya mencari ketenangan, agak… galau,” Kata Sivia.
“Kau pernah merasakan jatuh cinta?,” Tanya lelaki itu tiba-tiba.
“I… iya…,”
“Menurutmu cinta itu apa?,” Tanyanya.
Deg---, Jatung Sivia.
“Cinta… ehm, cinta itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata,”
Lelaki itu tersenyum. Senyumnya… senyumnya… senyumnya… tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sivia merasakan jantungnya berpacu lebih cepat dan dadanya berdesir kala lelaki itu tersenyum kearahnya.
But according to me, Love is my destiny,”

***

Sivia tidak jadi membuang kotak coklat itu, karena atasan Shilla tiba-tiba datang. Dirinya kembali membawa pulang kotak coklat itu. Kemudian memori otaknya seakan mengingat sesuatu. Tentang puisi itu… puisi yang dikumandangkan atasannya Shilla. Segera setelahnya, dia membongkar kembali kotak puisi itu. Membuka lembar demi lembaran kertas dan menemukan puisi yang dikumandangkan atasannya Shilla itu adalah salah satu puisi kiriman Rain.
Darimana dia tahu? Apa kebetulan saja? Ataukah puisi Rain itu dikutip dari buku? Beribu pertanyaan muncul dalam benaknya.
Dia teringat lagi akan saat-saat itu. Saat dimana, dia menemukan lipatan kertas didepan pintu rumahnya saat pagi sebelum dia berangkat kesekolah, menemukan lipatan kertas saat siang di laci tempat duduknya, menemukan lipatan kertas yang berbentuk perahu di kolam ikan miliknya, menemukan lipatan kertas berbentuk roket diteras kamarnya. Semua itu… hanya Rain yang melakukannya.

***

I’ve watched you so long,
Screamed your name,
I don’t know what else I can say.

But I’ll leave my window open,
‘Cus I’m too tired at night for all these games.
Just know I’m right here hopin’,
That you’ll come in with the rain.

I could go back to every laugh,
But I don’t wanna’ go there anymore…
Penggalan lagu Taylor Swift, come in with the rain, mengalun dengan indahnya. Sivia menyenandungkan lagu itu. Saat ini memang sedang hujan, dan ini hujan yang membuat perasaannya galau. Galau tentang Rain, tentang Cakka dan tentang lelaki itu. Apa benar prakiraan dia selama ini salah? Dan kenapa lelaki itu bisa mengetahui salah satu puisi buatan Rain? Mungkinkah dia Rain?
Tapi, dia ingat persis dulu, lelaki yang menyebut namanya Cakka itulah yang memberikannya puisi. Puisi terakhir sebelum akhirnya dia meninggalkan Rain. Lalu, siapa sebenarnya lelaki misterius ini?
Rain… oh Rain… sungguh memusingkan baginya. Sivia memalingkan pandangannya kearah jendela yang sengaja dibukanya walau hujan. Dia melihat seperti sosok lelaki itu disana tersenyum kearahnya. Sivia segera melangkah keluar, namun saat diluar dia tak menemukan apa-apa.

***

Saat fajar mulai menyingsing, Sivia bersama sepedanya tiba didepan rumahnya Shilla. Setelah memarkirkan sepedanya, dia bergegas masuk kedalam rumah Shilla. Sahabatnya nampak panik dan pucat ketika baru mendengar berita lewat telepon barusan.
“Ada apa Shilla?,” Tanya Sivia.
“Via, temani aku,”
“Kemana?,”
“Ke Rumah Sakit, atasanku katanya kemarin kecelakaan, ayo buruan,” Kata Shilla segera mengambil tasnya dan menarik Sivia pergi dari situ.
Tiba dirumah sakit, mereka segera menuju ke ruang gawat darurat. Disana, nampak sudah banyak orang, ada beberapa pegawai teman Shilla, bahkan ada Cakka dan isterinya, serta orang yang Sivia kenali. Rekan bisnis ayahnya dulu sebelum bangkrut, Arwana Negara bersama isterinya, Ramona Nugrah. Mereka menyambut kedatangan Shilla dan Sivia.
“Om, Tante, saya Shilla, sekertarisnya pak Alvin,” Kata Shilla.
“Kamu Shilla? Oh ya, ternyata kamu yang diceritakan Alvin bernama Shilla,” Kata Ibunya Alvin.
“Ini sahabat saya Om, Tante, Sivia,”
Siviapun berjabatan tangan dengan mereka. Sebelum dokter keluar dan membolehkan menjenguk Alvin, tapi satu per satu.
Barulah Sivia tahu, lelaki itu adalah Alvin. Ya, dia baru ingat sesuatu, Alvin yang bersama Cakka dulu sesudah Cakka memberikan puisi terakhir Rain. Dan ternyata mereka anak Arwana Negara dan Ramona Nugrah.
Tiba giliran Sivia dan Shilla untuk masuk menjenguk Alvin. Alvin tertidur, dia nampak sangat kelelahan. Tapi, dia terlihat tersenyum, dada Sivia berdesir lagi melihat senyumannya.

***

Tik… tik… tik… Hujan berbunyi diatas genteng. Sivia menatap rinai hujan yang satu per satu jatuh dari genteng rumahnya, meyakini sesuatu setelah kemarin, seusai Sivia masuk kedalam menjenguk Alvin. Cakka memanggilnya dan memberikan sesuatu padanya. Dan ternyata itu sebuah buku yang saat ini dipegangnya, buku berisi kumpulan-kumpulan puisi milik Rain untuknya. Dan kini, akhirnya, jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam dia telah menyimpan sebuah nama, yang dia yakini, dia pastikan dan dia ketahui adalah Rain. Ternyata, hujan adalah jawabannya tanpa dia sadari dan tanpa dia perhatikan. Dia selalu datang bersama hujan.
Sesaat, cuaca berubah buruk, tadinya hanya rinai hujan, kini ditambah petir, kilat, guntur dan angin. Sivia melihat diantara hujan, sosok bayangan yang dia kenali, memandang kearahnya dengan tatapan sendu dan senyum yang misterius. Sebelum akhirnya, ponselnya berdering dan itu panggilan dari Shilla.
“Hallo,”
“Hallo ada apa Shilla?,”
“Sivia, berita buruk,”
“Apa itu?,”
“Alvin… Alvin kini telah tiada,”
Ya Tuhan, padahal Sivia baru saja ingin memohon. Ya Tuhan, semoga dia tidak pergi bersama hujan juga.

Come in with the rain: End

Epilog

“Cakka, bantu kakak yah?,” Mohon seorang lelaki kecil.
“Bantu apa kak?,” Tanya Cakka kecil.
“Kau lihat gadis kecil disana,” Katanya sambil menunjuk seorang gadis kecil yang sedang membaca secarik kertas. Cakka kecil mengangguk.
“Berikan ini padanya, tapi jangan bilang kalau ini dari kakak,” Katanya sambil memberikan sebuah lipatan kertas kecil itu pada Cakka kecil.
Cakka kecil mengangguk, “Baiklah,”
“Kakak tunggu disini yah,”
Saat Cakka hendak melangkah, rintik hujan mulai menyapa, gadis itu terlihat menepi kearah sebuah pondok untuk bernaung. Sesaat kemudian angin menerpa menerbangkan secarik kertas milik gadis kecil itu. Cakka mengambilnya dan menyerahkan kembali kepada gadis kecil itu secarik kertas itu, lalu memberikannya lipatan kertas yang diberikan kakaknya untuk disampaikan pada gadis kecil tanpa memberitahu, gadis itu berterima kasih. Sebelum akhirnya, Cakka memanggil kakaknya ikut bergabung.
“Oh ya, namaku Cakka… Namamu?,” Cakka mengulurkan tangannya.
“Sivia,” Gadis itu membalas uluran tangan Cakka.
“Dan ini Alvin,”

***

Hati Sivia gusar memandangi sebuah tulisan nama. Alvin Rainer Negara. Perasaannya campur aduk dalam hatinya.
Sebelum sebuah suara mengumandangkan…
Wahai gadisku bolehkah aku tahu perasaanmu?
Senang, sedih, bahagia atau terharu?
Tapi kuharap jangan kau keluarkan airmatamu,
Cukup senyummu yang selalu menjadi surgaku,
Karena kini aku dan kamu akan bersatu...
Puisi. Sivia berbalik kearah sumber suara itu. Dan kemudian tersenyum. Itu Rain. Rain yang selalu jadi miliknya dan akan terus menjadi miliknya, selamanya.
Saat ini Sivia sedang memandangi sebuah pelaminan, dan itu pelaminan…
Alvin Rainer Negara & Sivia Amandira
Mohon doa dan restu
Itu yang dibacanya tadi. Alvinpun berjalan mendekat kearah Sivia, mengulurkan tangannya dan menuntunnya keatas pelaminan. Mereka jadi pasangan yang paling berbahagia hari itu.

Sivia menjejaki kakinya diatas Rumah Sakit, meski tubuhnya basah kuyub karena dalam keadaan hujan dia nekat mengendarai sepedanya untuk melihat Alvin yang telah tiada. Dia segera menuju kamar jenazah, didepannya sudah ada Shilla bersama kedua orang tua Alvin dan juga Cakka. Mereka menatap Sivia dengan tatapan menyesal dan dengan gurat kesedihan. Tak berlama-lama dan tanpa banyak bicara Sivia segera masuk kedalam, ada sebuah ranjang yang ditutupi selimut putih.
Sivia segera mendekat dan membukanya, benar saja itu Alvin. Dia segera menangis disamping jenazah Alvin. Terisak, entah kenapa sesak begitu menghimpit, sampai dia merasa terdesak dan harus menangis.
“Vin, bangun Vin… jangan tinggalin kita semua yah,” Kata Sivia.
“Alvin… aku sekarang tahu kalau kamu itu Rain… aku… aku selalu menunggu puisi-puisi darimu… aku cinta tulisan-tulisanmu… dan dari situ aku mulai mencintai sosok Rain, walaupun aku tak tahu wujudnya… mungkin orang mengatakan ini cinta monyet, tapi, aku merasakan nyawa ditiap puisi-puisi yang kau kirimkan… dan… aku mau juga… cinta ini… untukmu… bukan sebagai Rain tapi sebagai Alvin...,”Lanjut Sivia.
Siviapun melihat sebuah kertas disampingnya. Dia segera mengambilnya dan membacanya.
Jangan nangis yah.
Kau telah mengetahui semuanya.
Aku tak mungkin membuatkan puisi untukmu lagi.
Kurasa kau bosan, jadi kutulis surat saja.
Karena aku ingin kau tahu aku bukan sebagai Rain saja.
Tapi sebagai Alvin juga.
Disurat ini aku ingin mengatakan bahwa.
You’re my destiny.
Yang kucari selama ini dan yang selalu kukatakan padamu.
Karena aku telah menemukanmu.
Maukah kau menikah denganku?
Sivia shock membaca kalimat terakhir dalam surat itu. Ini nyata? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa dia yang terlambat? Apa Alvin mungkin akan memberikan ini padanya kemarin sebelum dia kecelakaan?
Sesaat Orang tua Alvin serta Cakka dan Shilla masuk tepat disaat Alvin bangkit. Sivia kaget bukan main.
“Maukan?,” Kata Alvin sambil mengulurkan sebuah kotak berwarna beludru.
Diiringi ledekan dari mereka semua, “Cie… ciee…,”
Jadi ini hanya skandal? Owh.

“Kau tahu, aku sudah tahu kamu semenjak kita bertemu, di warung naskun rainmu itu, aku tak akan pernah lupa dengan mata berbinar milikmu itu,” Kata Alvin.
“Kau curang!,” Kata Sivia mencubit pinggang Alvin. Alvin meringis.
Hadirin harap-harap cemas, karena mereka sedari tadi sudah di posisinya masing-masing, tapi belum juga melakukan wedding kiss, malah bicara satu dengan yang lain.
Alvin kemudian berbisik pada Sivia, “Aku tak mau wedding kissnya disini, diluar kan hujan gimana kalau…,” Belum sempat Alvin menyelesaikan perkataannya, dia segera menarik Sivia berlari keluar. Hadirin mengikuti mereka. Di luar memang hujan. Dibawah hujan yang mengguyur, Alvin menarik Sivia mempersempit jarak mereka kemudian menautkan bibir mereka ditengah hujan yang mengguyur. Hadirinpun bertepuk tangan riuh.
“Cakka, ternyata bukan cuma kita pasangan gila yang lari dari acara pernikahan membiarkan para tamu cemas mencari kita, karena kita lari ketempat rahasia kita hanya untuk melakukan wedding kiss disana, mereka juga gila melakukannya dibawah hujan,”
“Iya nih Oik sayang, ternyata ada penerus kita,” Kata Cakka.
Bridal dress yang dipakai Sivia yang pada dasarnya berat, semakin berat dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Alvinpun membantu Sivia, masuk kembali kedalam pesta.
Namun ditengah-tengah pesta…
“Cakkaaaaaaa… Anaknya minta keluaaarrrrrr,” Teriak Oik.

-----------------------------
[1] : Lamaran kerja
[2] : Riwayat Hidup

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...