Rabu, 16 Maret 2011

Speak Now or NEVER! -Part 4-

“Chillaaa....” Panggil orang yang memegang pundak wanita itu...

Wanita itu tersenyum manis kearah orang yang memegang pundaknya itu... Tampak seorang Pria dengan baju berwarna biru langit memegang sebuah mobil mainan ditangan kirinya dan sebuah kertas ditangan kanannya... Sepertinya dia seumuran dengan Wanita itu dan Dibajunya tertempel logo RSJ... Sudah pasti dia adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa tersebut... Dia duduk disamping Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Shilla...

“Chillaaa... Chilla ngapain disini??? Chilla sedih lagi ya?” Tanya Pria tersebut bak seorang anak kecil

“Gak apa-apa kok Iel... Shilla cuma cari ketenangan disini...”

“Kasian Chilla... Chilla mending main mobil-mobilan sama Iel aja yuk... ” Kata Pria itu menarik-narik Shilla...

“Tapi Iel... Shilla lagi gak mau main mobil-mobilan... ” Kata Shilla dengan wajah yang lesu... Orang itu memperhatikan Shilla segera menghentikan Aksinya menarik-narik Shilla...

“Maaf Chilla... Iel buat Chilla jadi tambah sedih... ” Kata Pria yang dipanggil Iel itu...

“Hehe... Gak apa-apa kok Iel... Kertas itu buat apa?” Tanya Shilla menunjuk kertas yang dibawa Iel sedari tadi...

“Oh ini... Mami sering ngajarin kalau Iel lagi ada masalah tulis masalah Iel disebuah kertas lalu buat kertas itu berbentuk Roket dan terbangkan setinggi mungkin nanti masalah kita terbawa angin deh...” Kata Iel

Shilla manggut-manggut...

“Mau coba?” Tanya Iel memberikan kertas itu pada Shilla...

Shilla mengambilnya... Iel menepuk jidatnya...

“Oalaaaahh... Iel lupa bawa pena Chilla tadi dipinjam si Mingming buat gambar alis anaknya.... Katanya kemarin botak dicukur bapaknya... ”

Shilla tertawa kecil...

“Udah Iel Ga perlu... Shilla bawa pena kok... ” Kata Shilla sambil mengeluarkan pena dari dalam kantongnya...

Kemudian mulai menuliskan sesuatu diatas secarik kertas itu seperti instruksi Iel...

Shilla menuliskan kata demi kata diatas kertas tersebut matanya berkaca-kaca... Tetapi, Seperti biasa Ia telah memberikan Suggesti pada dirinya sendiri kalau dia ini wanita yang tangguh... Dia tak boleh lemah hanya karena masalah yang belum jelas kebenarannya...

“Sudah?”

Shilla mengangguk...

“Sekarang Lipat ayoooo menjadi Roket... ”

“Tapi Shilla gak tau... ”

Iel segera mengambil kertas itu lalu melipatnya menjadi seperti Roket...

“Sekarang... Ayo terbangkan Chilla...” Kata Iel menyerahkan Roket yang terbuat dari kertas itu kepada Shilla...

Shilla mengambilnya... Lalu dengan aba-aba Iel, Shilla menerbangkannya... Roket itu terbang semakin menjauh...menjauh dan keluar dari halaman RSJ...

“Yeeeeeeeee....” Iel tepuk tangan diikuti Shilla....

Tiba-tiba suara Sirene ambulans mengagetkan Iel... Iel paling takut dengan suara tersebut...

“Gak…gak…gak boleh… mereka gak boleh bawa mami sama papi gaaaaaaakkkkk……” Kata Iel yang berlari seperti Orang ketakutan...

Shilla hanya bisa menatap punggung Iel yang berlari masuk kembali kedalam RSJ... Shilla hanya menghela nafasnya...

Shilla memang sering datang ketempat itu... Awalnya cuma iseng, Seperti perkataannya pada Cakka cuma karena ditaman RSJ ada airmancur jadi Shilla pergi kesitu... Tapi tanpa sengaja Shilla bertemu dengan Gabriel salah satu pasien Rumah Sakit Jiwa tersebut...

Awal pertemuan mereka ketika Shilla sedang duduk disitu tiba-tiba seseorang berlari dan bersembunyi dibelakangnya...

Semenjak saat itu Shilla jadi akrab dengan Pasien yang bernama Gabriel itu dan dipanggil Iel... Walaupun sifatnya seperti anak kecil tapi tersirat kedewasaan dibaliknya yang tertutup oleh karena mentalnya yang rapuh karena depresi dan menyebabkan Gabriel dirawat dirumah sakit itu...

Belakangan Shilla tahu kalau Gabriel menjadi Gila karena orang tuanya kecelakaan dan menyebabkan mereka pergi untuk selamanya meninggalkan Gabriel sendiri karena Gabriel adalah anak tunggal, Tak cuma itu menurut informasi yang Shilla dapat tentang Gabriel salah satu penyebab Gabriel seperti itu karena pacarnya yang sudah lama berpacaran denganya malah tunangan dengan orang lain... Gabriel di RSJ itu sudah memasuki tahun ke 4... Shilla jadi kasian dengannya... Makanya Shilla bertekad juga membuat dia sembuh dan kembali normal lagi....

>>>>>>>>>>>>>>>>

Cakka mempercepat langkah kakinya menuju sebuah ruangan... Itu adalah kamar rawat inap VIP di rumah sakit tersebut... Dia baru saja selesai melaksanakan tugasnya sebagai dokter anak... Didalam kamar tersebut tampak seorang Gadis yang sedang duduk diranjang sambil memeluk kedua kakinya...

Cakka masuk kedalamnya dan Gadis itu belum menyadari kalau Cakka telah berada diruangannya...

“Oik...” Panggil Cakka...

Dengan segera gadis itu menoleh kearahnya... Pipi Gadis itu tampak basah...

“Kamu nangis lagi??”

“Mas.... Ngapain kemari...?”

“Kamu lupa? Aku kan dokter disini juga jadi gak apa-apa kan aku kemari?”

Oik hanya terdiam melihat Cakka...

“Kamu kenapa? Ada yang buat kamu sedih lagi?” Tanya Cakka

Oik lagi-lagi tak menjawab… Cakka melangkahkan kakinya menuju ranjang Oik lalu duduk disamping ranjang tersebut… Dan menatap Oik mencoba menelusuri lebih jauh dari matanya… Apa yang membuat gadis ini sedih…

Oik yang menyadari bahwa dirinya emm.., lebih tepatnya matanya sedang diawasi oleh Cakka, segera memalingkan pandangannya kearah jendela kamar tersebut…

Tatapannya lurus keluar Jendela…

“Yasudah… Mas gak mau maksa Oik untuk cerita deh… Sekarang supaya Oik gak sedih lagi, mending ikut mas aja yuk…” Ajak Cakka

“Kemana Mas?...” Tanya Oik

“Sudah makanya ayo ikut… Kamu bisa jalan? Kuat? Eh… jangan deh… tunggu disini…” Kata Cakka sambil beranjak dari tempat duduknya lalu segera keluar dan tak lama kemudian kembali dengan membawa sebuah kursi roda…

Oik mengernyitkan dahinya…

“Sumpek kan dikamar terus… mending kita jalan-jalan…”

“Eh… Oik gak ngerepotin Mas? Mas gak kerja?..”

“Sudah selesai… Ayo sini… aku Bantu…” Kata Cakka

“Gak usah Mas… Oik bisa sendiri kok…” Kata Oik perlahan bangkit dari tempat tidurnya lalu naik ke atas kursi roda yang dibawa Cakka…

Cakka mendorong kursi roda itu keluar dari kamar tersebut… menyusuri lorong demi lorong rumah sakit tersebut… Banyak mata tertuju pada mereka… Baru kali ini melihat seorang dokter yang mendorong sendiri kursi roda pasiennya bukan perawat, apalagi dokter itu adalah dokter Cakka, dokter yang jadi idola di rumah sakit tersebut…

“Mas…” Panggil Oik

“Ya?” Jawab Cakka sambil terus mendorong kursi roda Oik…

“Kok banyak yang liatin kita sih…”

“Perasaan kamu kali…”

“Tapi bener kok… liat aja mereka pada liatin kita…”

“Haha… gak kok… udah santai aja…”

Cakka terus mendorong kursi roda Oik sampai kesebuah tempat… Itu adalah kantin rumah sakit… dari jauh tampak Ify sedang melayani para pembeli… Cukup banyak pembeli siang itu membuat Ify tak memperhatikan kalau disitu ada Cakka dan Oik…

“Ify…” Panggil Cakka…

Ify yang sedang membawa nampan menghentikan langkahnya dan berbalik badan mencari sumber suara tersebut dan meliha Cakka sedang bersama seorang gadis diatas kursi roda…

Ify mendekati mereka…

“Selamat siang Mas… Mau pesan makanan? Gado-gado lagi…?” Sapa Ify

“Hahaha… gak Fy… Oh ya kenalin Fy ini Oik…” Kata Cakka memperkenalkan Ify pada Oik… Oik tersenyum mengulurkan tangannya dan Ify menyambutnya…

“Oik…”

“Ify…”

“Oh ya… Mas Cakka sama dek Oik tunggu disini dulu yah… Ify mau bawa pesanan dulu…” Kata Ify hendak pergi…

“Eh Fy…” Panggil Cakka…

Ify menengok sebentar…

“Hmm… gak jadi deh, bentar aja… kasian pelanggan kamu… kalau udah selesai aku sama Oik tunggu kamu disini yah…” Kata Cakka sambil mendorong kursi roda Oik menuju salah satu meja dikantin itu, Lalu dia duduk dikursi… Ify mengacungkan jempolnya… Lalu pergi dari situ…

“Mas… Oik boleh Tanya sesuatu gak?”

“Tanya aja…”

“Ify itu siapanya mas Cakka? Pacarnya?”

“Haha… bukan, Ify itu penjaga kantin disini… Orangnya baik kok… masakannya enak-enak… apalagi Gado-gadonya aku paling doyan…”

“Ooo… kalau bukan pacarnya mas yang mana? Oh ya, ngapain mas ajak Oik kemari? Katanya kan mau jalan-jalan… Oik kira ketaman gitu… gak tahunya kekantin… hehehe…” Kata Oik diakhiri cengiran lugunya…

Cakka mengacak rambut Oik… (adegan yang lazim -___-v)

“Hahaha… kamu bisa aja… Mas ngajakin kamu kemari untuk… mmm… ada deh… tapi kamu pasti suka kok…” Kata Cakka

“Ish… Mas gak asyik main rahasia-rahasia… pertanyaan Oik yang satunya gak dijawab…”

“Yang mana? Tanya Cakka pura-pura bloon

“Yang ituloh pacarnya Mas Cakka…”

“Gak ada…” Jawab Cakka ceplas-ceplos

“Bohong…” Tuduh Oik

“Tahu darimana Mas bohong?”

“Dari mata Mas… Oik kan belajar Ilmu psikologi dari Mas, kalau mata itu gak bisa bohong…”

“Haha… cepat amat belajarnya… Aku aja belajarnya perlu 4 tahun sampai lulus kuliah…”

“Ih… Mas Cakka jangan ngalihin pembicaraan, jawab pertanyaan Oik yang tadi…”

Cakka menatap Oik… entah kenapa Oik menjadi hangat melihat tatapan Cakka… Ia segera memalingkan wajahnya… Karena takut menatap mata Cakka…

“Iya deh… ada… pacar Mas namanya Shilla… dia dokter juga disini…” Menyebut Shilla, Cakka teringat sesuatu…

Oik melihat ekspresi Cakka yang berubah…

Ada apa Mas?”

“Ia… ini udah jam makan siang, Shilla belum kelihatan dari tadi… kemana yah dia?” Kata Cakka celingak-celinguk…

“Pacarnya Mas Cakka dokter disini juga yah?” Tanya Oik

Cakka mengangguk…

Tak lama kemudian Ify datang dimeja Cakka dan Oik…

“Maaf lama… banyak pesanan hehehe…”

“Gak apa-apa, santai Fy…”

“Mau ngomong apa tadi Mas?” Tanya Ify

“Gini Fy… kita boleh ikutan masak gak Fy… kan Oik juga senang masak kan asyik tuh kalau masak bareng… Gimana boleh gak?” Tanya Cakka

Oik menatap Cakka aneh… dalam hatinya : ‘Oh jadi Mas Cakka ajak Oik kemari buat masak yah… wah kebetulan sudah lama gak masak :) kangen’

“Boleh kok… malah asyik kalau Ify punya teman masak… Mas Cakka juga mau ikut masak?” Tanya Ify

“Oh... gak… aku nonton aja… haha… aku kan gak tahu masak… nanti aku yang jadi jurinya deh…hehehe”

“Ye maunya…” Kata Oik dan Ify serempak

“Yaudah yuk kedapur…” Ajak Ify melangkahkan kakinya diikuti Cakka yang mendorong kursi roda Oik kedapur…

Di dapur, Cakka, Oik dan ify segera memakai celemek… Oik juga sudah turun dari kursi roda…

“Kamu gak kuat kan Ik?” Tanya Cakka

“Haha… gak apa-apa kok Mas, Oik kuat… kayak Oik sakit parah aja…”

Oik dan Ifypun memulai acara masak-memasak mereka… Cakka membantu mengambil bumbu-bumbu… Oik sudah bisa tersenyum kembali… Matanya kembali bersinar, Cakka tersenyum melihat itu semua… Rencananya berjalan baik…

‘Semoga Oik bisa melewati masa-masa terpuruknya dan bisa kembali menjadi Oik yang kuat’ Ucap Cakka dalam hatinya…

Cakka teringat akan sesuatu segera membuka celemeknya… Ify yang melihatnya heran…

Ada apa Mas? Mau praktek yah?” Tanya Ify…

“Gak… aku harus menemui Shilla, jam makan siang hampir selesai tapi aku belum bertemu dengannya… aku titip Oik yah Fy… nanti kalau makanannya udah jadi jangan lupa bilang-bilang yah… Aku pasti balik kemari kok…”

“Iya Mas…” Kata Ify…

Cakka segera melangkahkan kakinya… tapi…

“Eh Mas…” Ify memanggil Cakka yang hendak keluar

Cakka berbalik lagi…

“Kenapa Fy?”

“Hmm… gak jadi deh… e… Mas buruan pergi ntar mbak Shilla ngambek…” Kata Ify yang sepertinya menyembunyikan sesuatu…

Cakka melihat tingkah aneh Ify seperti itu… Dia tahu kalau Ify menyembunyikan sesuatu… Tapi Cakka harus cepat-cepat menemui Shilla…

Cakka segera keluar dari dapur kantin tempat Oik dan Ify…

“Mas Cakka pasti sayang banget sama Mbak Shilla…” Kata Oik

“Iya… dari tadi di khawatirin…”

“Mbak Shilla pasti cantik banget…”

“Jangan Tanya Ik… mereka tuh biasa disebut Perfect Couple… Cakkanya Ganteng, Shillanya Cantik apalagi mereka berdua sama-sama Dokter…” Kata Ify…

“Pengen deh… punya pacar yang perhatian kayak Mas Cakka…” Ceplos Oik…

Ify menatap Oik heran…

“Kamu suka sama Mas Cakka?”

“Suka…”

Ify mengernyitkan dahinya…

“Suka bukan berarti cinta mbak… aku Cuma kagum sama Mas Cakka…”

“Oooo… kirain…hehe…”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Cakka mencari-cari Shilla diruangannya tapi tidak menemukan Shilla… Kata Perawat-perawat juga Shilla sudah selesai tadi langsung pergi tanpa bilang kemana…

tempat yang belum dikunjungi Cakka…? RSJ…

Dia segera pergi melewati pagar besi pembatas RSJ dengan RS dan mencari ketempat dia menemukan Shilla kemarin di Taman… Tapi Shilla tak ada juga disitu…

Kemana Perginya Shilla?

^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^.^

1 komentar:

Anonim mengatakan...

nih gue ceritanya agak sedikit bingung nich

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...